Raa bilang, ia hanya sedang berlibur. Ada saudara yang tinggal di Yogyakarta. Kuliahnya sedang melelahkan dan ia butuh refreshing. Raa bilang, ia tidak punya banyak teman di Yogya. Temannya semua tinggal di Jakarta. Ia senang sekali bisa bertemu dengan Jafra.
Fajar sesungguhnya sangat ingin mempercayai semua itu. Ia dan Raa kebetulan saja bertemu di persimpangan jalan yang ramai, di antara ribuan tempat di Yogya, dan Raa menunggu untuk menonton pertunjukan musiknya. Namun, perkataan teman ayahnya tadi siang terus terngiang-ngiang di kepalanya.
Tidak ada kebetulan di dunia ini.
Meskipun mungkin saja betul bahwa perempuan ini sedang berlibur. Mungkin saja Raa memang senang berjalan-jalan di Yogya untuk menyegarkan diri setelah masa kuliah yang melelahkan. Mungkin saja Raa memang menikmati pertunjukan musik. Namun Fajar memilih untuk mendengarkan kata hatinya.
Tidak ada yang kebetulan, kan?
Malam itu, setelah Fajar menyanyikan beberapa lagu sesuai permintaan pendengar, Raa mengajaknya makan malam di sebuah warteg dekat situ. Fajar menyetujui begitu saja. Baginya, ini adalah hari yang sangat menguntungkan karena ia mendapat makan gratis dari siang sampai malam, tanpa perlu menggunakan uang yang sudah susah-payah ia kumpulkan dari mengamen.
Mereka duduk berdua, bersebelahan, dengan gitar Fajar disenderkan ke kursi yang mereka duduki. Raa memesan nasi dengan ayam goreng, sementara Fajar memilih tempe orek dan telur dadar.
"Lo serius cuma makan itu?" Tanya Raa.
Fajar mengangguk. Ia juga mengambil sebotol air mineral dan meminumnya banyak-banyak untuk menghilangkan dahaga. Menyanyi terlalu banyak membuat tenggorokannya kering.
"Sedang apa di persimpangan itu?" Fajar bertanya pada Raa. Ia mengerling, memperhatikan pakaian gadis itu yang begitu sederhana. Hanya kaus beserta jaket yang dibuka resleting-nya serta celana jeans dan sepatu kets. Walau begitu, tak bisa dipungkiri semua itu pasti adalah barang yang berkualitas jempolan. Fajar tahu harganya tak murah.
"Lagi ... jalan-jalan. Gak ada salahnya, kan? Di Yogyakarta banyak orang senang tampil di jalan untuk dibayar. Gue suka nontonnya. Salah satunya elo."
"Suka jalan-jalan, ya?"
"Sukaaaaa. Gue seneng liat tempat-tempat baru, ketemu orang-orang baru. Lo suka, gak?"
Fajar mengendikkan bahu. Ia mengambil piringnya yang disodorkan penjaga warteg, diikuti dengan Raa.
"Makan, ya," ucap Fajar.
Di kepalanya, berkecamuk banyak sekali pikiran. Ia merasa lelah. Ia senang Raa datang untuk mengobrol, namun rasa curiga terus membayangi benaknya. Apakah Raa memang kebetulan bertemu dengannya? Apakah ini semua sudah dirancang?
"Kok lo diem aja, sih?" Raa bertanya lagi. Gadis itu menyuapkan sesendok nasi dengan ayam ke dalam mulutnya.
"Kok lo ke Yogya?" Fajar bertanya balik.
Raa menengok ke arah Fajar dengan pandangan yang tak dapat diartikan. Fajar tak tahu mengapa pertanyaan itu membuat Raa terdiam, namun ia tetap menunggu jawabannya. Mungkin diamnya Raa adalah sesuatu yang harus ia perhatikan juga.
Fajar menyuapkan sesendok makanan. Kemudian sesendok lagi. Ia terus menyuapkan nasi sampai hampir habis begitu menyadari Raa sedari tadi diam saja. Gadis itu tidak menjawab pertanyaannya juga tidak menyentuh makanannya.
"Raa?" Fajar bertanya pelan. "Lo gapapa?"
Tepat di pertanyaan itulah, Raa mulai terisak. Fajar begitu terkejutnya dengan reaksi Raa yang tak terduga-duga, sampai akhirnya menyodorkan segelas air putih ke gadis itu.
"Raa, minum dulu."
Raa mengangguk. Ia masih terisak kecil, namun tangannya mengambil gelas yang disodorkan Fajar dan mulai meminumnya. Air mata mengalir pelan di pipi Raa seakan-akan sebuah sungai kecil terbentuk di sana, dan Fajar memperhatikan hal itu dengan cermat sekali. Ia menggeser posisis duduknya mendekat.
"Raa?"
"Aduh, sorry, sorry," Raa menyahut, "Maaf ya, kok gue cengeng gini sih."
"Nangis tuh gak cengeng."
"Apa?"
"Nangis tuh gak cengeng," Fajar mengulang. "Yang cengeng tuh orang yang gampang mengeluh, kayak pohon yang gampang banget dipatahin."
Raa tersenyum kecil. Tangannya mengusap air mata yang mengggenangi pipinya, sehingga kini bekas air mata itu terlihat seperti bercak tetesan air hujan.
"Bisa aja lo."
"Ayo, nangis lagi," ucap Fajar, "gak boleh ditahan-tahan."
"Orang lain biasanya nyuruh jangan nangis loh, Jafra."
"Ah, kata siapa. Masa nangis gak boleh? Nangis aja, sekalian dihabisin sedihnya sekarang biar nanti-nanti happy lagi. Kalau habis nangis, pasti lega deh. Gue jamin."
Raa tersenyum lagi. "Iya, iya. Makasih yaa. Duh, lucu banget, gue malah nangis di depan strangers." (strangers = orang asing).
Mendengar hal itu, pikiran Fajar kembali berpacu. Ia sadar Raa adalah orang asing baginya. Mereka berdua kebetulan bertemu di banyak tempat, namun tidak ada alasan apapun bagi mereka untuk tetap berteman. Mereka tidak saling mengenal dan tidak saling berbagi informasi pribadi. Bahkan, Fajar merahasiakan namanya sampai saat ini kepada Raa. Ia tidak berani mengakui kebohongannya itu, jadi ia membiarkan Raa terus berasumsi.
Fajar berkata kepada Raa, "Justru, karena kita orang asing, lo boleh nangis sepuas-puasnya. Gue gak bakal inget. Kita juga belum tentu ketemu lagi."
Raa mengangguk. Ia terdiam beberapa saat dan kali ini ia tidak tersenyum sama sekali. Air matanya kembali mengalir di pipinya.
Wow. Fajar memperhatikan Raa melakukan itu dengan perhatian. Ia tidak mengerti bagaimana bisa seseorang sampai pada pengendalian emosi yang sekuat itu? Raa bisa tertawa dan tersenyum ketika menanggapi Fajar, namun ketika ia hendak menangis, ia betul-betul beralih emosi dan menangis. Ia menyembunyikan perasaannya dengan lihai. Fajar mencatat hal itu dalam hati. Raa terus menangis dan mulai terisak lagi, ketika Fajar menyodorkan gelas air minum yang sama.
"Diminum, Raa."
Raa menangguk. Ia menenggak air putih yang diberikan Fajar, kemudian mengatur napasnya. Air mata terus mengalir di pipinya.
Fajar sesungguhnya tak tega melihat keadaan Raa seperti itu. Ia tak pernah melihat seseorang betul-betul menangis sebetulnya, hanya saja nasihat tadi sudah sering ia praktekkan ke diri sendiri. Tangisan itu harus dihabiskan agar lega, jangan ditahan-tahan. Kini, ia sedikit menyesal. Hatinya terasa gundah melihat air mata Raa yang tak habis-habisnya mengalir.
"Raa?"
Raa menoleh, memandang Fajar dengan pandangan bertanya-tanya.
"Nasinya dimakan, sambil nangis gapapa."
Ucapan itu membuat Raa nyengir. "Kenapa tuh, begitu?"
"Supaya waktu selesai nangis, perut udah kenyang."
"Mau ngapa-ngapain udah enak ya, Jafra?"
"Iya," Fajar berceloteh. "Perut kenyang, hati senang. Kurang apa hidup ini, Raa?"
Raa tertawa. Fajar akhirnya bertanggung-jawab meredakan tangisan Raa. Gadis itu menyuap beberapa sendok nasi dan ayam yang ia pesan dari piring, kemudian berkata.
"Mau cerita, boleh?"
"Cerita sama strangers?" Ledek Fajar.
Raa nyengir, lagi. "Enakan cerita sama orang asing. Gak mungkin kayak ember bocor, cerita nyebar kemana-mana, soalnya kan gak kenal juga."
"Yaudah, cerita aja." Fajar tersenyum.
Raa menarik napas, kemudian mulai bercerita.
Ia mengibaratkan dirinya sebagai seorang mawar di tengah padang berduri. Bagi ayah dan ibunya, Raa adalah buah cinta mereka. Berjuta harapan dan cita-cita digantungkan pada pundaknya seiring dengan segala keinginannya yang lantas terpenuhi. Sebagai anak perempuan pertama, ia mendapat fasilitas sekolah terbaik, rumah terbaik, dan teknologi terbaik.
Sayangnya, keluarganya bukanlah keluarga yang terbaik.
Ayahnya begitu sibuk bekerja dari pagi hingga tengah malam sampai Ibu Raa jengah. Ia meninggalkan keluarga itu begitu saja tanpa ada yang mengetahui kemana ia pergi. Ayah Raa panik, Raa terus menangis, sampai lama-kelamaan mereka terbiasa dengan ketiadaan dirinya. Ayah Raa menjadi semakin sibuk. Raa dipaksa mandiri oleh keadaan. Ia berjuang menghadapi dirinya sendiri sementara Ayahnya melakukan segala yang ia bisa untuk menghindarkan Raa dari segala kesulitan.
Sampai suatu kali, Ayah Raa melihat kemampuan dalam diri anaknya yang tidak bisa disia-siakan. Raa tidak menyebutkan kemampuan apa itu, namun ia berkata, hal itu sangat cocok dengan pekerjaan ayahnya sekarang. Setelah tidak bisa kemana-mana dan hanya tinggal di rumah, akhirnya Raa-lah yang menjadi kaki tangan ayahnya melakukan tugas-tugas besar. Raa sangat bangga dengan hal itu. Ia merasa, akhirnya ia dihargai sebagai seorang manusia. Akhirnya usahanya dianggap berarti dan bernilai, bukan hanya sebagai pemberian orang tuanya saja. Sudah berkali-kali ia diremehkan, ditolak, dan ditinggalkan, sampai luka yang membekas dalam hatinya membuatnya trauma.
Lewat tugas inilah Raa hendak bersinar. Ia hendak membuktikan kepada Ayahnya bahwa dirinya sanggup dan mampu melakukan semua yang Ayahnya minta.
Namun sayang, nasib berkehendak lain. Beberapa bulan belakangan, Raa terus-menerus berhadapan dengan kegagalan yang satu dan kegagalan yang lain. Ayah Raa sampai menyuruhnya berhenti karena tidak percaya lagi pada kemampuan yang dulu ia yakini. Raa tidak mau menyerah. Ia mau terus berusaha, walaupun itu berarti lebih sedikit waktu tidur atau lebih kurang waktu bermain. Raa tidak ingin Ayahnya membuang dirinya. Raa tidak ingin ditinggalkan lagi.
Ketika cerita berakhir, Raa menangis. Air matanya yang terakhir mengalir seperti bulir jeruk yang pedih. Fajar mendengarkan Raa dengan tulus, tanpa komentar apa-apa, dan tanpa penghakiman. Tanpa terasa, mereka telah duduk di warung itu berjam-jam lamanya. Langit sudah gelap. Suara jangkrik sudah berbunyi.
Fajar menyodorkan segelas air lagi kepada Raa. "Nih, Raa. Diminum. Supaya gak serek."
"Makasih ya, Jafra."
"Loh, kok malah makasih," ucap Fajar, "Gue yang harusnya bilang terima kasih."
"Kenapa gitu?"
"Terima kasih sudah cerita banyak. Terima kasih sudah memilih menyelesaikan sedihnya."
"Makasih ya, Jafra, gue bisa jadi asli di depan lo."
"Santai." Fajar menunjuk bulan yang ada di ujung langit. "Tuh, lihat. Jarang-jarang ada bulan kayak gini. Karena denger lo nangis, dia langsung muncul."
Raa tertawa mendengar ucapan Fajar. Kehadiran laki-laki itu malam ini sudah meredakan khawatir dan gelisahnya. Ini adalah kesempatan terakhir yang Ayahnya berikan untuk melakukan tugas istimewa itu, dan Raa sangat takut ia akan menggagalkannya sekali lagi. Ia takut pada banyak hal yang belum terjadi. Berkat Fajar, kini pikirannya sejernih langit malam. Matanya sudah kembali terang-benderang. Raa siap melakukan segala sesuatu yang harus ia lakukan.
"Jafra, lo kenal Fajar?"
Fajar menggeleng. "Lo pernah nanya, kan, di kampus? Enggak, gue gak tahu. Siapa sih dia?"
"Gue juga sebenernya gak tahu," ucap Raa, "gue ada perlu sama dia."
"Temen sodara lo yang kemarin dianter ke kampus?"
"Hmmm, enggak sih. Dia juga gak kenal sama Fajar. Heran, ya, kok bisa orang-orang pada gak tahu sama Fajar Nagara?"
Deg. Detik itu, hati Fajar rasanya seperti terkena bogem mentah. Jantungnya berdetak sangat kencang sampai-sampai ia dapat mendengar suara detak jantungnya sendiri.
"Fajar ... Nagara? Siapa ya?"
"Lo pernah denger?"
"Umm, enggak pernah," ucap Fajar, "Tapi namanya aneh. Harusnya orang-orang yang pernah kenal sama dia pasti inget."
"Nah, itu dia. Tapi sebanyak-banyaknya orang yang gue tanya, gak ada yang kenal sama Fajar Nagara. Gue gak tahu apa-apa tentang dia, cuma tahu namanya Fajar, lalu gue asumsiin nama belakangnya 'Nagara' karena ngikut nama ayahnya."
"Oh ... gitu."
"Kalo kapan-kapan lo ngamen terus ada yang ngomongin orang ini, kasih tahu gue, ya!" Pinta Raa.
Fajar lamat-lamat mengangguk. Amboi, cobaan apa lagi ini! Suaranya seperti tak dapat keluar dari tenggorokan, namun Fajar memaksakan diri bertanya, "Ntar gue kasih tahu kalo kita ketemu lagi. Masalahnya, kita belum tentu ketemu lagi, kan?"
Raa tertawa. "Gue sering ke Yogya. Kalau kita ketemu lagi, berarti kita ditakdirkan sama semesta buat makan bareng dan cerita-cerita lagi kayak gini. Kalau enggak, ya, berarti kita gak boleh ngobrol lagi. Gimana? Deal?"
Raa memberikan jari kelingkingnya, yang disambut Fajar dengan jari kelingking pula.
"Deal!"
Bulan nun jauh di atas sana menjadi saksi perjanjian kecil mereka. Raa, dengan ketakutannya, dan Fajar, dengan kecurigaannya, menentukan takdir mereka sendiri sesuai arahan semesta. Selepas perjanjian kecil itu diikrarkan, kedua insan itu berjalan pulang dan kembali ke tujuannya masing-masing. Warteg itu menjadi sepi.
Fajar berjalan dengan canggung sepanjang arah menuju rumahnya. Walau jalanan begitu gelap dan suara-suara gemerisik daun mengganggu konsentrasinya, kali ini ia tidak hendak berlari. Ia membutuhkan waktu untuk berpikir.
Apakah orang yang Raa sebut-sebut itu ... adalah dirinya?
Sebetulnya semua sudah jelas ketika Raa menyebut nama lengkap itu. Namanya bukan Fajar Nagara, namun asumsi bahwa nama belakang itu diambil dari nama Ayahnya menyatakan kalau Raa sedang melacak anak dari buronan Wira Nagara. Hal itu sangat jelas. Fajar mengakuinya. Namun dalam hati, ia terus-menerus menyangkal. Apakah ia bisa begitu saja mencurigai gadis yang rapuh ini?
Ia hendak percaya kalau tidak ada yang kebetulan. Ia hendak percaya bahwa kehadiran Raa tadi merupakan jebakan untuk menangkapnya. Namun nyatanya, kini ia bisa berjalan pulang dengan bebas. Raa tidak tahu sama sekali kalau orang yang makan di hadapannya bukanlah Jafra, melainkan Fajar. Gadis itu bahkan bercerita dengan jujur kepadanya.
Tadinya, Fajar hendak pergi mampir ke perkumpulan fotografinya dengan teman-teman untuk menelusuri jejak Ayahnya. Ia hendak melanjutkan perjalanannnya malam ini dengan menghampiri komunitas-komunitas musik dan teater yang memang banyak aktif menjelang tengah malam. Setidak-tidaknya, ia butuh mengetahui satu komunitas saja sebagai titik awal penelusuran. Namun, hatinya gundah. Apakah ia perlu melakukannya sekarang? Apakah baik baginya untuk bertanya pada lebih banyak orang mengenai keberadaan Ayahnya?
Fajar menjadi takut. Ia menoleh ke kiri dan kanan, menyempatkan diri melirik ke belakang. Jalanan sepi. Fajar menggenggam erat semprotan merica dan surat lusuh yang ada di saku celananya, kemudian mulai berlari.
Ia akan berlari dan terus berlari, tanpa memelankan kecepatannya, sampai ia berada di rumah dengan selamat. Fajar harus bisa sampai ke rumah dengan selamat.