"Ayo," ucap Kevin singkat.
Amanda mengangguk, tak ingin membuat Kevin semakin curiga. Ia keluar dari mobil dengan hati-hati dan menutup pintu pelan. Kevin sudah berjalan beberapa langkah di depan, langkahnya cepat seolah ingin segera menyelesaikan semua ini.
"Kevin!" panggil Amanda yang merasa tertinggal. Ia mempercepat langkahnya untuk menyusul suaminya.
Tepat saat Amanda berada di tengah area parkir, sebuah mobil sedan hitam tiba-tiba melaju kencang dari arah samping. Waktu seolah berjalan lambat. Amanda sempat menoleh, matanya membulat melihat mobil itu mengarah padanya.
BRAK!
Benturan keras menghantam tubuh Amanda. Tubuhnya terlempar beberapa meter dan jatuh tersungkur dengan keras. Mobil sedan itu sama sekali tidak berhenti, langsung tancap gas dan melaju pergi meninggalkan tempat kejadian.
"AMANDA!"
Kevin menoleh panik saat mendengar suara benturan keras. Matanya membulat melihat tubuh Amanda tergeletak tak bergerak di aspal. Darah mulai menggenang di bawah kepalanya.
"Amanda!" Kevin berlari tergopoh-gopoh menghampiri istrinya. Tangannya gemetar saat menyentuh tubuh Amanda yang lemas. "Manda! Manda, bangun! Tolong!"
"Tolong! Ada kecelakaan!" teriaknya dengan panik sambil menoleh ke segala arah. "Tolong panggil tim medis! Cepat!"
Beberapa petugas keamanan dan perawat yang kebetulan berada di luar gedung langsung berlari mendekat. Salah satu security langsung mengeluarkan radio komunikasinya.
"Kode merah! Butuh brankar dan tim medis di area parkir staf! Sekarang!"
Kevin mengangkat tubuh Amanda dengan hati-hati, tangannya bergetar hebat. Wajah Amanda pucat pasi, darah mengalir dari pelipis dan sudut bibirnya. "Bertahanlah, Manda. Bertahanlah. Jangan tinggalkan aku," bisiknya dengan suara bergetar.
"Dokter, jangan diangkat dulu!" seru salah satu perawat yang mendekat. "Kita tidak tahu seberapa parah lukanya. Tulang belakang bisa—"
"Aku tahu!" bentak Kevin dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Tapi tangannya tetap tidak mau melepaskan Amanda. "Aku tahu ... tapi aku tidak bisa ... aku tidak bisa membiarkannya di sini seperti ini."
Dalam hitungan menit, tim medis datang membawa brankar dan peralatan pertolongan pertama. Mereka dengan cekatan memindahkan tubuh Amanda ke atas brankar sambil memeriksa tanda-tanda vitalnya.
"Denyut nadi lemah! Tekanan darah turun! Kemungkinan perdarahan internal!" lapor salah satu perawat.
"Bawa ke UGD sekarang! Hubungi dokter Anwar, kita butuh CT scan dan persiapan untuk operasi darurat!" titah Kevin yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun.
Kevin mengikuti brankar dengan langkah cepat. Wajahnya pucat, tangannya masih gemetar. Darah Amanda membekas di kemejanya.
Saat mereka melewati pintu masuk rumah sakit, beberapa rekan kerja Kevin yang melihat kejadian itu terkejut. Bisikan mulai terdengar di antara mereka.
"Itu Kevin ... ada apa?"
"Wanita itu siapa? Istrinya?"
"Bukannya istri Kevin namanya Cecilia?"
"Tapi aku dengar dia manggil namanya Amanda."
Kevin tidak peduli dengan semua bisikan itu sekarang. Yang ada di benaknya hanya Amanda harus selamat saat ini. Istrinya harus selamat.
Di dalam ruang UGD, para dokter dan perawat bergerak cepat. Kevin dipaksa menunggu di luar, tapi ia tetap menerobos masuk.
"Dokter Kevin, kami akan—"
"Aku juga dokter di sini, dan aku akan menungguinya!" potong Kevin cepat saat dokter Anwar memintanya menunggu di luar.
"Ini salahku," gumamnya pelan. "Ini semua salahku. Kalau saja aku tidak membawanya ke sini."
Seorang perawat mendekat. "Dokter Kevin, kami butuh informasi pasien. Siapa nama lengkapnya?"
Kevin menyadari jika hal itu memang sudah menjadi prosedur rumah sakit. Ia memang cemas dengan keadaan Amanda, tapi apa yang dokter Anwar katakan benar, Kevin juga harus mengisi data-data administrasi pasien—tentunya.
"Dokter Kevin ...," panggil suster itu lagi.
"Amanda ... Amanda Amareta," jawab Kevin dengan suara serak.
"Hubungan dengan pasien?"
Kevin terdiam sejenak, tenggorokannya tercekat. "Adik. Dia ... dia adalah adikku."
Perawat itu mengangguk dan mencatat. Tapi Kevin bisa melihat sedikit kebingungan di wajahnya, ia tidak mungkin mengatakan jika Amanda adalah istrinya, karena yang orang-orang tahu, Cecilia lah istrinya.
"Apa pasien sedang dalam kondisi khusus? Hamil, misalnya?"
Pertanyaan itu seperti pukulan telak bagi Kevin. Mata Amanda yang berkaca-kaca di mobil tadi terbayang di benaknya. Kata-kata Amanda yang penuh harap tentang anak pertama mereka.
"Mungkin," jawab Kevin dengan suara hampir berbisik. "Dia ... dia baru saja bilang kemungkinan hamil. Dan dia minta diantarkan untuk cek hari ini."
Perawat itu mengangguk paham dan segera masuk kembali ke ruang UGD untuk memberikan informasi penting itu kepada tim medis.
Kevin kembali terduduk sendirian di kursi depan ruang operasi. Tangannya mengepal erat, rahangnya mengeras. Di benaknya berputar pertanyaan. Siapa yang mengendarai mobil itu? Kenapa mobilnya melaju sekencang itu di area parkir rumah sakit? Apakah ini kecelakaan murni, atau ....
Tidak, ini tidak mungkin. Pikiran itu terlalu mengerikan untuk dipertimbangkan. Namun entah kenapa, wajah Cecilia tiba-tiba muncul di benaknya.
"Nggak," gumam Kevin sambil menggelengkan kepala kuat-kuat. "Cecilia nggak mungkin sejahat itu. Nggak mungkin kalau itu Cecil."
Pintu UGD terbuka. Dokter Anwar keluar dengan wajah serius. Kevin langsung berdiri.
"Bagaimana?" tanya Kevin dengan napas tertahan.
"Kami sudah menstabilkan kondisinya," jawab dokter Anwar. "Tapi dia mengalami trauma kepala cukup serius dan beberapa tulang rusuk patah. Kami perlu melakukan CT scan untuk memastikan tidak ada perdarahan di otak. Dan Kevin ...."
"Apa dia hamil?"
Dokter Anwar menatap Kevin dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kita belum bisa memastikan. Dengan benturan sekeras itu."
Kevin terasa kakinya lemas. Karena keegoisannya yang tidak mau membawa Amanda langsung ke rumah sakit sejak tadi, karena kebimbangan dan ketakutan akan terbongkarnya kebohongan di hadapan rekan-rekannya, nyawa istri kini dalam bahaya.
"Aku ingin melihatnya," ucap Kevin dengan suara parau.
"Sebentar lagi dia akan dipindahkan untuk CT scan. Setelah itu kamu bisa—"
"Sekarang," potong Kevin. "Aku ingin melihatnya sekarang."
Dokter Anwar mengangguk paham dan membukakan pintu untuk Kevin.
Di ranjang rumah sakit, Amanda terbaring dengan selang oksigen terpasang di hidungnya. Wajahnya penuh luka memar, perban membalut kepalanya. Monitor di sampingnya berbunyi teratur tapi lemah.
Kevin mendekat perlahan. Tangannya terulur memegang tangan Amanda yang dingin. Air mata yang sudah ia tahan sejak tadi akhirnya jatuh.
"Maafkan aku, Manda," bisiknya dengan suara bergetar. "Maafkan aku untuk semuanya. Untuk semua kebohonganku, untuk semua pengkhianatanku, untuk semua yang sudah aku lakukan ke kamu. Kumohon ... kumohon bertahanlah. Jangan tinggalkan aku. Kita akan memulai lagi dari awal. Aku berjanji akan mengubah semuanya. Aku berjanji, Sayang."
Tapi Amanda tetap tidak bergerak. Hanya suara monitor yang terus berbunyi, menandakan kehidupan yang masih berjuang bertahan di dalam tubuh lemah itu.
Di luar jendela, tanpa Kevin sadari, sebuah mobil sedan hitam terparkir di ujung area parkir. Di balik kaca gelap itu, sepasang mata menatap tajam ke arah gedung rumah sakit.
Sebuah senyum tipis terukir di bibir orang itu.
"Pertama kali memang tidak berhasil sepenuhnya," gumam suara itu pelan. "Tapi, aku akan memastikanmu mati nanti."