Bab 6. Jeremy dan Danisa

1499 Kata
Adi terus melihat ke arah spion tengah mobilnya. Menatap tidak percaya wanita yang kini sedang duduk di bangku belakang mobilnya. “Nama kamu siapa tadi?” tanya Adi sambil terus menyetir mobilnya. “Saya, Pak?” tanya balik Mariana bingung. “Iya, Kamu. Nggak mungkin aku menanyakan siapa nama keponakan saya sendiri kan?” balas Adi sambil tersenyum. Jelas saja Adi merasa geli karena hanya ada mereka bertiga di dalam mobil itu. Rafa, Mariana dan dirinya sendiri. “Nama saya Mariana, Pak,” jawab Mariana. “Jangan panggil bapak. Panggil saja Mas. Dan jangan gunakan kata ‘Saya’, gunakan saja kata ‘aku’ saat kita berbicara. Itu terdengar lebih santai.” “Oh iya, Baik Mas.” Mariana menganggukkan kepalanya. “Kamu sudah lama tinggal di sana? Kemarin aku nggak melihat kamu di rumah Mas Nicho.” “Aku baru kemarin siang datang ke sana, Mas. Mungkin waktu Mas datang, aku sedang di dalam kamar,” ucap Mariana. “Kamu mendengar keributan di rumah itu?” tanya Adi. Mariana terdiam beberapa saat. jika dia berkata jujur kalau dia memang mendengar keributan antara Nicholas dan Adiknya itu, pasti Adi merasa tidak enak padanya. “Nggak, Mas. Aku nggak mendengar apa-apa kok,” jawab Mariana sambil menggelengkan kepalanya. “Mama bohong ih!” celetuk Rafa tiba-tiba. Wajah Mariana menegang dan memerah seketika mendengar celetukan Rafa. Bagaimana bisa anak kecil itu tahu kalau Mariana sedang berbohong? Adi tersenyum mendengar celetukan Rafa dan melihat wajah Mariana yang berubah memerah. “Mungkin kamu belum tahu kalau Rafa punya kemampuan khusus. Dia bisa merasakan kebohongan seseorang hanya dengan mendengar suaranya,” jelas Adi sambil tersenyum. Seketika kedua mata Mariana membulat sempurna mendengar ucapan Adi barusan. “Waduh bakalan ribet kalau begini,” batin Mariana sambil menghelakan napas dengan pelan. “Jadi kamu sudah mendengar pertengkaran aku dan Mas Nicho kemarin ya? Kami memang sudah begitu sejak dulu. Jadi kamu akan terbiasa melihat hal seperti itu jika kami bertemu,” ucap Adi. “Nanti aku juga yang akan menjemput Rafa, kamu ikut kan? Kalau iya, nanti biar aku jemput ke kantor,” lanjut Adi. “Nggak usah Mas. Nanti biar aku naik taksi saja ke sekolah Rafa.” “Nggak apa-apa. Nanti aku jemput kamu satu jam sebelum jam pulangnya Rafa ya,” ucap Adi. “Baik, Mas.” Mariana mengangguk pelan. Setelah Adi mengantarkan Rafa ke sekolah, dengan segera dia mengantarkan Mariana ke kantor Nicholas dan lanjut menuju ke perusahaannya sendiri. Mariana bergegas menuju ke ruangannya yang berada di depan ruangan Nicholas. Baru saja Mariana akan masuk ke dalam sebuah lift, tiba-tiba seseorang terdengar memanggilnya. “Mar!” Mariana langsung melihat ke arah sumber suara, “Sarah?” “Kamu kemana aja sih? Aku kirim pesan tapi nggak pernah dibalas. Tiba-tiba udah nongol aja di sini. Masih ada hutang cerita loh sama aku,” ucap Sarah, sahabat Mariana sambil tersengal-sengal karena setengah berlari mengejar Mariana tadi. “Duh, ceritanya panjang, Sar. Nggak cukup waktunya sekarang. Aku harus ke ruanganku sebelum Pak Nicho marah. Laki-laki kalau lagi PMS lebih serem dari perempuan,” ucap Mariana sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. “Jadi Pak Nicho beneran PMS ya?” Sarah membelalakkan kedua matanya. “Lah kan kamu sendiri yang bilang begitu kemarin, Sar.” “Ye, kirain beneran. Itu kan cuma istilahnya doang, Mar. Pak Nicho emang seserem itu tiap hari. Katanya karena istrinya meninggal misterius,” ucap Sarah. “Kamu udah pernah ketemu dengan istrinya Pak Nicho?” Mariana melihat Sarah dengan serius. Sarah menggelengkan kepalanya, “Katanya istri Pak Nicho meninggal dua tahun yang lalu karena kecelakaan tapi jasadnya nggak ketemu. Kan aku di sini baru satu tahun, Mar. Apa jasad istrinya Pak Nicho dimakan hewan buas ya?” Mariana terdiam mendengar cerita Sarah tentang Yoana yang sangat sesuai dengan apa yang diceritakan oleh Nicholas semalam. “Eh ngomong-ngomong, kamu ditawari kerjaan apa di sini, Mar?” tanya Sarah. “Jadi sekretaris Pak Nicho,” jawab Mariana. “Sekretaris Pak Nicho? Serius Mar??” tanya Sarah terkejut. Posisi itu bukan posisi sembarangan di kantor ini. Butuh kualifikasi tinggi dan usaha yang sangat besar untuk melewati setiap tes seleksinya. “Beneran serius, Sar. Aku juga merangkap sebagai pengasuh anaknya Pak Nicho.” Mulut Sarah membulat sempurna dengan kedua mata yang membulat, “Aku nggak tahu apakah harus memberi selamat atau harus menghibur kamu, Mar,” ucap Sarah. “Udah ah, aku ke ruangan dulu ya. Takutnya udah ditungguin sama Pak Nicho,” ucap Mariana dengan cepat. “Ntar kita makan siang bareng ya. Aku udah penasaran banget dengan ceritanya. Beneran ya, Mar!” “Ntar aku telpon ya, Sar,” ucap Mariana sambil berjalan masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka. Mariana segera menekan lantai dimana ruangan kerjanya berada. Dia begitu ingat dengan tempat itu karena ruangan itu tempat dia pertama kali menerima pekerjaan ini. Begitu pintu lift itu terbuka, Mariana langsung meelangkahkan kakinya keluar dari dalam lift. Meja kerjanya langsung terlihat dengan Roy yang sudah berdiri di sampingnya. Kedua netra mereka saling bertemu. Mariana segera mempercepat langkahnya. “Maaf saya terlambat, Pak Roy,” ucap Mariana setelah berada di dekat Roy. “Anda tidak terlambat, Bu Mariana.” “Tugas saya apa pagi ini, Pak Roy?” tanya Mariana sambil melihat ke arah meja kerjanya yang sudah terdapat beberapa berkas. Roy memberikan sebuah buku catatan kepada Mariana, “Silahkan hapal semua catatan di dalam buku ini dan panggil saya jika ada yang tidak Ibu mengerti.” Mariana mengambil buku catatan itu dan membukanya. “Saya permisi dulu, Bu Mariana,” ucap Roy begitu melihat Mariana mulai membaca isi buku itu. “Silahkan, Pak Roy,” jawab Mariana spontan karena terkejut. Roy kembali ke meja kerjanya yang berada tepat di samping meja kerja Mariana. Mariana kembali membaca isi buku itu sambil mulai duduk di kursi kerjanya. Tangannya yang lain meletakkan tas kerjanya ke atas meja. “Astaga, sebanyak ini kegiatan yang harus dilakukan Pak Nicho dalam satu hari? Ternyata jadi bos itu melelahkan juga ya,” batin Mariana. Matanya menelusuri barisan kegiatan Nicholas dalam satu hari itu berikut dengan materi yang harus dipersiapkannya. Mariana memang memiliki pengalaman sebagai seorang sekretaris di sebuah perusahaan besar, tapi kegiatan CEO perusahaan ini lebih banyak dari yang diduganya. “Ada yang Ibu bingungkan dari isi catatan itu?” tanya Roy yang melihat Mariana sepertinya telah selesai membaca semua isinya. “Ada, Pak.” Roy bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati meja kerja Mariana. “Poin mana yang Ibu tidak mengerti?” tanya Roy lagi. “Memandikan Jeremy dan memberi makan Danisa. Mereka siapa?” tanya Mariana bingung. Roy tampak bingung menjelaskannya pada Mariana. “Itu semua ada di ruangan Pak Nicholas, Bu.” “Di dalam ruangan itu?” Tanya Mariana memastikan apa yang di dengarnya. “Nah, pas banget sudah waktunya. Ibu bisa masuk ke dalam dan melakukannya. Nanti untuk yang jam empat sore biar saya yang melakukannya,” ucap Roy sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. “Tapi saya tidak tahu yang mana orangnya, Pak.” “Nanti Pak Nicho akan memberitahukannya di dalam Bu,” jawab Roy. Dengan langkah ragu-ragu Mariana berjalan mendekati ruangan Nicholas kemudian mengetuknya beberapa kali. “Masuk!” terdengar suara Nicholas dari arah dalam ruangan itu. Mariana memutar kenop pintu perlahan dan melihat ke arah dalam. “Masuklah, Mariana,” perintah Nicholas lagi melihat Mariana masih berdiri di depan pintu ruangannya. Mariana bergegas melangkahkan kakinya masuk hingga berada di depan meja kerja Nicholas. “Selamat pagi, Pak. Saya ingin memandikan Jeremy dan memberikan makan Danisa,” ucap Mariana sambil pelan-pelan melihat ke sekitarnya. Mariana semakin bingung karena tidak ada orang lain di ruangan itu selain dirinya dan Nicholas. “Itu Jeremy dan itu Danisa,” ucap Nicholas menunjukk ke arah sesuatu di dekatnya. Mariana mengernyitkan keningnya. Dia sama sekali tidak melihat seorangpun di dekat Nicholas. “Apa dia sudah mulai menunjukkan tanda-tanda depresi akibat kepergian istrinya sehingga berhalusinasi? Atau dia punya kemampuan mistis juga seperti Rafa?” batin Mariana. Bulu kuduknya perlahan berdiri menebak kemungkinan aneh yang bisa saja terjadi pada bosnya itu. “Maaf, Pak. Saya tidak bisa melihat Jeremy dan Danisanya. Apa saya harus melakukan ritual khusus terlebih dahulu agar bisa melihat mereka?” tanya Mariana. Nicholas menegakkan kepalanya yang tadi kembali serius membaca berkas yang ada di atas meja kerjanya setelah menunjukkan Jeremy dan Danisa pada Mariana tadi. “Kamu tidak bisa melihat tanaman kaktus dan akuarium yang berisi ikan arwana yang ada di belakang saya itu?” tanya Nicholas. “Jadi Jeremy dan Danisa itu nama dari tanaman kaktus dan ikan arwana ya Pak?” “Iya. Kamu mikirnya apa tadi?” tanya Nicholas sambil mengernyitkan keningnya. Mariana tersenyum terpaksa, “Nggak mikir apa-apa kok tadi Pak.” “Ya udah. Lakukan pekerjaanmu.” “Baik, Pak.” Mariana menganggukkan kepalanya. “Hati-hati dalam melakukannya. Itu adalah tanaman dan hewan kesayangan mendiang istri saya,” ucap Nicholas mengingatkan. “Kenapa nggak ngasih tahu dari tadi sih kalau Jeremy dan Danisa itu bukan orang. Kan aku mikirnya udah kemana-mana tadi,” gumam Mariana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN