Masa itu, loper koran tidak hanya menjajakan korang-koran harian di pinggir jalan. Mereka juga menambah rezeki dengan mengantarkan koran-koran itu ke rumah pembeli, siapa tahu dari mereka ada yang memberi tambahan biaya ongkos lelah.
Hari itu, Fajar menunggu tukang koran itu lewat di depan rumahnya. Ia berdiri di pinggir jalan dengan harap-harap cemas, menengok ke kanan dan kiri seperti seorang pujangga menanti kekasih hatinya.
Ketika akhirnya tukang koran itu datang, Fajar membeli koran paling atas dengan uang dua ribu yang ia miliki. Tangannya bergetar. Ia kemudian membuka halaman paling belakang, menelusuri dengan matanya dan mengigit bibirnya dengan tegang.
Ketegangan itu pecah ketika Fajar melihat namanya sendiri tercatat di koran harian edisi itu. Ia berlari ke ruang tengah menemui ibunya sambil menyodorkan selembar koran halaman paling belakang.
“Buk, Adek keterima di universitas.”
Sari tidak langsung menengok. Tangan dan kakinya sedang sibuk menggerakkan mesin jahit untuk mempermak pakaian-pakaian belel. Sekali ia meleng, pakaian itu bisa rusak dan sulit diperbaiki lagi. Bunyi mesin jahit yang kikuk beradu dengan bunyi ketukan kakinya. Ketika ia akhirnya mengangkat wajah, Fajar sudah tidak ada. Halaman koran paling belakang itu diletakkannya di sebuah kursi di sisi ibunya.
Sari mengambil koran itu dan menelusuri satu per satu nama yang tercatat. Nomor 198. Fajar, Universitas Negeri Yogyakarta. Ini ternyata pengumuman pendaftaran kuliah lewat jalur seleksi bersama. Sari ingat, memang bulan lalu anaknya itu sempat mengikuti seleksi bersama teman-teman sekelasnya.
Sari meletakkan koran itu dan kembali ke pekerjaannya menjahit. Semua baju ini harus sudah selesai sebelum maghrib. Ia tahu, Fajar memang adalah anak yang cerdas dan pandai bicara. Mirip bapaknya. Cepat sekali waktu berlalu sampai kini ia lulus sekolah. Masuk universitas, pula. Hari demi hari Sari lalui dengan menjahit, sampai tak tahu lagi berapa helai baju sudah ia perbaiki. Semua demi biaya sekolah Fajar. Sudah berapa baju, ya, yang sudah ia perbaiki selama tahun-tahun ini? Pikiran Sari melayang memikirkan anaknya itu.
Kalau ia masuk universitas nanti, bagaimana ia harus mencari tambahan biaya? Ini adalah pertanyaan kedua yang tak mungkin bisa Sari hindari.
Sari menyimpul ikatan benang dan menggunting sisanya. Pakaian ini sudah berhasil ia selamatkan. Nanti sore, pemiliknya akan datang dan membayar biaya permak yang cukup untuk membeli makan malam. Seraya menjahit pakaian selanjutnya, Sari mendengar pedagang bakso lewat di depan rumahnya.
“Bakso!” Suara anaknya nyaring memanggil pedagang bakso itu. Ia kemudian lari masuk ke ruang tengah, sekali lagi menghampiri ibunya.
“Buk, mau beli bakso.”
Sari mengeluarkan selembar uang lima ribu dari kantungnya dan menyodorkannya kepada Fajar. Anak itu segera berlari lagi ke luar untuk memesan semangkok bakso. Canda dan celetuk mereka terdengar sampai dalam, dan Sari tersenyum kecil mendengarnya.
“Saya keterima di universitas, Bang.”
Sedikit jumawa, Fajar menyambungkan obrolan ringan itu dengan berita soal kampusnya.
“Wahhh. Mau jadi orang besar kamu ya? Selamat ya, Dek!”
“Gak mungkinlah saya jadi orang besar!”
“Lah, kan kamu kuliah. Kenapa gak mungkin?”
“Makan sepuluh mangkok bakso aja saya tetep kerempeng begini, Bang!”
Pedagang bakso itu tertawa terbahak-bahak, diikuti pembelaan diri Fajar. Mereka beradu ocehan, saling menyalahkan dan mencela satu sama lain. Mendengar semua pembicaraan itu, Sari memutuskan keluar untuk menghampiri anaknya itu.
Fajar sudah duduk di lantai halaman rumah, meletakkan mangkuk baksonya yang panas di atas setumpukan kayu lapuk yang difungsikan sebagai meja. Sari duduk di sebelahnya dan mengelus-elus rambut anaknya.
“Selamat ya, Dek.”
Fajar menyuap sesendok bakso ke mulutnya. Panas. Setelah jeda beberapa menit, Fajar menjawab. “Buk, gak harus diambil kok kuliahnya.”
Sari mengelus-elus rambut Fajar, sementara anaknya itu kembali menyuap sesendok bakso ke dalam mulutnya. Untuk sementara, tidak ada yang bicara. Mereka khusyuk tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Memecahkan keheningan yang kikuk itu, Sari bertanya lagi.
“Kamu belajar apa, Dek, di kuliah itu?”
“Seni musik, Buk.”
“Main gitar?”
“Hu’um. Sama nulis lagu.”
Sari mengangguk-angguk, dan Fajar menyuap sesendok bakso lagi.
"Lagu apa?"
Fajar nyengir. "Ya ndak tahu, Buk. Lihat nanti-nanti lah. Lagu yang bagus, pokoknya, supaya orang-orang yang mendengar bisa tertawa sampai menangis."
Sari menatap anaknya itu, yang begitu muda dan penuh dengan ambisi. Fajar menyuap sesuap lagi, dan bakso di mangkoknya sudah mulai kandas. Pedagang bakso masih menunggu mangkoknya yang dipakai Fajar sambil menjajakan baksonya kepada tetangga-tetangga yang memesan.
Merasa tak ada lagi yang bisa dikatakan, Sari masuk ke dalam. Ia kembali menjahit, mengejar ketertinggalannya agar semua pakaian bisa selesai hari ini juga. Ia sudah tidak pegang uang lagi. Sementara Fajar, ia menghabiskan semangkuk baksonya itu dengan kepuasan tiada tara. Kuahnya yang pedas dan panas ia minum. Nikmat sekali bagi perutnya.
Berita Fajar masuk ke universitas santer dibicarakan oleh tetangga kiri-kanannya. Masa itu, seleksi bersama masuk ke universitas diikuti hampir semua anak sekolah menengah di Yogya dengan harap-harap cemas, karena mungkin hanya sepersepuluh dari mereka yang akan lolos ke tahap selanjutnya. Bagi mereka yang lolos, masuk ke universitas menuntut biaya daftar ulang dan lain-lain, sementara bagi yang tidak lolos, mereka terpaksa menganggur atau mencari kerja dengan upah minimum sekadar untuk lulusan SMA. Memang masih ada jalur mandiri yang bisa ditempuh untuk tes masuk universitas, namun harganya terlampau mahal dan masih kurang ngetren. Kalau Fajar bisa diterima, itu berarti ia adalah sepersepuluh dari mereka yang beruntung dari seluruh Yogya. Tetangga-tetangganya sedikit bangga mengenai itu, namun hal lain yang juga mereka bicarakan ialah juga mengenai biaya.
Bagaimana Sari dan Fajar akan membayar biaya-biaya daftar ulang?
Baik Fajar maupun Sari, mereka berdua tak menyadari seseorang sedang mengamati. Di antara segala keramaian yang terjadi, ada yang memasang telinga baik-baik. Gerak-gerik mereka, percakapan mereka, hubungan mereka, semua dicatat seperti malaikat mencatat dosa manusianya. Fajar yang menitikkan air mata diam-diam pun tak luput dari perhatian.
Orang ini mengetuk-ngetukkan jari sembari menunggu. Tak berapa lama kemudian, Fajar keluar dan menghampirinya.
“Nih Bang, mangkoknya. Lima ribu, kan?”
Pedagang bakso itu mengambil uang yang disodorkan Fajar. “Iya bener, Dek. Makasih yak. Abang jalan dulu.”
Fajar kembali masuk ke dalam rumah, begitu polos dan tak tahu apa-apa mengenai kejadian yang baru saja terjadi. Pedagang bakso itu berjalan ke ujung jalan, kemudian berbelok ke g**g lain yang lebih sepi.
Di g**g itu, pedagang bakso itu berhenti di sebuah rumah kosong yang terlihat gelap dari luar. Ia memasukkan gerobaknya ke halaman dan menutup pagar. Rumah itu tetap gelap, tapi kini sepasang mata menyala ada di dalam. Sayup-sayup suaranya terdengar, berbicara melalui telepon genggam:
“Lapor, ndan, Fajar masuk universitas. Namanya ada di koran.”
“Jurusan?” Jawab sebuah suara di ujung sana.
“Seni musik. Ia mau membuat lagu.”