Kayla tak bIsa berhenti tersenyum. Ia merasa dirinya sangat beruntung. Beberapa hari ini, perhatian khusus ditunjukkan oleh Fajar pada dirinya.
Mulai dari berangkat sekolah sampai pulang sekolah. Menemaninya ke kantin, perpustakaan atau ruang guru. Bahkan ia juga membantu Kayla saat jam pelajaran olahraga. Membawakan botol mineral dan memberikan khusus untuk Kayla padahal ada Lani juga di sana.
Fajar tak berhenti sampai situ. Ia juga sengaja memilih Kayla sebagai teman kelompoknya.
"Hey, kamu bucin ya sama Kayla?" tanya salah seorang teman pada Fajar saat berkumpul di dalam kelas.
"Kayaknya," jawab Fajar dengan begitu jujur.
"Ya udah cepetan tembak. Bisa keburu sama orang lain."
"Siapa?"
"Setahuku, ada kakak kelas yang juga suka sama dia. Cuma Kayla kayak masih jaga jarak gitu."
"Apa!" Fajar terkejut tanpa mengeluarkan ekspresi.
**
Siang ini, kegiatan ekstra membuat Kayla harus berada lebih lama di sekolah. Ia masih membereskan bukunya.
"Aku pulang duluan ya!" ucap Lani. Teman sebangkunya.
"Iya hati-hati!"
Tinggal Kayla sendiri di dalam kelas. Ia melihat jam, masih ada tiga puluh menit sebelum kegiatan ekstrakurikuler dimulai.
Diraba perutnya yang terasa lapar. Benar-benar lapar, sampai terdengar cacing berdering riang.
"Ayolah, aku nggak ada uang buat beli makanan," keluh Kayla. Ia harus menghemat uang sakunya agar bisa menabung. Jika tidak, bisa pontang-panting dirinya nanti saat membayar biaya kelulusan sekolah yang lumayan besar.
Kayla menjatuhkan dirinya di atas meja. Ia tak berharap kondisinya membaik setelah bisa lebih dekat dengan Fajar. Ditraktir setiap hari jika hanya sebatas teman akan membuat dirinya merasa sungkan.
"Ahhh, tidur Kayla. Jangan berpikir macam-macam." Kayak berbicara sendiri. Ia memejamkan matanya sesaat. Mungkin setelah ini jam akan berjalan cepat dan membuat rasa laparnya sudah menghilang.
Baru beberapa detik saja. Kayla merasa ada tangan jahil membangunkannya. Ia menarik wajahnya menatap si pemilik tangan itu.
"Fajar, kamu mau ngapain?"
"Ikut aku sebentar, kita makan siang yuk. Masih ada setengah jam lagi sebelum kegiatan ekstra dimulai."
"Tapi, bukannya kamu harusnya udah pulang?"
"Aku nungguin kamu. Kasian kamu nanti pulang sendiri."
"Hah." Kayla masih sedikit terkejut. Tangannya ditarik Fajar agar mau ikut keluar kelas.
"Kita makan sebentar. Abis itu balik ke sekolah. Aku janji kamu nggak akan telat," ucap Fajar sambil menyuruh Kayla naik motor.
"Tapi, kamu nggak perlu nunggu aku sampai selesai kegiatan ekstra."
"Kenapa? Nggak boleh?"
"Bukannya nanti ngerepotin."
"Tapi aku suka direpotin sama kamu."
Fajar membentuk garis lengkung di bibirnya. Menghipnotis Kayla agar mau menuruti saja bagaimana rencananya hari ini.
"Kalau gitu, terserah kamu aja," jawab Kayla pasrah.
**
Tinggal beberapa menit lagi, kegiatan ekstrakurikuler berakhir. Kayla masih memperhatikan arahan guru.
"Akhirnya pulang juga," batin Kayla.
Ia merasa Fajar pasti sudah pulang. Tak mungkin anak seperti dia mau menghabiskan waktu satu setengah jamnya hanya untuk menunggu gadis biasa seperti Kayla.
Kaki melangkah keluar kelas tanpa beban. Kayla akan pulang sendiri. Ia tidak akan merepotkan Fajar untuk mengantarkannya pulang. Namun, pikirannya salah besar.
"Hay, aku pikir masih kurang setengah jam," sapa Fajar yang sedang berdiri dan bersandar di dinding. Satu kakinya ditekuk dan digunakan untuk tumpuan. Dia berpose seperti model yang sedang diambil fotonya.
Kayla sontak kaget. "Kok masih di sini?"
Fajar berjalan menghampirinya. "Kan aku tadi udah bilang, aku mau nungguin kamu pulang."
"Ini cowok pasti salah makan. Aku seneng sih, dia perhatian sama aku, tapi kayak nggak pantas deh kalau aku jalan terus sama dia," batin Kayla.
"Apa kita pulang sekarang?" tanya Fajar membuyarkan lamunan Kayla.
"Iya."
Fajar mengajak kembali ke motornya. Kayla ragu jika harus kembali pulang dengan motor itu. Ia sadar dirinya siapa. Juga bagaimanapun keluarga Fajar yang dikenal kaya. Ia pun menghentikan gerakannya.
"Tunggu. Maaf sebelumnya, kayaknya kita terlalu dekat deh," ucap Kayla tiba-tiba.
"Kenapa? Kamu udah ada pacar ya?"
"Bukan gitu. Aku nggak punya pacar. Cuma," ucap Kayla bingung harus melanjutkan kata-katanya seperti apa.
"Cuma apa?" tanya Fajar penuh selidik. Ia kemudian meraih tangan Kayla. Namun, Kayla menghindar. "Kamu nggak suka sama aku?" tanya Fajar lagi.
"Kamu mau apa sih sebenarnya?"
"Aku cuma mau, Kayla Handyta Rahmi bisa jadi pacarnya Fajar."
"Fajar siapa? Yang pasti bukan Fajar yang ada di depanku kan?"
"Emang ada berapa nama Fajar di sekolah ini."
Kayla diam mematung dengan pandangan mata yang tajam mengarah pada wajah Fajar.
"Jadi, kamu mau kan jadi pacarku. Kayla."
"Aku, aku nggak tahu."
"Kay, aku serius," tambah Fajar. Kini ia berhasil meraih salah satu tangan Kayla. Dipegang erat tangan itu dengan kedua tangannya. Menciptakan suasana romantis dalam sekejap. "Apapun yang kamu inginkan, pasti aku turuti. Aku sayang kamu tulus Kay."
Kayla tak mampu berkata apapun. Ada bisikan yang menyuruh dirinya untuk mengiyakan saja. Namun dirinya merasa terlalu cepat. Lagipula itu akan terlihat dirinya sebagai gadis gampangan.
"Kayyyyy!" panggil Fajar.
"Iya, maksud aku. Kita masih sekolah. Aku nggak kepikiran buat pacaran."
"Tapi, aku nggak mau ada cowok selain aku yang bisa miliki kamu. Aku udah jatuh cinta sama kamu Kay, please. Aku juga janji nggak bakal mengganggu sekolah kita berdua," ungkap Fajar.
"Gimana kalau aku tetap menolak?" tanya Kayla.
"Aku pastikan nggak akan ada cowok di sekolah ini, yang bisa pacaran sama kamu," sahut Fajar. Ia akan meyakinkan Kayla jika dirinya tulus mencintai seorang Kayla.
**
Dipandangi cermin di depannya. Melihat pantulan dirinya sendiri yang biasa-biasa saja. Membuat ia tak percaya dengan yang dialami sore ini.
"Apa istimewanya aku?" tanya Kayla pada bayangan di cermin.
Ia merasa dirinya sedang dimabuk kepayang. Senyuman tak bisa lepas dari bibirnya. Ia merasa malu mengingat kejadian sore ini.
Fajar Syafrudin sudah menyatakan cinta pada Kayla Handyta Rahmi. Tak ada yang bagus dari diri seorang Kayla. Make up saja tak semenor teman-temannya. Tas, sepatu bahkan peralatan sekolah lainnya tak sebagus milik temannya.
Kayla sempat menangis mengingat segala hal menyedihkan tersebut. Namun, itu memang hidupnya, dan sekarang dirinya melihat ada secerca kebahagiaan. Meski bukan dari harta. Tapi, dari perhatian Fajar, teman sekelasnya yang terkenal tak banyak tingkah.
"Aku masih nggak percaya, Fajar suka sama aku. Tapi akhir-akhir ini dia emang kasih perhatian lebih. Bahkan nunggu aku pulang sampe sore."
Bergerak menjauh dari bayangan di cermin. Kayla berusaha membuka buku dan membacanya. Ia hanya ingin belajar. Mungkin jika Fajar bisa memotivasinya untuk menjadi yang terbaik. Ia akan menerima cintanya.
"Mungkin bisa kita pacaran. Tapi dengan syarat," gumam Kayla. Ia berpikir bagaimana caranya agar semuanya bisa seimbang.
"Semangat belajar dulu Kay, jangan mikirin Fajar terus!" Kayla menarik nafas dalam dan berusaha melupakan sejenak masalahnya dengan Fajar.