"Kevin," panggil Amanda. "Kamu nggak mau anterin adikmu?"
Amanda menatap Kevin dengan senyum tipis.
"Eh, nggak usah, Man. Biar Cecil pulang sendiri aja," ucapnya sambil berusaha terdengar santai.
"Kenapa? Kasihan, Vin," desak Amanda sambil terus memperhatikan raut wajah suaminya. "Lagipula kamu 'kan kakaknya. Harusnya kamu lebih perhatian sama adik kamu. Jauh-jauh dia udah datang ke sini."
Cecilia yang sudah berdiri di ambang pintu langsung menggeleng cepat. "Nggak usah, Kak. Aku bisa pulang
sendiri. Ia segera melangkah keluar tanpa menunggu jawaban.
Suara pintu tertutup membuat ruangan tiba-tiba terasa sunyi. Amanda berjalan ke jendela, memastikan Cecilia benar-benar pergi. Setelah yakin mobil gadis itu menjauh, ia berbalik menatap Kevin dengan tatapan yang menusuk.
"Manda—" Kevin mencoba memulai, tapi Amanda mengangkat tangannya, memberi isyarat agar suaminya diam.
"Aku capek, Kevin," ucap Amanda pelan sambil mulai mengeluarkan bahan makanan dari kantong belanja. "Capek banget hari ini. Jadi mungkin kita tunda dulu acara masaknya. Aku mau istirahat."
Kevin mengangguk lega, ia sempat takut jika Amanda melihat apa yang telah dilakukannya dengan Cecil di dapur tadi. Kevin mengira badai sudah berlalu. "Oh, oke. Kalau gitu kita pesan makanan aja, ya? Aku—"
"Terserah kamu," potong Amanda yang langsung berjalan menuju ke kamarnya di lantai atas.
"Manda ...," panggilan Kevin menghentikan langkahnya. "Aku di ruang tamu kalau kamu butuh apa-apa."
Amanda hanya mengangguk sebentar dan kembali berjalan.
Amanda menutup pintu kamar dengan pelan, memastikan kunci terpasang dengan benar. Begitu pintu tertutup rapat, tubuhnya langsung merosot ke lantai. Kedua lututnya tidak lagi sanggup menahan beban tubuhnya yang gemetar. Tangannya meremas d**a, mencoba meredakan sesak yang tiba-tiba menyerang.
Sejauh ini ia berusaha kuat, berusaha menjaga wajahnya agar tetap tenang di depan Kevin. Tapi tidak seharusnya mereka melakukan itu di rumah ini. Di rumah yang diberikan untuknya. Di rumah yang bahkan didesain sendiri olehnya.
Amanda menangis dalam diam, tangannya membekap mulutnya sendiri agar isakannya tidak terdengar. Ia tidak ingin Kevin mendengar. Ia tidak ingin memberikan kepuasan kepada pria b******k itu dengan menunjukkan betapa hancurnya ia sekarang. Setiap sudut rumah ini adalah hasil pikirannya. Semua hasil pikiran yang ia buat, selalu ia anggap suci. Namun, kini harus ternoda di tangan suaminya sendiri. Demi apapun juga,anda tidak akan pernah sudi untuk menempati rumah ini.
Beberapa saat kemudian, Amanda mendengar langkah kaki menaiki tangga. Cepat-cepat ia mengusap pipinya yang masih basah, merapikan rambutnya yang berantakan, dan berusaha mengatur napasnya yang masih tersengal.
Tok tok tok.
Ketukan di pintu kamar terdengar pelan.
"Manda?" suara Kevin terdengar dari luar. "Makanan udah datang. Ayo makan bareng."
Amanda menatap pintu itu dengan rahang mengeras. Ia ingin berteriak, ingin membuka pintu itu dan menampar wajah Kevin dengan keras. Tapi ia tahan, karena waktunya belum tepat. Belum saatnya untuk membongkar semuanya.
"Sebentar," jawab Amanda dengan suara yang berusaha ia buat senormal mungkin. Ia berdiri, merapikan pakaiannya, dan mengecek wajahnya di cermin sekali lagi. Matanya memang sedikit bengkak, tapi semoga Kevin tidak menyadarinya.
Dengan napas panjang, Amanda membuka pintu. Kevin berdiri di depannya dengan senyum manis seperti biasanya.
"Aku pesan nasi goreng seafood favoritmu," ucap Kevin sambil berusaha terdengar ceria. "Dan juga ayam bakar yang kamu suka. Ayo, makan sebelum dingin."
Amanda mengangguk lemah dan melangkah keluar kamar, tetapi tanpa sengaja, kakinya justru tersandung kakinya sendiri yang lain. Tubuhnya oleng dan hampir jatuh. Refleks, Kevin menangkapnya dengan cepat. Amanda pun jatuh ke dalam pelukan suaminya.
Biasanya, ia akan bahagia dengan hal ini. Biasanya, jantungnya akan berdebar, ia akan tertawa malu-malu dengan pipi yang merona, dan mungkin akan memeluk Kevin lebih erat. Tapi tidak untuk sekarang.
Tidak saat aroma maskulin yang biasanya ia cintai sudah bercampur dengan aroma parfum Cecilia. Parfum manis yang menyengat, yang sangat berbeda dari wangi tubuh Kevin yang biasa ia kenal. Aroma itu menempel di kemeja Kevin. Dan, apa itu? Amanda dapat melihat tanda merah kecil di pangkal leher Kevin. Sebuah bukti nyata dari apa yang baru saja terjadi di dapur tadi.
Amanda merasa mual. Perutnya bergejolak. Ia ingin mendorong Kevin, ingin menjauh sejauh mungkin dari pria ini.
"Hati-hati, Sayang," ucap Kevin sambil menahan tubuh Amanda. "Kamu kenapa? Capek banget, ya?"
Kata 'sayang' itu terdengar begitu menjijikkan di telinga Amanda. Sayang? Sayang macam apa yang masih bisa bercinta dengan wanita lain di rumah istrinya sendiri?
Amanda menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Tangannya menekan d**a Kevin, mendorong tubuhnya menjauh dengan pelan.
"Iya, aku capek," jawab Amanda sambil melepaskan diri dari pelukan Kevin. "Makanya aku mau istirahat. Tapi kamu malah ganggu."
Kevin terlihat sedikit terkejut dengan nada dingin Amanda. "Oh, maaf. Aku cuma—"
"Udah, ayo makan," potong Amanda sambil berjalan mendahului Kevin. Ia tidak ingin berlama-lama berada di dekat pria itu. Tidak ingin mencium aroma Cecilia yang masih menempel di tubuhnya.
Mereka turun tangga dalam diam yang canggung. Amanda berjalan di depan, sementara Kevin mengikuti di belakang.
Sesampainya di meja makan, Amanda duduk dengan kaku. Di depannya sudah tersaji nasi goreng seafood dan ayam bakar yang selalu menjadi favoritnya. Namun setelah melihat makanan itu, perutnya malah semakin mual.
Kevin duduk di seberangnya, membuka bungkus. "Ayo, Manda. Makan. Kamu pasti lapar."
Amanda menatap makanan di depannya. Tangannya mengambil sendok, menyendok sedikit nasi goreng, tapi begitu akan memasukkannya ke mulut, perutnya kembali bergejolak. Bayangan Kevin dan Cecilia di meja dapur tadi muncul di benaknya. Meja yang sama di dapur ini. Tempat di mana mereka berdua berbagi peluh dan nafsu.
Huweeek ....
Amanda membekap mulut karena rasa mualnya tak dapat dihentikan.
"Man ... Manda kamu kenapa?" Kevin terlihat panik.
Ia segera mendorong kursinya dan berjalan cepat menghampiri Amanda. Tangan kanannya ia gunakan untuk mengusap punggung Amanda dengan pelan.
"Aku nggak lapar," ucap Amanda pelan sambil meletakkan sendoknya kembali.
Dalam kepanikan yang terlihat di wajah Kevin, Amanda justru memiliki ide licik yang terbesit tiba-tiba.
"Kevin," Amanda menegakkan punggung dan menatap Kevin dengan sorot mata yang dibuat sendu. "Apa mungkin aku hamil?"
Kata-kata itu jatuh begitu saja tanpa rencana. Amanda tidak ingin membuat Kevin curiga dengan perubahan sikapnya, sekaligus ingin melihat bagaimana reaksi Kevin jika dirinya benar-benar hamil.
"Hamil? Nggak mungkin!" Kevin tersentak dan secara refleks melepaskan tangannya dari punggung Amanda.
"Kenapa nggak, Vin? Sepertinya aku perlu cek, siapa tahu aku benar-benar hamil," ucap Amanda yang pura-pura bahagia.
Kevin hanya bisa tertegun sejenak. Bagaimana mungkin Amanda bisa hamil, pikirnya. Bukannya selama ini Amanda sudah meminum mifepristone yang ia berikan setiap harinya?