Bab 7. Kata-Kata Manis

1001 Kata
Dari atas, Amanda melongok. dan mendengar percakapan keduanya. "s**t! Ternyata ini kejutanmu, Kevin?" Sudut bibir Amanda sedikit terangkat. "Bahkan wanita kecilmu pun tahu tempat ini." Cecilia mendongak ke atas, ia tahu jika saat ini pasti Amanda sedang melihat dirinya di bawah bersama Kevin. Ia sengaja mendekatkan diri dan hendak memeluk Kevin dengan manja tetapi Kevin menolaknya. "Kak Kevin ...." "Jangan di sini, Cecil. Ada Amanda sekarang," ucap Kevin di samping telinga Cecilia. "Tapi—" "Harusnya kamu nggak datang ke sini! Kamu tahu jika hari ini aku ingin menghabiskan waktuku bersama Amanda." Cecilia mundur selangkah, wajahnya memerah. Bukan karena malu, tetapi karena marah. Tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya. "Menghabiskan waktu dengan Amanda?" ulang Cecilia dengan suara yang mulai meninggi. "Kak Kevin serius? Kita kemarin baru saja bicara tentang rencana pindah ke rumah ini! Rumah yang katanya untuk 'kita'!" Kevin melirik cepat ke arah tangga. Ia bisa merasakan Amanda masih berdiri di atas, meskipun ia tidak berani mengangkat kepalanya untuk melihat. "Suaramu, Cecil! Kecilkan!" desis Kevin sambil menarik lengan Cecilia menjauh dari area tangga. "Dengar, kita sudah bicarakan ini berkali-kali. Amanda masih istriku yang sah. Aku masih harus menjaganya, setidaknya aku sudah memberi kamu lebih banyak waktu, Cecil. Kamu ngerti, 'kan?" "Lebih banyak waktu?" Cecilia tertawa sinis. "Kak Kevin bilang itu sudah sejak lima tahun yang lalu. Terus bilang lagi saat Sean lahir. Dan sekarang Kak Kevin bilang hal yang sama lagi?" Di lantai atas, Amanda berdiri kaku di pinggir balkon koridor. Jantungnya berdegup kencang. Sean. Nama itu seperti jarum yang menusuk dadanya. Jadi anak itu bernama Sean? "Cecil, tolong jangan mulai sekarang," Kevin memijit pelipisnya. "Aku capek. Aku sudah mengatur semuanya dengan baik. Rumah ini untuk Amanda, dan aku akan membelikanmu rumah lain yang—" "Rumah lain?" Cecilia hampir berteriak, tapi Kevin langsung menutup mulutnya dengan tangan. "Sssttt! Suaramu, Cecil!" Kevin melirik ke atas dengan panik, tetapi itu sudah terlambat. Suara langkah kaki terdengar dari tangga. Perlahan, anggun, seperti seorang ratu yang turun dari singgasananya. Kevin dan Cecilia langsung menoleh. Amanda turun dengan senyuman manis di wajahnya. Wajahnya tenang, bahkan tampak senyum tipis tercetak di sana. "Hai, Cecilia," sapa Amanda dengan ramah. "Terima kasih, ya, sudah mampir. Kamu lihat 'kan betapa indahnya hadiah Kevin? Dia memang selalu memberi yang terbaik." Cecilia terdiam membeku. Ia menatap Amanda dengan bingung. Wanita ini ... kenapa dia terlihat sangat baik-baik saja? Amanda berjalan mendekat pada Kevin dan melingkarkan tangannya di lengan suaminya dengan manja. Ia mendongak menatap Kevin dengan mata berbinar. "Terima kasih, Sayang. Rumah ini benar-benar sempurna. Seperti mimpi yang jadi kenyataan." Kevin terdiam tak tahu harus bereaksi bagaimana. "Manda, aku—" Kevin mencoba bicara. "Kenapa? Nggak apa-apa, kok," potong Amanda sambil menepuk lengan Kevin dengan lembut. "Aku tahu kamu pasti sibuk mengurus semua untukku, 'kan?. Makanya adik kamu sampai mencari kemari. Aku nggak keberatan, kok." Amanda kemudian melepaskan lengan Kevin dan berjalan mendekati Cecilia. Gadis itu refleks mundur satu langkah, tetapi Amanda tetap tersenyum hangat. "Kamu mencari kakakmu 'kan, Cecil?" tanya Amanda dengan nada bersahabat. "Ada apa?" Cecilia membuka mulutnya, tetapi tidak ada suara yang keluar. Ia melirik Kevin dengan panik, tetapi Kevin juga terlihat sama bingungnya. "Nggak ada apa-apa, Kak. Aku cuma—" Cecilia tergagap. "Ngomong-ngomong, kamu darimana, Cil?" tanya Amanda yang terlihat penasaran. "Kok sampai bisa tahu rumah ini? Aku aja baru tahu hari ini. Kevin memang suka kasih kejutan mendadak." Amanda tertawa kecil, seolah ini adalah hal yang manis. "Dari ... dari dulu, Kak," jawab Cecilia pelan. "I-iya, karena Kak Kevin pernah bilang kalau mau membuat rumah untuk Kak Amanda. Jadi ... aku penasaran seperti apa hasilnya." "Oh," Amanda mengangguk-angguk. "Pantas. Kevin memang sering cerita tentang proyek ini, ya?" Amanda menatap Kevin dengan senyum lebar. "Kamu pasti bangga ya, Vin? Sampai cerita ke semua orang, bahkan ke adik angkatmu tentang rumah impianku." Kevin menelan ludah. Keringat mulai mengucur di pelipisnya. "Iya ... tentu saja, Manda. Ini adalah salah satu mimpimu, dan aku akan selalu bangga dengan hal itu." Amanda berjalan pelan mengelilingi ruang tamu, tangannya menyentuh permukaan meja, dan selanjutnya mengusap sandaran sofa, seolah sedang mengagumi setiap detailnya. Cecilia dan Kevin berdiri canggung di tengah ruangan karena tidak tahu harus berbuat apa. "Tapi, Cil," Amanda tiba-tiba berbalik menatap Cecilia. Senyumnya masih terpasang, tapi ada kilatan aneh di matanya. Sesuatu yang membuat Cecilia merinding. "Kok kamu datang sendirian, sih? Suamimu nggak ikut? Atau mungkin ... pacarmu?" Cecilia tersentak. "A-aku ...." "Oh, iya. Aku lupa, 'kan kamu belum menikah." Amanda mengangguk pelan. "Tapi pasti sudah punya pacar, dong? Cantik gini." Amanda berjalan lebih dekat lagi. "Atau ... mungkin lagi dekat sama seseorang?" Cecilia mundur lagi. Jantungnya berdetak kencang. "Nggak ada, kok." "Masih sendiri," ulang Amanda pelan. "Kamu nggak mau nyari pacar?" "Apa urusan Kak Manda?" sentak Cecil yang mulai merasa terpojok. "Nggak ada, sih. Tapi, sebagai ipar yang baik ...." Amanda mendekatkan diri, memapas jarak antara dirinya dengan Cecilia. "Aku hanya memberi nasihat supaya jangan pernah merebut pacar atau suami orang." Sungguh, kata-kata terasa begitu pedas di telinga Cecilia, sekaligus menusuk tepat hingga ke jantung Kevin. Cecilia membeku total. Wajahnya memucat seketika. Kevin langsung melangkah maju. "Manda—" "Ah ... kalian bicaralah, akan aku buatkan minum," potong Amanda. Kevin menggaruk tengkukmya yang sebenarnya tidak gatal, tetapi Amanda sama sekali tak peduli akan hal itu. Ia tetap berjalan ke belakang, mencari bahan yang memang bisa membuat ia teralihkan dari dua manusia yang benar-benar membuatnya muak. "Kevin!" panggil Amanda. Kevin yang saat itu berdiri di samping Cecilia bergegas ke dapur karena tak ingin membuat Amanda semakin curiga. "Di sini belum ada apa-apa," ucapnya. "Kan memang kita baru ke sini, Manda. Jadi aku belum membeli apa-apa," jawab Kevin. "Oh, begitu. Baiklah, aku akan keluar sebentar untuk mencari makanan. Kebetulan aku lapar," ujar Amanda. "Eh, nggak usah. Biar aku saja yang—" "Sekalian aku mau lihat-lihat. Bukannya Cecil mau ada perlu? Kalian ngobrol aja." Tanpa menunggu jawaban Kevin, Amanda pun keluar, entah ke mana, ia pun sebenarnya juga tidak tahu. Namun, satu hal yang pasti, jika dia berlalu-lama berada di dalam rumah itu, maka sudah pasti jantungnya akan segera meledak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN