(8) Keresahan

1581 Kata
Raa termenung sendirian di dalam kamarnya. Buku berserakan di segala arah, ditambah kertas-kertas serta post-it yang ditempel dimana-mana. Dalam waktu tiga jam, Raa sudah menyelesaikan dua esai serta satu video pembelajaran yang ditugaskan oleh dosen-dosennya. Hal itu tidaklah sulit untuk orang seperti Raa. Ia pintar, luwes, dan mudah bicara. Sekarang ia sedang berbaring di kasurnya dengan pandangan kosong menatap ke langit-langit kamar. Raa merasa gamang. Sejak pertemuan dengan ayahnya tadi, ia terus-menerus merasa gelisah. Ia tahu ayahnya sudah lelah menghadapinya. Ia rasa, tinggal menunggu waktu saja sampai akhirnya ia dikeluarkan. Padahal Raa menyukai pekerjaan ini. Ia hanya perlu bergaul, sebanyak-banyaknya, dan mengumpulkan informasi. Keahliannya sebagai seorang pemerhati dimanfaatkan dengan baik. Raa bisa memutar otaknya dengan maksimal, membuat catatan-catatan, melakukan pengejaran di malam hari. Semua itu memuaskan baginya. Namun, belakangan, ia terus-menerus membuat kesalahan. Entah bagaimana ia tidak mengerti apa yang salah. Wira Nagara adalah satu-satunya yang ia kejar dan setiap potongan informasi yang ia terima selalu terasa tidak tepat pada tempatnya. Ketika Raa sedang merenung, tiba-tiba sebuah notifikasi masuk ke telepon genggamnya. Awalnya Raa acuh tak acuh dan menganggapnya sebagai angin lalu. Mungkin seorang teman saja yang ingin bertanya mengenai tugas. Kemudian, notifikasi kedua kembali masuk. Ting! Suara ponselnya terdengar nyaring. Raa menatap ponselnya yang terletak di meja, sementara ia sudah PW (posisi wuenak) di kasur. Dalam hati, Raa membatin. Kalau ada satu notifikasi lagi yang masuk, baru ia akan melihat ponselnya dan membalas. Tepat ketika kalimat tersebut selesai Raa ikrarkan, berturut-turut notifikasi pesan masuk terdengar. Ting! Ting! Ting! Ting! Dengan gemas Raa langsung berdiri dan mengambil ponsel itu. Mungkin ia salah membuat janji. Mungkin ponselnya tahu rasa malas Raa dan sengaja mengerjainya! Raa kembali ke kasurnya dan merebahkan diri. Segala urusan yang bercampur-aduk ini membuatnya pusing. Di telepon genggamnya, terlihat sebuah nama. Galih: Oi, Raa Galih: Raa? Galih: Lagi sibuk ya? Galih: Mau nanya sesuatu nih, penting Jari-jemari Raa dengan cepat mengetikkan balasan. Raa: Kenapa, Lih? Raa: Sorry, gue baru selesai belajar. Ting! Tak sampai lima detik, balasan lain masuk. Ting! Ting! Galih: Lo tau 'orion' artinya apa?" Galih: Bukan onion, itu kan bawang. Ini 'orion' Galih: Martabak orion? Raa: Merek martabak? Galih: Iya, tapi apa ya artinya? Raa: Aduh, penasaran banget deh, lo. Gue gak tahu, Lih. Emang kenapa, 'sih? Galih: Di deket kampus ada martabak orion baru buka Raa: Oh Galih: Gue rencana mau nanya ke pedagangnya, arti Orion itu apa. Galih: Mau ikut gak? **Raa tersenyum kecil membaca pesan Galih. Dasar buaya, batinnya. Ia hapal sekali dengan taktik para laki-laki yang sedang mendekati wanita, namun Galih berbeda. Laki-laki itu malah membicarakan hal lain, berpura-pura Raa tidak mengerti rencananya yang asli. Ting! Sebuah pesan masuk lagi ke ponsel Raa. Galih: Besok ngampus, kan? Tangan Raa mengetikkan balasan. Ia tak bisa menahan senyumnya yang tersungging lebar di bibir, membayangkan laki-laki itu betul-betul bertanya kepada penjaga toko tentang apa arti 'Orion'. Ia juga tak tahu. Tapi, apa itu penting? Besok, ia akan bertemu Galih. Di sebuah toko martabak Orion yang baru buka di dekat kampus. Ting! Galih: Jangan bolos terus, lu. Galih: Banyak dosen yang nyariin Raa: Hahaha. Gue ada kerjaan kemaren-kemaren Galih: Kerjaan apa? Galih: Kalo boleh tau aja, sih. Raa: Ada, lah. Ga bisa ditinggal. Galih: Gak capek lu, kerja sambil kuliah? Sampe bolos-bolos gitu Galih: Belom lagi ngerjain tugasnya Galih: Ntar meninggoy, lagi! Raa: Gak, lah. Kan gue keren Raa tertawa. Ia sudah lama tidak mengobrol dengan temannya lewat aplikasi perpesanan, karena belakangan ini ia begitu sibuk berkoordinasi dengan Kefas dan Pedro. Ucapan-ucapan Galih membuatnya tertawa, apalagi ketika Galih menjawab ucapan Raa tadi hanya dengan tiga emotikon jempol. Raa hanya membaca saja pesan itu. Jangan terlalu banyak berbincang dengan laki-laki, ia mengingatkan dirinya. Mereka bisa jadi sangat melelahkan kalau mereka sudah dibiarkan menjajah privasimu terlalu banyak. Selama ini, belum ada satu laki-laki pun yang berhasil membuat Raa jatuh hati. Mereka selalu saja berakhir menjadi teman baik atau teman lama. Mereka mungkin menyimpan perasaan khusus, namun Raa tidak membiarkan dirinya tenggelam terlalu dalam. Berbicara dengan Galih membuat moodnya baikan. Raa tidak lagi gamang. Toh, walaupun ayahnya menganggap dirinya tidak cukup keren, ada banyak orang di luar sana yang merasa dirinya keren. Kuliah, sambil bekerja, walau pekerjaannya adalah pekerjaan khusus, tentunya adalah impian banyak orang. Raa segera bangkit dan kembali duduk di meja belajarnya. Kini, ia tidak lagi mengerjakan tugas kuliah. Ada tugas lain menunggu. Raa membuka aplikasi pencariannya dan mengetikkan beberapa nama yang sekiranya bisa membawanya pada informasi-informasi menarik. Raa mengetik: Fajar Nagara. Wira Nagara. Yogyakarta. Seniman Indonesia. Lagu Wira Nagara. Ia menemukannya. Sebuah lagu berjudul "Kebenaran akan Terus Hidup." Lagu yang membuat nama Wira Nagara naik daun, baik di kalangan masyarakat menengah ke bawah maupun di kalangan intelijen pemerintah. Raa mengetuk sebuah tautan yang mengarahkannya ke video Wira Nagara menyanyikan lagu tersebut. Suara petikan gitar kemudian terdengar, disusul oleh sebuah vokal yang nyaring. Suaraku tak bisa berhenti bergema Di semesta raya suaraku membara Walau kau terus saja coba membungkamnya Namun suaraku takkan pernah bisa kau redam Oooh, tak bisa kau redam Sementara lagu itu diputar lewat laptop Raa di kamarnya, seseorang di Yogya juga sedang melantunkan lagu yang sama dengan petikan-petikan gitarnya. Suaraku tak bisa berhenti bergema Di semesta raya suaraku membara Walau kau terus saja coba membungkamnya Namun suaraku takkan pernah bisa kau redam Fajar bernyanyi lembut, suaranya ditenggelamkan oleh semilir angin sore yang sedikit lagi akan menyambut Adzan Maghrib. Ia duduk sendirian di halaman rumahnya, menatap halaman yang kosong dan sepi. Lirik lagu itu sudah ia hapal di luar kepala saking seringnya ia senandungkan. Karena kebenaran akan terus hidup Sekalipun kau lenyapkan kebenaran takkan mati Aku akan tetap ada dan berlipat ganda Siapkan barisan dan siap untuk melawan Aku akan tetap ada dan berlipat ganda Akan terus memburumu seperti kutukan Di tengah kesendirian, Fajar merenung. Diterimanya ia di universitas ternama bukan serta-merta berarti masa depan yang gilang-gemilang membentang di depan. Ia adalah orang susah. Tak ada perjalanan yang bisa dengan mudah ia ambil tanpa pikir panjang. Kemarin, surat undangan secara pribadi telah ia terima, agar ia datang ke universitas untuk mengikuti acara penerimaan mahasiswa baru. Acara itu juga akan membahas mengenai administrasi, alias uang-uang bayaran, yang harus dipersiapkan calon mahasiswa baru untuk melanjutkan perkualiahannya secara resmi. Sementara, Fajar tahu, untuk makan sehari-hari saja ibunya harus menjahit tanpa henti dari pagi sampai sore hari. Kakaknya yang sudah menikah masih ngos-ngosan membiayai kehidupan keluarganya. Ia belum bekerja dan tidak punya pemasukan. Bagaimana ia harus mendapatkan uang bayaran? Duduk di sini sejak siang tadi, Fajar sudah memikirkan banyak sekali alternatif. Mencari beasiswa, mencari pendonor, atau mencari uang sambil berkuliah. Ia akan lakukan apa saja. Ia selalu bisa mencari cara di tengah keterbatasan. Namun ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Fajar menghentikan permainan gitarnya, kemudian mengeluarkan selembar kertas dari sakunya. Kertas itu sudah lecek. Berkali-kali dilipat dan dimasukkan ke saku membuat kertas itu juga menjadi ringkih, tulisan-tulisannya mulai pudar dan penuh noda. Kertas itu ia dapat dari dalam surat yang dititipkan oleh seorang laki-laki yang mengaku sebagai teman ayahnya. Memang terlihat seperti robekan buku biasa dengan tulisan cakar ayam di dalamnya, namun kalau dibaca, kau bisa melihat sebuah kalimat di dalamnya. "Fajar, jangan kuliah. Aku mau bertemu denganmu." Apa betul ayahnya yang menulis ini? Apa memang ia tidak diberi izin untuk pergi kuliah? Pikiran-pikiran itu membebani pikirannya. Tapi mengapa? Pergi kuliah adalah impian semua orang, dan anak-anak muda didorong untuk berkuliah agar bisa mendapat kesempatan bekerja yang lebih luas. Namun tidak ada jawaban untuk pertanyaan itu, karena tidak ada kalimat lain yang tertulis di sana. Hanya satu baris itu saja. Fajar frustasi. Ia tidak yakin yang mana yang benar dan yang mana yang harus ia ikuti. Ketika adzan maghrib terdengar, Fajar membawa gitarnya masuk ke dalam rumah dan memasukkan surat itu ke dalam sakunya. Ibunya belum tahu mengenai isi surat itu. "Fajar," panggil Sari. Ia sedang menjahit di ruang tengah. Beberapa hari ini, Sari memutuskan untuk mengambil pekerjaan menjahit dari orang-orang yang lebih jauh, sekadar untuk mendapat pemasukan tambahan. "Fajar," Sari memanggil sekali lagi. Fajar menghampiri Ibunya setelah selesai meletakkan gitar itu di kamarnya. Seperti biasa, Fajar sudah tahu Ibunya ingin meminta tolong dirinya untuk memasukkan benang ke dalam jarum jahit. Ibunya seringkali kesulitan. Mengambil benang dan jarum itu dari tangan Ibunya, Fajar kemudian memasukkannya dengan cepat. "Matamu masih bagus, Dek," ucap Sari. "Terima kasih ya." "Iya, Bu." "Kapan kamu pergi?" Sari bertanya lagi. Panggilan dari kampus itu sudah mereka terima kemarin, dan Fajar masih menimbang-nimbang haruskah ia mengikuti acara itu atau menolak saja dari awal. "Acaranya 'sih lusa, bu. Tapi Fajar belum tentu pergi." "Loh," Sari menghentikan tangannya sejenak, menatap Fajar yang berdiri di hadapannya. "Kok gak ikut?" Fajar mengangkat bahu. Ia tidak hendak membicarakan itu dengan Ibunya sekarang. Toh, persoalan ekonomi masih jadi halangan utama. Tak mungkin tiba-tiba ia hadir dan berkata kalau ia hendak masuk ke kampus namun tidak memiliki uang. "Memangnya bayar, dek?" Sari bertanya. "Ibu bisa carikan, kalau memang bayar." "Enggak, Bu. Tapi pasti nanti dibahas, soal biaya-biaya yang harus dibayar untuk melanjutkan perkuliahan." Sari mengangguk-angguk, mengerti kecemasan putranya. "Kamu sudah susah-susah masuk ke sana, datang saja dulu ke universitasnya. 'Toh kamu diundang. Soal bayaran, bisa kita pikirkan nanti." "Fajar malas, Bu. Bagaimana kalau biayanya besar?" "Lusa nanti 'kan masih gratis. Datanglah, Fajar. Kesempatan tidak akan datang dua kali," ucap Sari. Ia menatap mata anaknya yang tegas, memperhatikan sosoknya yang kurus-tegap. "Pikirkanlah dulu," begitu katanya. Fajar mengangguk. Entah bagaimana ia bisa pergi ke kampus, tapi mungkin saja apa yang diucapkan Ibunya benar. Setidak-tidaknya, kalau ia tidak bisa melanjutkan perkuliahan, ia pernah ke sana dan menikmati salah satu acara penyambutan mahasiswa baru di UNY.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN