Bab 10. Semuanya Milikmu

1195 Kata
"Kevin," panggil Amanda lagi. Lamunan Kevin buyar seketika. "Eh, iya. Besok kita periksa." Sudah Amanda duga jika reaksi seperti itulah yang akan Kevin tunjukkan. Amanda mengulum sedikit senyumnya agar tak terlihat oleh Kevin. Setidaknya untuk malam ini, ia akan aman. Malam itu, Amanda benar-benar tidak berselera untuk makan. Di atas ranjang berukuran besar itu, Amanda tak pernah benar-benar bisa tidur meskipun kedua matanya sudah terpejam sejak tadi. Kevin tidur membelakanginya, tetapi suara ketukan pelan itu terdengar, ketika Kevin masih bermain dengan ponselnya. Amanda sama sekali tidak peduli, karena ia sudah tahu siapa yang Kevin hubungi saat ini. Kevin: Sepertinya Manda hamil. Kevin mengirimkan pesan itu cepat, takut-takut jika Amanda akan terganggu. Dengan cepat balasan segera tertampil di layar. Cecil: Apa? Kok bisa? Kevin: Belum pasti, besok akan aku cek. Cecil: Aku nggak mau! Amanda berpura-pura menggeliat untuk mengganggu kegiatan Kevin. Kevin: Besok akan aku kabari lagi. Setelah pesan itu terkirim, Kevin menekan tombol off cukup lama agar ponselnya mati. Suara klik terdengar samar di telinga Amanda yang masih terpejam. Kevin mendekatkan diri dan mendekap punggung Amanda dari belakang. Dalam pikirannya, mungkin karena hal ini pula akhir-akhir ini Amanda sering bersikap dingin dan tak banyak bicara. Namun, tidak demikian halnya dengan Amanda. "Hanya beberapa hari lagi, Kevin," ucapnya dalam hati. -- Pagi harinya, sinar matahari mulai menerobos masuk melalui celah tirai kamar. Amanda sudah terbangun sejak subuh, matanya menatap kosong ke langit-langit. Di sampingnya, Kevin masih tertidur pulas dengan napas yang teratur. Wajah pria itu terlihat begitu tenang, seolah tidak ada beban apapun yang mengganggu tidurnya. Amanda menatap wajah itu dengan dalam-dalam. Ada amarah di sana, sakit hati, dan juga kecewa. Namun, ia harus tetap tenang. Ia harus tetap bermain peran sampai waktunya tiba. Perlahan, Amanda bangkit dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba menyegarkan pikiran yang semalam hampir tidak bisa istirahat. Ketika ia keluar, Kevin sudah terbangun dan duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajahnya. "Pagi, Sayang," sapa Kevin dengan suara serak khas orang baru bangun. "Kamu tidur nyenyak?" Amanda hanya mengangguk singkat. "Tentunya saja." Mereka mulai berkemas dalam keheningan yang canggung. Amanda melipat pakaiannya ke dalam tas, tetapi, pikirannya melayang kemana-mana. Kevin sesekali melirik ke arahnya, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tak tahu harus mulai dari mana. Tiba-tiba, Amanda berhenti melipat pakaian. Tangannya memegang sebuah kaos yang sudah terlipat, tetapi pandangannya kosong menatap ke depan. Kemudian ia berbalik dan menatap Kevin yang sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam tas miliknya. "Kevin," panggil Amanda dengan suara pelan. Kevin menoleh. "Ya?" Amanda menelan ludah, seolah sedang mengumpulkan keberanian. "Apa kamu benar-benar cinta sama aku, Vin?" Pertanyaan itu membuat Kevin terdiam sejenak. Ia meletakkan tasnya dan berjalan menghampiri Amanda. Tangannya meraih tangan istrinya dengan lembut. "Apa yang membuatmu ragu, Manda?" tanya Kevin dengan nada yang terdengar tulus. Matanya menatap dalam ke mata Amanda. "Aku sangat mencintaimu. Bahkan semua telah kuberikan padamu." Amanda menatap mata Kevin, mencari tanda-tanda kebohongan di balik kata-kata manis itu, tetapi Kevin selalu membuat semuanya terlihat meyakinkan. Ia begitu mahir berbohong. "Rumah villa ini," Amanda melanjutkan dengan suara yang sedikit bergetar, "kamu benar-benar memberikannya untukku?" Kevin tersenyum, kemudian tangannya melepaskan genggaman Amanda dan berjalan ke arah tas kerjanya. Tas dokter yang selalu ia bawa kemana-mana. Ia membuka tas itu dan mengeluarkan sebuah map cokelat tebal. Dengan langkah yang penuh percaya diri, ia kembali menghampiri Amanda. "Desain rumah ini adalah milikmu," ucap Kevin sambil membuka map di depan Amanda. Di dalamnya terdapat beberapa dokumen yang rapi tersusun. "Dan rumah ini juga milikmu." Kevin menunjuk pada dokumen-dokumen itu satu per satu. Sertifikat tanah, sertifikat bangunan, dokumen kepemilikan. Semuanya tertera nama Amanda di sana. Termasuk ... sketsa Amanda yang masih Kevin simpan. Lengkap dengan materai dan tanda tangan yang sudah disahkan. "Lihat," Kevin menunjuk pada nama yang tertera di sertifikat. "Bahkan semua sudah atas namamu. Sejak awal aku memang merencanakan ini untukmu, Manda." Amanda mengambil sketsa rumah yang pernah dibuatnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Namun, bukan air mata haru atau bahagia, karena itu adalah air mata amarah yang ia tahan sekuat tenaga. Kevin memberikan semua ini atas namanya, tapi pria itu dengan berani mengotori rumah ini dengan perempuan lain. Di rumah yang ia desain dengan otaknya. "Apakah mungkin kalian juga melakukannya di sini?" tanya Amanda pada dirinya sendiri sambil memindai seluruh sudut kamar. "Kenapa, Manda?" tanya Kevin dengan lembut ketika melihat mata Amanda yang berkaca-kaca. "Kamu terharu?" Amanda mengangguk pelan, tidak percaya dengan kemampuannya sendiri untuk tetap berpura-pura. "Iya. Aku ... aku nggak menyangka kamu sebaik ini." Kevin menarik Amanda ke dalam pelukannya. "Kamu adalah segalanya bagiku, Manda. Aku akan memberikan apapun untukmu. Karena kamu memang pantas mendapatkan yang terbaik." Amanda berdiri kaku dalam pelukan itu. Tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya, menahan diri untuk tidak mendorong Kevin menjauh. Aroma parfum Cecilia sudah tidak tercium lagi. Kevin pasti sudah mandi semalam, tetapi ingatan tentang aroma itu masih sangat jelas di ingatannya. "Terima kasih, Kevin," bisik Amanda pelan. Di benaknya, ia menambahkan kalimat yang tidak ia ucapkan keras-keras, "Terima kasih sudah memberikan semua bukti yang aku butuhkan untuk menghancurkanmu." Sekarang Amanda tahu. Semua aset ini atas namanya. Itu berarti dalam proses perceraian nanti, ia yang akan memegang kendali penuh. Kevin mungkin berpikir ia sedang memberikan hadiah cinta, tapi sebenarnya ia sedang menggali kuburnya sendiri. Kevin melepaskan pelukannya dan kembali menatap Amanda. "Nah, sekarang jangan ragu lagi, ya? Aku, Kevin, berjanji untuk selalu membahagiakan istriku—" "Siapa?" tanya Amanda tanpa bisa terkendali, tetapi dengan cepat ia menambahkan. "Sebutin namanya, dong." Entah itu pertanyaan ataukah justru menjadi pernyataan. Kevin diam sejenak dan tersenyum, "Tentu saja kamu, Sayang. Amanda Amareta." Amanda memaksakan senyum. "Iya, aku percaya." "Baiklah," Kevin tersenyum lebar dan tampak lega. "Sekarang kita selesaikan packing-nya, terus kita langsung ke rumah sakit untuk cek kandungan, ya?" Kata 'cek kandungan' itu membuat Amanda hampir tersenyum pahit. Ia tahu Kevin panik semalam. Ia tahu pria itu pasti langsung menghubungi Cecilia. Dan ia juga tahu, Kevin sebetulnya tidak ingin ia hamil. "Oke," jawab Amanda singkat. Mereka melanjutkan berkemas dalam diam. Sesekali Kevin mencoba memulai percakapan ringan, tapi Amanda hanya menjawab seadanya. Pikirannya sibuk merencanakan langkah selanjutnya. Bagaimana ia harus mencari cara untuk membohongi Kevin kali ini. Ketika semua barang sudah siap, Kevin mengangkat tas-tas mereka dan membawanya ke mobil. Amanda berdiri di pintu villa, menatap rumah yang seharusnya menjadi tempat bahagia itu untuk terakhir kalinya. Setidaknya ... untuk sementara waktu. "Aku tidak akan pernah tinggal di sini," bisiknya pelan pada diri sendiri. "Rumah ini sudah kotor. Tapi rumah ini tetap milikku. Dan aku akan memastikan Kevin dan 'adik kecilnya' itu tidak pernah bisa lagi menikmatinya." "Manda! Ayo!" teriak Kevin dari arah mobil. Amanda menarik napas dalam dan berbalik. Ia menutup pintu villa dengan pelan, mengunci kenangan buruk itu di dalam. Sementara di dalam tasnya, ponsel dengan semua bukti video dan foto masih tersimpan aman. Perjalanan kembali ke Jakarta terasa sangat panjang. Kevin mencoba mengajak ngobrol, bahkan menyalakan musik favorit Amanda, tapi Amanda lebih banyak diam sambil menatap keluar jendela. Sesekali ia memijat pelipisnya, berpura-pura pusing karena mual. "Kamu nggak apa-apa, Sayang?" tanya Kevin khawatir. "Iya, cuma sedikit mual," jawab Amanda sambil menutup matanya. "Aku istirahat sebentar, ya." "Oke. Kamu tidur aja. Nanti kalau udah sampai, aku bangunin." Amanda berpura-pura tidur, tapi sebenarnya ia sangat terjaga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN