Marco tahu tidak seharusnya dia memikirkan masalah Abhiyaksa dan Laras. Apalagi sampai melibatkan diri kedalam persoalan rumah tangga mereka. Mereka bukanlah teman dekat atau keluarganya. Jadi jelas seharusnya dia bisa masa bodoh dan membiarkan saja. seolah cuma melihat tontonan sinetron di layar televisi. tapi dia tidak bisa. semua hal yang berhubungan dengan perselingkuhan dan poligami selalu sukses memantik emosi yang terpendam. wajah sendu Laras seakan menceritakan segala gejolak emosi yang dia redam. mengingatkan dia pada sosok yang begitu dekat dengannya. yang meski sudah lama berpindah alam tapi tetap hidup dalam sanubarinya. wanita yang membuatnya ada didunia fana ini. mereka tidak mirip sedikitpun dari bentuk dan rupa. mamanya putih dan tinggi, berbeda dengan Laras yang berkulit eksotis dan mungil. jauh berbeda dari tampilan fisik tapi terlihat sama dimata Marco. nasib yang sama membuatnya seolah tertarik masuk kedalam lingkaran kehidupan mereka, terutama pada Laras. Bagaimana mungkin ada wanita muda yang merelakan dirinya dimadu. sama seperti mamanya dulu.
" tumben ngajakin ketemuan?"
Marco menoleh begitu mendengar suara Devan.
" Lagi suntuk gue "
" b*****t! ingat gue kalo lu lagi suntuk aja gitu? "
Marco tertawa. terdengar berbeda ditelinga Devan.
" Lu mau gue sering-sering gangguin lu gitu? biar Narni ngamuk sama gue?"
Devan tertawa mendengarnya. istrinya memang sering memarahinya jika lupa waktu saat bertemu dengan teman-temannya.
" kenapa lu?" tanya Devan dengan nada perhatian. mode kalau dia lagi siap menjadi tempat curhat para sahabatnya.
" gue mau bahas soal bos lu "
Devan tertawa.
" gue serius."
" bahas apaan bukannya kapan hari pas lelang perusahaan lu juga menang, masih kurang?"
Marco menggeleng." bukan soal kerjaan, gue mau bahas soal pribadi".
" maksudnya?"
" gue tahu kalo Abhi poligami".
Devan kaget mendengarnya. bukan kaget kenapa Marco tahu tapi kaget kenapa Marco sampai membicarakan hal itu. ini bukan obrolan laki-laki yang biasa dia dengar atau biasa dia lakukan. kenapa dia merasa menjadi ibu-ibu ghibah ya.
" dia kembali kepada mantan istrinya dan memaksa istrinya menerima dipoligami."
" terus masalahnya dimana?"
Marco menatap Devan tajam.
" maksud gue itukan masalah rumah tangga mereka kenapa lu jadi ikut ngurusin?"
Marco merasa sedikit tertampar. setuju dengan pendapat Devan. maunya juga begitu. tapi dia tetap tidak bisa diam saja.
" gue nggak bisa... gue nggak bisa biarin Abhi bertindak semena- mena pada istrinya"
Devan bisa merasakan nada serius dalam kalimat Marco. seperti ada kesakitan yang terselip disana.
" gue harus melakukan sesuatu. gue harus menolong Laras..." pandangan Marco mengawang entah kemana. Devan tidak mengerti dengan jalan fikiran temannya itu. jangan bilang Marco sedang berusaha menjadi pebinor. Devan menggeleng , dia yakin Marco bukan pria seperti itu. kalaupun iya tidak mungkin Marco melibatkan dia yang jelas- jelas teman Abhi juga.
" bagaimana cara lu nolongin dia? sejauh yang gue denger dari Abhi, Laras juga setuju"
" Laras nggak setuju"
" ya?"
" gue tahu dia nggak setuju "
" darimana lu tahu? "
Marco diam tak berniat menjawab pertanyaan Devan. Dia tidak mau menjelaskan bahwa dia mendengar tangisan penuh kesakitan Laras saat dia mendatanginya beberapa hari yang lalu. ketika Laras pamit kebelakang dia mengikutinya diam-diam.
" Bro, saran gue , lu jangan ikut campur. yang telah terjadi biarlah terjadi. biar jadi urusan Abhi dan Laras. ini ranah pribadi dan sangat sensitif jadi kita tidak pantas untuk mencampurinya" jelas Devan panjang lebar. berharap Marco mengerti. Jangan sampai dia menjadi orang yang berada diantara perseteruan Abhi dan Marco nantinya.
***
Elmira berjalan tergesa-gesa memasuki rumah anaknya. dengan tangan menggandeng Rara dan diikuti oleh Sinta dibelakang. Ronald yang menunggu garasi dibuka dari dalam cuma bisa menghela nafas. dia tahu istrinya sedang emosi. dia juga sedang menahan emosi pada putra semata wayangnya itu. karena perbuatannya Ronald merasa malu harus bertemu dengan Laras, menantunya.
Elmira terus melangkah menuju lantai atas menyuruh Rara dan Sinta masuk kedalam kamar masing-masing. saat dia hendak membuka pintu kamar Laras, Sinta mencegahnya.
" kamar ibu ada dibawah "
Elmira mngerutkan dahinya.
" Ibu pindah ke bawah, sekarang ini jadi kamar mama sama papa"
Darah Elmira jadi mendidih demi mendengar sebutan kamar mama papa dari cucu sulungnya itu.
" yang tenang ma, tarik nafas dulu". Ronald yang baru datang namun sempat mendengar apa yang cucunya sampaikan jadi tambah emosi. namun dia harus menenangkan istrinya. jangan sampai masalah ini membuat tekanan darahnya jadi naik.
" Kamu masuk kamar dulu ya... opa sama oma kebawah dulu mau bertemu dengan ibu" ucap Ronald pada Sinta.
Sinta mengangguk mengikuti ucapan opanya. dia juga lelah dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini. kalau boleh jujur, dia lebih suka dengan suasana rumah saat sebelum mamanya datang. dia bukannya mau durhaka, tapi dia hanya suka suasana yang tenang. suasana canggung dan pertengkaran membuatnya tidak tenang. cemas akan ditinggalkan. dia takut ibunya pergi meninggalkannya dengan Rara. hal yang paling dia takuti adalah ditinggalkan. Dia merasa tidak cukup berarti untuk membuat mamanya tetap berada disisinya. dan sekarang dia tidak ingin kembali merasakan perasaan itu.
Laras keluar dari kamarnya karena mendengar suara ribut dari luar. awalnya dia fikir Abhi dan anak-anaknya sudah pulang tetapi sepertinya dia mendengar suara papa mertuanya yang sedang berbicara dengan mang Asep.
sampai di ruang keluarga dia tidak menemukan siapa-siapa. dari lantai atas terdengar sekilas suara mama mertuanya. ternyata mertuanya datang berkunjung. Ada apa gerangan? tidak biasanya mereka datang malam- malam. menginap memang lumayan sering. tapi biasanya sudah datang dari siang atau sore hari. Laras tidak tahu apa Abhi sudah cerita tentang kondisi mereka sekarang. seandainya Abhi belum cerita apa harus dia yang lebih dulu memberi tahu pada mereka. bagaimana dia bisa menjelaskan saat situasi seperti sekarang. akan lebih mudah kalau mereka datang saat Abhi dan anak-anak sedang berada dirumah.
" Laras "
Elmira langsung memeluk tubuh menantunya dengan erat. Laras rasa mama mertuannya sudah tahu apa yang terjadi.
" maafin mama... maafin mama ya sayang? "
Suara Elmira terdengar serak. Pelukannya semakin erat. Laras balas memeluk mertua yang sudah dia anggap ibunya sendiri.
" papa juga minta maaf, papa gagal mendidik Abhi dengan baik.." sela Ronald.
Laras melepaskan pelukan Elmira. ditatapnya kedua orang tua kandung suaminya dengan senyum yang tulus. air mata mengalir pelan dipipinya.
Laras menggeleng yakin, " Bukan salah mama dan papa kok"
" kami bersalah karena telah membiarkan Abhi menyakiti kamu"
" nggak! bukan salah mama ataupun papa. Laras yakin kalau mama dan papa tahu sebelumnya juga tidak akan mengizinkan mas Abhi menikah lagi".
" tentu saja. sampai kapanpun mama nggak akan setuju".
" papa juga menyesalkan apa yang sudah diperbuat oleh Abhi. " sambung Ronald penuh penyesalan.
Laras tersenyum mendengar perkataan mertuanya. dia tahu mertuanya sangat menyayanginya selama ini.
Mereka akhirnya duduk di ruang keluarga setelah bik Asih datang menyuguhkan tiga cangkir teh melati.
" apa yang sudah Abhi lakukan pada kamu sudah sangat kelewatan, tidak hanya menduakan tapi juga membawa wanita itu masuk kerumah ini ditambah lagi menyuruh kamu pindah ke lantai bawah. apa sebenarnya maunya anak itu? Mama benar- benar tidak mengerti dengan fikirannya. seperti tidak punya hati nurani saja" gerutu Elmira emosi.
" Apa Abhi memaksa kamu untuk setuju dia mau berpoligami?"
Laras bingung harus bagaimana menjawabnya.
Elmira dan Ronald tahu jawabannya berarti IYA.
" Kenapa kamu mau disuruh untuk pindah kamar?"
" sebenarnya mas Abhi nggak nyuruh Laras pindah..."
" jadi Mona yang nyuruh? berani sekali dia. dasar wanita tidak tahu diri".
" bukan begitu ma, dia katanya nggak berani tidur di lantai bawah"
" Ha!" Elmira mendengkus kasar. " alasan macam apa itu?"
" Laras nggak mau jadi ribut kasihan anak-anak jadi tertekan"
Elmira tahu menantunya memang sebaik itu. tulus menyayangi cucu-cucunya.
" karena itu kamu mengalah dan pindah kebawah?"
Laras mengangguk lemah. Ronald menghela nafas kasar.
" kalau kamu sudah tidak kuat lagi kamu boleh bercerai dengan Abhi, papa ikhlas...".
" papa!" sahut Elmira tidak setuju. Mana rela dia kehilangan Laras yang sangat disayanginya. Hati Laras berkecamuk mendengarnya.
" kenapa papa bicara seperti itu? mama tidak mau kehilangan Laras. dia sudah mama anggap anak kandung sendiri"
" papa juga sayang sama Laras, karena itu papa tidak ingin melihat Laras menderita dan sakit hati terlebih orang yang telah membuat dia sakit hati adalah anak papa sendiri".
Ronald mengusap mukanya frustasi. kejadiannya sangat tiba-tiba baginya. dia tidak siap menghadapinya. selama ini dia percaya rumah tangga anaknya baik-baik saja. setelah kegagalan dalam pernikahan sebelumnya dia sangat berharap pernikahan yang sekarang akan menjadi pernikahan yang terakhir bagi Abhi. dia saksi yang melihat betapa hancur dan terpuruknya Abhi dahulu.
Elmira dan Laras sama-sama diam. fikiran dan hatinya berkecamuk karena orang yang sama.
" Laras akan mencoba bertahan semampu yang Laras bisa . jika nanti Laras tidak kuat lagi, Laras akan bilang sama mama dan papa "
Ronald mengangguk," baiklah papa hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi kamu, semoga secepatnya Abhi menyadari kekeliruannya "
Laras mengangguk.
Elmira menatap Laras prihatin.
***
Abhi dan Mona duduk dalam kesunyian. mereka sedang berada di Apartemen Mona. Apartemen mewah yang dia dapat dari seseorang yang tidak boleh diketahui oleh Abhi. seseorang yang selama ini jadi tempat pelariannya. sisi lain hidupnya yang akan dia tutupi mati-matian dari seorang Abhiyaksa puja kesuma.
" Kita harus menemui Mama dan Papa secepatnya " akhirnya kebisuan diantara mereka terpecahkan juga oleh perkataan Abhi.
" kamu tahu kalau aku nggak akan bisa mas "
" kenapa tidak bisa? "
" Mereka nggak akan suka bertemu dengan aku mas. kamu tahukan kalau mereka benci sama aku, terlebih mamamu dia tidak pernah suka sama aku sejak dulu! "
Abhi tahu hubungan Mona dengan Mamanya kurang harmonis, tapi kalau sampai membenci rasanya tidak mungkin Mamanya begitu. Abhi sangat kenal seperti apa tabiat wanita yang telah melahirkannya. Jangankan dengan istrinya dengan pacarnya saja mamanya gampang akrab. Mamanya juga gampang iba dan kasihan pada orang lain. makanya Abhi sampai memiliki adik angkat yang merupakan anak keluarga jauh mamanya yang orang tuanya sudah meninggal. Yudha pratama yang sekarang ikut membantunya dikantor. Yudha yang betah melajang banyak menghabiskan waktunya diproyek. dia lebih suka bekerja dilapangan. memang awalnya Mamanya kurang sreg dengan pernikahannya dengan Mona karena alasan mereka menikah dulu. Mamanya sempat menganggap Mona w************n yang mau tidur dengan lelaki tanpa status pernikahan. tapi setelah dijelaskan panjang lebar oleh Abhi dan papanya bahwa Abhi juga sama bersalahnya dengan Mona sehingga Mona bisa hamil, lambat laun mamanya bisa menerima Mona dengan tangan terbuka. Mamanya juga ikut membantu Mona merawat Sinta karena tahu ini pengalaman pertama bagi Mona.Hubungan mereka kembali merenggang saat Abhi sering cekcok dengan Mona karena alasan Mona yang ingin bekerja. selalu merasa kurang dengan uang yang didapat Abhi. Elmira dan Ronald sebenarnya bukanlah orang tua yang pelit. buktinya mereka lah yang membiayai kuliah Mona saat itu. Mereka juga yang memodali saat Abhi merintis usahanya. Mereka hanya ingin anaknya mandiri makanya mereka terkesan tega karena tidak mau memberikan uang bulanan lagi setelah Abhi menikah. bagi mereka Abhi dan Mona harus belajar bertanggung jawab dengan rumah tangganya sendiri. Nyatanya yang terjadi diluar dugaan mereka. bukannya setia mendampingi Abhi dimasa sulitnya, Mona justru pergi meninggalkan Abhi dan dua anaknya. parahnya, Mona justru tega meninggalkan Rara yang masih bayi. ibu mana yang tidak berang melihat kenyataan seperti itu.
" Jadi kamu tidak mau bertemu dengan mereka? "
Mona tidak menjawab pertanyaan Abhi.
" Ada aku, Mama nggak akan marah sama kamu. yang penting kita temui saja dulu " bujuknya.
" Aku bukannya nggak mau mas, aku cuma tidak mau dimaki- maki oleh mama kamu"
" kamu mau pernikahan kita diterima oleh mereka kan?"
Mona mengangguk.
" makanya kita harus ketemu sama mereka , aku janji akan membela kamu didepan mereka."
senyum tersungging dibibir Mona. Abhi rela dimarahi oleh orang tuanya demi bisa terus melihat Mona tersenyum padanya.
" kamu yang terbaik mas " bisik Mona " I love you..." ucapnya dengan senyum seduktif.
Abhi langsung menyambar bibir penuh candu itu dengan sebuah lumatan. Mona menyambutnya dengan gairah yang sama.
" I love you too "
Lama mereka b******u. membuat mereka memutuskan untuk menghabiskan malam panas mereka diApartemen saja. yang akan terjadi besok biarlah terjadi. yang penting sekarang mereka ingin melupakan masalah yang sedang menanti mereka diluaran sana. Ada hasrat yang harus mereka tuntaskan didalam sini terlebih dahulu. bayangan wajah Laras yang melintas sekilas terganti dengan wajah berkabut Mona. Abhi ingin melupakan Laras sejenak. khusus malam ini dia hanya akan mengingat Monalita saja seakan tidak pernah kenal wanita bernama Larasati Anindya sebelumnya.