Bab 6. Bangun dari Mimpi

1039 Kata
"Apa ini, Vin?" tanya Amanda. Tepat di hadapannya berdiri sebuah rumah yang tidak bisa disebut lagi sebagai rumah. Bangunan itu lebih tepat jika disebut sebagai villa, tetapi dibalut karya seni arsitektur yang megah. Rumah villa dua lantai dengan gaya modern minimalis yang dipadukan dengan sentuhan klasik Eropa. Dinding putih gading dengan aksen kayu jati di setiap sudutnya. Jendela-jendela besar dari lantai hingga plafon berjajar untuk memantulkan cahaya matahari pagi. Taman yang luas dengan bunga-bunga mawar putih yang bermekaran. Di mana bunga mawar putih adalah bunga yang paling disukai oleh Amanda. Satu hal yang paling mencuri perhatian, di tengah halaman, berdiri sebuah air mancur marmer, persis seperti yang selalu Amanda impikan. Tenggorokan Amanda tercekat. Tangannya naik menutup mulutnya yang terbuka lebar. "Ini ...," suaranya bergetar. "Istana impianmu," Kevin berdiri di belakang Amanda, melingkarkan kedua tangannya di pinggang istrinya. Ia menyandarkan dagunya di pundak Amanda, dan lantas berbisik lembut di telinganya. "Kamu ingat, Man? Waktu kita menikah, kamu pernah menunjukkan sketsa rumah ini padaku. Kamu bilang suatu hari nanti, kamu ingin punya rumah yang menghadap pegunungan, dengan jendela besar agar bisa melihat matahari terbit setiap pagi, dengan taman mawar, dan air mancur di depannya." Amanda tidak bisa berkata apa-apa. Air matanya mulai menggenang. "Aku masih menyimpan sketsa itu, dan aku mengingat setiap detail yang kamu gambar," Kevin memutar tubuh Amanda agar menghadapnya. Kedua tangannya mengangkat wajah Amanda, mengusap air mata yang mulai jatuh dengan ibu jarinya. "Aku mulai membangun rumah ini tiga tahun lalu. Setiap hari, aku memastikan agar semuanya sempurna. Setiap sudut, setiap warna, dan setiap detailnya agar sama seperti yang kamu inginkan." "Kevin ... tapi ini—" Amanda tidak tahu harus berkata apa. Jika ini hanyalah mimpi, maka Amanda pasti akan meminta untuk tidak bangun lagi. Kevin bisa menjadi dua sosok pria yang berbeda dalam sekali waktu, dan hal itu harus ia pendam untuk saat ini. "Ayo masuk," Kevin menggenggam tangan Amanda dan membimbingnya naik tangga menuju pintu depan. "Aku ingin menunjukkan semuanya padamu." Pintu besar dari kayu jati solid terbuka, memperlihatkan interior yang tidak kalah menakjubkan. Ruang tamu yang luas dengan plafon tinggi, lampu kristal yang tergantung megah, lantai marmer yang berkilau bersih. Semuanya didekorasi dengan selera tinggi. "Ya Tuhan, ini indah sekali," gumam Amanda sambil melangkah masuk perlahan. Matanya menyapu setiap sudut dengan berbinar. "Ini baru ruang tamunya," Kevin tersenyum lebar saat melihat reaksi Amanda yang tampak puas dengan hadiah yang ia berikan. "Masih banyak ruangan lain yang harus kamu lihat." Mereka berjalan melewati ruangan demi ruangan. Ada ruang makan dengan meja panjang yang bisa memuat dua belas orang. Ada perpustakaan mini dengan rak-rak kayu berisi buku-buku yang kebanyakan adalah buku arsitektur dan desain interior, kesukaan Amanda. Ada studio kecil dengan meja gambar dan semua peralatan menggambar yang lengkap. "Aku tahu kamu berhenti menjadi arsitek demi aku," ucap Kevin saat mereka berada di studio. "Tapi aku ingin kamu tetap bisa menyalurkan passionmu. Di sini, kamu bisa menggambar apapun yang kamu mau ... dengan tenang." 'Iya ... dengan tenang,' batin Amanda. 'Agar kamu nggak lagi bisa diganggu, bukan?' Amanda mengusap meja gambar itu dengan sapuan pelan. Itu semua terlalu sempurna. "Kamu ... menyiapkan semua ini sendiri, Vin?" tanya Amanda. "Buat aku?" Kevin tersenyum, "Tentu saja buat kamu, Sayang." "Ayo ke lantai atas," ajak Kevin yang menarik tangan Amanda cukup kuat menuju tangga kayu dengan pegangan besi tempa yang artistik. Lantai dua sama menakjubkannya. Ada kamar tidur utama yang sangat luas dengan balkon pribadi yang menghadap langsung ke pemandangan pegunungan. Tempat tidur king size dengan sprei putih sutra. Lemari pakaian walk-in yang bahkan lebih besar dari kamar tidur mereka di rumah sekarang. "Dan ini," Kevin berhenti di depan pintu di ujung koridor, tangannya menggenggam kenop pintu, "ruangan favoritku." Pintu terbuka perlahan. Amanda melangkah masuk dan langsung membeku di tempatnya. Ini adalah kamar anak. Kamar yang sudah sepenuhnya didekorasi. Dinding berwarna krem lembut dengan wallpaper bergambar bintang-bintang dan bulan. Ada box bayi kayu maple yang indah di sudut ruangan. Lemari kecil dengan pegangan berbentuk binatang. Karpet lembut berwarna putih di tengah lantai. Bahkan sudah ada mainan-mainan bayi yang tersusun rapi di rak. "Kamar anak, Vin?" tanya Amanda lagi dengan kedua alis yang berkerut. "Iya, kamar untuk anak kita nanti," ucap Kevin dengan suara yang penuh harap. Ia berdiri di belakang Amanda, memeluknya dari belakang. "Aku tahu kita sudah lima tahun menikah tapi belum dikaruniai anak. Tapi aku yakin, Manda. Di rumah ini, kita akan segera memiliki momongan. Mungkin satu, dua, atau bahkan tiga anak." Amanda merasakan dadanya begitu sesak. Napasnya tercekat hebat, dan tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri. Bisa-bisanya Kevin bicara tentang anak. Kevin masih bisa bicara tentang masa depan bersama. Sementara dia ... dia yang sudah lima tahun meracuni Amanda dengan obat yang membuat dirinya tidak bisa hamil. Dia yang sudah punya anak dengan wanita lain. Dia yang menjadikan Amanda sebagai istri pajangan tanpa sepengetahuan Amanda sendiri. "Kevin," suara Amanda keluar dengan gemetar, penuh dengan emosi yang ia tahan sekuat tenaga. "Ya, Sayang?" Kevin memutar tubuh Amanda agar menghadapnya. Ia tersenyum hangat, menatap Amanda dengan penuh cinta. Atau setidaknya, begitulah yang Kevin ingin Amanda percaya. Amanda menatap wajah suaminya. Wajah yang pernah ia cintai lebih dari apapun. Wajah yang tersenyum padanya setiap pagi. Wajah yang menciumnya setiap malam sebelum tidur. Wajah yang kini terasa asing dan menyakitkan untuk dilihat. "Kenapa?" tanya Amanda dengan suara yang hampir berbisik. "Kenapa kamu melakukan semua ini?" Kevin mengerutkan dahi. "Tentu saja karena aku mencintaimu, Manda. Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu. Aku ingin kita punya tempat untuk membangun keluarga, untuk—" "Kak Kevin!" Kevin belum selesai dengan kata-katanya saat suara itu terdengar dari lantai bawah. Suara yang sangat dikenal oleh Amanda. Suara yang pada akhirnya membuat Amanda terbangun dari mimpinya. "Siapa itu?" tanya Amanda yang perlahan mulai melepaskan diri dari Kevin. "Eh, sudah. Kamu di sini aja, Man. Biar aku yang lihat ke bawah," cegah Kevin. Dengan raut wajah yang mulai panik, dan langkah sedikit tergesa, Kevin segera berlari turun untuk menemui ... istrinya yang lain. "Cecil, ngapain kamu ke sini?!" tanya Kevin dengan suara berbisik. "Ya aku telepon Kak Kevin nggak diangkat, coba lihat aku telepon berapa kali?" sungut Cecil. Dari atas, Amanda melongok. dan mendengar percakapan keduanya. "s**t! Ternyata ini kejutanmu, Kevin?" Sudut bibir Amanda sedikit terangkat. "Bahkan wanita kecilmu pun tahu tempat ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN