Jemari tangan Laras terasa remuk. Sakit sekali. Sementara genggaman Ryan belum ada tanda-tanda akan dilepaskan. Mukanya merah padam, sedangkan giginya gemeretak menatap Tara. “Kamu ini kenapa Ryan?” Tanyanya, merasa aneh dengan sikap Ryan yang terlihat emosi ketika menatap wanita cantik seksi dengan busana kantor nan elegan, yang dipanggil Tara oleh Deril itu, seperti melihat musuh saja. “Lepaskan! Tanganku sakit,” kata Laras. “Oh.. Ma.. Maaf.. Aku tidak tahu,” ucap Ryan gugup lalu segera meraih tangan Laras kemerahan. Ryan meniup-niupnya dengan rasa bersalah. Seperti yang lain, untuk sesaat Tara pun turut memperhatikan keributan mereka berdua dengan tatapan antara dingin

