bc

Cinta dan pengorbanan

book_age18+
1.9K
IKUTI
25.5K
BACA
love-triangle
first love
spiritual
like
intro-logo
Uraian

Pada akhirnya pengorbanan itu hanya menyisakan perih dan sakit hati. Cinta yang bersemi cukup lama hanya menyisakan kecewa dan merana.

Kayla Handyta Rahmi harus menerima sebuah kenyataan pahit dalam kehidupan percintaannya. Rela melakukan segalanya untuk kekasih. Namun takdir berkata lain.

Tak ada kata yang bisa mewakili kecuali sakit dan perih.

**

"Jadi, ini pembalasan atas semua pengorbananku?" Kayla memasang wajah tak percaya. Bulir air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya tumpah sudah.

"Iya, ternyata aku lebih mencintai wanita lain." Fajar mengatakannya dengan begitu mudah. Ia bahkan tak ada penyesalan saat menyampaikan hal tersebut.

Kayla merasa lututnya lemas. Ia tak bertenaga sedikitpun sehingga kakinya terpaksa bersimpuh. Berhadapan langsung di hadapan mataharinya. Fajar.

"Aku mohon Fajar, jangan tinggalkan aku." Kayla kembali meminta. Ia mengemis cinta pada matahari penyemangatnya.

"Nggak Kayla. Aku nggak bisa. Aku akan menemuimu dan mengganti semuanya setelah acara resepsi." Fajar melepas kedua tangan Kayla yang berpegang padanya.

"Fajar, sampai kapanpun. Kamu adalah matahariku," batin Kayla yang ditinggal pergi kekasihnya untuk selamanya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Tabrakan Di Dalam Kelas
Tabrakan itu terjadi. Saat Kayla buru-buru ingin keluar kelas, dan Fajar berjalan seenaknya tanpa melihat ke depan. "Brukkk." Suara tubuh Kayla terbentur dengan tubuh Fajar. Hingga membuat Kayla terpental dan hampir jatuh ke lantai. Akan tetapi, Fajar mampu menangkap dirinya. Karena kejadian itu, Kayla saling beradu pandang dengan Fajar. Bagi Kayla yang diam-diam mengagumi laki-laki di depannya hanya bisa membeku dalam tangkapan kedua tangannya. Ada hati kecil Kayla yang ingin sekali menghentikan waktu. Namun itu hal mustahil. Membiarkan kedua netranya untuk melihat lebih lama juga tidak baik. Ia pun segera membuang wajah ke salah satu sudut kelas yang hampa. "Maaf, aku nggak sengaja!" ucap Kayla yang masih berada dalam adegan paling manis selama dalam hidupnya. Adegan itu terlihat manis memang. Satu tangan Fajar menahan punggung Kayla dan tangan lain melingkar di sisi lainnya. Seperti orang berdansa yang akan jatuh dan Kayla berhasil meletakkan kedua tangannya agar bisa berpegang pada leher Fajar yang menggemaskan. "Iya, aku juga nggak lihat pas jalan," sahut Fajar dengan segala rasa. Ia tak pernah melihat Kayla sedekat ini. Biasanya hanya melihat sekilas saat masuk ke dalam kelas. Itupun karena Kayla duduk di bangku paling depan. Tepat berada di depan pintu masuk kelas. Kayla menormalkan diri, ditegakkan tubuhnya yang baru saja tersesat dalam pelukan Fajar. Ia tak menyangka jika hatinya akan sekacau ini saat hal itu terjadi. Wajahnya sedikit merah. Mungkin Fajar melihatnya. "Kalau begitu permisi. Aku mau lewat," ucap Kayla sekali lagi. Ia kemudian berjalan melanjutkan langkah. Menjauh dan semakin tak terlihat oleh Fajar yang masih berada di dalam kelas. Fajar masih bergeming di tempatnya berdiri. Ia merasa beku. Ingatannya yang tadinya nol terasa mulai dibayangi wajah polos Kayla. Ia tersenyum sendiri mengingat kejadian barusan. Murid perempuan yang setahu Fajar duduk paling depan di sisi pojok kelas. Namanya adalah Kayla, pribadinya pendiam dan cukup pintar. Namun, baru kali ini ia melihatnya dengan jarak yang begitu dekat. "Ternyata dia anak yang cukup manis." Fajar berbicara sendiri. Ia merasa senang bercampur malu. Malu jika ada yang melihat kejadian barusan. Telapak tangannya bergerak menutupi bibir yang terus saja ingin tersenyum. Tiba-tiba, saat kaki mulai melangkah. Ada sebuah benda tak sengaja ditendang. Benda itu cukup menyita perhatian Fajar. Ia pun bergerak mencarinya. "Inikan," ucap Fajar sambil melihat benda yang tak sengaja ditendang tadi. Bibirnya menarik senyum. Kemudian mengambil dan memasukkan benda tersebut ke dalam saku baju seragamnya. ** Jam istirahat hampir habis. Kayla kembali duduk di bangku yang biasa ditempati. Ia menyiapkan buku pelajaran seperti biasa. Membiarkan diri sibuk mengatur apa yang harus ada di atas meja. Namun, rasanya ada yang hilang. Berulang kali dicari tetap saja tidak ada. Mustahil jika ada yang mencuri. Karena hanya sebuah benda yang nominalnya cuma dua ribu rupiah. Akan tetapi, itu hanya berlaku bagi teman sekelasnya. Sedangkan bagi seorang Kayla, benda tersebut sangat berharga Apalagi jika mengingat dirinya tak memiliki banyak uang. "Pulpenku mana sih? Itu pulpen kan baru aku beli," batin Kayla sambil mengingat dimana terakhir kali pulpen itu berada. Di pulpen tersebut, ada nama si pemilik yang ditulis di kertas kecil. Direkatkan di ujung atas pulpennya dan diberi selotip agar tidak mudah mengelupas. Berharap pulpennya tak pernah hilang. Atau jika jatuh maka akan segera kembali ke pemiliknya. Lani yang duduk di samping Kayla memperhatikan gerak gerik teman sebangkunya itu. "Sedang mencari sesuatu?" tanyanya. "Ah, pulpenku kayaknya hilang." Kayla menjawabnya sambil tetap terus mencari. "Biar aku bantu cari," sahut Lani. Mereka berdua sibuk melakukan pencarian. Namun yang dicari belum juga ditemukan. Hingga Kayla sampai mengecek di bawah kolong meja. Membungkuk dan tanpa sadar kedua matanya menangkap ada sepasang kaki berdiri di depan meja. "Sepatu cowok," batin Kayla yang melihat sepasang kaki itu menggunakan sepatu laki-laki. Ia melirik sebentar, dan segera menarik tubuhnya dari bawah kolong meja. Duduk, menatap siapa sosok di depannya sekarang. "Hay," sapa Fajar sambil tersenyum. Kayla tertegun sejenak. Melihat pemandangan pangeran tampan dengan senyum sederhana tanpa dibuat-buat seketika melupakan pencariannya tadi. Dia masih belum mengeluarkan sepatah katapun. Matanya berkedip berulang kali. Ia masih ingin memastikan di hadapannya saat ini adalah Fajar. Anak laki-laki yang duduk di bangku paling belakang dan sempat menabraknya tadi saat jam istirahat. "Kayla," panggil Fajar menyadarkan lamunan gadis di hadapannya. "Hay juga," sahut Kayla gelagapan. "Ada apa?" Fajar kemudian menyerahkan pulpen hitam bertuliskan nama Kayla. "Ini punyamu kamu kan?" "Iya," ucap Kayla sambil menerima pulpen tersebut. Ia masih tidak percaya benda yang sedang dicari ada pada Fajar. Bahkan, Fajar juga tahu dan mau menyebut namanya yang sangat tidak populer di kelas. Gara-gara pikiran itu, Kayla hampir saja lupa mengucapkan kata balasan. "Makasih ya!" "Sama-sama!" Fajarkembali ke tempat duduknya. Ia meninggalkan banyak jejak rasa penasaran pada Kayla dan juga Lani yang sempat diam tak percaya melihat ada Fajar. "Hey Kay, sejak kapan dia tahu namamu. Bukannya dia paling anti sama cewek di kelas ini?" tanya Lani dengan asal. "Aku juga nggak tahu. Ngomong-ngomong, kenapa dia anti sama cewek kelas ini?" "Emang kamu nggak tahu?" tanya Lani. "Enggak!" jawab Kayla singkat. Lani memutar bola matanya kesal pada Kayla. "Soalnya di kelas ini, nggak ada yang cantik. Secara, dia kan paling ganteng di kelas ini. Tapi tunggu, menurutku aneh. Dia kok bisa tahu nama kamu sih Kay?" Lani sekali lagi bertanya. Ia menatap tajam penuh selidik. Akan tetapi, Kayla benar-benar tidak tahu. Dirinya pun terpaksa hanya membalas dengan gelengan kepala saja. Lani kecewa, ia rasa memang tidak terjadi sesuatu di antara mereka. Apalagi mengingat Kayla bukan siapa-siapa. Mungkin memang hanya kebetulan saja pemandangan barusan. Selama jam pelajaran, Kayla tak bisa konsentrasi. Ia masih teringat sosok Fajar yang sejak tadi meracuni otaknya. Dimainkannya rambut panjangnya yang terikat. "Harusnya aku nggak berharap banyak. Dia cuma mau mengembalikan pulpen aja. Nggak lebih. Tapi, darimana dia dapat pulpenku?" tanya Kayla pada hatinya. Dilihat pulpen tersebut berkali-kali. Ia tersenyum sendiri menyadari ada jejak jari Fajar di sana. Sementara itu, Kayla tak sadar ada sepasang mata melihat dari kejauhan. Memperhatikan dirinya memainkan rambutnya yang terikat jatuh di atas bahunya. "Aku baru sadar ada cewek cantik di kelasku. Kayla Handyta Rahmi. Dalam sekejap kamu udah bikin aku nggak bisa lupa," batin Fajar dari bangkunya. Menopang dagu dengan kedua tangan sambil melihat Kayla meski hanya bagian belakang saja.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.8K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.5K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
75.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook