(14) Pengejaran Kedua

1860 Kata
Sekarang Raa ada di Yogyakarta lagi, dan sayangnya, kali ini ia sendiri. Tidak ada Kefas yang akan menjemputnya dengan mobil atau Pedro yang membawa segudang lelucon. Saat berangkat tadi, ia merasa hal itu bukan masalah. 'Toh ia sudah biasa pergi-pulang kampus sendiri. Ia juga sudah terbiasa dengan Ayahnya yang sibuk dan Ibunya yang pergi meninggalkannya. Raa hanya berlari ke Stasiun dengan langkah tercepatnya, memesan sebuah tiket, dan menunggu kereta. Ia memikirkan Galih, namun tidak sempat melakukan apa-apa terhadapnya. Ia sedikit merasa bersalah. Dan kini, di dalam perjalanan, ia justru semakin merasa kesepian. Tidak ada pesan apa-apa dari Galih dan ia merasa tidak enak untuk menghubungi laki-laki itu terlebih dahulu. Ia tidak bisa mengobrol. Sambil melirik ke kiri dan kanan, ia sadar semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Seorang Ibu di depannya sedang duduk sambil memberi anaknya minum dari sebotol s**u. Anak itu hampir tertidur, dan pipinya yang gemuk membuat Raa gemas. Di sisi lain duduk seorang Bapak yang sedang membaca koran dengan serius. Suasana kereta yang panas dan bising seakan-akan tidak mengganggu konsentrasinya sama sekali. Kemudian, tepat di sebelah Raa, duduk seorang nenek yang sedang tertidur. Praktis, tidak ada siapapun yang bisa ia ajak bicara sekarang. Udara sepoi-sepoi perlahan-lahan mengatupkan mata Raa, sampai akhirnya ia ikut tertidur. Perjalanan itu terasa jauh lebih lambat ketika tak ada seorangpun yang menemani. Ketika terbangun, ia sudah hampir tiba di Stasiun Yogyakarta. Raa membuka ponsel dan mengecek pesan masuk. Tidak banyak notifikasi. Hanya Suarez yang mengecek keberadaan Raa dan mengirimkan sebuah lokasi berpeta yang dicurigai sebagai tempat tinggal Wira Nagara. Raa membalas pesan itu, mengabarkan situasinya, kemudian menyimpan ponselnya kembali. Seseorang yang ia tunggu tidak ada di daftar pesan masuk. 'Situasi kereta tidak banyak berubah,' gumam Raa dalam hati. Ia sudah terbiasa untuk membaca keadaan dimanapun dan kapanpun, dan seringkali ia bahkan mencatatnya dalam sebuah buku. Kini ia tidak perlu mencatat karena semua tampak biasa saja. Nenek-nenek di sebelahnya masih terkulai mengantuk, Ibu di depannya masih sibuk mengurusi bayinya yang sekarang sedang makan bubur, dan Bapak-bapak yang berada di sebelah Ibu itu masih membaca koran. Semua terkesan baik dan terkendali, sampai-sampai Raa percaya mungkin saja kali ini ia akan berhasil menangkap Wira Nagara. Setengah jam kemudian, sampailah Raa di Stasiun Yogyakarta. Ia menenteng ranselnya sendiri keluar dari kereta dan berhadapan dengan ratusan orang lain yang sedang transit atau bepergian. Dalam hati, ia membayangkan mereka semua dengan urusannya masing-masing. Betapa kompleksnya hidup ini! Raa mengeluarkan ponselnya. Ia membuka alamat yang diberikan Suarez. Letaknya lumayan jauh dari Stasiun dan ia harus mencari bus sebagai tumpangan. Raa keluar dari stasiun, dan memulai perjalanannya. Sementara itu, di sebuah tempat tak jauh dari sana, Fajar sedang sibuk memetik gitarnya dan bernyanyi untuk orang-orang yang berlalu-lalang di jalan. Suaranya nyaring namun merdu, membelah keramaian yang sedang terburu-buru. Aku bukan artis pembuat berita Tapi aku memang selalu kabar buruk buat penguasa Puisiku bukan puisi Tapi kata-kata gelap yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan Lagunya bukanlah lagu yang gampang dimengerti, jadi beberapa orang menoleh dengan heran ketika ia menyodorkan topi. Mereka berlalu pergi. Fajar bernyanyi lagi. Ia tak mati-mati meski bola mataku diganti Ia tak mati-mati meski bercerai dengan rumah dan ditusuk-tusuk sepi Ia tak mati-mati, telah ku bayar dengan yang dia minta Seorang Ibu di ujung jalan berbisik-bisik kepada suaminya. "Mas, lagu apa sih, itu?" Suaminya hanya menggeleng dan menarik tangan istrinya. Mereka berlalu. Namun, Fajar tak merasa malu. Ia dengan lantang terus bernyanyi sambil mengedarkan topi, yang diisi oleh beberapa orang dengan koin dan uang lima ribuan. Ya, Fajar sedang mengamen. Ia berkeliling Yogya dengan gitar kesayangannya sambil berjalan kaki, kadang kala juga menumpangi bus kota. Ia mendendangkan banyak sekali lagu, mulai dari lagu anak sampai lagu romansa, namun kadang-kadang pendengarnya request beberapa judul lagu tertentu. Dari semua lagu yang biasa ia nyanyikan, yang paling Fajar suka adalah lagu ini. Judulnya 'Kebenaran akan Terus Hidup', karya bapaknya sendiri. Aku bukan artis pembuat berita Tapi aku memang selalu kabar buruk buat penguasa Puisiku bukan puisi Tapi kata-kata gelap yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan Sewaktu ia mengatakan hendak menjadi pengamen, Ibunya melarang keras. Tak sampai hati Fajar melihat sang Ibu sampai menangis di hadapannya. Menurut Sari, Fajar adalah anak yang cerdas. Ia pandai bicara. Ia bahkan diterima masuk di universitas. Biaya kuliah yang mahal seharusnya tak jadi masalah buatnya, namun kondisi memaksa keluarga mereka membuang mimpi itu. Fajar mengerti kegelisahan Ibunya. Saat itu, Widi juga sedang berada di rumah. Jadilah mereka menangis bertiga-tiga dengan haru. Fajar menenangkan Ibu dan kakaknya saat itu dengan sebuah harapan. Ia akan terus belajar, tak peduli walau ia seharian dibakar di jalanan. Fajar akan terus belajar dari berbagai peristiwa, dari berbagai tempat, dan dari berbagai sosok. Ibunya mengangguk dan kakaknya setuju. Maka sejak hari itu, Fajar turun ke jalan setiap hari. Setelah dirasa cukup, Fajar mengumpulkan uang yang diletakkan orang ke dalam topinya dan mengikatnya menjadi satu. Ia menghitung jumlahnya, yang sebetulnya tidak seberapa, dan menyisihkan sedikit dari uang itu untuk membeli makan. Perutnya sudah berbunyi. "Buk, pesan nasi kucing." Fajar menghampiri sebuah warung makan yang terletak tak jauh dari tempatnya mengamen. "Nasi kucing aja?" "Iya, Buk, dua." "Yaaa," Ibu penjaga warung makan itu tertawa. "Sama aja, dong, bukan nasi kucing namanya!" "Nggak apa, Buk. Nasi kucing kalo satu gak kenyang soalnya." "Soalnya kan sampeyan bukan kucing, jadi ya nggak kenyang, toh." Fajar hanya senyum-senyum saja, sementara Ibu penjaga warung itu lincah menyiapkan nasi kucing pesanannya. Setelah siap, ia menyerahkan dua buntalan nasi berikut lauknya itu kepada Fajar, dan Fajar duduk di pinggir jalan sambil makan. Hari ini, pekerjaannya tidak terlalu menyulitkan. Ia bisa mengamen dengan bebas dan banyak orang yang memberinya uang imbalan. Rasa bahagia itu membuat Fajar makan dengan cepat, dan setelah habis, ia lantas membuang bungkus nasinya ke tempat sampah. Fajar mengangkat gitarnya dan beranjak pergi. Sempat terlintas di kepalanya untuk terus mengamen ke beberapa tempat lain, namun hari sudah semakin siang dan ia sudah punya rencana lain untuk nanti sore. Lagi pula, uang yang ia dapatkan sudah cukup. Fajar akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Sambil berjalan kaki, Fajar menyenandungkan lagu-lagu yang biasa ia nyanyikan. Ia menyusuri sepanjang jalan raya utama seorang diri dengan gitar yang ia sandang di punggung. Mobil dan motor ramai berlalu-lalang di sekitarnya, membuat suasana berisik. Fajar terus berjalan sambil bersenandung, tak menyadari apa yang sebentar lagi akan terjadi. Sekitar dua kilometer dari stasiun, seorang laki-laki bertubuh besar tiba-tiba saja menabrak dirinya. Fajar siaga. Ia menghindar ke kanan, namun seorang laki-laki lain menyergapnya dari belakang. Hati Fajar berdegup kencang namun ia sadar ia berada di tengah jalan, sehingga orang-orang ini tidak mungkin berbuat terlalu mencolok. Ia mempertahankan gitar yang ada di punggungnya dan kembali memindahkan tumpuan kaki, namun kedua laki-laki itu tepat mengelilinginya saat ini. Mata Fajar bergerak liar, berusaha mencari bantuan. Dua laki-laki ini berbadan besar dan tinggi yang artinya mereka pasti kalah cepat apabila Fajar berlari kencang. Mereka juga tak membawa s*****a tajam, namun tetap saja, berat badan satu orang saja dapat mematahkan tulang rusuk. Apalagi mereka jago berkelahi! Mereka berusaha menangkap Fajar, namun laki-laki itu berkelit dan membanting diri ke kanan. Ia hampir saja terjerambab. Dalam hitungan detik Fajar kembali berdiri dan berusaha berlari, namun seorang lawannya menahan. Tangannya berusaha merogoh saku Fajar. Fajar kembali berkelit. Kali ini, ia bergerak terlalu ke kiri sampai hampir saja sebuah motor menabraknya. Untunglah, motor itu berhasil banting setir. Fajar tak bisa terus mempertahankan diri seperti ini, karena staminanya juga sudah banyak terkuras ketika berjalan kaki tadi. Kedua laki-laki ini masih sangat segar. Mereka terus berusaha merogoh sakunya dan merampas apa saja yang kira-kira bisa dijual kembali dengan harga lumayan. Ia ingin berteriak, namun fokusnya terkunci pada mempertahankan diri. Situasi itu terlalu menegangkan sampai orang-orang lain yang lewat di pinggir jalan tak berani ikut campur dan hanya menonton dari kejauhan. Mereka takut, merekalah yang akan jadi sasaran berikutnya, atau salah-salah, malah dituduh terlibat dalam aksi kejahatan tersebut. Keringat mengalir deras di dahi Fajar, dan serangan-serangannya mulai melemah. Ia tidak dapat lari, walau ia yakin akan unggul, karena mereka berdua terus menahan dirinya. Ia mulai pasrah digerayangi saku celana dan saku bajunya. Tepat ketika Fajar ingin menyerah, seseorang datang dan berteriak dengan lantangnya, "Jafra! TOLONG!" Raa berlari ke tengah keributan, memotong jalan kedua laki-laki besar itu dan menarik lengan Fajar dengan kencang. Ia seakan-akan tak takut dengan mereka berdua. Ia masih berseru-seru, "JAFRA! LO GAPAPA?" sambil berlari, sementara Fajar kepayahan menyesuaikan langkah kaki mereka. Kedua laki-laki itu sempat menahan Raa dan memiting lengannya, namun Raa yang lincah dapat menendang kaki mereka dengan kencang sampai mereka melepaskan dirinya. Raa terus berlari sambil menarik lengan Fajar sampai beberapa kilometer dari tempat kejadian itu, dan tampaknya kedua perampok tadi sama sekali tidak berniat melakukan kejar-kejaran. Mungkin mereka spesialis 'cegat-tangkap-sikat'. Raa dan Fajar akhirnya berhenti, dan mereka berdua duduk di sebuah trotoar sambil berusaha mengatur napas mereka. Keduanya ngos-ngosan. Gitar di pundak Fajar terasa amat berat dan meletihkan karena dibawa berlari, namun ia sama sekali tidak hendak melepaskannya. Yang Fajar lakukan pertama kali adalah menoleh, melihat Raa, dan bertanya, "Lo oke?" Mendengar pertanyaan itu, Raa tertawa. Matanya menyipit dan pipinya berubah kemerahan akibat panas matahari. Ia menjawab Fajar, "gue nyelametin lo dari perampok, lari-larian, dan sekarang lo nanya gue oke? I am a little bit tired, but I'm okay, thank you." "Lo, oke?" Raa bertanya balik. Fajar nyengir. "Duit gue yang di kantong celana diambil. Tapi sisanya aman." "Sisanya?" "Yah," Fajar meneruskan, "gitar gue aman, tangan-kaki gue aman, jari gue masih aman. Gue ikhlasin deh uangnya, biar besok semangat ngamennya." Raa bergumam kecil menanggapi Fajar, dan mereka duduk seperti itu beberapa menit lamanya. Kendaraan bermotor terus lewat silih-berganti, tak berhenti barang sejenak. Situasi yang sunyi itu dipecahkan oleh Raa dengan sebuah pertanyaan. "Jadi ... lo ngamen sekarang?" Fajar mengangguk. "Ya, gitu, deh. Jadi tukang nyanyi." "Kenapa?" Kali ini, Fajar mengendikkan bahu. "Emang gak boleh?" "Kan lo keterima di UNY!?" Raa menjawab dengan heran. Kini ia sepenuhnya memandang Fajar. "Lo gak kuliah?" "Gak, ah. Mending ngamen, dapet duit." Raa menaikkan alisnya. "Aneh." "Oh, gue aneh?" Fajar menyahut. "Yang lebih aneh lagi, ada orang yang lari-lari sambil teriak, nyelametin gue dari perampok yang badannya guede banget!" Raa tertawa mendengar ledekan Fajar. Ia mencubit lengan Fajar yang tadi ia tarik-tarik, dan Fajar mengaduh. "Makanya, jangan suka ngeledekin orang!" "Emang lo dari mana tadi?" "Gue dari Stasiun," jelas Raa, "lagi naik bis, eh ngeliat lo dikerumunin perampok gitu. Mana lo nya pasrah aja lagi. Akhirnya gue turun, deh." Fajar mengangguk-angguk. "Tadi gue juga lagi jalan aja dari Stasiun, rencananya mau pulang. Eh dicegat." "Emang ngamen gak sampe malem?" Tanya Raa. "Enggak. Gue ada acara." "Acara apa?" Fajar hendak menjawab, namun tepat ketika lidahnya hendak bicara, firasatnya mengatakan untuk berhenti bercerita sesuatu pada seseorang yang belum ia kenal terlalu dekat. Lagipula, Raa ini mencurigakan. Ia akhirnya hanya berkata, "Ada, deh. Kumpul-kumpul anak muda. Lo sendiri, lagi mau ada urusan apa tadi?" Raa tersenyum kecut. "Ada kerjaan. Tapi udah malem begini, gak apa deh. Nanti aja gue ke sana." "Kerjaan apa?" "Ada, deh. Kerjaan anak-anak muda," Raa menjawab dengan tengil, membalas gaya bahasa Fajar tadi. Mereka berdua berakhir dalam tawa. Di kejauhan, matahari tenggelam. Raa dan Fajar duduk berdua di pinggir jalan seperti dua orang remaja yang tak peduli dengan dunia. Mereka berandai-andai, mereka bercerita, dan waktu berjalan sedemikian cepatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN