Pagi itu, Kevin terbangun lebih awal dari biasanya. Jam di meja nakas menunjukkan pukul enam pagi. Ia melirik ke samping, Cecilia masih tertidur pulas dengan Sean yang tidur di dalam box bayi di sebelahnya.
Kevin bergerak perlahan, mencoba untuk tidak membuat suara. Ia harus pulang sekarang. Tadi malam ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa pagi ini ia akan pulang lebih awal dan menghabiskan waktu dengan Amanda.
"Kak Kevin mau ke mana?"
Suara Cecil mengejutkannya. Kevin menoleh dan mendapati Cecilia sudah terjaga.
"Aku mau pulang, Cecil. Amanda pasti sudah menungguku," jawab Kevin sambil mengambil jas yang tergantung di kursi.
"Sekarang? Tapi Sean tadi malam rewel sekali. Aku hampir tidak tidur semalaman karena merawatnya sendirian." Cecilia duduk perlahan, tangannya memegang perutnya seolah merasakan nyeri di sana. "Kak Kevin nggak mau sarapan dulu?"
Kevin terdiam untuk sejenak. Ia menatap Sean yang masih tertidur dengan wajah mungilnya yang damai. Perasaan bersalah tiba-tiba menghantamnya. Ia memang ayah dari bayi itu, dan Cecil baru saja melahirkan tiga bulan yang lalu.
"Baiklah, sebentar saja," ucap Kevin pada akhirnya.
Cecil tersenyum tipis, lagi-lagi ... sebuah senyum kemenangan yang berhasil ia sembunyikan dengan sempurna. "Terima kasih, Kak. Aku akan segera menyiapkan sarapan."
Cecil bangkit dari tempat tidur dengan gerakan yang dibuat-buat, sesekali menahan tubuhnya di dinding seolah ia sangat lemah. Kevin yang melihat itu langsung menghampirinya.
"Kamu baik-baik saja? Biar aku aja yang masak."
"Nggak, Kak Kevin. Aku masih bisa, kok. Lagipula, aku ingin masak sendiri," jawab Cecil sambil tersenyum manis.
Namun baru beberapa langkah, Cecil tiba-tiba meringis kesakitan dan hampir terjatuh. Kevin segera menangkapnya.
"Cecil!"
"Aku ... aku baik-baik aja, Kak Kevin. Cuma sedikit pusing."
"Kamu istirahat aja, Cecil. Biar aku yang urus semuanya." Kevin menuntun Cecil kembali ke tempat tidur.
Begitulah, Kevin yang tadinya berniat pulang pagi-pagi, malah sibuk mengurus Cecil dan Sean. Ia menyiapkan sarapan, mengganti popok Sean, bahkan membersihkan rumah sedikit karena Cecil terus-menerus mengeluh tidak enak badan.
Waktu terus berjalan, Kevin melirik jam di tangannya. Sudah hampir pukul sepuluh. Amanda pasti marah jika ia tak segera pulang.
"Cecil, aku benar-benar harus pulang sekarang," ucap Kevin dengan nada yang lebih tegas. "Kamu nggak mau 'kan kalau rahasia kita sampai tercium Amanda?"
"Tapi ... Sean sepertinya demam. Apa nggak sebaiknya kita periksakan dia dulu?" Cecil menatap Kevin dengan mata berkaca-kaca.
Kevin menghela napas panjang. Ia mendekat dan memeriksa kening Sean. Suhu tubuhnya memang sedikit hangat, tetapi tidak sampai demam.
"Sean nggak demam, Cecil. Suhunya masih normal, kamu saja yang terlalu khawatir."
"Benarkah? Tapi aku takut kalau nanti suhunya naik?" Cecil menatap Kevin dengan pandangan memelas.
"Cukup, Cecil. Sejak kemarin aku sama kamu. Bisa nggak kalau kamu nggak kekanak-kanakan seperti ini?" sentak Kevin yang mulai hilang kesabaran.
Cecilia tahu jika ia sudah tidak bisa menahan Kevin lebih lama lagi. "Baiklah ... hati-hati di jalan."
Kevin segera mengambil kunci mobilnya dan bergegas keluar. Kevin melajukan mobilnya dengan kencang, pikirannya berkecamuk memikirkan berbagai alasan yang bisa ia sampaikan pada Amanda. Tangannya menggenggam setir dengan erat, sesekali melirik jam di dashboard yang terus bergerak.
Tiba-tiba, ia melihat sebuah toko bunga di pinggir jalan. Sebuah ide terlintas di benaknya. Mungkin bunga bisa melunakkan hati Amanda. Ia segera membelokkan mobilnya dan memasuki area parkir toko tersebut.
Di dalam toko, Kevin dengan cepat memilih buket mawar merah yang paling segar dan besar. Ia tahu jika itu adalah bunga favorit Amanda. Ia berharap dengan ini, kemarahannya akan sedikit mereda.
"Tolong dibungkus yang bagus," ucap Kevin pada penjaga toko.
Hampir pukul sepuluh pagi ketika mobil Kevin memasuki halaman rumah. Ia parkir dengan tergesa, mengambil buket bunga, dan bergegas masuk ke dalam.
Begitu pintu terbuka, aroma masakan yang lezat menyambutnya. Ia melangkah cepat menuju ruang makan dan melihat Amanda sudah duduk di sana. Sarapan sudah tersaji rapi di meja. Nasi goreng, telur dadar, dan segelas jus jeruk. Semua itu adalah makanan kesukaannya.
Kevin berjalan mendekat dengan langkah cepat, kemudian mengulurkan buket mawar merah itu pada Amanda.
"Selamat pagi, Sayang. Ini untukmu," ucapnya dengan senyum yang dibuat-buat.
Amanda mengangkat pandangannya, menatap buket bunga itu sejenak. Ia menerimanya dengan gerakan yang perlahan, kemudian meletakkannya di atas meja dengan hati-hati. Sebuah senyum tipis pun segera muncul di wajahnya
"Aku kira kamu sudah lupa jalan pulang," ucap Amanda datar.
Tenggorokan Kevin tercekat. "Kamu masih marah? Maaf, Manda. Tadi ada pasien yang kondisinya—"
"Kritis?" potong Amanda, masih dengan nada yang sama. "Atau ada operasi mendadak?"
Kevin menelan ludah dengan kasar. Ada sesuatu yang berbeda dari cara Amanda berbicara.
"Iya ... pasien kritis. Aku nggak bisa tinggalin dia di meja operasi, dong," jawab Kevin sambil menarik kursi dan duduk di hadapan Amanda.
Amanda mengangguk pelan. "Tentu saja. Kamu 'kan dokter. Menyelamatkan nyawa adalah tugasmu."
Dia mengambil sendok dan mulai menyuap nasinya dengan tenang. Kevin menatap Amanda dengan bingung. Ini bukan Amanda yang ia kenal. Amanda yang biasanya cerewet, yang selalu menuntut perhatian, yang akan marah-marah jika Kevin terlambat pulang.
"Amanda ...," panggil Kevin pelan.
"Hmm?" Amanda merespons tanpa mengangkat pandangannya dari piring.
"Kamu ... marah?"
Amanda berhenti menyuap. Ia meletakkan sendoknya dengan perlahan, kemudian menatap Kevin.
"Kenapa aku harus marah, Kevin?"
Kata-kata itu seperti tamparan keras bagi Kevin.
"Sayang, dengarkan aku—" Kevin mencoba meraih tangan Amanda, tetapi Amanda menarik tangannya dengan halus.
"Makan, Kevin. Kamu pasti lapar. Aku sudah masak semua kesukaanmu," ucap Amanda sambil kembali menyuap nasinya.
Kevin menatap piring di depannya, tetapi dia sudah kenyang karena memang sudah sarapan di rumah Cecilia. Namun, untuk menghindari kecurigaan, Kevin mengambil piring itu dan memakan masakan istrinya.
Setelah beberapa suap, Kevin memberanikan diri untuk bicara lagi. "Amanda, hari ini aku sudah rencanakan sesuatu untukmu. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kejutan spesial."
Amanda mengangkat pandangannya. "Ke mana?"
"Rahasia. Tapi aku janji kamu akan suka," jawab Kevin dengan senyum, berharap Amanda akan terlihat antusias.
Tetapi yang ia dapatkan hanya anggukan pelan dari Amanda. "Baiklah."
Kevin merasa dadanya sesak. Ia lebih suka Amanda yang cerewet daripada Amanda yang seperti ini, dingin, dan seolah tidak peduli lagi.
"Kamu sudah selesai?" tanya Kevin saat melihat Amanda meletakkan sendok dan garpunya bersamaan.
"Sudah," jawab Amanda singkat. "Aku bersiap dulu."
"Tunggu!" seru Kevin. "Kamu melupakan sesuatu."
Amanda menoleh ke arah jatuhnya pandangan Kevin. Di sanalah sorot mata itu berhenti. Pada sebuah botol yang memang selalu Amanda letakkan di atas meja makan. Biasanya, ia akan selalu meminumnya setiap kali selesai sarapan, dan seperti biasanya pula Kevin akan menemaninya.
Amanda tertawa kecil sambil menepuk jidatnya sendiri. "Oh, iya. Aku lupa."
Amanda mengambil botol itu, lantas mengeluarkan satu pil kecil dari dalamnya.
"Yah, habis," ucapnya seraya membalik botol.
"Habiskan dulu, nanti aku bawakan lagi vitaminnya. Yang penting, kamu sehat, Manda. Karena aku ingin melihat kamu bisa hamil," ujar Kevin tanpa dosa.
Nyeri kembali menghantam relung hati Amanda. Di depannya, Kevin bisa berpura-pura polos dengan menginginkan kehamilannya. Namun di belakang, dia sendiri yang membuat istrinya perlahan hancur dan mandul.
Amanda kemudian memasukkan satu obat yang Kevin sebut vitamin itu ke dalam mulutnya, dan langsung berjalan ke kamar tanpa berkata apa-apa lagi.
"Teruslah seperti itu, Manda," gumam Kevin saat Amanda berjalan membelakanginya. Tanpa ia tahu jika pil itu hanya digigit di antara gigi Amanda, dan setelah sampai kamar, Amanda membuangnya ke dalam closet.
"Aku tak mau lagi menjadi bodoh, Kevin!"