Part 15 ~ Curahan hati Rama

1128 Kata
Di sebuah Cafe, tempat lama Rama dan teman-temannya nongkrong. Kini pria itu tengah menunggu Devan, untuk mendengarkan keluh kesah hatinya. Andai ia seorang wanita, pasti sudah mencurahkan semua yang ada dibenaknya melalui media sosial. Namun Rama masih sadar akan kodratnya sebagai seorang lelaki, ia tak ingin terlihat cengeng meskipun hatinya sangatlah rapuh malam ini. Berulang kali ia melihat jarum jam yang ada dipergelangan tangannya, sudah lewat dua puluh menit ia menunggu Devan yang mengatakan akan segera datang. Sempat tadi Rama akan beranjak pergi, tetapi Devan memintanya untuk menunggu sebentar lagi. Rama menatap acuh ke arah ponselnya, melihat pesan tersemat yang belum dibaca dan sama sekali tidak berminat untuk membacanya. Pesan dari Diva yang beberapa menit lalu masuk, berada di deretan paling atas dari semua pesan yang masuk di ponsel Rama. "Maaf, telat. Biasa,aku bantuin istri urus Talita dulu." Kata Devan terengah, ia tadi sedikit berlari saat sampai di depan cafe agar cepat bertemu di tempat Rama yang sudah lama menunggu. "Oh, ya. Tak apa." Jawab Rama, ia menawari Devan minum. Devan duduk di samping Rama, ia masukkan ponselnya setelah mengetikkan pesan untuk sang tercinta bahwa ia telah sampai dengan selamat di tempat yang ia tuju. Devan memesan minuman favoritnya sejak dulu, milkshake coklat. "Jadi, bagaimana? apa yang membuat sahabatku ini gundah gulana?" kelakar keluar begitu saja dari mulut Devan, Rama mendengus tanda sebal dengan nada mengejek dari bibir Devan terasa begitu nylekit dihatinya. "Menurutmu, dua orang berciuman itu tanda saling mencintai?" tanya Rama, wajahnya sangat serius menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Devan. "Hah! pertanyaan konyol macam apa itu. Ya sudah jelas, mana mungkin tanpa perasaan apapun bisa berciuman begitu saja. Kalau bodoh jangan kebangetan, Zheyenk."  Rama menghela napas dalam, ia sedikit emosi dengan kata-kata yang Devan ucapkan. Namun ia tahan, tujuan ia memanggil Devan kemari untuk mendengar curahan hatinya. "Tadi, waktu perjalanan pulang dari ruko. Aku melihat mereka berciuman, di dalam mobil." Ucap Rama berat, ia menyesap kopinya yang sudah dingin. Mata Devan melebar, ia tahu betul siapa mereka yang Rama maksud. Ia menggelengkan kepalanya. "Salah lihat kali. Oh terima kasih." Devan menerima minuman yang ia pesan. "Itu tidak mungkin. Aku melihatnya dengan jelas, mataku masih normal. Apalagi makhluk nocturnal sepertiku, tak mungkin salah lihat." Benar yang dikatakan Rama, matanya masih normal. Sangat normal. "Lalu? Apa yang mereka lakukan lagi? ciumannya lama atau sebentar?" tanya Devan. "Ck, untuk apa kau bertanya seperti itu!" kesal Rama, di sini yang bodoh dirinya atau Devan? "Kalem bro, maksudnya kalau lama mereka menikmati. Dan saling cinta, kalau sebentar mungkin cuma lakinya saja yang nyosor." "Tidak penting, asem. Sepertinya aku salah orang." Devan sepertinya bukan orang yang tepat untuk diajak curhat maslah ini, Rama sejak dulu lebih sering bertukar pikiran dengan Denis ketimbang Devan. Tetapi untuk masalah ini, tidak mungkin Rama minta solusi Denis. Karena menyangkut Diva. "Ayolah, katakan intinya saja. Kau terlalu berputar-putar." Kata Devan, ia tak suka suatu hal yang bertele-tele sejak dulu. "Aku akan berhenti memperjuangkan rasa ini untuk Diva, sepertinya memang tak ada lagi harapan untuk memilikinya." "Yang benar saja! Kau sudah bertahun-tahun menunggu, dan melepas begitu saja?" "Untuk apa? toh dia sekarang sudah ada orang baru." Rama memperlihatkan isi pesan Diva kepada Devan, Diva mengatakan jika Diva kembali teringat masa-masa bersama Denis dulu. Dan itu sangat menyakiti Rama, tak ada sedikitpun ingatan Diva tentangnya. Tentang Rama yang terus berjuang untuknya. "Wah, berat sih ini. Ya, kalau menurutku sih, lebih baik mundur alon-alon. Dia cuma menganggapmu sahabat, tempat curhat. Tidak lebih." Saran Devan, melihat hubungan Rama dan Diva sama sekali tidak ada kemajuan. Justru semakin runyam. Memang dulu ia menyarankan Rama untuk terus berjuang, tetapi jika keadaannya seperti ini Devan takut Rama terlalu membuang waktu dan tidak ada hasil. "Sudah selama ini, dan harus mundur?" tanya Rama. "Iya, kamu cari yang pasti-pasti saja. Fokus dulu sama usahamu, nanti juga bakal ada sendiri gadis yang mampu memikat mu. Hahahaha." Tawa Devan kali ini begitu keras, Rama melihat sekeliling. Malu sekali jika mereka menjadi pusat perhatian. "Oke lah, terima kasih atas sarannya." "Yoi, sama-sama. Itulah gunanya teman. Jadi kangen masa-masa kita masih bertiga, ada saja hal seru yang bisa jadi bahan candaan.". Kata Devan, pikirannya melayang ditarik kebelakang. Dimana masa SMA adalah masa terindah dalam hidupnya. Keduanya melanjutkan pertemuan yang singkat ini dengan mengobrol, sudah sangat jarang mereka bisa seperti ini. Devan yang sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya, Rama sibuk dengan usaha dan kisah cintanya. Devan memiliki agak banyak waktu senggang sekarang, sang ibu mertua malam ini menginap di ruamhnya untuk bertemu anak cucunya. Jadi, ia tak perlu terburu-buru untuk pulang. **** "Bagaimana semalam?" tanya Nita kepada putrinya pagi ini, Diva tengah sibuk menata bekal yang biasanya ia bawa. "Biasa saja, Bu. Hanya perkenalan saja, tidak lebih." Jawab Diva, ia memasukkan kotak makan ke dalam tasnya. "Tapi ibu senang lho, Nduk. Berarti Fahri serius sama kamu, sampai kamu dikenalkan keluarganya segala." Lanjut Nita. Diva diam saja, tanpa minat menjawab ucapan ibunya. Ia malas  membahas hal itu sepagi ini, padahal Diva harus menata hatinya sebab kejadian tak mengenakkan yang ia lakukan kepada Fahri semalam. "Ibu harap kamu jalani benar-benar hubungan kamu sama Fahri, ingat usiamu, Nduk." Ucap wanita paruh baya itu, wajahnya yang ayu sudah dihiasi keriput dibagian bawah matanya menatap ke arah Diva yang memunggunginya. Gadis itu malas jika sudah membahas sampai hal ini, ia ingat berapa usianya sekarang. Namun bukan berarti itu tuntutan dia harus menikah dalam waktu dekat ini. Semua butuh proses, penjajakan dengan Fahri saja belum sepenuh hati ia menjalaninya. "Fahri sudah jemput, Bu. Aku pamit." Kata Diva, menekan rasa kesal kepada sang ibu yang menggelayuti hatinya. Membuat mood Diva tak enak. "Hati-hati." Pesan Nita. Fahri sudah menunggu di depan rumah, menjemput Diva seperti biasanya. Tak ada yang berubah padanya atas kejadian semalam, senyumnya tetap mengembang saat Diva sudah berada di ambang pintu. "Ayo berangkat." Kata Fahri, ia membukakan pintu untuk gadis itu. "Iya." Ucap Diva singkat. "Maaf." Kata Fahri setelah ia masuk ke dalam mobil, duduk di samping Diva. "Untuk?" "Semalam, aku tahu aku kelewatan." "Tak apa." Jawab Diva singkat, ia tak mau kembal membahas hal yang sama dan semakin membuat harinya kacau. Pikirannya sudah penuh dengan kisah masa lalu yang terus menghantuinya, desakkan sang ibu untuk segera menikah, tentang hubungannya dengan Fahri, ditambah lagi perubahan sikap Rama akhir-akhir ini juga semakin membuat beban pikiran Diva penuh. Entah sampai kapan Diva mampu membendungnya, bisa-bisa semua meledak begitu saja saat dirinya sudah lelah. Ia memejamkan mata, mencoba merilekskan pikirannya. Fahri meliriknya, ia biarkan Diva dan tak lagi berbicara. Membiarkan gadis itu tenggelam dalam mimpinya. "Diva, kita sudah sampai." Fahri menepuk pelaan pundak Diva,perlahan mata gadis itu terbuka. "Maaf aku ketiduran." Jawab Diva tak enak, Fahri mengangguk. "Nanti, izinkan aku pulang naik ojek." Ucap Diva ketika mereka akan turun dari mobil, gerakan Fahri yang hendak membuka pintu terhenti. "Aku ingin pulang sendiri." Lanjut Diva. "Ah, baiklah." Kata Fahri. Diva turun terlebih dulu, meninggalkan Fahri yang masih di tempatnya. Fahri pikir Diva memang butuh waktu untuk sendiri, karena selama ini Fahri seakan memaksanya untuk berangkat ataupun pulang kerja bersamanya. Tanpa pernah menanyakan keinginan Diva, Fahri berusaha akan selalu mengerti keinginan Diva setelah ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN