Marina mengambil alat khusus untuk menyiram tanaman kaktus yang ada di belakang Nicholas setelah menanyakannya pada Roy di ruangannya. Baru saja akan mengguyur tanaman itu dengan sebuah gembor khusus di tangannya, kedua manik hitam Mariana menangkap sebuah hal yang berbeda dari kaktus yang pernah dia lihat.
“Maaf, Pak. Sepertinya ada yang aneh dengan kaktusnya,” ucap Mariana sambil meletakkan gembor yang ada di tangannya.
Nicholas spontan terkesiap dan bangkit dari tempat duduknya.
“Ada yang aneh bagaimana maksudnya?” tanya Nicholas sambil berdiri di samping Mariana dan ikut memperhatikan tanaman kaktus itu.
“Tanaman kaktusnya sepertinya sedang tidak sehat, Pak. Batangnya seperti mengecil dan.. Auchh!” tanpa sengaja Mariana menyentuh duri kaktus itu dan menusuk jarinya.
“Mariana!”
Dengan spontan Nicholas langsung meraih tangan Mariana yang jarinya terkena duri kaktus itu. Titik merah terlihat mulai muncul ke permukaan kulit jari Mariana.
“Kamu ceroboh sekali,” ucap Nicholas yang tak lama kemudian menghisap titik merah di permukaan jari Mariana.
Mariana sontak menegang melihat perlakuan Nicholas padanya. Matanya membulat manatap Nicholas. Tak lama kemudian, Nicholas tersadar dan terdiam sambil membalas tatapan Mariana.
“Maaf,” ucap Nicholas dengan cepat melepaskan tangan Mariana dari genggamannya.
Suasana berubah kaku seketika. Mariana mengedipkan kedua matanya beberapa kali, berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang terjadi barusan bukanlah mimpi.
“Saya tadi spontan melakukannya tanpa sadar. Saya biasa melakukan hal itu pada Yoana dulu setiap kali tangannya tanpa sengaja tertusuk duri kaktus,” jelas Nicholas tanpa diminta.
“Boleh saya pindahkan kaktusnya ke pinggir jendela itu Pak? Saya pernah baca kalau tanaman kaktus mengecil seperti ini karena kurang asupan sinar matahari katanya, Pak.”
Nicholas melihat ke arah tanaman kaktus itu, “Jadi karena itu tanaman kaktus ini mengecil?”
“Saya pernah membacanya di laman internet katanya begitu Pak.”
“Nicholas langsung mengambil tanaman kaktusnya dan meletakkannya di dekat jendela ruangan kerjanya agar tanaman itu bisa mendapatkan asupan sinar matahari langsung.
“Kenapa bapak tidak merawatnya sendiri saja, Pak? Pasti akan sangat menyakitkan hati jika tanaman kesayangan Bu Yoana rusak di tangan orang lain. Selain itu, bapak bisa melepaskan rindu bapak pada Bu Yoana saat bapak berinteraksi langsung pada hal-hal yang menjadi kesukaan Bu Yoana dulu kan?” ucap Mariana pada Nicholas yang masih berdiri mematung memandangi tanaman kaktus milik Yoana yang baru saja diletakkannya.
“Justru saya menghindari kedua hal ini. Saya membawa mereka ke sini agar Rafa tidak terus sedih teringat dengan ibunya setiap kali dia di rumah,” jawab Nicholas.
Ada raut sedih bercampur amarah dari sorot kedua matanya sambil terus memandang tanaan kaktus itu.
“Lanjutkan pekerjaanmu, Mariana. Kita ada rapat penting pagi ini,” ucap Nicholas yang dengan cepat mengalihkan atapannya dari tanaman kaktus itu dan kembali ke kursi kerjanya.
“Baik, Pak.”
Mariana bergerak cepat memberi makan ikan Arwana kesayangan Yoana kemudian bergegas keluar dari ruangan kerja Nicholas untuk mempersiapkan bahan rapat mereka pagi ini.
Mariana duduk di kursi kerjanya kemudian terdiam menatap pintu ruangan kerja Nicholas.
“Kenapa aku seperti melihat emosi marah di wajah Pak Nicho saat dia melihat tanaman kaktus itu ya?” gumam Mariana dalam hati.
“Bu Mariana.” Terdengar suara dari arah samping memanggil namanya. Mariana tersadar dari lamunannya kemudian melihat ke arah sumber suara yang memanggil namanya.
“Ya, Pak Roy?”
“Ini bahan untuk rapat nanti. Bu Mariana jangan lupa mengingatkan Pak Nicholas lima belas menit sebelum rapat di mulai. Silahkan Ibu pelajari dulu bahan rapatnya.” Roy memberikan sebuah berkas pada Mariana.
“Terima kasih atas bantuannya, Pak Roy,” ucap Mariana sambil menerima berkas itu dari tangan Roy.
“Sama-sama, Bu Mariana,” balas Roy sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Mariana membuka berkas itu dan mulai membacanya.
“Pak Nicholas memang selalu serius seperti itu ya, Pak Roy?” tanya Mariana yang tiba-tiba menghentikan niatnya membaca berkas yang ada di tangannya. Fokusnya masih terpecah pada apa yang terjadi di dalam ruangan Nicholas tadi.
“Beberapa tahun ini Pak Nicho memang berubah drastis. Dulu beliau tidak seperti itu,” jawab Roy.
“Pak Roy sudah lama bekerja di sini?” tanya Mariana lagi.
“Lumayan lama. Sejak Pak Nicho mengambil alih perusahaan ini setelah ayahnya meninggal.”
Mariana terdiam mendengar cerita dari Roy.
“Pantas saja aku merasa Nicho yang aku temui di jembatan begitu berbeda dengan Nicho yang aku temui di sini. Sepertinya ada hal yang membuatnya tertekan sampai berubah drastis begitu,” pikir Mariana.
Tiba-tiba pintu ruangan Nicholas terbuka. Mariana dan Roy serentak berdiri dari tempat duduk mereka begitu melihat Nicholas keluar dari ruangannya.
“Mariana, kamu iku saya,” ucap Nicholas sambil terus berjalan melewati meja kerja Mariana.
Mariana yang tiba-tiba mendapatkan serangan dadakan pun kalang kabut mengejar Nicholas yang terus melaju tanpa sedikitpun melambatkan langkahnya menunggu Mariana.
“Ini orang mulai kumat kayaknya. Main melengos aja. Dikira aku punya tenaga dalam bisa sat set sat set mendadak begini,” omel Mariana sambil berusaha mengejar Nicholas.
Tiba-tiba Nicholas berhenti tepat di depan pintu lift membuat Mariana mengerem mendadak larinya dan berdiri di samping Nicholas degan napas yang terdengar menggebu.
Begitu pintu lift itu terbuka, Nicholas dan Mariana dengan cepat berjalan masuk ke dalamnya.
“Kita mau kemana, Pak?” tanya Mariana.
“Makan,” jawab Nicholas singkat.
“Makan, Pak?” tanya Mariana lagi. Seingatnya Nicholas tadi sudah sarapan di rumah.
“Kamu belum sempat sarapan kan tadi?” tanya Nicholas tanpa melihat ke arah Mariana.
Mariana baru tersadar kalau tadi pagi memang dia belum sempat sarapan.
“Kamu suka makan apa?” tanya Nicholas.
“Saya suka makan apa saja, Pak.”
“Ada alergi seafood?” tanya Nicholas lagi.
“Nggak ada, Pak.”
“Bagus.”
Pintu lift itu terbuka. Nicholas melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift diikuti oleh Mariana dari belakang. Mariana terus mengikuti langkah Nicholas sampai akhirnya mereka tiba di parkiran mobil Nicholas.
“Ayo masuk,” perintah Nicholas sambil membuka pintu mobilnya untuk Mariana.
Mariana menatap ragu ke arah Nicholas sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil milik bossnya itu. Hari ini Nicholas berhasil membuat isi kepala Mariana penuh dengan tanda tanya dan tanda seru bersamaan.
“Pakai sabuk pengamannya. Apa perlu saya yang bantu memakaikannya?” ucap Nicholas yang baru saja duduk di kursi kemudi sambil memasak sabuk pengaman untuk dirinya sendiri.
Mariana tersadar kemudian dengan cepat menarik sabuk pengaman yang ada di sisinya dan memasangnya dengan benar pada tubuhnya. Begitu sabuk pengaman itu telah terpasang, Nicholas segera melajukan mobilnya pergi dari halaman parkir perusahaannya.
“Rapat pagi ini mulai jam berapa?” tanya Nicholas sambil mengemudikan mobilnya.
“Jam sebelas, Pak,” jawab Mariana.
Nicholas terlihat melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
“Kirim pesan pada Roy, katakan padanya rapat pagi ini diundur menjadi jam satu siang nanti. Saya tidak ingin terburu-buru,” perintah Nicholas.
“Baik, Pak,” jawab Mariana.
Dengan cepat Mariana mengambil ponselnya dari dalam tas dan mengirimkan pesan untuk Roy sesuai dengan perintah Nicholas tadi.
Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah butik dengan nama yang sudah banyak dikenal di Jakarta itu. Mariana melihat bingung sekitarnya begitu mobil Nicholas telah terparkir dengan bai di halaman butik itu.
“Setelah dari sini baru kita makan,” ucap Nicholas seakan menjawab kebingungan yang ditunjukkan oleh wajah Mariana.
“Ayo turun,” perintah Nicholas sambil keluar dari dalam mobilnya.
Dengan cepat Mariana membuka sabuk pengamannya dan bergegas keluar dari dalam mobil sebelum Nicholas kembali menyindirnya.
Nicholas berjalan masuk ke dalam butik itu dengan Mariana yang mengekor dari belakang.
“Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang karyawan butik itu sambil tersenyum begitu ramah.
“Saya ingin beberapa setel pakaian kerja untuk dia,” ucap Nicholas sambil menunjuk ke arah Mariana.
Wajah Mariana yang polos berubah mengernyit mendengar ucapan Nicholas. Apa yang salah dengan pakaiannya? Setelan blazer berwarna pink lembut itu dulu adalah pakaian kerja favoritnya saat masih bekerja sebagai sekretaris sebelum akhirnya terpaksa berhenti demi permintaan suami dan ibu mertuanya.
“Baik, kami akan membawakan koleksi pakaian kerja yang ada di butik kami. Bapak dan Ibu silahkan duduk dulu,” jawab karyawan butik itu yang tak lama kemudian pergi mengambil apa yang dimintaoleh Nicholas.
“Maaf, Pak. Apa ada yang salah dengan pakaian saya?” tanya Mariana.
“Pakaian kamu sudah ketinggalan mode, Mariana. Kamu akan sering mendampingi saya rapat dengan collega dan acara penting perusahaan. Kamu harus tampil modis dan cantik karena kamu juga membawa nama baik perusahaan,” jawab Nicholas sambil duduk di sebuah sofa.
Tak lama kemudian beberapa karyawan butik itu datnag membawa semua koleksi pakaian kerja di butik mereka.
“Silahkan dicoba dulu, Bu,” ucap salah satu karyawan.
“Coba dan pilihlah mana yang kamu suka. Pilih sebanyak-banyaknya karena kamu akan memakainya setiap hari,” perintah Nicholas sambil menatap layar ponsel yang baru saja dikeluarkannya dari dalam saku jasnya.
Mariana terpaksa menuruti perintah atasannya itu. Setelah melihat deretan model baju kerja yang ada di depannya, Mariana memilih salah satu untuk dicobanya dan membawanya ke sebuah kamar pas.
Setelah mencoba beberapa model, akhirnya Mariana keluar dan memilih satu model untuk dipakaianya hari itu.
“Saya sudah selesai, Pak,” ucap Mariana pada Nicholas yang masih berkutat serius dengan ponselnya.
“Kamu yakin pilihan kamu sudah yang paling bagus dan up to date?” tanya Nicholas tanpa melepaskan matanya dari layar ponselnya.
“Sudah, Pak. Semua pakaian yang saya pilih katanya merupakan model terbaru saat ini,’ jawab Mariana.
“Bagus kalau begitu.” Nicholas mematikan layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku jasnya kemudian berdiri dari tempat duduknya.
Tiba-tiba wajah Nicholas menegang. Kedua manik hitamnya tak berkedip dan terus terpaku melihat ke arah Mariana yang berdiri di depannya.
Mariana terlihat bingung dan kikuk dengan tatapan Nicholas yang tak beralih darinya.
“Bajunya sangat cocok dengan istrinya, Pak. Yang memakai bajunya juga sudah sangat cantik, jadi membuat penampilannya begitu sempurna,” puji pemilik butik itu.