biarlah terjadi

1874 Kata
Marco melambaikan tangannya begitu melihat kehadiran Dea dipintu masuk restoran tempat mereka janjian. Dea yang melihat Marco segera berjalan menuju meja yang ditempati lelaki keturunan campuran tersebut. " sudah lama?" Marco menggeleng. tak lupa tersenyum ramah. senyuman yang mampu melelehkan hati perawan Dea. dikondisi biasa dia pasti akan belingsatan dan tanpa malu akan menggoda Marco habis-habisan sampai pria itu salah tingkah. tapi tidak untuk saat ini. kondisi sekarang berbeda dengan biasanya. ada pembicaraan serius yang akan mereka lakukan. jadi untuk sementara jiwa centilnya dia simpan dulu. " mau makan apa?" tawar Marco begitu Dea duduk. " minum saja. orange jus". Marco mengerti dengan keengganan Dea untuk memesan makanan. sama seperti dirinya, Dea pasti juga tidak selera makan. orang waras mana yang masih selera makan disaat dia tahu sahabat dekatnya sedang dalam masalah serius. setelah memesan minuman mereka Marco mengeluarkan ponselnya. memperlihatkan pada Dea apa yang tempo hari dia perlihatkan pada Laras. " jadi gara-gara ini Laras kemarin jadi histeris?" Marco mengangguk. " b******k!" umpat Dea." dasar pria tidak tahu berterima kasih, sudah untung selama ini Laras mau mengasuh anaknya. teganya dia membalas kebaikan Laras dengan penghianatan. mentang- mentang mantan istrinya cakep!" umpatnya semakin berapi-api. " Laras juga cantik kok" sela Marco nyeplos. " iya memang!" angguk Dea", mana baik lagi. cewek lain mana mungkin mau menikah dengan duda punya anak, cuma Laras yang mau mengorbankan masa mudanya demi mengasuh anak yang bukan darah dagingnya sendiri". Marco mengangguk mengiyakan. Laras memang terlalu muda untuk menjadi ibu bagi anak yang beranjak remaja. " kenapa dia tidak cerai saja?" " nah itu, aku juga belum bisa bercerita banyak dengan Laras. dia masih banyak melamun jadi aku gak berani nanya" " seharusnya dia bisa minta cerai pada suaminya". Marco tidak mengerti dengan jalan fikiran wanita seperti Laras yang tetap bersama suami yang jelas-jelas sudah menduakannya. seperti tidak ada laki-laki lain saja di luaran sana. " sulit" " kenapa sulit?" " pasti sangat sulit bagi Laras buat berpisah dengan anak-anaknya. terutama sibungsu Rara yang sudah diasuh sejak bayi. sudah dia anggap anaknya sendiri". jelas Dea seolah memaklumi kondisi Laras. Marco tambah kesal mengetahui kenyataan kalau Abhi telah mengkhianati orang yang telah mengabdikan hidup padanya. dasar b******n. sama seperti papanya yang mengkhianati mamanya demi wanita muda yang cuma menginginkan uangnya saja. sekarang disaat usaha papanya mengalami kemunduran merekapun meninggalkannya. beruntung dia bisa memulai usahanya sendiri dari uang peninggalan Almarhum mamanya. sedang pria tua itu? kabar terakhir yang dia dengar papanya baru saja ditinggalkan oleh sekretaris yang juga gundiknya, setelah tahu bahwa papanya dililit utang dan terpaksa menjual sebagian besar aset berharganya. Marco merasa papanya pantas menerimanya. " kamu tolong bilang sama Laras kalau dia ingin berpisah dengan suaminya dan dia butuh pengacara dia bisa datang padaku. aku pasti akan bantu". " kenapa kamu mau membantunya?" selidik Dea" apa kamu kenal Laras sebelumnya?" Marco menggeleng", kami nggak saling kenal, dia hanya meningatkanku pada seseorang". " siapa?" " mamaku" Dea mengangguk tak mau terlalu memikirkannya. otaknya hanya mau fokus memikirkan masalah Laras. tidak bisa berbagi dengan masalah wanita lain. Sarapan pagi berlangsung hening. seperti kemarin Laras hanya menyiapkan roti bakar untuk Sinta dan Rara saja. ditemani segelas s**u Sinta dan Rara anteng seolah mengerti dengan suasana hati ibunya yang sedang tidak baik.mereka juga tidak terlalu memperdulikan kehadiran mama dan papanya. menjawab sapaan selamat pagi keduanya dengan setengah hati. membiarkan Papanya mencium puncak kepalanya tanpa membalas . begitu juga dengan Mona. meski masih canggung dia mengikuti apa yang Abhi lakukan pada putrinya. saat melewati Laras Abhi hendak mencium kepala Laras seperti kebiasaannya selama ini. namun urung karena Laras yang menyadarinya segera beranjak kedapur untuk mengambil bekal Sinta dan Rara yang sudah disiapkan oleh bik Asih. Abhi memandang kepergian Laras dengan tatapan terluka. Mona melihat apa yang terjadi. dia senang dengan kerenggangan hubungan mereka. dia yakin lambat laun Abhi akan menendang Laras keluar dari rumah mereka. atau paling tidak Laras sendiri yang akan menyerah. dia hanya perlu bermain aman dan banyak bersabar. Sinta hanya bisa menarik nafas berat. dia tahu papa dan ibunya menjadi tidak akur sejak kedatangan mamanya. sikecil Rara menyelesaikan sarapannya segera bangkit untuk menyusul ibunya kedapur. siap untuk berangkat sekolah. tak dipedulikan oleh darah dagingnya sendiri membuat Mona memupuk rasa bencinya pada Laras. Abhi menyusul anak istrinya yang sudah akan masuk kedalam mobil yang biasa dikendarai oleh pak ujang. " berangkat sama papa saja" perintahnya tidak mau dibantah. tanpa berniat membantahpun Laras dan kedua anaknya pun masuk kedalam mobil Abhi. mang Asep sedang libur sehingga Abhi sendiri yang menyetir. perjalanan kesekolah sinta maupun Rara dilewati dalam kesunyian. " aku minta maaf dengan apa yang terjadi tadi malam. Mona mabuk ,dia tidak tahu apa yang dilakukannya". akhirnya bisa juga Abhi membicarakan ganjalan hatinya setelah mengantar Rara. sekarang hanya mereka berdua didalam mobil menuju toko Laras. Laras diam saja enggan menanggapi. " nanti siang mas jemput kita makan siang berdua ya?". " aku sibuk, ada pesanan buat seminar". tolak Laras. " bisa nyuruh Dea yang handle kan?". " nggak bisa" " kamu sengaja menolakkan?" Abhi mulai tersulut emosi. dia tahu Laras menolak karena tidak mau saja bukan karena tidak bisa. selama ini pesanan sebanyak apapun bisa di handle oleh Dea dan karyawan yang lainnya. Laras menatap Abhi datar tak terganggu sama sekali dengan perubahan intonasi nada bicara Abhi. " Ayolah... waktu kita sudah tidak sebanyak dulu lagi. jadi mari kita manfaatkan sebaik mungkin" pintanya sungguh-sungguh. " terserah kamu saja". Abhi tersenyum senang Laras mau mengerti. Abhi datang menjemput Laras sesuai janjinya tadi pagi. Abhi mengajak Laras kerumah makan seafood langganan mereka. mereka memilih duduk dilesehan pojok tempat yang sering mereka duduki jika makan ditempat tersebut. saat pramusaji datang menanyakan pesanan mereka pun menyebutkan pesanan mereka. sambil menunggu pesanan diantar Laras menyibukkan diri dengan bermain ponselnya. mengecek akun sosmed toko yang mulai ramai pengikutnya. Abhi juga memegang ponselnya untuk melihat email yang baru dikirimkan oleh Devan. sebenarnya dia punya pekerjaan yang lumayan mendesak tapi sengaja dia tunda agar bisa makan bersama Laras. harinya tidak tenang, mulai di hantui perasaan bersalah. " kalian disini? aku boleh gabung nggak?" suara Mona menghadirkan dua ekspresi yang berbeda. Abhi dengan wajah kaget dan Laras dengan senyum kaku. sinis. Ada apa lagi ini. apa Abhi yang mengundangnya? " kamu kenapa bisa ada disini?" tanya Abhi beralibi. takut Laras berburuk sangka. " aku habis ketemu klien disekitar sini, sebetulnya sudah lama mau makan disini tapi belum sempat. aku juga rindu kali mas makan di tempat kita biasa makan". Abhi sontak menatap pada Laras horor. yang ditatap terlihat biasa saja. semoga saja Laras tidak menangkap dengan jelas apa yang Mona ucapkan. " kami juga biasa makan disini mbak.." jelas Laras menggagalkan harapan Abhi barusan." sepertinya aku hidup dalam bayang- bayang". ucap Laras sarkas. " gabung saja mbak, nggak mungkin suami istri duduknya terpisah". tawarnya kemudian. Abhi jadi serba salah terlebih saat Mona dengan tidak tahu malunya memilih duduk disamping Abhi. membuat mereka jadi berhadapan dengan Laras. saat makanan datang Laras langsung makan tanpa menunggu pesanan Mona yang datang belakangan. Abhi hanya bisa pasrah saat Mona asyik memakan bagiannya sambil sesekali menyuapi Abhi. melihat Laras yang acuh saja melihat perhatian Mona padanya kenapa justru Abhi yang tidak senang. kenapa rasanya dia seperti tidak berarti lagi bagi Laras? Abhi yakin Laras hanya pura-pura saja. wanita dan kemampuannya menyembunyikan perasaan memang sangat luar biasa. makan siang berjalan tidak seperti yang diharapkan oleh Abhi. kecuali Mona yang terlihat sangat gembira, Abhi terlihat seperti menanggung beban yang menghimpit pundaknya. Laras juga tak jauh berbeda. wajah datar tak bersahabat itu keluar lebih dulu. grab yang dipesannya sudah menunggu diluar. Abhi tidak bisa mencegah karena alasan Laras buru- buru adalah anaknya sendiri. sudah waktunya Rara pulang sekolah. " Kamu sengaja kencan dibelakangku kan mas?!" tuduh Mona. " bukan seperti itu...". " wanita itu yang maksa?" Abhi menggeleng" Laras nggak minta, mas yang ngajakin. akhir-akhir ini mas lebih banyak bersama kamu jadi mas fikir apa salahnya meluangkan waktu buat Laras" " tapi aku cemburu mas! untung tadi aku lihat kalian jadi bisa aku ikuti". Abhi melihat Mona tak percaya." kamu sengaja ngikutin kami??" " iya. kenapa memangnya kamu nggak suka? ngerasa terganggu dengan kehadiran aku?" Abhi kehilangan kata-katanya. " aku juga istri kamu lho mas". suara rajukan Mona mulai terdengar membuat Abhi memilih mengalah. dia gampang luluh saat mendengar suara manja sang istri. " kamu mau kekantor lagikan?" Mona mengangguk. " ayo cepat selesaikan makannya biar mas antar" " sudah siap, aku sudah kenyang". jawab Mona senang saat mendengar Abhi akan mengantarnya kekantor. dia tahu Abhi akan memprioritaskan dia dibanding yang lain. " Mas, boleh aku minta sesuatu?" tanya Mona saat perjalanan menuju kantornya. " minta apa?" " ini kalau mas mampu ya," " iya bilang saja, kalau mas bisa pasti mas kabulin. memangnya kamu mau apa sih?" " mobil" jawab Mona menunggu reaksi Abhi. " kemahalan ya mas? gak perlu yang mewah yang penting bisa aku pakai pergi kerja. gak enak juga terus-terusan pakai mobil yang biasa dipakai Laras dan anak-anak". " oke besok kita ke dealer" janji Abhi sukses membuat Mona teriak kegirangan. kebahagian Mona menular pada Abhi. seperti inilah harusnya hubungan mereka. Abhi yang bisa memberikan apa yang jadi keinginan Mona. seperti janji pernikahannya dahulu. *** Devan masuk keruangan Abhi tanpa permisi sama seperti kebiasaannya sejak awal mereka merintis usaha bersama. " bisa tolong jelasin maksud dan tujuan pembelian satu unit mobil honda civic dan pembuatan kartu kredit ini?" tanyanya tanpa basa basi. diletakkannya berkas dua transaksi tersebut diatas meja Abhi. " oh itu untuk Mona". jawabnya singkat. rahang Devan rasa mau jatuh saking kagetnya. ternyata sang Raja mulai memanjakan selirnya.Cck.. " kenapa limitnya lebih besar dari bulanan Laras ya? bukannya Laras harus menanggung kebutuhan bulanan juga?" kenapa Devan tahu karena memang semua pengeluaran Abhi dia yang mengurusnya. baik pribadi maupun untuk perusahaan. Abhi tinggal terima beres saja. " kenapa lebih besar karena Mona cuma punya satu kartu kredit saja. sedangkan Laras butuh uang lebih buat beli bensin mobilnya nanti. kalau Laras selain tidak perlu membeli bensin dia juga masih punya satu lagi kartu debit". jelas Abhi panjang lebar. gatal ingin merecoki sahabat kurang ajarnya itu. selalu saja dia dianggap pilih kasih. " ngomong-ngomong soal mobil, kenapa selama ini kamu nggak pernah membelikan Laras mobil? kenapa dengan Mona langsung kamu belikan?" Abhi tertawa, merasa lucu dengan pertanyaan Devan yang terlalu mencari kesalahannya. " kenapa malah ketawa?" " kamu benaran ingin tahu?" Abhi balik bertanya. Devan mengangguk. " aku sudah belikan dia mobil lengkap dengan sopirnya" jawab Abhi terlalu percaya diri. " yang mana? maksud kamu mobil alpard itu??" " iya. itu kamu tahu" balas Devan yang tertawa. terdengar sumbang ditelinga Abhi. " itu bukan buat Laras namanya. tapi buat antar jemput anakmu! dasar jali!" rutuk Devan kesal. " sama saja, toh Laras juga tidak bisa menyetir kok". " eh busyet! sama dari mananya?" Devan semakin nyolot." kamu suaminya bukan sih?" Abhi melotot demi mendengar pertanyaan nyelekit Devan. " apa maksud kamu nanya begitu?" tanya Abhi tersinggung. " gini ya tuan Abhiyaksa puja kesuma, karena istrimu tidak pernah meminta dibelikan mobil bukan berarti dia tidak bisa menyetirkan?" " tapikan selama ini dia..." " kamu harusnya tahu dengan baik siapa wanita yang kamu nikahi". sindiran Devan yang ambigu membuat Abhi terdiam. kenapa selama ini dia tidak tahu kalau Laras juga bisa mengendarai mobil? kenapa juga Laras tidak pernah cerita. apa lagi yang dia tidak tahu tentang istrinya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN