"Kamu sudah selesai?" tanya Kevin yang melihat amanda melangkah turun dari tangga.
Amanda mengenakan setelan celana kulot yang berpadu dengan atasan dengan warna senada, sangat wajar dikenakan oleh wanita elegan seperti dirinya. Rambut hitamnya yang pendek, ia ikat dengan kuncir kuda, memperlihatkan leher jenjangnya yang selalu membuat Kevin terpesona.
"Sudah," jawab Amanda singkat sambil merapikan tas yang ia tenteng.
Kevin berdiri di ruang tamu, matanya menyapu sekeliling ruangan dengan ekspresi bingung. Keningnya berkerut, dan ia terus celingak-celinguk seperti orang yang kehilangan sesuatu tapi tidak tahu persis apa yang hilang.
"Kamu kenapa, Vin?" tanya Amanda yang berusaha menjaga nadanya tetap datar meski jantungnya saat ini tengah berdegup kencang.
"Entahlah," Kevin menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, "tapi sepertinya ada yang salah di rumah ini. Apa, ya? Kok rasanya ... beda?!"
Amanda hanya tersenyum kecil yang nyaris tak terlihat. Matanya mengikuti pandangan Kevin yang menyapu ruang tamu. Foto pernikahan mereka yang biasanya terpajang megah di atas perapian sudah tidak ada lagi. Vas bunga kristal pemberian ibu Kevin yang selalu Amanda rawat dengan hati-hati sudah dikemas rapi. Bahkan lukisan cat air yang pada saat itu Amanda buat sendiri dengan tangannya sudah diturunkan dan disimpan di dalam gudang.
Ternyata, pria yang selama lima tahun tidur di sampingnya itu tidak menyadari bahwa istrinya sudah mulai menghapus jejaknya dari rumah yang mereka bangun bersama.
'Pantas saja kamu nggak sadar, Vin,' batin Amanda dengan senyum pahit. 'Kamu bahkan tidak pernah benar-benar memperhatikanku.'
"Mungkin kamu terlalu capek kerja, karena sudah beberapa hari nggak pulang," ucap Amanda sambil mengulurkan kunci mobil pada Kevin. "Kamu nggak mandi dulu?"
"Nggak usah, aku sudah mandi di rumah sakit," jawab Kevin cepat. Meskipun sejatinya Amanda juga tahu jika Kevin tidak mandi di rumah sakit. Dia mandi di rumah Cecil setelah menghabiskan malam bersama istri keduanya dan anak mereka.
Tapi jauh di dalam hati Amanda, ia justru merasa lega, bahkan sedikit bersyukur. Karena dengan begitu, Kevin tidak perlu naik ke lantai atas dan membuka lemari pakaian. Sebab di sana, hampir sebagian besar pakaian Amanda sudah terkemas rapi di dalam koper-koper yang tersembunyi di ruang penyimpanan.
"Oh, oke," sahut Amanda pada akhirnya, nadanya begitu tenang hingga Kevin tidak menaruh curiga sedikit pun terhadapnya.
Kevin melangkah mendekat lalu mengecup kening Amanda dengan lembut, sebuah kebiasaan yang dulu selalu membuat Amanda bahagia, lain halnya dengan kini. Kini setiap sentuhannya hanya akan membuat perutnya mual.
"Kamu akan suka kejutan yang sudah aku siapkan hari ini, Sayang," bisik Kevin di telinganya. "Aku janji, ini akan jadi hari yang paling berkesan untuk kita berdua."
Amanda hanya mengangguk dan tak percaya dengan satu kata pun yang keluar dari mulut pria yang pernah ia cintai lebih dari apa pun di dunia ini.
"Baiklah, kita akan lihat," sahutnya pendek.
Lalu mereka pun pergi. Seperti biasa, Kevin akan membukakan pintu mobil saat istrinya itu hendak masuk. Sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan sejak mereka pacaran di SMA. Kevin menutup pintu dengan hati-hati, memastikan ujung baju Amanda tidak terjepit, sebelum kemudian memutar ke sisi pengemudi.
Memang begitulah Kevin. Dia selalu romantis. Selalu perhatian dan selalu tahu cara membuat seorang wanita merasa istimewa. Itulah hal yang membuatnya menjadi pembohong yang sempurna.
Tanpa berkata-kata, mobil sport silver itu melesat membelah padatnya jalanan ibu kota. Musik klasik mengalun lembut dari speaker, menciptakan suasana yang seharusnya menenangkan. Kevin sesekali melirik ke arah Amanda, tersenyum seolah mereka adalah pasangan paling bahagia di dunia.
Perjalanan berlanjut hampir satu jam. Perlahan, pemandangan berubah dari gedung-gedung beton menjadi pepohonan hijau. Mereka memasuki daerah pegunungan yang suasananya jauh lebih asri dan sejuk. Kabut tipis menyelimuti jalan berkelok yang mereka lalui.
"Kita hampir sampai," ucap Kevin dengan senyum manisnya.
Di tengah jalan yang semakin sepi, Kevin tiba-tiba menghentikan mobil di pinggir jalan yang teduh. Amanda menoleh dan menatapnya dengan bingung.
"Kevin, kenapa kamu berhenti di sini?" tanya Amanda.
"Karena," Kevin meraih syal sutra dari dashboard, "aku ingin ini jadi kejutan yang sempurna."
Sebelum Amanda bisa protes, Kevin sudah melingkarkan syal itu dengan lembut menutupi kedua mata Amanda. "Tutup matamu."
"Kevin, stop! Ini nggak lucu, Vin!" Amanda mencoba melepas kain itu dengan kasar, tetapi Kevin menahan tangannya.
"Percaya padaku, Manda," bisik Kevin. "Sebentar lagi kamu akan melihat sesuatu yang sangat spesial."
Amanda menggigit bibirnya. Sejujurnya dia takut dengan apa yang akan Kevin lakukan setelah ini. Akan tetapi, ia harus tenang. Ia harus bermain sesuai skenario Kevin hingga waktunya tiba.
Mobil kembali berjalan, kali ini lebih pelan. Amanda bisa merasakan tikungan-tikungan tajam, mendengar suara kerikil yang berderak di bawah ban. Mereka sudah memasuki jalan yang tidak beraspal.
"Kevin, sebenarnya kamu mau ajak aku ke mana?" tanya Amanda, mencoba menyembunyikan kegelisahan di suaranya.
"Sabar, Sayang," jawab Kevin sambil mengusap punggung tangan Amanda dengan ibu jarinya. "Sebentar lagi."
Akhirnya mereka sampai di tujuan, dan mobil pun berhenti. Kevin mematikan mesin. Amanda mendengar pintu mobil dibuka, kemudian pintu di sisinya juga terbuka. Tangan Kevin meraih tangannya dengan lembut.
"Ayo turun. Hati-hati, ada sedikit anak tangga," Kevin membimbing Amanda keluar dari mobil.
Amanda merasakan angin pegunungan yang sejuk menerpa kulitnya. Udara di sini terasa begitu segar dan bersih. Ia mendengar suara burung berkicau dan daun-daun berdesir. Tangan Kevin menggenggam tangannya dengan erat, dan dengan telaten membimbingnya berjalan pelan.
"Pelan-pelan, Man," ucap Kevin setiap kali mereka melewati jalan yang tidak rata. "Ada batu di sini. Angkat kakimu sedikit."
Kevin melepas syal yang menutupi mata Amanda. Cahaya matahari menyilaukan mata Amanda sesaat sebelum penglihatannya menyesuaikan.
Di saat Amanda bisa melihat dengan jelas, napasnya pun tertahan.
Dengan kedua mata yang membola, Amanda bertanya, "Apa ini, Vin?"