(3) Raa Mencari, Namun Tidak Mendapat

1673 Kata
Pagi ini Raa kelimpungan hilir-mudik kampus mencari-cari kantor dosen pembimbingnya. Ia sudah membuat janji jam dua siang, tapi kelas baru selesai jam setengah dua dan kini ia harus bersegera sebelum terlambat menemui dosennya. “Eh, Raa, sini bentar!”  Raa menengok, sebuah suara memanggilnya ketika ia sedang menyusuri lorong lantai lima. “Eh, Siska. Kenapa-kenapa? Gue lagi buru-buru, nih.” “Yakin lo gak mau denger? Yaaa, gak apa-apa ‘sih.” Ucapan Siska tersebut tak urung membuat Raa penasaran. Ia memutuskan menghampiri Siska dan berbisik bertanya. “Apa ‘sih? Mau tahu dong. Tapi gue jam dua ada bimbingan, ini masih nyari kantornya.” “Galih nanyain elo!” “Hah?” Siska terkikik-kikik sementara Raa mengerutkan kening dengan resah. “Iyaaaa,” Siska menyahut lagi, “Nanyain lo jurusan apa, rumah lo dimana, sampe nanya nomor telpon lo segala!” “Lo jawab apa?” “Gue cuma tahu lo jurusan psikologi. Sisanya gak tahu. Gue bilang, kalo gue ketemu lo, ntar gue tanyain.” Raa tertawa kecil. “Dah, bilang aja, rumah gue di Mars!” Sebelum Siska sempat protes, Raa sudah pergi dan melambaikan tangannya. Ia bergegas mencari kantor tempat dosennya menunggu sebelum terlambat. Belum ada laki-laki di kampus ini yang menarik perhatian Raa. Mereka semua terlalu bodoh. Bagaimana bisa mereka tertarik pada wanita dan hanya menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti pertanyaan anak SD? Ada banyak cara mengetahuinya, kalau saja mereka mau berusaha sedikit. Atau kalau mereka mau membuka otak mereka sedikit. Laki-laki memang bodoh. Kalau dulu mereka menjadi hiburan di tengah rutinitasnya yang membosankan, kini Raa sudah lelah berhadapan dengan mereka. Raa hanya bertemu dengan dosennya selama tiga puluh menit. Bimbingan tugasnya berjalan lancar dan hanya ada beberapa regulasi yang harus Raa penuhi untuk bisa menyelesaikan semuanya sesegera mungkin. Dosen Raa mewanti-wantinya untuk tidak banyak nongkrong dan fokus mengerjakan tugas, sementara Raa tersenyum dalam hati, hendak memberitahu dosennya kalau ia tidak hanya nongkrong seperti orang kebanyakan. Ia sedang terlibat dalam sebuah tugas. Raa pulang dengan menumpang sebuah bus kota yang memang sehari-hari dipergunakan mahasiswa kampus itu untuk pulang-pergi. Di perjalanan, telepon genggam Raa berbunyi. Gadis itupun membuka sebuah aplikasi bertukar pesan yang tidak biasa. Aplikasi itu khusus, tidak bisa diunduh bahkan di Appstore resmi sekalipun. Fitur keamanannya yang canggih diciptakan sendiri oleh sekelompok lulusan IT termahir di Ibukota. “Raa, target menghilang.” Raa mendecakkan lidahnya membaca pesan itu. Ia memutuskan untuk tidak membalas, hanya mematikan telepon dan kembali memasukkannya ke dalam saku.  Raa berjalan mendekati pintu dengan sedikit berdesak-desakan. Persis ketika bus itu berbelok di pertigaan, Raa melompat turun. Gerakannya lincah bagaikan atlet terlatih sehingga tidak ada seorangpun yang sadar kalau gadis itu sudah turun dari bus.  Raa kemudian berjalan masuk ke sebuah g**g yang ada di dekat situ. Tas punggungnya bergoyang-goyang seiring dengan langkahnya yang sigap. Pakaian Raa memang tidak semodis banyak mahasiswi seumurannya, tapi paduan celana, kemeja, dan sepatu kets tidak pernah menjadi pilihan yang salah. Setelah masuk ke dalam g**g, Raa mengambil beberapa belokan sebelum keluar di ujung g**g yang lain. Ia pun melenggang masuk ke sebuah perumahan elit, ke sebuah rumah putih besar yang pagarnya berjarak sekitar dua meter dari rumah utama. “Selamat sore, Nona Raquelle,” ucap Satpam yang bertugas menjaga pagar.  “Sore, pak. Udah makan?”  “Sudah, Non, sudah,” Satpam itu menjawab dengan sumringah. Raa adalah nona rumah yang sangat ramah dan digemari setiap pelayan di sana. Begitu masuk, ia disambut beberapa orang yang sigap membawakan barang-barangnya. Raa naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya untuk mandi. Kamarnya serba otomatis, lampu menyala ketika pintu dibuka mengadaptasi teknologi yang dipakai di hotel bintang lima. Kamar mandinya terdiri atas bathtub dan shower, semua bisa digunakan tergantung keinginan Raa. Hari ini, ia tidak punya banyak waktu untuk bersantai di bathtub. Maka Raa menyalakan shower dan membiarkan dirinya dibasahi aliran air seperti di bawah pancuran air terjun.  Lima menit kemudian, Raa keluar dari kamar mandi –dan kalian akan menyangka seseorang telah menculik mahasiswi yang ramah tadi dan menukarnya dengan seorang mata-mata kelas elit. Gadis yang kini sedang memakai pakaiannya lebih mirip ninja modern abad ke-21 daripada tukang nongkrong.  Ia menyalakan komputer jinjingnya dan mengaktifkan panggilan video kepada orang-orang yang ada di dalam timnya. Satu per satu dari mereka bergabung.  Raa membuka pembicaraan. “Aku minta laporan penguntitan kalian kemarin, dan alasan yang logis mengapa ia bisa gagal ditangkap.” Penguntit pertama yang berkoordinasi langsung dengan Raa kemarin, mengangkat suara. Ia menyalakan mikrofonnya dan berkata, “Maaf, Raa. Kami sampai tepat dua menit setelah telepon darimu kami terima. Aku datang bersama Pedro, dan kami berdua mengenakan pakaian sehari-hari dalam rangka penyamaran. Namun, begitu kami masuk ke Resto Bunga, nyatanya tidak ada seorangpun di sana.” Raa mengerutkan keningnya, namun tidak berbicara apa-apa. Ia kemudian menunjuk Pedro untuk memberikan keterangan lanjutan. “Saya berangkat bersama Kefas, Raa,” ucap Pedro, “dan memang Resto itu kosong, sama sekali tidak ada orang di sana.” “Aku sendiri baru saja makan di situ bersama dengan serombongan teman-temanku,” sahut Raa dingin. “Tidak mungkin, ‘kan, mereka semua kompak pulang ke rumah hanya dua menit setelah aku meninggalkan ruangan?” “Izin bicara, Nona,” anggota tim ketiga mereka, Suarez, menyalakan mikrofon dan berbicara. Ia bukanlah bagian dari penguntit, tugasnya sama sekali lain. Suarez adalah rekan terpercaya Raa untuk menerima informasi-informasi rahasia yang beredar di bawah permukaan, untuk meretas internet, dan untuk bergerak secara siber. Laki-laki itu memperbaiki letak kacamatanya, kemudian melanjutkan omongannya. “Kemarin, ada berita penutupan Resto Bunga secara mendadak akibat kebocoran gas. Mungkin kejadiannya tepat setelah Nona memberikan informasi kepada kami.” “Secepat itu?” Raa bertanya. “Ya,” Suarez menjawab lagi, “aku punya kenalan yang bekerja di dapur. Katanya, tiba-tiba saja tercium bau gas yang menyengat dan semua pembeli serta pelayan dipaksa keluar untuk kemudian dipulangkan ke rumah. Sampai malam, tidak ada berita lanjutan dan tidak ada kebakaran yang terjadi di sana.” Sejenak, tidak ada yang berbicara. Raa terdiam mendengar penjelasan Suarez, begitu juga Pedro dan Kefas.  “Aku mengerti, terima kasih Suarez.” Raa menutup percakapan. Pedro dan Kefas seperti tidak puas dan hendak menyampaikan pembelaan diri, tetapi panggilan video sudah berakhir. Raa kemudian mematikan komputer jinjingnya dan membawa semua gawainya keluar kamar. Ada masalah yang berkecamuk di pikirannya. Kalau ia menelepon dan dalam dua menit penguntit-penguntitnya sudah sampai ke lokasi, bagaimana bisa ada seseorang yang mengambil keputusan untuk mengevakuasi seluruh restoran hanya dalam waktu kurang dari satu menit?  Ia menghitung di dalam hati. Membuat bau gas yang pekat memang sangat mudah, dan bisa dilakukan siapa saja yang berada di arena dapur. Mereka hanya perlu membuka tutup tabung gas sekitar lima detik. Orang-orang akan mengiranya kebocoran gas dan khawatir pada resiko kebakaran. Tapi bagaimana seseorang di dapur itu mengetahui apa yang akan dilakukan Raa? Ada kemungkinan, target mereka menyadari kesalahannya dan segera lari. Itu mungkin saja terjadi. Selama ini, Raa sudah berkali-kali mencari dan berkenalan dengan banyak orang hanya untuk menemukan kelemahan targetnya yang ini –tidak bisa berbicara huruf R, alias pelo. Target mereka mungkin saja bekerja sama dengan orang restoran, pergi ke sana atas jaminan teman dan memutuskan untuk mengosongkan seluruh ruangan sebagai antisipasi. Bisa saja. Ini scenario terbaik yang dapat dipikirkan Raa. Skenario terburuknya, salah seorang anggota timnya telah berkhianat. Itu bisa siapa saja. Begitu telepon dari Raa masuk, ia menghubungi orang restoran atau mungkin malah target itu sendiri, untuk membuat kekacauan dan melarikan diri di tengah keramaian. Ya, hal itu juga harus dipertimbangkan.  Raa masuk ke dalam lift dan menekan tombol angka 5. Bukan, ia tidak sedang menuju lantai lima. Tidak ada rumah semewah apapun yang akan terlihat normal bila ia berdiri setinggi lima lantai. Namun, apabila rumah itu memiliki lima lantai di bawah tanah, maka hal itu tidak akan menjadi masalah.  Raa menuju lantai lima di bawah tanah. Kantor tersembunyi ayahnya. Hal seperti ini tentu harus dilaporkan langsung oleh dirinya yang bertugas. Ketika lift sudah berbunyi, tanda ia telah sampai, Raa keluar dan berhadapan langsung dengan sebuah ruangan berisi meja besar dan sofa-sofa mewah. Perabotannya dari kayu dengan dinding-dinding coklat yang memberi kesan hangat. Angin dari AC berhembus sepoi-sepoi, seakan-akan mereka berada tepat di sebelah taman bunga. Nyatanya, ruangan ini berada bermeter-meter di bawah permukaan tanah. Ayah Raa duduk di meja besar tersebut, sedang membaca sebuah buku. “Papa,” Raa membuka pembicaraan seraya duduk di hadapan ayahnya, “Aku sudah bertemu Wira Nagara, bahkan sudah berbicara dengannya, tapi ia gagal ditangkap.” Laki-laki yang diajak bicara mengangguk-angguk. Matanya masih belum lepas dari buku yang ada di tangannya. Ketika Raa tidak melanjutkan pembicaraan, baru laki-laki itu memandangnya. Wajahnya yang tua berkeriput, namun air mukanya tetap tegas. Ia seperti berada di pertengahan usia 50-an dan sedang bersemangat menyambut masa tua yang tenang di lembah-lembah. Nyatanya, di sini, ia mengisi masa pensiunnya dengan tugas-tugas sulit yang butuh permainan otak. Postur tubuhnya tegap berisi walau ia tidak kelebihan berat badan.  Dengan lembut, ia mengelus kepala anak perempuannya itu. “Raa, kamu sepertinya kurang istirahat.” “Papa,” Raa hendak protes, namun ucapannya dipotong. “Raa, sepertinya kamu kurang istirahat.” “Papa, aku rasa ada yang bekerja-sama dengan target kita di Restoran. Mungkin aku mengenalnya.” Laki-laki tua itu mengangguk-angguk, matanya lembut memandang gadisnya yang berbicara menggebu-gebu. “Aku juga ada hipotesa lain. Mungkin saja ada anggota timku yang berkhianat. Hanya dalam dua menit mereka bisa sampai, namun ruangan telah kosong. Beritanya pasti sudah tersebar lebih dahulu tepat ketika aku menelepon penguntit.” “Timmu hanya terdiri atas tiga orang, ‘kan?” Ayah Raa bertanya, disambut anggukan Raa yang terburu-buru. “Baik, akan Papa cari tahu. Tidurlah dulu, nikmati masa mudamu. Nanti malam, kita makan bersama.” Raa menarik napas panjang. Ayahnya adalah seorang yang cerdas, namun sangat berhati-hati. Ia tahu ayahnya akan segera menginterogasi dan memeriksa kesana-kemari, namun sikapnya selalu saja begitu lembut seakan-akan meremehkan kemampuan Raa dalam menjalankan tugas. Sadar kalau pembicaraan sudah selesai, Raa membawa semua gawainya dan kembali ke lift. Ia akan beristirahat. Ia tidak sabar menunggu waktu makan malam dan mendengar jawaban yang ditemukan ayahnya. Selalu begitu. Ada tugas untuk Raa, namun ayahnya-lah yang menemukan jawaban.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN