Fajar termangu ketika menyadari bahwa ayahnya tadi hanya berada sejauh lima meter dari rumah.
Lima meter???
Dulu sekali ia menganggap dirinya sebagai anak yatim, anak malang yang ditinggal mati oleh ayahnya, sebelum ibunya sempat memberikan penjelasan apa pun mengenai ayah mereka. Ada banyak kejadian serupa, dan teman-teman di sekolahnya juga banyak yang kehilangan ayah, jadi Fajar merasa ini bukanlah hal yang istimewa.
Anak-anak yatim biasanya miskin. Fajar sendiri bersyukur keluarganya masih bisa menempati sebuah rumah milik om mereka tanpa harus membayar sewa bulanan. Banyak teman-temannya di sekolah yang tinggal di sebuah rumah usang di pinggir jalan raya sementara ibu mereka bekerja mengemis di antara kemacetan. Kesadaran ini membuat Fajar tidak banyak mengeluh, bahkan ia menerima keadaannya dengan senang hati. Setiap pagi, Fajar berjalan kaki ke sekolah yang jarak tempuhnya setengah jam perjalanan, menenteng gitar miliknya dan sekeranjang ikan asin untuk dijual. Ia menawari setiap ibu-ibu yang mengantar anak agar membeli ikan asinnya, dan ikan hasil berdagang akan dijadikan uang jajannya hari itu.
Begitu juga ketika pulang sekolah. Beberapa pelanggan tetap ibunya sering menitipkan pesan kepada anak-anak mereka agar Fajar mengambil pakaian dan kain yang hendak dijahit ke rumah, sehingga ia akan berjalan kaki ke setiap rumah dan membawanya kembali kepada ibunya. Ia juga sering bermain dengan teman-temannya ke lapangan-lapangan jauh, tentu saja dengan berjalan kaki, dan menikmati semilir angin yang mengeringkan keringat mereka di perjalanan.
Dan kini, ketika ayahnya ternyata sudah berada sedekat itu dengan rumah, Fajar merutuk dirinya sendiri mengapa tak berjalan kaki saja ke sana untuk menemuinya.
Sayang, berita kedatangan ayahnya itu baru ia ketahui berjam-jam setelah itu, tepatnya pada pukul satu pagi dini hari. Seseorang datang mengetuk pintu rumah mereka, dan Fajar hanya berdua dengan ibunya di rumah. Widi berada di rumah suaminya. Ibunya membukakan pintu dan tamu itu masuk tanpa suara, bahkan tanpa sedikitpun pertanyaan dan sapa. Lampu tengah tidak dinyalakan. Fajar yang menyadari ketegangan itu memutuskan untuk ikut duduk di ruang tamu dan mendengarkan maksud kedatangan tamu itu.
“Tadi siang, suamimu pulang ke sini,” begitu katanya.
Sari, tanpa sedikitpun kelihatan kaget, menjawab, “Pantas. Yang tadi siang ribut-ribut di depan pasar?”
Laki-laki itu mengangguk. Fajar merasakan dadanya berdesir, dipenuhi antusiasme dan rasa penasaran. Sebelumnya, ia tak pernah melihat tamu ini sama sekali, tapi kelihatannya ibunya sudah begitu akrab dengannya sehingga tak perlu berbasa-basi lagi.
“Aku sudah merasa ada yang aneh. Kok nggak ada apa-apa, tau-tau ribut.”
“Suamimu ke rumahku kemarin pagi, di jam-jam subuh seperti ini. Ia masuk langsung ke kamar atas dan tidur bahkan tanpa istriku tahu. Tadi pagi, ia ikut sarapan dan bilang hendak pergi ke rumahmu. Aku mengizinkan, karena sepertinya tidak ada orang yang mengintai dan mengikutinya.”
“Ia dihadang di depan sana, ya. Mereka sudah tahu ia akan pulang ke rumah.”
Laki-laki itu mengangguk lagi. Kali ini, Sari bergerak gelisah, memijat-mijat dahi dan wajahnya dengan gerakan acak. Fajar beranjak, pindah duduk ke sebelah ibunya, berusaha memberikan dukungan dengan kehadirannya.
“Ehem. Wira menitipkan ini buatmu,” ucap laki-laki itu, kini ia berbicara kepada Fajar. “Tadi dia bilang, ini hanya salinan surat untuk berjaga-jaga. Ia bermaksud menyampaikan sendiri surat aslinya dengan datang kemari.”
“Tapi, ayah tidak datang,” ucap Fajar.
Sekelebat, ia melihat laki-laki itu tersenyum culas. Kemudian tamunya itu berkata, “mereka juga sudah lama menunggu ayahmu datang.”
Begitu surat diterima Fajar, laki-laki itu mengangguk dan berdiri. Ia hendak pamit. Seperti kedatangannya tadi, Sari juga tak banyak berbasa-basi, langsung membuka pintu dan membiarkan laki-laki itu berjalan entah kemana.
Fajar mendengar Sari menarik napas, berbalik badan masuk ke kamarnya. Sebelum ia masuk, Fajar buru-buru menanyakan satu hal.
“Siapa dia, Bu?”
Sari mengangkat wajah, menatap anaknya dengan pandangan lesu. “Teman sekolah ayahmu. Entah bisa dipercaya atau tidak.”
Ia kemudian masuk dan menutup pintu, begitu saja meninggalkan Fajar di luar. Anak laki-laki itu terdiam, gamang menatap selembar amplop di tangannya. Apa benar ayahnya berada sedekat itu dengannya? Ia dihadang orang-orang? Dimana ayahnya sekarang?
Apakah ia selamat?
Fajar ragu-ragu hendak membuka amplop surat itu. Hatinya membuncah dengan ribuan harapan, namun ia takut apa yang ia baca tak sesuai dengan ekspektasinya. Surat itu kecil saja, lebih kelihatan seperti amplop yang sudah dipakai berkali-kali kemudian dilem kembali dengan nasi. Fajar membolak-baliknya, merasakan teksturnya, berusaha mencari sedikit saja kehadiran ayahnya lewat surat yang dititipkan itu.
Tepat ketika amplop itu hendak dirobek, suara derit pelan terdengar lagi dari pintu rumahnya. Fajar lekas berdiri, mengira laki-laki tadi itu kembali karena lupa menyampaikan sesuatu, namun pintu depan ternyata sudah terbuka dan menutup kembali.
Kini, yang ada di hadapannya bukanlah laki-laki tadi.
Orang itu ternyata menutup pintu dengan sikunya tanpa suara. Fajar masih berdiam di tempatnya, kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan bingung apa yang harus dilakukan –membangunkan ibunya atau mengusir orang ini keluar?
Namun orang ini, laki-laki tua yang kurus ini, menarik perhatian Fajar. Ia tidak bicara, dan berdiri begitu saja di hadapannya seperti sesosok hantu.
Orang itu tidak membawa apa-apa. Pakaiannya lusuh, sepotong kaus usang dengan celana panjang yang tak jelas apa warnanya. Lampu ruang tengah masih mati. Ketika Fajar hendak membuka mulutnya, orang itu meletakkan jari telunjuknya di depan mulut dan berbisik.
“Sssttt…”
Laki-laki itu membuka mulutnya dan menggerakkan bibirnya. Fajar memandangnya, kebingungan, dan tersentak ketika menyadari apa yang laki-laki itu hendak sampaikan tanpa suara. Sari… Sari….
Segala sesuatu yang terjadi berikutnya dilakukan tanpa suara. Fajar membuka pintu kamar ibunya, matanya tak lepas memandang laki-laki itu yang tak beranjak sedikitpun dari tempatnya tadi. Ibunya keluar, matanya lesu dan mengantuk, dan wajah Fajar yang tegang membuatnya langsung mengambil sikap siaga satu. Fajar menunjuk laki-laki yang menjadi tamu mereka dengan tangannya, dan Sari berlari tergopoh-gopoh menghampiri laki-laki itu.
Sari menangis di bahunya, tanpa suara, dan laki-laki itu mengusap rambut istrinya dengan lembut.
Fajar terdiam.
Setelah berpelukan beberapa detik, Sari dan laki-laki itu kemudian kembali memandang Fajar. Sari memimpin terlebih dahulu, menarik tangan suami dan anaknya untuk masuk ke dalam kamar. Mereka duduk di atas kasur tipis murah yang digelar di atas lantai, kini dengan lampu menyala, dan Sari pergi ke dapur meninggalkan mereka berdua.
Fajar akhirnya bertemu dengan Wira Nagara.
Ia begitu terkejut dan heran sampai tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Dari gerak-gerik ibunya, kini ia tahu orang ini adalah ayahnya, Wira Nagara yang tadi disebut-sebut. Fajar memandang wajah ayahnya yang keriput dan penuh bekas luka. Tangannya yang terbakar matahari. Rambutnya yang tipis, berantakan.
Sari kembali masuk ke kamar, membawa dua gelas air putih. Wira Nagara membuka mulutnya dan berbisik, “Aku tidak bisa lama-lama.”
Sari mengangguk. Fajar masih memperhatikan gerak-gerik ayahnya, sedikit tidak percaya dengan kehadirannya, dan tertangkap basah ketika mereka beradu pandang.
“Selamat ya, Fajar, kamu masuk universitas.”
Fajar mengangguk. “Terima kasih.”
Ia tidak tahu apakah harus memanggil laki-laki ini ayah atau bapak. Ia tidak ingat pernah berdekatan dengannya sebelumnya.
“Ia pintar, sepertimu, dan suka bicara juga.”
Ucapan Sari membuat Wira Nagara tersenyum kecil. Fajar memperhatikan giginya yang tidak rapih, gurat senyumnya yang tipis. Tanpa disangka ayahnya itu mengelus pundaknya dengan lembut, memijat-mijatnya kecil, perlakuan yang tidak pernah Fajar dapatkan dari siapapun juga.
“Yang penting jadi baik ya, nak, dan jangan takut,” begitu bisiknya.
Fajar mengangguk takzim. Ayahnya kemudian berganti merangkul pundak Sari, mengelusnya lembut, dan Fajar tahu diri pamit kembali ke kamarnya. Hatinya masih ricuh dengan berbagai perasaan tak menentu, dan ia sendiri tidak tahu harus melakukan apa. Pikirannya penuh. Namun begitu sampai di kamar, matanya begitu saja terlelap tidur meninggalkan ayah dan ibunya yang berada di kamar sebelah untuk bernostalgia.
Ketika Fajar bangun pada keesokan paginya, Wira Nagara sudah tidak ada.