bc

Anael : At Last Mission

book_age18+
377
IKUTI
1.9K
BACA
fated
arrogant
badboy
student
drama
tragedy
twisted
sweet
like
intro-logo
Uraian

Anael adalah malaikat cinta yang mendapat kutukan karena keegoisan cinta masa lalunya, Ia harus menyelesaikan misi terakhir di bumi agar bisa kembali ke dunia kayangan.

Namun, setelah bertemu dengan Biru, tujuannya berubah. Anael ingin tetap di bumi. Ada dua pilihan yang akan mengabulkan permintaan Anael untuk tetap bersama cowok itu, salah satunya adalah kematian Biru.

Akankah Anael mengulang kegoisannya untuk bersama cintanya?

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Satu
Detrian Biru Daijiro mengatakan bahwa atap adalah tempat ternyaman, sepi, dan juga terbaik di seluruh penjuru sekolah. Itu adalah dalil Biru si pencinta keheningan. Bahkan heningnya ruang UKS, masih bisa mendengar suara siswa yang berjalan sembari mulutnya bercicit seperti burung, kalah dengan atap yang hanya merasakan tiupan angin yang sedikit menggoda. Satu-satunya tempat paling indah di sekolah yang bisa melihat hiruk pikuk kota di siang hari. Berjemur gratis tanpa harus pergi ke pantai. Seorang siswa laki-laki berseragam putih abu-abu kini terlihat sangat santai di bangku panjang dengan posisi telentang. Bangku kayu yang sudah terlihat rapuh, dan cat yang memudar dari warna asli. Tetapi seperti sangat nyaman berbaring di bangku itu. Satu tangannya diletakkan di atas kepala, menutupi kedua mata agar tak berinteraksi langsung dengan sinar mentari yang sudah sangat terik. Sesekali kepalanya digerakkan mengikuti alunan musik yang diputar melalui telepon genggamnya. In my dreams you're with me We'll be everything I want ya to be And from there, who knows, maybe this Will be the night that we kiss for the first time Or ia that just me and my imagination We walk, we laugh, we spen our time walking bay the ocean side Our ganda are gently intertwined ... (Song by, Shawn Mendes- Imagination) Cowok itu mendengkus kesal kala sebuah getaran telepon genggam miliknya menghentikan lagu yang kini tengah bermain indah di telinga. Seakan sudah sangat hafal dengan letak touchscreen untuk menerima panggilan masuk, tanpa membuka matanya dia menjawab panggilan itu. Kalau bukan mama pasti papa, jika bukan keduanya pasti kakak, dan jika semua salah sudah dipastikan si bawel Vero, Pikirnya. "Biru!" seru si penelepon sedikit lebih kencang, membuat cowok bernama Detrian Biru Daijiro menjauhkan barang yang berada di genggamannya. "Aish," gerutunya kesal. Ia melihat layar dan nama Vero terpampang dengan jelas di sana. "Kenapa?" tanyanya setelah kembali mendekatkan gawai dengan telinganya. "Kenapa? Lo lupa, sama yang tadi gue omongin?" Suara Vero kini terdengar bingung dan juga kesal. "Apa?" Biru sedikit berpikir. Cowok itu mendengar Vero menghembuskan napas berat. "Gue bilang tungguin gue di koridor, ngapa sekarang lo jadi ngilang kayak jin,” ujar Vero kesal. "Lo kelamaan di toilet, waktu gue kan berharaga.” Biru mendalilkan hadis. “Terus ini gimana?” “Gimana apanya?” “Biru!” Vero seperti sudah menyerah. “Lo urus aja sendiri. Nanggung gue udah di atap.” Biru memutuskan panggilannya tanpa basa-basi. Kembali pada posisinya semula, setelah tadi dia menurunkan lengannya. Menggerakkan kepala setelah pemutar musik kembali menyala. Vero adalah satu-satunya sahabat dia dalam dunia yang Ia ciptakan. Dunia yang melarang orang asing masuk. Hanya ada mama, papa, kakak dan Vero sahabatnya, juga Mbok Dirah yang sudah mengurusnya sedari kecil. Bahkan scurity yang berjaga hanya sebatas membukakan gerbang saat Biru masuk. Dunia Biru di sekolah hanya seputar, tidur di kelas, tidur di atap, dan diam saat melihat kegaduhan di dalam kelas. Bukan dunia introvert, melainkan dunia aneh yang diciptakannya, membuat orang di sekelilingnya menilai bahwa dia adalah orang yang sombong dan arogan. Dilihat dari matanya yang tajam seperti cutter milik guru kesenian. Cowok yang selalu cuek saat ada cewek yang dengan jujur menyukainya. Biru mengubah posisinya menjadi duduk. Mengedarkan pandangannya ke seluruh atap sekolah yang siang itu sangat sepi. Memasukkan ponsel ke dalam saku celananya, lalu mulai berjalan menuju pintu akses untuk memasuki gedung itu. Waktu istirahat hampir habis, Biru harus menuruni anak tangga untuk sampai kelas. Kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana abu-abu yang dikenakannya. Sesampainya di lantai tiga, yang merupakan lantai kelas dua belas. Langkahnya terhenti ketika seseorang memanggil. Suara yang sudah sangat Biru kenal dan membuat cowok itu sangat sebal. "Biru!" panggil seseorang dengan jarak sekitar lima meter dari arah kanannya. Tanpa menoleh Biru tahu pemilik suara itu. Mendapati sosok cowok yang dikenal sebagai playboy cap dua jari yang kepopulerannya patut diacungi empat jempol. Siswa kelas dua belas yang tidak peduli dengan adanya ujian nasional. Di pikirannya hanya ada Azura, Angel, Agata, Aristya, Bianca, Mona, dan deretan siswi cantik yang sudah menjadi mantan tetapi masih hangat dalam ingatannya. Biru menoleh dengan wajah tanpa ekspresi. Seperti tak tertarik dengan apa yang akan didengarnya, namun penasaran. Lebih tepatnya, bingung karena tiba-tiba cowok bernama Sian memanggilnya, bahkan ketika masih ada beberapa siswa yang masih nampang di koridor itu. "Bukan seperti itu cara lo supaya dapat pengakuan. Lo, kan? Yang laporin gue sama guru BK masalah kemarin?" Belum sempat melanjutkan, Biru sudah berbalik arah. Tanpa menjawab ucapan Sian. Biru kembali melangkahkan kaki menuruni anak tangga selanjutnya. “Biru!” Seketika siswa yang menyaksikan langsung memandang mereka penasaran. Sian terlihat kesal, namun mencoba menyembunyikannya setelah ia tersadar bahwa masih ada beberapa siswa yang melihatnya. Ia memutuskan kembali ke kelas. __ Seperti biasa ruang kelas sama persis dengan pasar pagi yang selalu digelar pada hari Minggu, ramai. Siswa perempuan biasanya bergibah ria, atau ada yang tertawa lepas saat mengobrol dengan siswa laki-laki. Biru hanya harus menempati mejanya, duduk di kursi keramat yang berada di barisan paling belakang. Menelungkupkan kepala di meja dan menghadap jendela kelas. Menikmati matahari siang yang memantul dari cermin mengenai wajah mulusnya. Sesekali memejamkan mata dan memainkan tangannya untuk menutupi wajahnya dari sinar matahari. "Rese lo," protes seseorang yang mungkin tingkat kekesalannya sudah berada di tenggorokan dan akan memuntahkannya. Melempar sebuah buku tulis yang mengenai tangan Biru. Sontak, Biru membuka matanya. Benar, orang itu mengganggu ketenangannya di kelas. “Untung gue selamet dari guru killer itu," lanjut Vero kesal. Tanpa menoleh, Biru meraba meja, mencari buku yang dilempar oleh Vero, sepersekian detik berhasil meraih buku itu. "Thank's," ucapnya singkat. "Apa? Thank's?" Suara Vero meninggi dan langsung mengambil posisi duduk di bangku kosong depan Biru. "Lo masih sehat, kan? Lo tau, gue dapetin tuh buku dengan cara apa?" tanya Vero kesal. "Yang jelas, gue udah dapet bukunya. Tugas gue selamat, dan lo gue traktir makan," ucap Biru. "Tunggu!" Biru mendongakkan kepalanya. "Kan, lo yang salah, ngapa jadi gue yang traktir?" Biru kembali menelungkupkan kepala. "Hampir aja, tuh guru killer liat gue ada di mejanya," ucap Vero. "Kalo ketauan gue tuker buku lo yang salah dikumpulin, bisa-bisa gue dihukum keliling lapangan. Bukan, tapi berdiri selama dua jam di depan sana." Vero menunjuk papan tulis yang tergantung manis di depan kelas. "Udah ngocehnya? Berisik tau!" Biru mendongakkan kepalanya menghadap Vero. "Sialan lo," gerutu Vero kesal. "Nggak tau gue masih panik apa?" Gara-gara kesalahan Vero mengumpulkan tugas fisika milik Biru, dan dia mengambil buku yang salah. Bukan buku fisika tetapi buku matematika yang dibawanya. Vero meminta bantuan Biru untuk mengawasi dirinya menukar buku saat jam istirahat, karena Ia tahu bahwa para guru tengah mengadakan rapat. Akan tetapi, setalah bel istirahat berbunyi, Biru malah pergi tanpa sepengetahuan Vero yang sedang menikmati keindahan toilet siswa laki-laki. "Karena gue orang paling baik di dunia ini. Jadi, gue tunggu di atap, istirahat kedua. Gue traktir makanan paling enak. Bila perlu beli makanan yang belum pernah lo makan.” Pernyataan Biru berhasil membuat Vero tersenyum dan langsung membuang rasa kesal pada dirinya. "Oke." Jarinya membentuk sign ok, mencolek dagu Biru meniru cewek genit sembari mengedipkan matanya. Pukul 12.00 WIB, bel istirahat kedua berbunyi. Waktunya makan siang, menunaikan ibadah sholat bagi yang menjalankan. Tetapi, biasanya kantin lebih rame dari tempat beribadah. Siswa biasanya lebih mendahulukan makan dibanding menyapa Sang Penciptanya. Kata guru agama mengutamakan sholat itu lebih penting, tetapi saat kita sholat dalam keadaan perut kosong, bukan khusuk' yang didapat tapi pikiran kita akan melayang pada nasi dan teman-temannya. Biru menaiki anak tangga yang entah berapa jumlahnya. Gayanya sudah menjadi ciri khas, yaitu memasukkan kedua tangan di saku celana abu-abu yang dikenakannya. Langkahnya membuat sepatu yang dipakainya menimbulkan suara saat berinteraksi langsung dengan lantai. Membuka pintu atap, disambut oleh angin yang berliuk tepat di depan badannya yang tinggi. Walaupun di ruang kelasnya memiliki pendingin ruangan, tetapi faktanya angin lebih segar. Biru menginjakkan kaki lagi di atap, seperti ada kebahagiaan tersendiri saat cowok itu berada di atap. Tiba-tiba sneaker berukuran empat puluh dua sentimeter, yang membalut kaki panjang Biru berhenti melangkah. Telinga cowok itu mendengar ada suara aneh yang menarik perhatiannya. Seperti isak tangis seorang perempuan, yang sesekali mengumpat. Suara itu terdengar samar-samar, namun Biru yakin kalau dirinya tak sendirian di atap. Pertama kalinya Biru penasaran, menemukan hal asing di hidupnya. Bukan hal asing, tetapi hal mistis di siang bolong. Dia berjalan sangat pelan menuju tumpukan meja dan kursi yang sudah ditata rapi, di ujung atap. Suara itu semakin jelas di gendang telinganya. "Siapa dia, berani banget bilang kalo gue kegatelan! Padahal dia sendiri yang gatel! Kalo aja gue bisa pake kekuatan gue di sini, udah end semuanya," rutuk seorang perempuan, lalu kembali terisak. Biru dengan jelas mendengar suara aneh itu. Suara yang membuatnya penasaran. Suara yang didengarnya pertama kali di atap.  "Apa makhluk halus juga berkeliaran pada siang hari?" batin Biru penasaran. Mata elangnya melihat warna seragam dari sela-sela meja yang tertumpuk. Dia pun memberanikan diri untuk lebih dekat dan melihatnya dengan jelas. Biru mendapati seorang siswa perempuan tengah berjongkok di pojokan antara kursi-kursi yang sudah tak terpakai. Tanpa air mata, walaupun cowok itu mendengarnya kalau cewek di depannya sedang menangis. Bola mata cewek itu membulat, ketika melihat Biru sudah berdiri di depannya. Mendapat tatapan aneh dari cowok yang kini sedikit membungkukkan badannya untuk melihat keadaan dirinya. "Lo siapa?" tanya Biru bingung. Matanya menatap tajam. "Heh. Gue___" Cewek itu terlihat sangat gugup. Ia ragu untuk menjawab pertanyaan Biru, terlebih dirinya belum menemukan seseorang yang akan ditemuinya di sekolah ini.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Om Bule Suamiku

read
8.9M
bc

Nafsu Sang CEO [BAHASA INDONESIA/ON GOING]

read
892.9K
bc

Mrs. Fashionable vs Mr. Farmer

read
440.3K
bc

Mafia and Me

read
2.1M
bc

T E A R S

read
317.7K
bc

Hate You But Miss You

read
1.5M
bc

Hubungan Terlarang

read
513.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook