(23) Raa dan Ayahnya

2000 Kata
Kalau biasanya Raa pergi dengan Kefas dan Pedro, kali ini berbeda. Ia duduk dalam sebuah mobil Mercy keluaran terbaru dengan Ayahnya sebagai supir. Mereka berdua tak tampak nyaman, justru keheningan yang menegangkan mengisi seluruh mobil. Hari ini, Raa bersama dengan Ayahnya hendak pergi menghampiri wilayah tempat Wira Nagara biasa beraksi. Ayah Raa sudah memutuskan untuk ikut ambil bagian dalam penelusuran Raa, dan hal itu dimulai dengan penelusuran lokasi. Suarez telah meneliti dengan serius setiap foto yang beredar di laman-laman berita. Dari semua foto itu, ia mengerucutkan beberapa lokasi potensial tempat kemungkinan gambar itu diambil. Ayah Raa yang menyetir tidak mengenakan pakaian dinasnya yang selalu ia banggakan. Ia justru memakai pakaian loreng ala tentara yang menunjukkan bentuk badannya yang tegap. Ia juga mengenakan sepatu bots bersol besi yang amat berat. Raa, di sebelahnya, mengenakan celana legging dan kemejanya yang biasa. Ia merasa sudah cukup nyaman dengan pakaian itu. Perjalanan mereka sebetulnya tidak seberapa jauh. Ada beberapa titik di pinggir Jakarta yang menjadi tujuan mereka. Hanya saja, waktu berdua bersama Ayahnya membuat Raa merasa canggung, dan waktu terasa berjalan lebih lama. Setelah tiga puluh menit, mereka akhirnya sampai ke lokasi pertama. Lokasi ini berada di pinggir rel kereta. Di saku Raa, sudah ada sebuah buku saku dan pena kecil untuk mencatat. Gadis itu bertekad untuk tidak menyia-nyiakan segala sesuatu yang ia lakukan hari ini. Ia sudah berkeras hati untuk menangkap Wira Nagara. Raa dan Ayahnya turun dari mobil, menghampiri sebuah tempat makan di dekat situ. Wilayah tersebut sangat panas dan gersang. Ketika Raa turun, ia mendapati bahwa di sepanjang pinggir rel kereta api terdapat banyak orang yang membangun rumah bedeng, alias rumah darurat. Di sana juga ada warung-warung kecil yang menjual minuman dan makanan ringan. "Permisi," Ayah Raa menghampiri salah satu warung yang buka dan masuk ke dalamnya. "Saya bisa pesan minum?" Raa ikut masuk bersama dengan Ayahnya dan memperhatikan sang penjaga warung. Ia menatap Raa dan Ayahnya dengan sinis. Penjaga warung itu mengangguk, kemudian menyerahkan dua botol air mineral kepada mereka. "Berapa, Mbak?" Ayah Raa bertanya. "Lima ribu." Ayah Raa menyerahkan selembar uang lima ribuan, kemudian menyerahkan satu botol air mineral itu kepada Raa. Gadis itu memperhatikan bahwa si penjaga warung melihat mereka dengan tatapan tajam. "Saya numpang duduk dulu ya, Mbak..." Ayah Raa bicara lagi, namun tidak dijawab oleh penjaga warung itu. Raa jadi segan. Ia menatap keseluruhan warung yang terbuat dari papan-papan bekas itu. "Mbak, sudah lama berjualan di sini?" Penjaga warung tidak menjawab. Raa menatapnya. "Mbak?" "Saya tahu Bapak mau apa. Tidak usah banyak omong ya, Pak, saya sebetulnya tidak mau terima orang dinas kemari." Ayah Raa terdiam. Raa tertohok. Ia tidak tahu apa yang dimaksud oleh orang itu, namun ia merasa marah karena diusir. Ia 'kan tidak melakukan apa-apa. Ayah Raa-lah yang mengambil inisiatif untuk tertawa—tentu saja dengan cara dipaksakan, kemudian berkata, "Ngomong apa sih, Mbak. Jutek amat. Udah panas gini, tambah panas jadinya!" Penjaga warung itu berdiam diri, tidak menjawab apa-apa. Raa yang sudah sebal sebetulnya ingin sekali pergi meninggalkannya dan melanjutkan perjalanannya. Namun, Ayah Raa justru mengambil sikap sebaliknya. Ia duduk dengan lebih santai, mengangkat kakinya ke kursi, dan bertanya lagi, "Jadi, Mbaknya sudah lama berjualan di sini?" Penjaga warung itu mengangguk. Raa terkejut dengan respon ini. Ia kemudian menjawab, "Ya, Pak, sudah sejak saya kecil, toko ini diwariskan oleh Ibu saya." "Lalu Ibu-nya Mbak sekarang...." "Ibu sudah meninggal, sama Bapak juga sudah meninggal. Tinggal saya sama anak-anak yang mengurus warung ini." "Kenapa nggak buka di tempat lain, Mbak?" "Ya, mana bisa! Cuma satu warung saja digusur terus, padahal cuma ini tempat saya mencari nafkah." Ayah Raa menggeleng-geleng. "Astaga, astaga." "Betul lho, Pak, yang saya bilang ini," penjaga warung itu terpancing untuk bercerita, "mungkin bapak mengira cuma sekali dua kali kami ini digusur. Nyatanya, hampir setiap tiga hari sekali! Seminggu bisa dua kali, bahkan tiga kali, warung ini dirobohkan rata dengan tanah." "Sama siapa, Mbak?" Ayah Raa bertanya dengan nada terkejut. "Jahat sekali!" "Sama aparat lah, Pak!" "Astaga, astaga." Raa memperhatikan penjaga warung itu kini duduk di hadapan Ayah Raa dengan lebih santai. Ia tidak lagi memandang sinis seperti tadi saat mereka berdua baru masuk. Raa memutuskan untuk ikut duduk di sebelah Ayahnya. "Ini anak Bapak?" Tanya sang penjaga warung. "Ya, ya, anak saya," Ayah Raa menjawab. "Saya minta segelas kopi ya, Mbak. Saya ngantuk nih siang-siang!" Penjaga warung itu mengiyakan, kemudian dengan lincah menyeduh segelas kopi dengan air panas. Ia menyerahkan kopi itu kepada Ayah Raa yang langsung menyeruputnya. "Enak, Mbak!" Puji Ayah Raa. Penjaga warung itu tersenyum. "Ah, biasa saja, Pak. Namanya kopi ya rasanya begitu-begitu saja." "Ya, nggak apa-apa Mbak, kopinya jadi enak karena hasil kerja keras!" Penjaga warung itu kini tertawa. Raa mencatat dalam hati bagaimana Ayahnya sangat ahli membolak-balik perasaan wanita ini. Yang awalnya marah, menjadi gembira. Yang awalnya curiga, menjadi percaya diri. Setelah sedikit-banyak berbasa-basi, akhirnya Ayah Raa berdiri. Raa ikut berdiri. "Ya sudah, Mbak, saya pamit dulu ya. Semoga berkah terus dagangannya." "Amin, amin, Pak. Terima kasih, Pak Baik." Penjaga warung itu mengiringi kepergian Ayah Raa dengan pandangan matanya. Sementara mereka berdua masuk ke dalam mobil, Raa bertanya-tanya apa yang sudah mereka lakukan dalam kunjungan lokasi kali ini. Bukankah mereka hendak menangkap Wira Nagara? Mengapa ayahnya tidak menyinggung hal itu sama sekali? Mobil berangkat ke lokasi kedua. Mereka berdua masih berdiam diri. Raa mengeluarkan buku catatannya dan mencatat lokasi perjalanan mereka selanjutnya. Ketika ia sedang melakukan hal itu, Ayah Raa berkata, "Raa, kau perhatikan apa yang aku lakukan tadi?" Raa mengangguk. "Apa yang kau perhatikan?" "Ayah berhasil membuatnya senang," ujar Raa, "padahal awalnya ia sangat sinis pada kita, marah tanpa sebab yang jelas." Ayah Raa terdiam selama beberapa detik, menunggu anaknya melanjutkan penjelasan, namun Raa tidak menambahkan apa-apa lagi. Itu adalah semua yang hendak ia katakan. Kemudian Ayah Raa berkata, "Ya, bagus. Namun tidak hanya itu." "Tidak hanya itu?" "Ya, Raa, tidak hanya itu," ucap Ayah Raa. "Aku mencari Wira Nagara." "Bagaimana caranya? Ayah bahkan tidak bertanya mengenai orang itu kepadanya." "Nah, di sinilah kecerdasan dibutuhkan, Raa. Kadang-kadang, tidak semua yang ada di permukaan adalah kenyataan sebenarnya. Kalau kau bertanya, ia mungkin berkata tidak tahu, atau memalingkan wajah, atau malah mengusir kita. Tapi kalau kita menemaninya bicara baik-baik, semua akan nampak sendiri. Waktu yang membuktikan." Raa terdiam. Ia masih tidak mengerti apa yang Ayahnya maksud. Ayah Raa melanjutkan, "Justru tadi kau bisa lihat sejak awal kebenciannya pada aparat ketika aku masuk dengan seragam ini. Aku mencari tahu kenapa. Ternyata ia merasa, aparat yang menggusur warungnya telah merusak sumber rezekinya. Ia menyalahkan aparat atas apa yang ia alami." "Bukankah itu benar, Ayah? Kalau warungnya digusur, ia tidak dapat bekerja lagi?" "Tidak, Raa. Mereka itu malas. Kau lihat bagaimana ayah dan ibunya dulu juga bekerja membangun warung di situ, dan perempuan itu hanya meneruskannya saja? Kalau dibiarkan, anak-anaknya kelak juga hanya akan menjadi penjaga warung itu. Mereka tidak mau bekerja lebih keras, mereka tidak mau pergi ke sekolah, mereka bahkan tidak mau menerima tawaran pekerjaan lain. Mereka manja. Padahal itu juga bukan lahan mereka. Itu tempat persimpangan kereta api. Berbahaya bagi setiap kereta, penumpang, dan bagi mereka kalau tinggal di sana." Raa mengangguk-angguk. Ia mulai memahami apa yang Ayahnya maksud. "Nah, Raa, sayangnya mereka itu tidak menyadari kesalahannya sendiri. Mereka menyalahkan aparat, menyalahkan pemerintah. Kau tahu kenapa mereka bisa berpikir seperti itu?" Raa menjawab, "Wira Nagara." "Ya, Raa. Dari situlah aku tahu kalau perempuan itu juga pengikut Wira Nagara. Ia pasti mendengarkan lagu-lagunya. Ia mungkin saja mengenal orang itu dan menyembunyikannya di suatu tempat." "Kau bahkan tidak perlu menyebutkan namanya." "Ya, ia dengan suka rela memberitahuku segalanya." Raa mengangguk-angguk. Ia membuat catatan-catatan lagi di buku sakunya. Selama beberapa saat, Raa dan Ayahnya berdiam diri. Mereka sekarang menuju ke ujung lain dari kota Jakarta, sehingga langit mulai berwarna kejinggaan menandakan waktu yang beranjak sore. "Ayah keren sekali," gumam Raa. Ayah Raa hanya melirik, tidak menjawab. Mereka berdua akhirnya sampai di lokasi kedua. Perjalanan itu mengambil waktu setidak-tidaknya satu setengah jam. Raa dan Ayahnya turun di sebuah lokasi pinggir kota yang penuh dengan pabrik dan bedeng tempat tinggal sementara para pekerjanya. Ayah Raa berjalan di depan. "Permisi," ia berkata kepada pekerja-pekerja yang sedang berleha-leha di sana. "Apakah ada di sini yang bernama William Gonzales?" Pekerja-pekerja di sana saling berpandangan, kemudian terkikik kecil. "Maaf, Pak, serius namanya William Gonzales?" "Iya, ada tidak ya?" "Tidak ada, Pak," jawab seorang pekerja. "Namanya bule bener!" "Ah, maaf kalau begitu. Sepertinya saya salah orang. Bagaimana dengan Victor Hugo?" "Victor Hugo?" "Ya, apa ada yang namanya Victor Hugo?" Kerumunan itu kembali ramai dengan cekikikan. Raa memperhatikan mereka yang mulai saling menyahuti. "Victor Hugo, duh, bule bener Pak!" "Gak mau nyari yang lokal-lokal aja Pak, misalkeun Budi, Ranto, gitu?" "Di sini gak ada Pak yang namanya Victor Hugo!" "Bapak jangan becanda, deh. Victor Hugo kan penulis buku!" Ayah Raa tidak gentar ditertawakan begitu. Ia justru memasang senyum tulus dan menjawab lagi, "ealah, abang-abang ini, pada lucu-lucu semua. Yak udah, kalo kagak ada, saya cabut dulu ya." Ramai-ramai mereka kembali menyahuti, mengizinkan Ayah Raa untuk pergi. Namun, sebelum berbalik badan, Ayah Raa berkata, "Tapi saya baru tahu Victor Hugo 'tuh penulis buku. Emang iya, yah?" "Tauk tuh si Inyong!" "Iyak pak, terkenal itu, dari Prancis!" "Oalah, gitu yah, iya-iya deh. Makasih ya Bang!" Ayah Raa berbalik badan dan mengajak Raa kembali ke mobil. Mereka berdua masuk dan melanjutkan perjalanan. Raa duduk di kursinya sembari mengerutkan dahi. Setelah perjalanan yang sangat jauh tadi, ia merasa sangat sayang kalau harus pulang secepat ini. Mereka belum ada lima belas menit di sana! Ayahnya bahkan hanya menanyakan beberapa pertanyaan ringan sebelum memutuskan pergi. Setelah sudah cukup jauh dari tempat tadi, Raa memutuskan bertanya. "Ayah, apa yang Ayah lakukan tadi?" "Ayah bertanya." "Untuk apa?" "Menurutmu, untuk apa aku bertanya?" Raa terdiam sejenak, mencari-cari jawaban yang tepat. Ia tidak dapat membayangkan alasan apapun yang memungkinkan Ayahnya bertanya hal-hal seperti itu. "Apakah nama-nama tadi merupakan anak buah Wira Nagara?" Tebak Raa. Ayah Raa tersenyum. "Tentu saja tidak. Aku hanya mengarangnya." "Untuk apa, Ayah?" Raa mendesak lagi. Ia semakin penasaran dengan cara Ayahnya menggali informasi. "Nama pertama hanya pancingan untuk melihat reaksi mereka. Kalau nama kedua, ia adalah seorang penulis buku asal Prancis." "Seperti tebakan salah seorang dari mereka," ujar Raa. "Tapi, bagaimana mereka bisa tahu?" "Ya, seperti tebakan mereka. Wira Nagara-lah satu-satunya kemungkinan yang memberi tahu mereka mengenai hal itu, karena tulisan-tulisan Victor Hugo sejalan dengan pemikirannya. Victor Hugo menaruh kepercayaan besar pada kekuatan rakyat yang tertindas dan mengagung-agungkan revolusi sebagai jalan menuju kemajuan bangsa." Raa mengangguk-angguk. Ia tidak pernah membaca Victor Hugo sebelumnya, jadi ia sendiripun tidak mengerti mengenai apa yang sebetulnya ia tulis. Namun ia mulai bisa meraba-raba pola pikir Ayahnya. Raa berkata, "dengan bertanya seperti tadi, Ayah kembali melacak orang-orang yang terpengaruh oleh ajaran Wira Nagara, ya?" Ayah Raa mengangguk, kemudian menambahkan, "Ya, namun aku tidak hanya melacak orang-orang. Aku melacak semangatnya. Mereka ternyata punya pemikiran yang sejalan dengan Wira Nagara dan hal itu berarti orang itu bisa saja berada di sekitar sini. Kita sedang mempersempit wilayah penyelidikan." Raa kembali mengangguk-angguk. Ia mengeluarkan buku saku dan mencatat beberapa poin yang Ayahnya sampaikan. Ia kini memahami cara Ayahnya bekerja. "Ayah tidak langsung ke daun, namun ke akar," ucap Raa. Ayah Raa mengangguk. "Ya. Apa yang kelihatan mungkin menarik, namun mencari tahu akarnya membuat kita dapat melacak lebih daripada yang mereka kira." "Tidak sepertiku, yang langsung saja menerobos masuk ke rumah waktu itu." Ayah Raa tersenyum tipis. "Ya, Raa. Tidak seperti itu. Hal yang kau lakukan memalukan sekali. Raa memang merasa malu setelah memikirkan ulang apa yang ia lakukan kemarin itu. Ia sama sekali tidak berpikir panjang dan begitu saja mengira kalau ia bisa menemukan Wira Nagara di dalam. Ia terlalu mencolok. Sedangkan Ayahnya? Ia baru saja melakukan penyelidikan efisien hanya dalam waktu lima menit. "Selanjutnya adalah giliranmu, Raa. Aku tidak lagi dapat melakukan hal seperti ini di depan umum. Sudah terlalu banyak yang mengingatku. Mereka sudah mencatat nama dan wajahku. Hanya kau yang kuandalkan untuk penangkapan ini. Raa mengangguk yakin. Ia sudah terus mengumpulkan informasi dan mencatat cara-cara cerdik yang Ayahnya ajarkan. Ia menjawab, "serahkan saja padaku, Ayah, karena aku pasti menangkapnya segera."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN