Sore, waktu yang paling ditunggu Kayla sudah datang. Ia keluar dari kantor pemasarannya dengan wajah cemas. Dilempar sorot sepasang matanya ke seluruh penjuru. Ia berharap ada pria yang setiap hari selama beberapa minggu terakhir menunggunya di depan bangunan yang menjadi kantornya. Akan tetapi, tidak ada pria itu. Kecewa sudah pasti menjadi pil paling pahit sore ini. Menyesal menjadi rasa paling mematikan yang harus Kayla rasakan. Ia ingin menangis. Padahal usianya sudah lebih dari dua puluh. Namun, mengapa rasanya akhir-akhir ini pikirannya sangatlah labil dan sulit untuk berpikir jernih. Berat kaki untuk melangkah pulang. Ia masih berharap ada matahari keduanya di sana. Menjemput dirinya seperti biasa. Atau datang tiba-tiba dan berteriak memanggil namanya. Kemudian ia bisa menghilang

