biarlah terjadi 2

1263 Kata
Mobil honda civic keluaran terbaru milik Mona terparkir rapi dicarport, menghalangi mobil Alpard yang dikendarai pak ujang untuk masuk ke garasi. " sepertinya ada tamu bu" Laras menoleh kearah depan. bukan tamu seperti yang dimaksud oleh pak Ujang tapi salah satu tuan rumah juga. Mona yang baru keluar dari mobil barunya sengaja berdiri disamping mobil menunggu kedatangan Laras dan kedua anaknya. Laras seperti melihat isi kepala Mona yang sedang memamerkan mobil barunya pada mereka. Mobil baru yang Laras yakini pemberian dari Abhiyaksa, suami mereka. Apa Laras cemburu? entahlah. entah apa yang lebih tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini. kalau dibilang cemburu karena ingin memiliki, dia yakin jawabannya TIDAK. tapi tetap saja perasaan tidak senang mengusik hatinya. Laras ingin setidaknya Abhi juga menawarinya. selama ini Abhi tidak pernah memberikannya hadiah seperti itu. mau menang tender sebesar apapun tidak pernah Abhi menghadiahinya barang mewah. Laras akui kalau uang bulanannya selama ini cukup besar. belum lagi uang tabungan atas namanya yang mereka harapkan untuk tabungan masa tua nanti. Abhi bukanlah suami yang pelit. Laras mengakui hal tersebut. tapi untuk melakukan hal yang romantis dia juga tidak pernah. selama ini dia fikir Abhi bukanlah tipikal pria yang bisa Sweet dan romantis pada pasangannya. ternyata hari ini dia baru tahu ada sisi lain dari suaminya yang dia tidak ketahui. apa ini bukti bahwa lelaki akan sangat baik saat bertemu dengan wanita yang tepat? apa dia bukanlah wanita yang tepat bagi Abhi? " bagaimana mobil barunya, baguskan?" sambut Mona begitu Laras mendekatinya. Laras mengangguk sambil tersenyum. terpaksa. " hadiah dari mas Abhi". sudah tahu, ucap Laras dalam hati. " mulai besok aku nggak akan pakai mobil kamu lagi. aku juga nggak perlu sopir. aku lebih suka nyetir sendiri". jelasnya tanpa diminta. Laras menanggapi dengan sebuah anggukan. " ntar malam kami mau makan malam berempat buat merayakan mobil baru ini, kamu tolong kasih tahu anak-anak ya? jangan sampai mereka menolak". " iya mbak, ntar aku bilangin sama anak-anak". *** ketika Abhi pulang dia disambut oleh Mona dengan wajah sumringah yang bertolak belakang dengan wajah cemberut Rara. dia menolak untuk ikut tapi dipaksa oleh Laras. Sinta tidak menunjukan ekpresi tertentu. sebenarnya tidak mau ikut tapi juga tidak mau memperkeruh suasana. cukup mood Rara saja yang jelek. dia cukup pengertian untuk menjadi anak yang baik. " Kalian sudah siap ya?" " sudah mas. ini lagi nungguin kamu ". " Laras mana?" " ibu dikamar", jawab Sinta. Mona mendengus tak suka. " kamu bukan lagi berniat untuk ngajakin dia kan mas?" Abhi tak mengerti dengan pertanyaan Mona. " Dia nggak ikut. lagian di mobil juga gak muat". Mona mencegah kemungkinan Abhi mengajak Laras ikut serta. dia tidak ingin wanita itu ada diantara mereka. " kenapa gak muat?" " ya jelaslah nggak muat kitakan berangkatnya pakai mobil baru aku!" " siapa yang bilang mau berangkat dengan mobil kamu?" " aku. kitakan mau makan dalam rangka merayakan mobil baru aku jadi ya kita harus berangkat dengan mobil itu". Abhi menggeleng mengusir rasa kesal. ditinggalkannya Mona untuk menghampiri Laras yang kemungkinan besar sedang berada dikamarnya. Abhi melihat Laras yang baru selesai mandi dengan handuk yang masih melekat ditubuh sintalnya. kerongkongannya terasa kering karena hasrat yang datang menyapa. sudah berapa lama ya dia tidak menjamah tubuh istrinya? " ada apa?" tanya Laras acuh meski menyadari arah pandangan Abhi. Abhi berdehem mengalihkan fikiran liarnya. " kamu belum siap ya? yang lain udah nunggu di luar". Laras mengerutkan dahinya. " nungguin untuk apa?" " kita mau makan malam diluarkan? apa Mona tidak ngasih tahu? tapi anak-anak sudah siap berarti kamu sudah tahu" Laras mengambil piyama untuk tidur. membuat Abhi berjalan mendekat. " kamu mau pakai piyama?" pertanyaan bodoh Abhi membuat Laras tertawa. " aku mau tidur tentu saja pakai baju untuk tidur". tanpa peduli dengan kehadiran Abhi disitu Laras mengganti handuk yang melekat ditubuhnya dengan piyama. Laras memang biasa seperti itu. Abhi juga sering melihatnya. tapi sekarang membuat efek yang berbeda bagi Abhi. " pergilah" usirnya kemudian. " kenapa kamu tidak mau ikut? kenapa susah sekali untuk bergabung bersama?" Laras mendelik marah." aku memang nggak mau bergabung kenapa memangnya?" tantangnya marah. " kamu egois!" desis Abhi. " iya aku egois! puas kamu " bentak Laras tersulut amarah," kalau aku bilang dia nggak ngajak aku apa kamu percaya?" Abhi terdiam. sebenarnya dia tahu Mona yang tidak ingin Laras ikut. tapi bagaimanapun Abhi kepala keluarganya. tidak bisakah Laras cuma mendengar apa yang dia bilang. harusnya Laras tahu betapa berarti dirinya bagi Abhi dan anak-anak. dia yang paling mereka butuhkan. kemana perginya Laras yang dulu dia kenal? Abhi keluar dengan emosi yang coba dia tahan untuk meledak lebih besar lagi. Laras menahan isak tangis dengan memukul mukul dadanya yang terasa teramat sakit. *** Elmira puja kesuma mengedipkan matanya berulang kali. memastikan penglihatannya sendiri. rasanya seperti mimpi saja. benarkah apa yang dia lihat. didepan sana dimeja yang cuma berjarak tiga meja dengan tempatnya makan bersama dengan suaminya Ronald puja kesuma dia melihat putra kandungnya Abhiyaksa puja kesuma sedang makan malam bersama anak-anaknya dan seorang wanita.... itukan Monalita, mantan menantunya. sedangkan menantunya sendiri tidak terlihat. kemana Laras? kenapa bisa dia tidak ada dan yang ada justru Monalita. " Mama kenapa?" tanya Ronald yang menangkap aura tak biasa dari istrinya. mengikuti arah pandangan sang istri dengan membalikkan badan. wajah Ronald sama kagetnya dengan sang istri. " Papa... apa kita sedang bermimpi?" Elmira bertanya sambil memegang tangan keriput sang suami. " papa harap iya ma..." ucap Ronald tak yakin. Elmira segera berdiri begitu kesadarannya kembali " anak itu... perlu dikasih pelajaran pa!" " jangan gegabah ma, kita tanya dulu baik-baik" Elmira terus berjalan tanpa mengubris. " Abhiyaksa. bisa jelasin pada mama apa maksudnya ini?" tanyanya langsung begitu tiba dimeja Abhi. " oma" " mama" panggilan beda generasi itu terlontar dari mulut Abhi dan Rara. gadis kecil itu langsung bangkit dari duduknya. " adek ikut sama oma saja. mama nggak bisa bantuin adek makan" adunya. Elmira menatap Abhi dan Mona bergantian. " kalian memang seharusnya saling menjaga silahturahmi meski sudah bercerai tetapi kenapa Laras tidak diajak?" gantian Abhi dan Mona yang saling berpandangan. " ibu dirumah gak dibolehin ikut sama mama". sikecil Rara seolah melampiaskan kekesalannya karena dipaksa ikut. "Abhi bisa jelasin pada mama dan papa. sebaiknya kita kesana dulu". mau tidak mau Abhi terpaksa jujur kepada kedua orang tuanya. dia tahu orang tuanya pasti akan tahu. jika sampai sebulan lebih orang tuanya tidak tahu itu cuma karena kebetulan orang tuanya sedang pulang kampung. adik sepupunya sedang nikahan. sekalian saja orang tuanya berlibur sambil memantau usaha perkebunannya disana. sepertinya orang tuanya baru kembali makanya belum sempat berkunjung kerumahnya. " apa?!" teriak Elmira kaget" kalian rujuk lagi? mama nggak salah dengarkan?" Abhi mengangguk lemah. Ronald memijit pelipisnya pusing tiba-tiba. " sejak kapan?" " pas mama sama papa baru pulang kampung" " sudah sebulan dan kamu sama sekali nggak ada niatan untuk jujur sama kami?" Abhi diam tak bisa menjawab. " Laras... bagaimana mungkin dia setuju? apa kamu menceraikan dia?" Abhi menggeleng " nggak ma! tadi saja dia Abhi ajak kok tapi dia saja yang menolak...awh" kalimat Abhi terputus karena pukulan yang mendarat ditangannya. " papa urusin anak papa ini, mama nggak sudi. mama mau ketemu Laras". Elmira berdiri dengan tergesa. berjalan kemeja Mona berada. " Rara Sinta... ayo kita pulang ketemu ibu!" ajaknya tegas sambil melemparkan tatapan menantang pada Monalita. segera saja kedua anak itu berdiri mengikuti ajakan omanya tanpa bisa dicegah oleh Mona maupun Abhi. Ronald hanya bisa pasrah saja melihat kelakuan kekanakan istrinya. tidak seharusnya juga dia bertindak seperti itu. seharusnya sebagai orang tua dia lebih dewasa dalam bertindak. " kamu masih utang penjelasan sama papa". Ronald menunjuk Abhi sebelum menyusul istri dan cucunya keluar restoran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN