bc

Mencari Wira Nagara

book_age12+
287
IKUTI
1.0K
BACA
spy/agent
student
bxg
mystery
female lead
campus
realistic earth
enimies to lovers
school
stubborn
like
intro-logo
Uraian

Raa punya tugas rahasia menjadi mata-mata. Ia melakukannya di sela-sela kegiatan kuliah untuk membuktikan kemampuannya kepada sang Ayah. Raa harus mencari Wira Nagara dan menangkapnya hidup-hidup. Namun, dalam tugas itu, Raa dipertemukan dengan dua orang laki-laki yang menggoyahkan hatinya, yaitu Galih, seorang lelaki pendiam yang mengejar-ngejar Raa, dan Fajar, yang tak disangka-sangka merupakan anak dari laki-laki yang ia kejar.

chap-preview
Pratinjau gratis
(1) Mata Mata
Tak pernah seorang pun tega menaruh curiga pada gadis baik-baik yang supel dan ceria. Itu satu keuntungan bagi Raa, selain juga karena sifat itu secara alamiah telah diturunkan ayahnya yang adalah pensiunan pejabat daerah. Hari ini, setelah kelas pagi di kampus, Raa menyisir sepanjang jalan raya Pulo Gadung dan masuk ke sebuah tempat makan bernama Resto Bunga. Jam makan siang membuat restoran ini ramai oleh pengunjung yang hilir-mudik. Raa mengambil tempat duduk dekat pintu masuk dan mengangkat tangannya memanggil pelayan.  “Raa! Eh, bener kan ini Raa’kel?” Ucap laki-laki yang menghampirinya. Raa tersenyum, menyadari pelayan restoran itu ternyata mengenalnya. “Iya, lu Raden kan?”  “Iyaaa. Astaga, udah lama gak ketemu, malah ketemu di sini. Mau pesen apa Raa? Hari ini spesial deh, lu gua layanin!”  “Mmm. Nasi goreng seafood, deh.” Raden mengangguk, kemudian lekas mencatat pesanan dan kembali ke dapur. Raa yang ditinggalkan sendirian menatap sekeliling restoran, mengenali wajah mereka satu per satu, dan menghapalkan situasi ruangan. Itu suatu kebiasaan yang sudah lama ia kembangkan demi memenuhi pekerjaannya. Ia kemudian mengambil bukunya dan mencatat: jam makan siang, Resto Bunga. Bertemu Raden. Pintu terbuka, seorang tamu masuk. Reflek saja Raa menoleh dan memperhatikan ketika ia duduk di meja di sebelahnya. Raa terdiam. Wajahnya segar dan harum sabun mandi, namun pakaiannya lusuh seperti sudah setahun tidak diganti. Laki-laki itu memesan sesuatu kepada pelayan, lalu mengeluarkan sebuah buku. Raa lekas-lekas membuka buku catatannya kembali, kemudian menulis: laki-laki, segar, berpakaian lusuh, membaca buku: Puisi … Pintu terbuka lagi. Raa mengangkat wajah, tangannya menutup buku yang  tadi terbuka. Ia bertemu mata dengan seorang mahasiswi yang baru saja masuk dengan serombongan teman-temannya. “Raa?” Mahasiswi itu mendekat. “Ini Raa’hel kan?”  Raa tersenyum. “Halo, Siska. Tumben lu ke sini!” “Astagaaaa, Raa! Bener-bener lu, ye, sebentar gue liat ada di Cawang, sebentar lagi udah di Pulo Gadung aje!” Celoteh Siska. Ia satu kampus dengan Raa walaupun berbeda jurusan, dan beberapa kali diajak makan bersama Raa di dekat kampus mereka. Menanggapi tuduhan Siska, Raa hanya nyengir. “Biasalah, Sis, nyari suasana baru! Eh, ngomong-ngomong, gue boleh gabung sama lo, nggak?” Siska mengangguk riang, dan segera mengenalkan Raa kepada teman-temannya. Mereka memilih meja yang sedikit lebih luas agar bisa duduk bersama. Seperti biasa, Raa dengan mudahnya segera akrab dengan teman-teman Siska. “Halo, kenalin, gue Raa.” “Udah punya pacar, Raa?” Tanya Galih. Raa menatap Galih dengan ujung matanya dan mencatat dalam hati. Galih, laki-laki gempal berkacamata, sepertinya humoris. Kaus distro yang ia gunakan sepertinya lumayan mahal. Menanggapi pertanyaannya, aku hanya tertawa.  “Punya, Lih, banyak malah!”  Galih, Siska, dan teman-temannya tertawa. Yang tertawa paling kencang adalah Haris, Raa kembali mencatat dalam hati. Anaknya kurus, tinggi, dan berkacamata seperti Galih. Sepertinya campuran Indo-Chinese. Pakaiannya biasa saja, bercelana panjang dan bersepatu. Untuk orang seperti Haris, Raa tahu pasti apa yang akan menarik perhatiannya. “Ngomong-ngomong, Ris, gue penasaran deh,” Raa memulai pembicaraan. “Lu Chinese, kan? Marga lu apa?”  Siska menepuk-nepuk bahu Raa dengan semangat. “Nah, bener nih, Ris, bener ‘nih!” begitu katanya, “Lu berdua kan sama-sama Chinese kan, cocok banget dah!” Haris, dengan gestur yang tetap tenang, menjawab, “Gue marga tan. Lu apa, Raa?”  “Gue juga tan. Sodara dong kita hahahaha!” Tawa kembali pecah di meja itu. Siska tampak kecewa karena gagal menjodoh-jodohkan Haris dengan Raa, tapi Raa tersenyum karena informasi yang ia cari dengan mudahnya bisa ia dapatkan. Hanya dengan sebuah percakapan sederhana. Obrolan mereka terhenti ketika Raden sang pelayan restoran datang membawakan pesanan Raa yang sudah matang. Ia juga mencatat pesanan Galih, Haris, dan teman-teman mereka, kemudian kembali ke dapur. “Makasih banyak ya, Den!” Raa berteriak. Raden, sambil berjalan, mengacungkan jempolnya.  Raa menatap laki-laki di meja sebelah yang mengangkat pandangan, kemudian berteriak untuk yang kedua kalinya, “Den, sorry banget ya gue ribut banget nih!” Raden, mengintip dari balik jendela dapur, mengacungkan jempolnya lagi. Tapi bukan itu yang Raa perhatikan. Matanya awas memandang laki-laki di meja sebelah itu, yang kembali mengangkat pandangannya dari buku yang sedang ia baca.  Raa menoleh kepadanya. “Mas, maaf ya, saya berisik di sini.” Laki-laki itu sedikit berjengit kaget, tetapi kemudian tersenyum tipis seraya mengangguk. “Padahal tadi saya liat Mas lagi baca, jadi terganggu ya, Mas? Maaf ya, Mas,” kata Raa lagi.  Kini, lelaki itu menggeleng-geleng. “Enggap apa-apa, Mbak. Sudah selesai.” Ia mengibaskan buku yang ada di tangannya, dan gestur itulah yang ditunggu-tunggu Raa. Raa mencatat di dalam hati judul buku yang ia tadi belum sepenuhnya bisa ia lihat: Puisi Pelo. Sepertinya buku stensilan, karena bentuknya tipis dan kecil.  “Ya sudah, kalau begitu, terima kasih Mas. Saya orangnya gak enakan. Mari, Mas.” Raa kembali menghadap ke nasi goreng pesanannya. Menyendok satu suap, meniupnya pelan-pelan, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Kepalanya sibuk menimbang-nimbang. Kemungkinan besar buku itu memang berisi puisi, karena laki-laki itu tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Raa menyuap lagi. Obrolan Siska dan teman-temannya sedikit banyak ia ikuti sambil makan. Pikirannya masih sibuk menimbang-nimbang. Ia butuh sedikit informasi lagi. Ketika Raden datang mengantarkan pesanan Siska dan teman-temannya, Raa melihat laki-laki di meja sebelah itu juga sedang makan. Lahap sekali. Ia hanya memesan nasi goreng polos, entah sedang hemat atau memang tidak punya uang. Galih, Haris, dan Siska juga sedang makan. Menu mereka bervariasi, ada nasi hainam, mie goreng, dan nasi goreng seafood. Raa menyuap nasi terakhir dan menyelesaikan makan siangnya. Ia kembali menoleh ke laki-laki tadi. “Mas, maaf, itu mas pesen makan apa ya? Saya udah selesai makan, tapi ‘kok ya ngiler kepengen nambah lagi kayak yang punya Mas-nya. Hehehe.” “Oh, iya,” laki-laki itu mengunjukkan piring nasi gorengnya yang masih ada separuh. “Ini saya pesan nasi goleng.” Laki-laki itu tersenyum, dan Raa membalas senyum itu sambil berterima-kasih. Di dalam hati, ia bersorak kegirangan. Hanya dengan sebuah percakapan sederhana! Raa berdiri dan pamit kepada teman-temannya, berkata ada urusan yang harus segera ia selesaikan. Ia berjalan keluar restoran dengan langkah-langkah cepat, mengeluarkan telepon genggam, dan menghubungi sebuah nomor yang sudah ia hapal di luar kepala.  “Target dikunci. Lokasi Resto Bunga, Pulo Gadung. Mungkin akan keluar beberapa menit lagi.” “Siap, Raquelle. Dalam beberapa menit akan sampai ke sana.”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
198.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.4K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
59.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook