(7) Kegagalan Raa

1804 Kata
Dua hari lalu, Raa terengah-engah menyusuri seluruh Kebumen-Wonosari dengan Kefas dan Pedro. Ketika keretanya berhenti sejenak untuk perbaikan, Raa mencari tahu jejak perjalanan Wira Nagara lewat Suarez. Ia berhasil menemukan sebuah kemungkinan kalau Wira Nagara yang sudah pergi terlebih dahulu itu juga mengalami perbaikan kereta seperti ini, ia tidak akan menghabiskan waktu berlama-lama di dalam kereta. Laki-laki itu pastilah keluar untuk makan malam di sebuah tempat, kemudian menginap di penginapan murah sekitar sini. Tinggal di Yogyakarta terlalu berisiko, dan satu stasiun sebelum Yogya tentu jadi tempat pemberhentian yang paling aman. Ide itu menyegarkan hati Raa, dan ia langsung menelepon kedua kaki-tangannya untuk bergerak. Mereka membuat daftar panjang nan lengkap tentang semua tempat makan, restoran, penginapan, dan hotel yang ada di sekitar situ. Mulai dari Rumah Makan Bu Sri, Katering Sejahtera, Warteg Angkringan, dan macam-macam lainnya, tidak ada satu pun yang luput dicatat. Mereka kemudian mendatangi semua tempat itu satu per satu dengan hati penuh antisipasi, bertanya kepada pemilik tempat apakah pernah melihat seorang pria lusuh dengan lidah pelo di sana. Sayang, semua orang menggelengkan kepala. Terkadang ada yang dengan tegas berkata tidak karena ia mengingat semua p3langg4nnya. Terkadang ada yang mengaku tidak ingat, karena profil laki-laki lusuh bukanlah hal yang istimewa terjadi di sini. Ada juga yang dengan marah mengusir Raa serta teman-temannya karena merasa mereka membuang-buang waktu. Dengan lelah dan letih itu, pada akhirnya, Raa dan teman-temannya tidak berhasil menemukan Wira Nagara. Kefas dan Pedro hampir menyerah ketika jam menunjukkan pukul dua subuh, namun Raa tidak bisa menerima itu begitu saja. Tidak banyak yang bisa mereka lakukan di dini hari seperti itu, namun Raa mengangkat telepon genggamnya. "Halo, Suarez," ia berbisik, suaranya diterbangkan angin malam yang dingin. "Bisa kirimkan aku daftar teman-teman Wira Nagara yang masih bisa ditemukan? Ya, yang tinggal di sekitar Yogya. Kalau perlu lebih spesifik, mungkin yang ada di Kebumen-Wonosari. Baik, aku tunggu. Terima kasih." Tut. Tut. Lima detik setelah telpon dimatikan, Suarez sudah mengirimkan data yang dimaksud. Tidak banyak ternyata, hanya ada dua alamat yang tercatat di sana. Raa dengan galak membangunkan Kefas dan Pedro, kemudian mereka bertiga bergegas menyusuri jalan untuk menghampiri alamat rumah pertama. Bagaimana mereka mengelilingi seluruh tempat itu? Kefas dan Pedro membawa mobil, namun beberapa kali Raa tidak sabaran dengan lalu lintas yang padat sehingga memutuskan untuk berjalan kaki saja. Raa adalah ahlinya dalam bepergian secara mandiri, dengan kaki dan transportasi umum. Kefas dan Pedro terpaksa mengikuti. Namun, ketika jam sudah menunjukkan hampir pukul tiga, bergantilah Kefas dan Pedro yang memaksa Raa untuk mengikuti cara mereka. Dengan sebuah mobil murah yang tidak mencolok, ketiga orang ini melesat cepat ke daerah utara. So, baby, pull me closer In the back seat of your Rover That I know you can't afford Bite that tattoo on your shoulder "Heh," Raa nyeletuk, "Siapa yang muter lagu ini?" "Saya!" Kefas tertawa, seakan-akan bangga pada pilihan lagunya. "Ini lagu nge-tren loh, Raa!" Raa ikut tertawa. "Selera lo, Kefas! Selera gue sih enggak begini!" Pedro yang mendengar obrolan teman-temannya itu mendapat ide. Ia menunjukkan lirik lagunya kepada Raa dan menantangnya. "Ayo, nyanyi dong, Raa!" "Ah gue gak suka lagunya!" "AYOOO!" Kefas ikut memanas-manasi. "Kalo lo nyanyi, gue nyetir dua kali lebih cepet. Biar gue gak ngantuk, nih. Ayo Raa!" Akhirnya, setelah dipaksa dan disudutkan oleh kedua temannya, akhirnya Raa menerima tantangan itu. Ia mengambil lirik yang disodorkan Pedro dan mulai bernyanyi. "So, baby, pull me closer In the back seat of your Rover That I know you can't afford Bite that tattoo on your shoulder "Pull the sheets right off the corner Of that mattress that you stole From your roommate back in Boulder We ain't ever getting older" "Semuanya!" Raa berseru. Kemudian Raa, Kefas dan Pedro bernyanyi bersama membelah kegelapan malam. "We ain't ever getting older, we ain't ever getting older!" Mereka tertawa. Band berhenti bernyanyi dan tawa Raa-lah yang paling kencang terdengar. Tak terasa, mobil mereka melambat dan Kefas berkata, "Udah sampe. Gak berasa ya?" Di hadapan mereka kini terpampang sebuah rumah mewah yang gelap dan kusam. Kelihatannya, rumah ini sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Raa mengeluarkan buku catatannya dan membuat beberapa tulisan kecil tentang alamat rumah ini dan kondisinya sekarang, kemudian membuka pintu belakang dan keluar. Kefas dan Pedro menyusul di belakangnya. "Ini mah rumah tua, Raa," ucap Pedro, "Gak ada orangnya." Raa mengangguk, menyadari pintu pagarnya masih digembok dengan gembok tua yang berkarat. Tidak ada motor atau mobil, bahkan tidak ada surat terbaru di sana. "Yah, udah susah-susah," ucap Kefas. Raa menggeleng. Baginya, ini bukan penemuan sia-sia. Tentu saja ada artinya. Ia membuktikan salah satu kelemahan Suarez, bahwa data yang ia simpan baik-baik ternyata tidak sesuai keadaaan di lapangan. Rumah ini sudah kosong beberapa tahun lamanya. Raa kemudian berkata kepada teman-temannya, "Yuk, gak usah buang waktu kalau gitu. Kita langsung ke alamat kedua." Alamat kedua ini adalah alamat terakhir yang bisa Raa datangi di daerah sini. Tidak terlalu jauh sehingga mereka hanya perlu berkendara sepuluh menit dengan mobil. Ketika sampai di sana, mereka semua sudah terlalu letih untuk berkata apa-apa. Raa-lah yang turun terlebih dahulu. Kefas turun diikuti Pedro. Ia bertanya, "Kita mau ngetuk pintu, lalu masuk?" "Ya enggak, lah!" "Terus gimana?" "Liat-liat aja. Kayak lagi wisata." "Ssssttt!" Raa menegur teman-temannya yang mengobrol di belakang. "Ga ada siapa-siapa di dalem." "Hah?" "Maksudnya?" "Lampunya nyala, tapi gak ada orang. Lo tau kan kalo orang liburan, biasanya lampu dinyalain terus selama beberapa hari? Nah, gitu. Lampu ini sudah beberapa hari gak dimatiin, jadi mungkin ada orang yang tinggal di sini, tapi sekarang dia lagi pergi. Gak tau kemana." Kefas dan Pedro mengangguk-angguk. Raa berjalan beberapa kali lagi, memperhatikan rumah itu dari luar. "Raa, gak ada motor sama mobil juga, ya," ucap Pedro. Ia menyadari hal itu baru saja ketika menatap garasinya yang kosong melompong. "Iya, dan gak ada tanda-tanda pernah dipake," Raa manggut-manggut. "Aku curiga ini hanya rumah kamuflase." "Hah?" "Maksudnya?" "Tidak pernah ada yang benar-benar tinggal di sini," ucap Raa, "karena rumah ini terlalu kosong, terlalu sepi. Lampunya memang sudah menyala terus, dan mungkin beberapa minggu sekali, ada yang datang ke sini untuk bersih-bersih. Tapi tidak ada yang tinggal di sini." "Kau tahu dari mana?" "Mungkin pemiliknya hanya sedang liburan..." "Ck. Percayalah padaku," Raa mulai gemas dengan reaksi teman-temannya. "Lihat ini? Pagarnya masih sangat baru. Terlihat jarang sekali dibuka-tutup. Kotak suratnya masih baru. Jalan garasinya bersih sempurna, bahkan pintunya pun tidak banyak bernoda." Kefas dan Pedro hanya mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Raa. Mereka setuju saja untuk langsung sepakat dengan apapun yang Raa katakan, karena 'toh, Raa adalah pemimpinnya. Ketika Raa selesai, Kefas mengangkat pergelangan tangannya dan mengecek jam tangan yang ada di situ. Pukul empat dini hari. Mereka sudah berkelana berjam-jam tanpa hasil. Akhirnya, malam itu, atau pagi itu (?), mereka bertiga berkendara langsung pulang ke Jakarta dan jatuh tertidur di kamar masing-masing sampai tengah hari. Raa sendiri memutuskan untuk tidak pergi kuliah. Seluruh kakinya sakit dan kepalanya terasa sangat berat karena kantuk yang tertunda. Namun, dua hari sudah berlalu dan Raa tidak bisa terus-terusan bolos kuliah dan mendekam di kamar. Ayahnya memanggilnya untuk datang menghadap hari ini dan Raa sudah bersiap-siap sejak pagi agar bisa menunjukkan citra baik di hadapan ayahnya. Rambutnya sudah disisir, rapi terikat menjadi satu kuncir kuda di kepalanya. Ia mengenakan kemeja hitam dan celana panjang hitam, seperti seorang yang hendak melayat, padahal begitulah pakaian yang menurutnya paling nyaman. Ia melahap dengan cepat sebuah roti isi daging yang ada di mejanya, kemudian berjalan ke arah lift. Ia menekan angka lima. Sekali lagi, tidak mungkin sebuah rumah di pertengahan kota Jakarta menjadi tidak mencolok bila dibangun setinggi lima lantai. Tentu mendatangkan rasa penasaran dan kecurigaan yang tidak perlu. Maka, ayah Raa membangun lima lantai ke bawah, dan ia menempati lantai terbawah. Sebuah inovasi modern yang tidak dimengerti masyarakat awam. Lift bergerak turun, membuat udara terasa dingin dan semakin dingin. Pendingin udara sengaja dipasang agar sirkulasi udara di bawah tanah berjalan dingin, namun Raa masih saja tidak terbiasa dengan kondisi favorit ayahnya ini. Ting! Sudah sampai. Raa keluar dari lift dan langsung melihat ayahnya yang sedang membaca buku di sebuah meja kayo mahoni besar di tengah ruangan. Suara pendingin ruangan yang terus disetel terdengar berderu di telinga Raa, dan ia menarik kursi di hadapan ayahnya untuk duduk. Ayahnya mengangkat wajah. Raa tersenyum. segan dan ragu-ragu. Ayahnya meletakkan buku yang sedang ia baca dan bersedekap. "Halo, Raa. Gimana?" "Baik, ayah. Ayah gimana kabarnya?" Ayah Raa mengangguk pelan. "Baik." Kemudian mereka berdua terdiam. Sungguh kaku, dan Raa gelisah. Ia tak sabar ingin menyudahi pertemuan ini, namun ayahnya yang diam seperti ini menandakan sesuatu tidak berjalan sesuai dengan rencana. "Ayah?" Raa bertanya. Pembicaraan itu tidak akan berjalan dengan baik kalau tidak ada yang memulai. Ayah Raa menarik napas berat. Ia membuka mulut seakan-akan hendak berbicara, tapi kemudian menutupnya kembali. Beberapa kali seperti itu. Raa semakin gelisah mengetahui ayahnya yang ragu-ragu. Apa yang hendak ayahnya katakan? Ayah Raa masih terlihat ragu-ragu. Raa membuka mulutnya dan bertanya, "Ayah?" "Raa," akhirnya ayahnya bicara. "Kamu merasa membuat kesalahan?" Raa mengerti. "Maaf, Ayah. Aku membuang-buang waktumu, ya?" "Kau membuang-buang waktumu, Raa. Apa yang kamu lakukan kemarin-kemarin?" "Aku mencari Wira Nagara di sekitar Kebumen-Wonosari. Aku menyusuri semua rumah makan dan penginapan, kemudian menelusuri rumah-rumah kenalannya." "Berapa banyak?" Ayahnya bertanya. "Dua rumah. Penginapan dan rumah makan yang sangat banyak." "Dan apa yang kau dapat?" Raa menggeleng pelan. "Aku tidak menemukannya." "Berjam-jam mengelilingi kota dengan Kefas dan Pedro, dan tidak menemukan apa-apa?" "Maaf, Ayah." Ayah Raa menggeleng pelan. "Raa. Kau yakin tidak mau beristirahat saja?" "Ayah!" Raa protes. "Aku sudah bilang. Aku mau mengerjakan tugas ini, Ayah." Ayah Raa berdiri dan berjalan mondar-mandir. "Raa, Raa," ia berkata, "Kau seharusnya bisa fokus kuliah, mengerjakan tugas, atau bersiap-siap mencari pekerjaan. Kenapa malah melakukan tugas ini? Kau membuang waktu. Wira Nagara tidak pernah ke Kebumen-Wonosari. Ia langsung ke Yogyakarta, entah menginap di mana, kemudian pulang ke rumahnya tanpa ada seorangpun mencegatnya di sana. Ia lewat dengan mulus, whoooosshhh, padahal aku sudah menyuruh dua orang bawahanku berjaga di sana. Kemana mereka? Menyusuri sebuah tempat lain yang sama sekali tidak berkaitan, bermain-main, berjalan-jalan. Kehilangan Wira Nagara." Raa menunduk. Ia menyerap semua informasi yang ayahnya sampaikan dengan baik. Ia mengerti, kini lebih mengerti. Ia telah gagal. "Dan kini kita tidak tahu dia di mana, padahal kemarin adalah kesempatan emas untuk menangkapnya. Kita kehilangan mangsa besar, Raa. Seharusnya aku turun langsung kemarin membawahi Kefas dan Pedro." "Ayah..." Raa berkata, "Maafkan aku." Ayah Raa masih mondar-mandir. Ia bingung harus mengatakan apa. Di satu sisi, ia kesal dengan kinerja Raa, namun di sisi lain, ia tahu anaknya ini sangat menginginkan pekerjaan ini. Raa sangat senang dengan tugas-tugas yang ayahnya lakukan ini. "Ayah, maafkan aku." Ayah Raa akhirnya mengangguk pelan. "Ya. Tapi kalau kau mau beristirahat, katakan saja padaku kapanpun. Aku tak akan memaksamu melakukan tugas ini." Raa menggeleng. "Aku tidak mau, aku mau melakukannya." "Istirahatlah, Raa. Tidur di kamarmu. Jangan paksa dirimu." Raa telah diusir, ia memundurkan kursinya dan berjalan menaiki lift kembali ke kamarnya. Ia tidak mau beristirahat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN