Teringat Selalu

1052 Kata
Malam telah menguasai hari dengan kegelapannya. Seorang anak sedang bersantai di depan meja belajar. Memandang malas ke arah tumpukan buku yang tergeletak. Ia merasa dirinya tak seperti biasanya.  Ada hal yang tak dapat dilupakan begitu saja oleh anak itu, Fajar. Ia merasa dihantui oleh wajah Kayla. Ingin sekali hari bisa segera berganti. Menghilangkan gelap yang singgah setiap malam. "Ahhh, kenapa aku jadi kayak gini sih," gumam Fajar. Ia pun bergerak ke atas tempat tidur. Rasanya kantuk mulai menyerang. Ia masih terbayang-bayang sosok Kayla. "Kayaknya aku beneran suka sama dia," gumamnya lagi dan segera memejamkan mata. Tak lupa selimutnya ditarik. Ia siap masuk dunia mimpi. Waktu berjalan dengan cepat. Jarum jam bergerak dan hampir mendekati pukul lima pagi. Fajar belum mau bangun. Ia masih ingin terlelap melanjutkan mimpi. Dalam mimpinya, ia bertemu bidadari, dan bidadari itu bernama Kayla dengan seragam putih abu-abu. Tersenyum menyapa, menyambut kedatangan dirinya yang akan masuk sekolah, dan tiba-tiba saat dirinya masuk ke dalam kelas. Ada suara yang membangunkan. "Fajar! Nak, ayo bangun Nak. Kamu nggak sekolah. Ini udah pagi lho!" ucap Maya, Mama dari Fajar. Fajar sedikit mendengar suara tersebut. Ia yang masih berada dalam mimpi sempat terkejut karena suara Kayla yang rasanya tidak asing untuk didengar. Ia masih berusaha melanjutkan. Tak peduli suara sang mama yang keluar dari mulut Kayla. Akan tetapi, makin lama makin terdengar aneh. Pada akhirnya, dirinya benar-benar membuka mata. Ia melihat Mamanya ada di samping tempat tidur. Beliau memasang wajah sedikit kesal. Mungkin karena sudah membangunkan sejak tadi, tapi Fajar tidak kunjung bangun. "Mama," ucap Fajar mulai sadar. "Ayo bangun. Kamu nggak mau berangkat sekolah." "Iya Ma. Aku bangun." Fajar buru-buru bangun dari tempat tidur. Ia masuk ke kamar mandi tanpa peduli mamanya yang masih sedikit emosi. "Ahhh padahal lagi mimpi ketemu Kayla. Kenapa nggak dari semalam aja sih mimpiin dia. Kenapa pas waktu mau bangun." Fajar berbicara sendiri. Tanpa sadar air dingin yang ada di kamar mandi. Ia siramkan begitu saja di tubuhnya. "Arghhhh, dinginnya …." ** Sarapan pagi, Fajar terlihat buru-buru ingin menghabiskan makanannya. Mama Maya melihatnya dengan begitu tajam. Menyelidiki tiap raut wajah yang tak biasa muncul di wajah anaknya. "Kamu kenapa?" tanya Mama Maya pada Fajar. Fajar yang tak curiga apa-apa, hanya menjawabnya dengan biasa. "Aku nggak kenapa-kenapa." "Nggak mungkin. Tadi Mama dengar kamu panggil nama Kayla pas tidur." Spontan Papa Fajar bernama Faris tersedak. Ia menghentikan suapannya, dan menatap langsung ke arah Fajar yang masih diam tak menjelaskan. Fajar tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya. Ia bingung akan bicara apa.  "Siapa Kayla?" Suara tegas dari Papa Faris keluar juga.  "Dia teman Fajar di sekolah Pa," jawab Fajar sambil berusaha menghabiskan minumannya dengan segera. Diraih tas ransel yang sudah siap. Ia kemudian mengecup punggung tangan kedua orang tuanya memberi hormat. "Kamu udah mau berangkat?" tanya Papa Faris sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Iya Pa. Ada tugas kelompok," jawab Fajar dan segera berlalu pergi. ** Mentari pagi begitu terasa panas. Kayla merasa hari ini pasti masih cerah. Padahal bulan hampir masuk ke musim penghujan. Tapi, tak ada tanda-tanda mendung atau gerimis yang bisa datang kapan saja. Hampir sampai, motor yang ditumpangi Kayla. Ia turun dari sana dan menundukkan sedikit wajahnya. "Terimakasih," ucap Kayla pada si pemilik motor yang dimintai tumpangan gratis. "Ah, jangan sungkan. Lain kali kamu numpang lagi juga nggak papa. Kalau aku kebetulan berangkat kerja," ucap orang tersebut. "Iya Kak. Maaf merepotkan." Kayla membiarkan motor itu pergi meninggalkannya. Ia kemudian berjalan ke arah pagar sekolah yang masih belum ramai. Seorang murid laki-laki tampak sibuk dengan jam tangannya. Ia bermaksud menyibukkan diri agar tak merasa jika sudah menunggu cukup lama. Ia melihat Kayla sudah datang. Sorot matanya berubah ceria seperti akan bertemu artis idola. Segera diikutinya langkah kaki Kayla hingga tepat berada di depan pintu kelas yang masih tertutup. Tampaknya Kayla dan Fajar berangkat begitu pagi.  Kayla akan membuka pintu, bersamaan dengan Fajar yang mengikutinya. "Eh." Kayla terkejut, ia melihat ada tangan yang akan meraih gagang pintu bersamaan dengan dirinya.  "Maaf, biar aku yang bukain pintu buat kamu," ucap Fajar sambil tetap membiarkan tangannya memegang gagang pintu yang dipegang tangan Kayla. Buru-buru Kayla menarik tangannya. "Si, silahkan!" sahut Kayla gugup. Ia secara tak sengaja berpegangan tangan dengan murid paling tampan di kelasnya. Pintu terbuka, Kayla masuk terlebih dulu. Ia berusaha berjalan wajar. Kedua matanya berulangkali menutup dan membuka. Ia ingin tahu apa yang barusan terjadi padanya bukan mimpi.  Tanpa sadar, Kayla duduk di bangku yang salah. Ia masih ragu jika dirinya sudah bangun dan berangkat sekolah. Apalagi ada Fajar yang seperti memperhatikan dirinya. "Kamu nggak salah, duduk di situ?" tanya Fajar. Ia melihat Kayla duduk mematung di bangku yang lain. Kayla menghentikan kedipan matanya yang sebenarnya tak penting. Ia lalu melihat dirinya sudah tersesat. "Hey, ini emang bukan bangkuku," batin Kayla menahan malu. "Bangku kamu yang ada di pojok situ kan?" tanya Fajar sambil menunjuk bangku Kayla. "Ah iya," sahut Kayla salah tingkah. Gadis itu kemudian berpindah ke tempat duduknya. Wajahnya menunduk menahan malu. Sementara Fajar hanya tersenyum dan memperhatikan sekeliling. Sekolah belum begitu ramai. Ia pun memutuskan duduk di samping bangku Kayla. Kayla kembali terkejut. "Fajar ngapain duduk sini?" batinnya. Fajar mengeluarkan ponselnya. Ia kemudian memberikannya pada Kayla. "Aku minta nomor teleponnya dong!" pinta Fajar. "Hah, buat apa?" "Lho, emang kenapa? Kita kan teman sekelas." "Oh iya," sahut Kayla menerima ponsel itu. Ditekan tombol untuk menyalakan. Kedua matanya langsung melihat sebuah kalimat yang menghias sebagai wallpaper ponsel tersebut. "Wallpaper macam apa ini?" batin Kayla melihat kalimat I love you di ponsel itu. Ia merasa kalimat itu ditujukan pada dirinya. "Jangan ge-er, dia hanya minta nomer telepon," batin Kayla lagi. Kayla segera memasukkan nomornya. Lalu dikembalikan pada Fajar. "Ini." Fajar menerimanya dengan senang. Ia melihat nomor Kayla sudah tercatat, tapi belum tersimpan. Ia pun segera menyimpannya di buku telepon. Tertulis nama untuk nomor itu, calon pacar. "Makasih, kapan-kapan kalau aku butuh sesuatu. Aku boleh kan tanya sama kamu?" tanya Fajar. "Boleh, silahkan." "Oh iya, tadi yang nganter kamu sekolah itu sodara ya?" "Bukan, cuma tetangga. Aku menumpang di motornya buat berangkat sekolah. Biar dapat gratisan," sahut Kayla sedikit tersenyum. Ia kemudian mengalihkan wajahnya yang tanpa sadar menatap Fajar terlalu lama. "Aku terlalu banyak bicara. Kayaknya," batin Kayla. "Oh, boleh juga kalau kamu mau cari gratisan di motorku. Ya udah, aku duduk dulu. Udah ada anak yang mau masuk kelas," ucap Fajar. Ia kemudian berjalan menuju bangkunya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN