Bab 8. Memiliki Bukti

1104 Kata
Cecilia tersenyum tipis saat melihat kesempatan emas dengan perginya Amanda. Setelah memastikan suara mobil Amanda benar-benar menjauh, ia langsung berlari kecil ke arah dapur dan tanpa basa-basi melingkarkan lengannya di leher Kevin dari belakang. "Aku kangen Kak Kevin," bisik Cecilia dengan suara manja di telinga Kevin. Kevin tersentak kaget. Tubuhnya menegang seketika. Dengan cepat ia melepaskan pelukan Cecilia dan berbalik dengan wajah penuh amarah. "Apa-apaan kamu, Cil?! Berani kamu datang ke sini?!" bentak Kevin sambil mendorong tubuh Cecilia menjauh. "Kamu udah g i l a apa? Ini rumah untuk Amanda. Amanda juga ada di sini, Cecil. Harusnya kamu nggak datang ke sini!" "Tapi aku juga istrimu, 'kan?" sanggah Cecilia dengan wajah merajuk. "Kak Kevin yang bilang kalau rumah ini akan jadi tempat kita berdua. Sekarang kenapa malah—" "Itu dulu, Cil!" potong Kevin frustasi. Ia mengacak rambutnya dengan kasar. "Situasinya berbeda sekarang. Aku nggak mau Amanda curiga. Kamu lihat tadi dia menatapmu seperti apa? Aku nggak mau kalau sampai di tahu!" "Memangnya kenapa kalau dia tahu?" Cecilia melangkah maju, menatap Kevin dengan sorot mata yang menantang. "Biarkan dia tahu!" "Cecil, sekarang kamu pergi dari sini. Sebelum Amanda kembali," pinta Kevin. "Kenapa? Bukankah Kak Kevin bilang Sean butuh ayahnya? Atau semua itu cuma omong kosong?" tolak Cecil. "Jangan bawa-bawa Sean!" Kevin meninggikan suaranya. "Anak itu—" ia menghentikan kata-katanya, menyadari ia hampir mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak diucapkan. "Anak itu apa?" desak Cecilia. Matanya mulai berkaca-kaca. "Anak itu anak Kak Kevin juga, 'kan? Anak kita!" Kevin memijat pelipisnya yang berdenyut. Ia merasa kepalanya mau pecah. Di satu sisi ada Amanda yang baru saja ia bahagiakan, di sisi lain ada Cecilia yang menuntut pengakuan. Semuanya berantakan. "Dengar, Cil," ucap Kevin dengan nada yang lebih tenang, mencoba meredakan situasi. "Bukan seperti itu maksudku. Kamu tahu aku sayang sama kamu. Tapi timing-nya sekarang tidak tepat. Amanda baru saja dapat rumah ini. Dan aku nggak mau kehilangan dia, Cecil. Kamu tahu itu 'kan?" Cecilia sudah tidak ingin berdebat lagi. Ia tidak ingin mendengar alasan-alasan yang sama yang sudah ia dengar berkali-kali selama ini. Ia muak dengan janji-janji kosong. Ia muak dengan peran sebagai perempuan simpanan yang harus selalu bersembunyi. Tanpa peringatan, Cecilia maju dan langsung melumat bibir Kevin dengan rakus. Kevin tersentak kaget. Ia mencoba mendorong Cecilia, tapi tubuh gadis itu terus mendesak dan memeluknya erat. Tangan Cecilia merambat ke rambut Kevin, menariknya lebih dalam ke dalam ciuman yang penuh hasrat dan amarah. "Cil—" Kevin mencoba bicara di sela ciuman, tapi Cecilia semakin memperdalam ciumannya. Untuk sesaat, Kevin terlena. Bertahun-tahun hidup bersama Cecilia membuat tubuhnya hafal dengan sentuhan gadis itu. Tangannya refleks melingkar di pinggang Cecilia, menariknya lebih dekat. Tapi kemudian kesadaran itu datang, bayangan Amanda yang tersenyum tadi, rumah yang baru saja ia serahkan, dan risiko besar yang sedang ia ambil saat ini. Kevin mendorong Cecilia dengan keras. Gadis itu terhuyung beberapa langkah ke belakang, bibirnya masih basah dan bengkak, napasnya tersengal. "Cukup!" bentak Kevin. "Amanda bisa datang kapan saja! Kamu mau dia lihat kita seperti ini?" "Biar saja dia lihat!" teriak Cecilia frustasi. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Biar dia tahu kalau suaminya sudah lama selingkuh! Biar dia tahu kalau Kak Kevin punya anak sama perempuan lain! Biar dia tahu segalanya!" "Kamu gila?" Kevin meraih lengan Cecilia dengan kasar. "Kamu tahu apa yang akan terjadi kalau Amanda tahu? Dia akan menghancurkan kita berdua, Cil! Keluarganya punya koneksi. Dan apa yang aku miliki ini, lebih dari setengahnya adalah milik Amanda. Ayahnya bisa—" "Jadi ini tentang uang?" potong Cecilia dengan suara parau. "Tentang koneksi tentang kekayaan keluarga Amanda?" Kevin terdiam, dan wajahnya memucat. Ia sadar betul, jika semua kesuksesannya sekarang, jika apa yang ia miliki, itu karena keluarga Amanda. Itu karena ayah Amanda. Cecilia tertawa pahit. "Bodohnya aku. Selama ini aku pikir Kak Kevin benar-benar mencintaiku. Ternyata aku cuma ... apa? Pelampiasan? Mainan?" "Bukan seperti itu—" "Lalu seperti apa?" Cecilia menatap Kevin dalam-dalam. Cecilia kembali merangsek maju, dan ciuman kasar kembali terjadi di antata mereka berdua. Tak cukup sampai di situ, Cecilia membuka beberapa kancing depannya, membuat dua gundukan menyembul dari baliknya. "Cecil ...." Cecilia mendorong tubuh Kevin hingga terduduk di meja dapur, lalu dengan cepat tangannya menyingkirkan benda-benda di sekitarnya. Ia menindih tubuh Kevin, dan Kevin ... tentu saja menikmati setiap sentuhan Cecilia. "Ah ...," erangnya. Tak tahan diperlakukan demikian, Kevin mulai membalas, dan kini ia pun mulai beraksi. Aksi panas di villa pegunungan yang seharusnya dingin pun tidak dapat dihindarkan. Mereka bermain di sana dengan liarnya. Tanpa mereka sadari, jika dibalik tirai yang tersingkap, kamera ponsel menangkap setiap momen dari apa yang mereka lakukan. Dengan membekap mulutnya sendiri, Amanda bersembunyi di balik dinding. Ia memotret bahkan merekam semuanya. Percakapan dan perbuatan b r e n g s e k mereka berdua di belakangnya. "b******n kamu, Kevin!" gumamnya dengan amarah yang tak dapat lagi dipadamkan. Amanda membiarkan semuanya, dengan mengendap, ia kembali keluar dari balik dinding untuk masuk ke dalam mobilnya yang ia tinggalkan tak jauh dari vila tersebut. Ia keluar, benar-benar keluar untuk menenangkan diri. Lima belas menit kemudian, suara mobil terdengar dari luar. Amanda kembali. Kevin segera merapikan dirinya, menyeka wajahnya, dan berusaha tampak normal. Amanda tidak langsung masuk. Ia duduk di dalam mobil, menatap rumah yang baru saja Kevin berikan padanya. Ponsel tergenggam erat di tangannya. "Puas-puaslah kalian sekarang." Amanda tersenyum pahit. Ia memasukkan ponsel itu kembali ke dalam tasnya. "Jadi ini kejutanmu yang sebenarnya, Kevin," bisiknya pelan. "Hadiah untuk menutupi kebejatan. Betapa mulianya hatimu." Ia keluar dari mobil dengan wajah yang sudah kembali tenang. Senyum manis terpasang di wajahnya ketika ia membuka pintu. "Kevin, aku pulang!" serunya riang sambil membawa beberapa kantong belanja. Kevin muncul dari dapur dengan senyum yang terlihat dipaksakan. "Eh, Manda. Kamu beli banyak sekali." "Iya, dong. Kita 'kan mau nginep di sini malam ini, jadi aku sekalian beli bahan makanan buat masak malam." Amanda berjalan ke arah dapur dan meletakkan beberapa kantong plastik di meja. Meja yang sama, tempat di mana Kevin dan Cecil saling berbagi peluh. Amanda menatap tempat itu dengan rahang mengeras, sebelum berbalik, dan bertanya dengan sebuah senyuman, "Kamu ikut menginap juga 'kan, Cil?" Cecilia yang berdiri tak jauh dari mereka pun gelagapan. "Eh, nggak, Kak. Aku masih ada keperluan lain." "Oh, sayang sekali. Padahal aku mau ajak kamu makan bareng," ucap Amanda dengan nada yang terdengar tulus. "Tapi nggak apa-apa kalau memang nggak bisa. Padahal aku juga ingin lebih mengenal adik iparku." Kata 'adik ipar' terdengar seperti pisau yang tajam di telinga Kevin, apalagi Cecilia. Cecilia yang merasa tersinggung pun segera meraih tasnya dan berpamitan. "Kak Manda, Kak Kevin. Aku pulang dulu, ya." "Hmmm ...," jawab Amanda tanpa menoleh. "Kevin," panggil Amanda. "Kamu nggak mau anterin adikmu?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN