Hari ini, Raa terpaksa membolos satu mata kuliah demi mengejar kereta tercepat yang menuju ke Jogja. Sayang, ia baru sampai ke stasiun pukul sembilan. Kereta yang selanjutnya baru akan berangkat dua jam lagi, dan itu akan menambah keterlambatan Raa.
Dengan rambut kuncir kuda yang terus bergoyang ke kanan-kiri, Raa berlari ke papan informasi keberangkatan kereta dan membaca cepat jadwal yang terpasang. Keringat mengucur di dahinya dan kemeja yang ia gunakan mulai terasa basah.
Kereta pertama yang menuju ke Jogja sebenarnya akan berangkat pukul 09.15, diikuti kereta kedua yang berangkat pukul 11.00.
Raa kembali berlari menghampiri meja informasi keberangkatan kereta, menyibak kerumunan orang yang sedang menunggu dan berdiri di sekitarnya. Tak sedikit dari mereka yang memelototi Raa, meneriakinya dengan peringatan, bahkan dengan sengaja menyenggolnya untuk membalas kericuhan yang ia buat, tapi Raa tidak punya waktu untuk meladeni mereka.
Karena kini, Raa tidak sedang berperan sebagai mahasiswi biasa.
Di meja informasi keberangkatan kereta, Raa bertanya dengan nafas satu-satu mengenai kereta yang akan berangkat lima belas menit lagi. Ia menggunakan setiap kata permohonan yang bisa ia katakan untuk meyakinkan pekerja di balik meja kalau ia betul-betul membutuhkan perjalanan dengan kereta ini.
“Maaf, tapi penjualan tiket sudah ditutup satu jam sebelum keberangkatan.”
Raa menarik napas panjang, mendengarkan jawaban formal dari pekerja itu.
“Mbak masih bisa mengikuti keberangkatan kereta kedua pukul 11.00, tiketnya masih tersedia dan bisa dibeli …”
“Saya bayar dua kali lipat.”
Raa mengeluarkan jurusnya. Berdasarkan pengalaman, tidak ada orang yang tidak tergoda untuk memberikan bantuan dengan imbalan uang. Sungguh berbeda dengan imbalan terima-kasih, uang seperti komoditi mujarab untuk merayu dan memerintah orang agar mau melakukan yang kita inginkan.
Pekerja di balik meja itu menghentikan bicaranya yang dipotong semena-mena oleh Raa. “Maaf?” Begitu katanya.
“Saya bayar dua kali lipat, untuk tiket keberangkatan kereta pertama ini.”
10 menit tersisa sebelum kereta tiba dan Raa bertekad, sudah harus mendapatkan tiketnya sebelum waktu itu habis.
“Maaf, penjualan tiket sudah ditutup satu jam sebelum—”
“Kalau tiga kali lipat? Berapa yang kau inginkan?”
Pekerja di balik meja itu terdiam mendengar tawaran Raa. Itu adalah sogokan yang lumayan, karena ia sebetulnya tidak perlu memberikan satu peser pun kepada perusahaan kereta kalau menjual tiket illegal.
Raa menunggu dan mengetuk-ngetukkan jarinya dengan tidak sabaran. “Bagaimana? Bisa aku dapatkan tiket keberangkatan kereta itu?”
“Aku hanya bisa memberimu tempat duduk di dekat gerbong barang.”
Raa mengangguk. Itu sudah cukup, asalkan ia bisa berangkat segera.
Lima menit, Raa menunggu di peron kereta semetara pekerja tadi menyelesaikan beberapa permasalahan lagi dengan orang-orang lain.
Tepat ketika sirine peringatan bergaung dan kereta itu terlihat memasuki rel stasiun, pekerja itu berdiri di sebelah Raa dan mengangguk kecil. Ya, Raa tahu, ini rahasia mereka berdua. Tiga lembar uang lima puluh ribuan sudah Raa serahkan kepada pekerja itu sebagai kompensasi rahasia ini. Pekerja itu mendahului Raa masuk ke kereta yang berhenti, terus berjalan sampai ke gerbong yang paling belakang. Raa mengekor.
Di gerbong kedua sebelum terakhir, ada sebuah kursi tunggal yang sepertinya dimaksudkan untuk penunggu gerbong barang. Kursi itu tidak berpenghuni. Pekerja itu menyilakan Raa duduk lalu segera meninggalkannya keluar gerbong.
Ini perjanjian yang cukup bagus untuk Raa, karena ia memang butuh kursi tunggal seperti ini. Tidak ada obrolan basa-basi dari orang di sebelah, tidak ada gangguan, dan ia bisa fokus dengan urusannya saat ini.
Tanpa Raa ketahui, malam kemarin, orang yang ia cari-cari duduk tepat di kursi yang ia duduki saat ini. Wira Nagara juga mengalami negosiasi alot dengan pekerja di balik meja informasi keberangkatan kereta karena memaksa berangkat dengan kereta yang sudah tutup pembelian tiketnya.
Ia mendapatkan kursi ini dengan selembar uang seratus ribuan.
Tentu saja, kalau Raa terpaksa membayar mahal demi mengejar keterlambatan, Wira Nagara sudah merencanakannya. Ia tahu praktik gelap pekerja di balik meja, dan sudah mengumpulkan uangnya sejak lama untuk mendapatkan tiket emas ini. Ia tidak punya pilihan lain –berangkat dengan tiket sesuai jadwal yang sudah dibeli sejak jauh-jauh hari tentu akan memudahkan penguntit-penguntit itu menemukannya. Sejak beberapa tahun belakangan, Wira Nagara sudah tidak pernah lagi menggunakan tiket legal di stasiun.
Malam kemarin, Wira Nagara pulang ke Jogja setelah melihat nama anaknya tercetak di surat kabar harian yang ia dapat dari temannya. Anaknya masuk universitas! Wira Nagara tidak pernah sadar kalau Fajar sudah bertumbuh sebesar itu, secepat itu, padahal sepertinya baru kemarin ia menemani anaknya itu berlari kesana-kemari. Fajar masuk universitas! Berita itu saja sudah mampu membuatnya nekad pulang ke Jogja, pamit ke temannya yang sedikit tidak rela, dan keluar dari persembunyian.
Resikonya besar, tapi menurut Wira Nagara, membiarkan anaknya melalui fase ini tanpa ayah memilik resiko yang lebih besar lagi.
Urusan kepergiannya ini memang tidak terlacak, namun seorang mata-mata di stasiun Jogja nampaknya berhasil mengidentifikasi profilnya di balik topi dan mantel yang tebal. Informasi segera disiarkan dan Raa sudah kehilangan beberapa jam sebelum dapat mengejarnya ke sana. Tentu saja, tujuannya jelas: sebuah rumah kecil di pinggiran Jogja.
Selama berada di kereta, Raa gelisah membuka tutup aplikasi perpesanan di ponselnya. Ia mencari-cari informasi lain, namun belum ada informannya yang berhasil mendapat keterangan. Wira Nagara belum lewat di sekitar rumahnya. Dimana ia bermalam? Dimana ia makan pagi? Dimana teman-temannya tinggal dan kemana ia mungkin mampir? Raa gelisah. Semua pertanyaan itu hanya bisa ia jawab sendiri, karena kebanyakan informannya tidak punya kemampuan berpikir sejernih itu. Mereka hanya menunggu sambil bermain catur di pinggir jalan.
Sementara Raa, kalau ia sudah sampai di sana, geraknya akan lebih cepat dan gesit daripada seekor kancil.
Malam kemarin, Wira Nagara sampai di Jogja pukul satu subuh. Lampu-lampu sudah dimatikan dan stasiun sepi sama sekali oleh penumpang. Kereta yang ia tumpangi adalah kereta terakhir.
Ia tahu, walaupun stasiun ini sepi, kehidupan masih terus bergulir di sekitar sini. Pedagang-pedagang miskin tidur di emperan stasiun, memeluk barang dagangannya agar tidak dicuri saingan tak berperasaan. Ada beberapa di antara mereka yang juga mengelus-elus tubuh anaknya yang tertidur di atas kardus bekas, berusaha mengusir nyamuk atau lalat yang hinggap. Wira Nagara mengedarkan pandangannya, hatinya berdesir, kakinya seakan tak mampu bergerak dan pergi dari tempat ini. Kebanyakan pedagang miskin ini adalah perempuan, anak yang kurang beruntung, dan orang-orang tua yang ditelantarkan anak mereka. Semua orang ini mendapat takdir tak ubahnya seperti hewan, mereka bahkan tidur bersisian dengan kucing liar dan minum dari kubangan yang sama.
Dadanya terketuk, namun tak banyak yang bisa ia lakukan.
Raa terbangun dari tidurnya ketika kereta berguncang keras. Suara pemberitahuan segera terdengar, menginformasikan ada keterlambatan kereta akibat rel yang rusak di salah-satu jalur menuju Jogjakarta.
Ia mengumpat.
Suara pemberitahuan itu terdengar lagi. Keretanya kini tertahan di stasiun paling lama setengah jam sebelum dapat beroperasi kembali dan melanjutkan perjalanan.
Raa mengumpat. Setengah jam lagi keterlambatan, sementara matahari sudah hampir naik menyinari kota. Apalagi tinggal dua stasiun lagi sebelum pemberhentiannya.
Raa menyalakan ponselnya, menggulirkan jari mengabaikan pesan-pesan kurang penting, dan mencari-cari kontak anggota timnya yang bersiaga.
“Kefas.”
Suara di sana menyambut. “Siap, Nona. Saya dan Pedro sudah berada di Jogjakarta. Kami sedang melihat-lihat.”
“Baik, jangan kendor. Aku tertahan dua stasiun sebelum Jogja, ada pembetulan rel kereta.”
“Waduh, kok bisa begitu, ya…”
Suara Kefas terdengar diikuti ocehan Pedro sayup-sayup di latar belakang.
“Kalian ke rumahnya saja, dia pasti ada di sekitar sana.”
“Ya, Nona.”
Raa menutup telepon. Memberikan kesempatan kepada dua kaki-tangannya ini untuk memperketat pengawasan. Ia memang terpaksa menunggu, semoga kereta ini tidak makan waktu terlalu lama.
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Raa. Ia membukanya.
Dari sebuah nomor tak dikenal.
‘Raa. Kok gak keliatan di kampus?’
Raa mengerutkan kening. Nomor teman-temannya selalu ia simpan, andaikata ada keperluan. Nomor ini tidak pernah ia simpan, berarti sebelumnya Raa tidak pernah berbicara dengannya.
‘Siapa ya?’
Raa mengirim balasan, dan pesan baru masuk lagi tak lebih dari satu menit.
‘Ini Galih. Ini bener Raa, kan?’
Kali ini, Raa mengerutkan keningnya lebih dalam. Ia tidak menyangka Galih akan betul-betul mendapatkan nomor ponselnya.
‘Haiii Galih. Iyaa ini Raa. Dapet nomor gue dari mana?’
‘Ada deh, rahasia. Gue kan jago jadi mata-mata!’
Raa terbatuk seketika membaca pesan itu. Untung ia tidak sedang minum, mungkin ia akan tersedak. Upaya laki-laki ini ternyata oke juga, walau menemukan nomor telepon itu sebetulnya tidak seberapa sulit.
Raa memberi dua jempol untuk usahanya.