(4) Makan Malam

1472 Kata
Makan malam. Di sebuah rumah di Jogja, makan malam tidaklah dianggap sebagai kewajiban. Dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan, akan lebih hemat kalau makan malam disatukan dengan makan sore, sekitar jam empat atau lama. Begitu juga sarapan, yang sering kali dimakan bersamaan dengan jam makan siang. Di rumah itu, setiap orang hanya makan dua kali sekali. Tidak lebih, karena uangnya tidak ada, tapi mungkin saja kurang, kalau uangnya keburu dipakai untuk hal lain yang lebih genting. Kecuali, kalau ada sesuatu untuk dirayakan. Malam ini adalah malam yang spesial, maka Sari menyiapkan dua ekor ikan goreng di tengah meja sebagai teman bersantap dengan nasi. Di meja itu duduk anaknya yang baru terdaftar sebagai calon mahasiswa serta kakaknya yang sebetulnya sudah kawin, tapi belum dikaruniai anak. “Suamimu nggak dateng?” Tanya Sari. Widi menggeleng. “Lagi kerja, Buk. Kalau pulang cepat nanti gak dapet lemburan.” Sari mengangguk mengerti, lalu meletakkan sebakul nasi di atas meja. Ia pun duduk. Ketiga orang itu bersama-sama mengerti kalau makan malam kali ini adalah makan malam yang mewah sekali, dan menguras hampir seluruh uang Sari yang diperolehnya dari menjahit. “Malam ini kita merayakan keberuntungan dan kecerdasan Fajar, anak lanang Ibuk,” ucap Sari, tersenyum, “dengan makan ikan goreng yang nikmat ini. Silakan!” Widi bertepuk tangan. Fajar sumringah. Sari sekali lagi mengusap-usap bahu anak laki-lakinya itu dengan sayang.  “Ayo, Widi, ambil ikannya,” ucap Sari, menyodorkan piring lauk dan sebakul nasi kepada anak perempuan pertamanya. Namun, Widi menggeleng. “Fajar aja yang duluan ngambil, kan kamu yang masuk universitas!”  Disodori begitu, Fajar mau tak mau mengambil lauk dan nasi. Lauk ikan yang cuma dua dan nasi yang tak seberapa itu. Ia meletakkan di atas piringnya sebelah badan ikan, dan mengembalikan sebelahnya lagi ke atas piring lauk. Piring digeser ke Widi. Anak perempuan itu mengambil nasi, kemudian menyendok sisa ikan yang dikembalikan Fajar tadi, lalu menyodorkan piring lauk itu ke Ibunya yang dengan sabar menunggu. Sari mengerti, anak-anaknya adalah anak-anak yang baik. Mereka tak sampai hati membiarkan ibunya tak kebagian lauk, bahkan memberikan bagian terbesar untuk dirinya. Namun, kodratnya sebagai seorang Ibu tetap tak berubah, dan anak-anak adalah prioritas utamanya. Maka setelah satu ekor ikan utuh itu ia terima, ia potong dua badannya dan ia letakkan masing-masing satu ke piring Fajar dan Widi. Mereka berdua tidak protes. Hanya dua buah kepala ikan saja yang Sari sisihkan ke piringnya sendiri, beserta nasi yang disisakan anak-anaknya. “Selamat makan. Doa dulu, ya,” ucap Sari.  Malam itu, ada makan malam. Makan malam yang spesial dan menyenangkan, namun juga mengharukan bagi Fajar dan Widi. Di sebuah rumah kecil di Yogyakarta, ada anak laki-laki yang masuk universitas negeri. Ia adalah kebanggaan Ibunya. Kebanggaan kakaknya. “Buk, ayah bangga gak sama aku?” Itu pertanyaan bodoh yang kekanak-kanakan, pertanyaan yang diajukan Fajar ketika piring-piring telah bersih. Sari mengangkat wajah terkejut, dan Widi panik berusaha menegur adiknya yang telah lancang berbicara. Semua orang tahu. “Ayahmu pasti bangga padamu.” “Tapi kenapa ayah gak pulang?” Widi menghembuskan nafas kesal. Adiknya tidak mau menahan lidah. Sari, sambil membersihkan meja makan, menjawab dengan perlahan. “Ayahmu pasti mau pulang.” Fajar mengendikkan bahunya. Widi cepat-cepat menariknya ke halaman. Sari, masih sambil membersihkan dapur, mengeluh dalam hati. Anaknya adalah anak yang pintar, dan tak bisa selamanya ia berdiam menyembunyikan segala sesuatu. Mereka akan bertanya, dan kalau tidak mendapat jawaban, mereka akan mencari. Sari hanya tidak kuasa mengulang segala sesuatunya lagi, bercerita, memberi harapan palsu –sementara semua itu juga entah benar atau tidak, Sari tidak tahu. Ia tidak mau, hati anak-anaknya terluka sebagaimana ia terluka dahulu. Ia mendengar Widi menasihati Fajar. Bisik-bisik. Seperti takut ketahuan. Ayahnya pergi dari rumah, banyak yang seperti itu. Tapi ayah mereka adalah ayah yang baik, Sari masih ingat saat ia bermain bersama di waktu yang lampau. Entah kenapa ayah mereka pergi, dan seperti ayah-ayah lain, kita tidak pernah tahu alasan mereka pergi. Bisa saja ada wanita baru. Bisa saja karena Ibu miskin. Bisa saja karena Ibu yang mengusirnya. Fajar diam-diam mengangguk. Mereka kakak-adik yang rukun. Sari akhirnya keluar dan menghampiri sepasang kakak-adik itu. Anak-anaknya. Ia duduk bergabung di halaman yang disinari cahaya bulan dan lampu kuning kecil. “Ibu mau cerita tentang ayah.” Widi dan Fajar mengangguk dalam-dalam. Mereka tahu saat seperti ini akan tiba. Maka mereka menunggu dan duduk dengan tenang, sementara Sari menyiapkan hatinya untuk bicara. “Nama ayah kalian Wira Nagara. Laki-laki kurus yang pintar bicara. Sedikit banyak miriplah dengan kamu, Fajar. Dia suka menulis dan baca puisi.”  Mata Sari menatap kosong ke kejauhan, menggapai kenang-kenangan lama yang rapat ia simpan. “Ia orang yang baik. Ibu senang sekali bicara dengannya tentang macam-macam, berkhayal jadi orang kaya, bermimpi jadi orang besar. Kita berandai-andai seandainya kita adalah orang terkenal. Tapi, ternyata, apa yang bagi Ibu hanyalah angan-angan malah diwujudkan sama Ayahmu.” Fajar berdecak kagum. Terdengar angin malam yang sepoi-sepoi bertiup diiringi dengan suara jangkrik yang sahut-menyahut. Sari terdiam sebentar, lalu melanjutkan ceritanya.  “Ayah kalian itu penulis keren. Buku puisi pertamanya, berjudul Puisi Pelo, diterbitkan stensilan dan laku terjual. Lalu dia banyak menulis. Sampai-sampai, namanya dikenal sama orang istana, lalu ayahmu dikejar-kejar.” “Istana? Maksudnya … istana presiden?” “Oh, aku tahu,” Widi menyahut. “Aku tahu saat itu. Banyak orang yang mampir ke rumah kita, bertanya macam-macam, sampai ada yang menyusup masuk demi menyergap ayah. Padahal ia jarang pulang.” “Ayahmu bersembunyi,” ucap Sari. “Urusan ini nanti lah kalian akan tahu sendiri. Yang pasti, ayah kalian dan tulisan-tulisannya dianggap berbahaya. Ia memang cerdas, kritis, namun suka bicara. Mungkin banyak orang jadi sebal. Begitulah, jadi ayahmu dikejar-kejar dan tak berani pulang sampai sekarang.” Fajar menatap Ibunya. Tak ada isak tangis atau keluhan yang keluar dari mulutnya, hanya ketegaran hati dan kesabaran seorang istri terhadap suaminya. Widi pun melihat bagaimana Ibunya berusaha sekali untuk membesarkan hati anak-anaknya, mengenalkan Fajar pada sosok ayah yang tak pernah bicara dengannya. “Ayah pasti ingin sekali pulang,” ucap Sari lagi. Matanya menerawang jauh, jauh sekali, mungkin saja sampai ke mana tempat Wira Nagara berada saat ini. “Tapi … Ibu percaya sama ayah?”  Fajar bertanya. Widi menepuk pundaknya, menegur secara sambil-lalu. Tak sopan bertanya begitu setelah semua yang telah Ibunya sampaikan. “Ya. Ayahmu pasti pulang kalau semuanya sudah baik-baik saja.” Dengan jawaban itu, Sari masuk kembali ke rumah. Menyisakan dua kakak-beradik yang berdiam diri, dihibur oleh desir angin dan jangkrik yang ramai. Alam semesta ikut merayakan malam mereka bersama-sama. … “Raquelle, ayo makan.”  Begitu mendengar suara ayahnya, Raa langsung terbangun. Ia ketiduran tadi setelah sibuk dengan berbagai urusan kampus dan tugas rahasianya. Setelah berganti baju dan bersiap-siap, Raa turun ke bawah menghampiri ayahnya yang telah duduk di meja makan dengan hidangan yang telah disiapkan. “Hari ini makanannya enak, Chinese food semua,” ujar ayahnya. Raa duduk di hadapan ayahnya itu, lalu mulai menyendok nasi serta lauk-lauknya. Ayahnya mengikuti. Musik klasik terdengar dari ruang tamu, memutar permainan piano Bethoven yang Raa sudah kuasai. Raa tidak tenang. Pikirannya berkecamuk dengan rasa penasaran akan apa yang hendak ayahnya katakan. Tidak akan ada perbincangan penting sebelum makan malam habis, begitu biasanya ayahnya mengingatkan, jadi Raa memutuskan untuk mempercepat makannya. Sendok berdenting. Pembantu dan pelayan di rumah itu masih hilir mudik. Setelah beberapa waktu berlalu tanpa pembicaraan, akhirnya ayah Raa kembali bersuara. “Raquelle, anaknya Wira Nagara masuk universitas.” Raa menengok. Itu informasi yang baru untuknya. Yah, tidak seberapa penting, tapi tentu saja berkaitan dengan tugasnya yang gagal kemarin. “Maaf, Ayah, aku tidak berhasil membuntutinya kemarin. Aku sempat bicara dengannya.” Ayahnya mengangguk takzim. Mencuci tangan di mangkuk berisi air bersih. Kembali berbicara.  “Ya, tidak apa-apa. Pemilik restoran itu ternyata adalah temannya, maka dari itu Wira Nagara berani makan di situ. Sepertinya mereka sudah menaruh curiga denganmu. Begitu kau keluar, mereka memutuskan berjaga-jaga dan membubarkan seluruh pengunjung.” Ternyata begitu. Raa sudah khawatir kalau ada anggota timnya yang berkhianat, walau kemungkinannya sangat kecil karena mereka semua juga berada di bawah pengawasan ayahnya. “Anaknya masuk universitas, Raa. Kemungkinan Wira Nagara akan sangat ingin pulang ke rumahnya dalam waktu dekat. Ada orangku yang sedang mengawasi sepanjang jalan ke sana.” Raa mengangguk-angguk lagi. Ayahnya punya banyak kaki-tangan, walau mereka tak pernah mendapat informasi sebanyak yang Raa dapatkan.  “Begitu. Tenanglah, banyak-banyak istirahat. Kalau ada perkembangan lagi, kabari aku. Aku ingin melihat sejauh mana kemampuanmu.” Aku ingin melihat sejauh mana kemampuanmu. Itu yang selalu ayahnya katakan, dan kalimat itu yang memecut Raa untuk bergerak semakin giat dalam tugas rahasia ini.  Lagipula, ini tugas yang menyenangkan. Dibandingkan dengan urusan kuliahnya, tugas rahasia ini membuatnya merasa lebih tertantang. Kalau anak Wira Nagara masuk universitas, berarti sekarang tugasnyalah untuk mencari tahu dan menggerakkan lengan guritanya untuk mencari tahu lebih banyak. Ayahnya meninggalkan meja makan. Raa ikut berdiri dan naik ke kamarnya. Tidak ada percakapan lagi, tapi masing-masing mereka mengerti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN