Laras terbangun karena mimpi buruk yang tak ia ketahui maksud dan jalan ceritanya. keringat membasahi wajahnya. dijangkaunya ponsel yang terletak diatas nakas samping tempat tidur. pukul dua belas lewat sepuluh menit. sudah lewat tengah malam. rasa kering ditenggorokan memaksanya keluar kamar. tadi dia lupa untuk menyediakan air minum sebelum tidur. biasanya Abhi yang selalu menyiapkannya. Laras jadi teringat pada suami yang mulai mengabaikannya. sekarang pasti perhatian Abhi tercurah pada Monalita. kembali sebentuk rasa cemburu menyeruak direlung hatinya. segera ditepisnya perasaan yang hanya akan mengacaukan moodnya sendiri. masih terlalu lama menjelang pagi. dia tidak mau terjaga semalaman karena kantuk yang menghilang terganti perasaan cemburu yang berkecamuk. selesai mengisi botol minumnya didapur Laras mengurungkan niatnya kembali kekamar. mungkin dia bisa mengusir sepi sembari menunggu rasa kantuk datang kembali dengan menonton televisi. walau jarang digunakan, Abhi tetap meletakkan sebuah televisi diruang keluarga yang berada dilantai bawah. baru saja hendak menyalakan televisi terdengar suara sedikit gaduh dari ruang tamu. jangan-jangan suara maling. dengan langkah teramat pelan Laras berjalan menuju ruang tamu.
"awh, pelan-pelan mas...". suara serak wanita samar terdengar. itukan suara...
" jangan digigit".
Laras menajamkan mata dan telinganya.
Demi apa Laras harus berada diposisi sekarang. syok saja rasanya tidak cukup mewakili apa yang dia rasakan. jantungnya berdetak kencang. kakinya terasa amat berat untuk sekedar digerakkan demi melihat pemandangan yang tidak akan pernah sanggup dia lihat. Abhi dan mona sedang b******u sambil berjalan sedikit sempoyongan. apa mereka sedang mabuk? melihat wajah kaget Abhi yang menyadari kehadiran Laras sepertinya dia masih sadar. sedang Mona? nampaknya hanya Mona yang sedang mabuk. mabuk asmara. tangan wanita itu sedang berada diarea sensitif suaminya. ralat, suami mereka. baju Abhi sedikit keluar dari pinggang celananya. dandanan Mona juga terlihat berantakan. jauh dari kesan rapi seperti yang terlihat pagi tadi. Mona kembali mencium bibir Abhi yang terdiam. Laras cuma menatap mereka dengan tatapan terluka yang tak mampu dia sembunyikan. tidak kah cukup dikamar saja bagi mereka untuk memadu kasih. kenapa harus diruangan lain yang kemungkinan akan dilihat olehnya dan ketiga pekerja mereka. mungkin anak-anak tidak akan melihat karena jelas sekarang sudah larut malam.
" mas ah..." geram Mona kembali menggoda kejantanan suaminya dari luar celananya.
Abhi menahan tangan Mona. berusaha menjauhkannya membuat Mona merengut manja. Laras yang terkesiap menyadari apa yang terjadi seolah menemukan kekuatan kakinya kembali. segera membalikkan badan susah payah dia berjalan menuju kamarnya berada. tubuhnya meluruh begitu pintu bisa dia tutup. menangis sejadi-jadinya. terdengar menyayat hati Abhi yang terlambat mengejarnya. pintu ditutup tepat didepan wajahnya. diam termangu tanpa berani memanggil nama wanita yang telah banyak berjasa dalam hidupnya selama ini.
" mas, kamu dimana? kenapa lari". panggil Mona yang sedang mencarinya. dengan langkah gontai Abhi berjalan kembali kearah Mona yang berjalan sempoyongan. Mona mabuk. baru saja merayakan tender bersama teman kantornya. begitu alasannya saat minta dijemput pada Abhi tadi. Abhi tahu kalau selama ini Mona sering minum tapi tidak tahu kalau wanita itu sampai mabuk-mabukan.
" mas darimana?" tanya Mona saat melihat Abhi. tanpa berniat menjawab segera digendongnya tubuh Mona menuju lantai atas. tak ada pilihan lain. jika tidak digendong dia tidak akan sampai kekamar mereka dilantai dua. dari cela pintu Laras menatap punggung suaminya dengan nanar.
" aku tidak tahu apa yang akan terjadi mas, apa aku akan sanggup terus berada disini".