Bab 11. Cek Kehamilan

1049 Kata
Kevin menghentikan mobil di depan sebuah klinik kecil yang terlihat sederhana. Mesin mobil dimatikan, dan ia menoleh ke arah Amanda yang masih terpejam dengan napas teratur. Tangannya terangkat perlahan, mengusap pelan pucuk kepala istrinya. "Sayang, bangun. Kita sudah sampai," ucap Kevin dengan suara lembut. Amanda mengerjap perlahan dan mulai membuka mata. Pandangannya masih sedikit kabur, tapi ia bisa melihat papan nama klinik di depan mereka. Bukan rumah sakit besar. Hanya klinik persalinan biasa dengan gedung dua lantai yang cat temboknya sudah mulai kusam. Amanda langsung duduk tegak, keningnya berkerut. "Kenapa ... kita ke sini, Vin?" tanyanya heran. "Ini klinik." "Katanya kamu ingin cek kehamilan?" jawab Kevin sambil melepas seatbelt-nya. "Ya sudah, kita cek di sini aja." "Kenapa bukan di rumah sakit aja?" Amanda sedikit menolak, tubuhnya tidak bergeming dari kursi. "Kamu 'kan kerja di sana." Bukan apa-apa, tapi Amanda ingin melihat reaksi dokter yang pernah memeriksanya jika ia benar-benar datang ke sana bersama Kevin. Ia penasaran bagaimana ekspresi teman-teman Kevin ketika melihat dirinya, sang istri sah yang mungkin selama ini tidak pernah mereka kenal. "Bukannya sama saja, Man?" sergah Kevin dengan nada yang sedikit memaksa. "Di sini juga ada dokter kandungan yang bagus. Lebih cepat malah, nggak perlu antri lama." Ia tahu apa yang akan terjadi jika ia mengatakan bahwa Amanda adalah istrinya di rumah sakit itu. Kebanyakan dari teman-temannya hanya tahu jika Cecilia-lah istrinya. Cecilia yang sering ia bawa ke acara-acara party. Cecilia yang pernah ia perkenalkan pada beberapa rekan kerjanya, dan Cecilia pula yang sudah melahirkan anaknya di sana. "Aduh, aku harus gimana, nih?" batin Amanda sedikit panik. Ia tidak menyangka Kevin akan sebegini takutnya. Tapi Amanda tidak mau menyerah semudah ini. Ia merajuk, bibirnya dimonyongkan, tangannya dilipat di depan d**a. "Aku nggak mau cek di sini. Aku maunya di rumah sakit tempat kamu kerja." "Manda ..." Kevin mulai frustasi. "Kenapa sih kamu jadi rewel begini?" "Aku nggak rewel. Aku cuma mau yang terbaik," ujar Amanda sambil menatap Kevin dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Ini 'kan anak kita, Vin. Anak pertama kita. Aku sudah menunggunya begitu lama. Aku mau cek di tempat yang paling bagus. Dan tempat paling bagus ya rumah sakit." Kevin terdiam. Ia menatap wajah Amanda yang mulai memerah, mata yang berkaca-kaca, bibir yang bergetar. Ia tahu kalau Amanda sudah seperti ini, akan sangat sulit mengubah pendiriannya. "Tapi Manda—" "Aku..Nggak. Mau!" potong Amanda dengan nada keras kepala. Ia bahkan membalikkan badannya, membelakangi Kevin seperti anak kecil yang sedang ngambek. "Kalau nggak ke rumah sakit, aku nggak mau turun. Aku nggak mau cek sama sekali." Kevin memijat pelipisnya yang berdenyut. Ini menjadi semakin rumit. Di satu sisi, ia tidak ingin Amanda datang ke rumah sakit dan bertemu dengan teman-temannya. Tapi di sisi lain, ia juga perlu memastikan apakah Amanda benar-benar hamil atau tidak. "Manda, dengerin aku dulu—" "Nggak!" Amanda semakin keras kepala. Kevin menghela napas panjang. Tangannya meremas setir dengan erat, rahangnya mengeras. Ia melirik Amanda yang masih merajuk dengan wajah cemberut di sampingnya. "Baiklah," ucap Kevin akhirnya dengan nada yang sedikit kesal. "Kita ke rumah sakit." Amanda menahan senyum kemenangannya. Ia ingin melihat sendiri bagaimana reaksi teman-teman Kevin ketika ia datang bersama suaminya untuk cek kehamilan. Ia penasaran, apakah mereka akan terkejut? Atau justru bingung karena selama ini mereka mengira Cecilia-lah istri Kevin? Perjalanan menuju rumah sakit ditempuh dalam keheningan. Kevin sesekali menggerutu pelan, tangannya tidak lepas dari setir. Amanda bisa merasakan jika pria itu jelas tidak nyaman dengan keputusan ini. "Kenapa sih kamu maksa banget harus di rumah sakit?" tanya Kevin sambil tetap fokus ke jalan. "Di klinik tadi juga bisa. Lebih cepat malah, nggak perlu antri." "Aku lebih percaya sama dokter di rumah sakit, Vin," jawab Amanda dengan nada polos. "Lagipula, kalau kita ke sana, 'kan bisa dapat prioritas. Kamu 'kan dokter di sana." "Manda," panggil Kevin setelah beberapa menit berkendara. "Hm?" Amanda menoleh. "Nanti kalau kita sampai di rumah sakit," Kevin mulai dengan hati-hati, "kalau ketemu teman-temanku, kamu ... kamu jangan terlalu banyak bicara, ya." Amanda menaikkan alisnya. "Maksudnya?" "Ya ... bilang aja kita cuma cek rutin. Jangan bilang-bilang kalau kamu hamil atau apa. Nanti kalau ternyata nggak hamil, 'kan malu," jelas Kevin dengan alasan yang terdengar dipaksakan. "Oh," gumam Amanda sambil mengangguk-angguk. Tapi dalam hatinya ia tersenyum lebar, sekarang Kevin benar-benar ketakutan. "Dan satu lagi," Kevin melanjutkan sambil tetap fokus ke jalan. "Kamu ... kamu nggak usah perkenalkan diri sebagai istriku ke semua orang. Cukup ke dokter yang periksa aja." "Lho, kenapa?" tanya Amanda dengan pura-pura bingung. "Memangnya kenapa kalau aku bilang aku istrimu? Emang iya 'kan?" Kevin menelan ludah. "Iya, tapi ... 'kan nggak perlu semua orang tahu. Privasi, Manda. Kita harus bisa jaga privasi." "Privasi?" ulang Amanda sambil menatap Kevin dengan tatapan menyelidik. "Atau kamu malu punya istri seperti aku?" "Bukan gitu—" "Terus kenapa?" desak Amanda. "Kenapa aku nggak boleh bilang kalau aku istrimu? Memangnya ada yang salah? Atau jangan-jangan ... kamu sudah pernah perkenalkan orang lain sebagai istrimu?" 'Skak mat!' batin Amanda. Kevin tersentak kaget dan bingung harus menjawab apa. Wajahnya memucat seketika. "Nggak! Nggak ada yang seperti itu. Kamu kenapa sih, Man? Kok jadi curigaan gini?" Amanda hanya diam dan tidak menjawab. Ia hanya menatap Kevin dengan pandangan yang sulit diartikan. Kemudian ia berbalik lagi menatap keluar jendela, membiarkan Kevin tenggelam dalam kegelisahannya sendiri. Akhirnya mau tak mau, Kevin menurutinya. Ia mengubah arah kemudi, memutar balik menuju rumah sakit tempat ia bekerja. Setiap meter yang mereka tempuh membuat jantung Kevin berdebar semakin kencang. Ia tahu ini adalah ide yang sangat buruk. Tapi ia tidak punya pilihan lain selain menuruti apa kemauan Amanda. Amanda di sisi lain, duduk dengan tenang sambil merencanakan langkah selanjutnya dalam benaknya. Ia akan memastikan semua orang di rumah sakit itu tahu siapa dirinya. Ia akan membuat Kevin tidak bisa lari lagi dari kenyataan. Dan yang paling penting, ia akan mengumpulkan lebih banyak bukti tentang kebohongan suaminya. "Tinggal tunggu waktu saja," bisik Amanda pelan pada diri sendiri, terlalu pelan untuk didengar Kevin. "Tinggal tunggu waktu sampai semua kartu di tanganku lengkap. Lalu aku akan menghancurkan kalian berdua." Setelah hampir tiga puluh menit berkendara, mereka akhirnya tiba di rumah sakit tempat Kevin bekerja. Gedung megah berwarna putih dengan logo besar di depannya. Kevin memarkir mobilnya di area khusus staf. Ia keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk Amanda. Tapi ekspresi wajahnya tidak se-gentle gerakan tangannya. "Ayo," ucap Kevin singkat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN