Gelagat Bang Jamil memang mencurigakan, bahkan kini nomor telpon kami pun diblokirnya.
Kurang asem memang tu orang, dikasih hati minta ampela plus usus dan parunya.
Hm, belum tau dia siapa Sum di masa lalu.
Dia benar-benar membangunkan macan yang tengah tidur.
"Sudah jangan macam-macam, mungkin itu teguran Allah agar kita lebih dekat dan lebih rajin ibadah," ujar mas Kunto, saat melihat rahangku sering memgeras dan aku juga tak sadar sering mengepalkan tangan jika nama bang Jamil tak sengaja kuingat.
Sepertinya suamiku paham, jika amarahku mulai kambuh dan telapak tanganku yang mulai gatal pengen nabok orang kurang ajar dan tak tau berterima kasih seperti bang Jamil dan Leni CS.
"Iya iya enggak," kilahku, buru-buru memperbaiki sikap.
Waduh, bahaya kalau Mas Kunto tau aku lagi ngincer di mana Bang Jamil berada.
"Mas, aku kerja dulu, ya, kalau aku pulang agak sore, Mas tinggal masak mie instan saja dulu, nasi ada di penanak nasi, Dika dan Diki sudah makan nasi goreng, biasanya mereka minta makan lagi nanti setelah duhur," ucapku pamit dan mencium tangannya.
"Iya Sum, mas juga paling sampe jam sepuluh saja, kan ini hari jumat," jawab suamiku.
"Yo wiss aku kerja dulu, doakan biar kembali dengan membawa rejeki banyak dan halal,"
Mas Kunto mengangguk, tak lupa tersenyum, "Ingat jangan macam-macam, beres kerja langsung pulang," pesannya, aku nyengir.
Sepertinya dia sangat khawatir kalau aku melakukan hal hal aneh, setelah yakin bang Jamil menipu kami.
Ealah mas, kalau orang kayak bang Jamil botak itu dibiarkan saja abislah orang miskin kayak kita ditindasnya.
Jalan satu-satunya ya aku harus nyari cara agar bisa bikin dia kapok.
Harus, Mas, harus!
.
.
.
"Sum, kamu antarkan makanan ini ke toko ya, sekalian pulang," kata bu Shadikoh padaku, setelah beberapa rantang nasi beres kuisi.
"Sudah ini bu, pekerjaan saya?" tanyaku ragu-ragu, jam baru menunjukan pukul sembilan lewat tiga puluh menitan.
Wanita bergamis hitam itu mengangguk,
"Antar saja ke semua toko elektronik milik saya, semuanya ada lima, ini alamatnya, Sum," bu Shadikoh memberikan secarik kertas yang sudah ditulisi alamat lengkap.
Aku tersenyum senang.
Alhamdulillah, ada aja jalannya, terima kasih ya Allah.
Hari ini ada kesempatan untuk nyari jejak si Gundul Jamil, batinku.
.
.
Aku tiba di depan sebuah toko yang namanya sesuai dengan yang tertera di alamat yang diberikan bu Shadikoh padaku.
"Assalamualaikum, permisi saya nganterin rantang makan siang hari ini," ucapku.
"Wah, cepet amat mba, ini kan masih pagi," ujar seorang karyawan.
"Iya, saya masaknya cepat,"jawabku.
"Hebat si mbaknya, eh masuk dulu mba, noh kita lagi makan rujak, mbanya mau enggak?" tawar karyawan laki-laki usianya kutaksir baru dua puluh tahunan.
"Iya mba, masuk dulu, sekalian kita kenalan," kini seorang karyawan perempuan ikut berkomentar.
Mereka menarik tanganku
Ya Allah, ternyata anak muda ini ramah-ramah, padahal kami baru bertemu kali ini, alhasil agar tak mengecewakan aku manut pada mereka.
Walau pun kurang suka makan rujak, akan tetapi demi menghormati mereka aku pun mencicipinya.
Kami pun ngobrol, sambil nunggu pelanggan, pelayan di sana bergantian menjaga toko, total karyadi toko ini ada lima, dua perempuan dan tiga laki-laki.
Sedang asik ngobrol tiba-tiba ada dua orang pelanggan yang datang ke toko ini, sepertinya mereka pasangan kekasih, pria yang berjaket, bertopi dan berkaca mata hitam itu nampak menggandeng pinggang si wanita dengan mesranya.
"Mba, coba saya minta gambar televisi terbaru, yang paling mahal," ujar si Pria, sesekali dia mencubit hidung perempuan berambut pirang yang digandengnya.
Tunggu, sepertinya aku kenal suaranya.
"Yang paling mahal juga boleh deh, buat calon istri saya soalnya," ucapnya, lagi.
Gak salah lagi ini suara si biang kerok yang tengah kucari.
Aku menyeringai, tapi siapa perempuan yang digandengnya itu? Bukankah dia bilang pada mas Kunto kalau istrinya mau operasi kanker? Dan dia memanggil wanita ganjen bergincu tebal ini calon istrinya.
Aih, kutu kupret juga si botak ini!
Aku merundukan kepala, agar bang Jamil tak melihatku.
"Dek, boleh Saya minta tolong fotoin orang yang pake kaca mata hitam itu pake hapenya adek, soalnya saya tak bawa hape." Kataku berbisik, dengan ragu-ragu.
"Memangnya siapa dia Kak?"
"Dia tetangga saya, bininya lagi sakit, kasian, dia malah asik jalan ama perempuan lain," jelasku.
"Wah, kurang ajar tu mba, boleh boleh, mba disini aja, saya ambil deh potonya sekarang," jawab si Gadis, lalu dia pun memgambil poto bang jamil beberapa kali jepretan.
Setelah itu memperlihatkannya padaku.
"Nih mba, cakep kan potonya?"
"Iya, bagus dek, tapi bagaimana ya, saya ga bawa hape, terus gimana cara ambil potonya?" Kataku bingung.
"Itu mah kecil mba, tunggu sebentar ya, saya cuci dulu potonya di toko sebelah, mba tunggu di sini aja," tanpa bicara lagi, gadis itu segera berlalu cepat.
Bang Jamil pun kembali memilih beberapa televisi di toko ini, dia tak sadar kalau aku memperhatikan tingkahnya.
Lalu keduanya pun mulai bertransaksi, kudengar si wanita menor itu bicara,
"Bang, boleh minta beli sofa ya," Suaranya terdengar dimanja-manjakan.
"Ya boleh lah, apa sih yang tak boleh untuk kesayangan abang ini," Bang Jamil menjawil hidung oplas yang bentuknya menurutku agak aneh.
Si Cewek pun mengangguk senang.
Hm, enak tenan sampeyan, Bang, kami kelimpungan sedangkan kamu foya-foya dengan perempuan.
Tunggu saja pembalasanku nanti, geramku.
Ponsel Bang Jamil berdering, dia pergi ke sisi kiri toko untuk menerima telpon, aku mengikutinya, tentu tanpa sepengetahuannya.
Kudengar mereka akan kumpul di sebuah lapak judi, aku kenal benar tempat itu, tak jauh dari terminal di mana aku pernah jadi juru parkir di sana.
Oke, cari mati kau, Bang!
Geramku.
Bang Jamil dan pasangan genitnya itu pun pergi, setelah membayar televisi yang mereka pilih, sebuah televisi dengan ukuran besar, model terbaru yang harganya setara dengan penghasilan kami selama lima bulan, sepertinya mereka pindah ke toko furnitur di sebrang sana.
Makin yakinlah aku untuk memberinya pelajaran, dan kali ini jangan panggil aku Sum, kalau tidak membuatnya berlutut di kakiku untuk minta ampun.
Maafkan aku, Mas, sepertinya kali ini aku tidak menurut pada nasehatmu.
.
.
Tak berapa lama gadis itu kembali dengan sebuah amplop coklat dan menyerahkannya padaku.
"Ni mba, rebes eh beres pokoknya, aku dukung deh kalau urusannya dengan pelakor-pelakoran kayak gini," ujarnya semangat.
"Wah terima kasih dek, terus saya harus bayar berapa?"
"Gak usah mba, cuman ceban doang kok, anggap saja ini dukungan untuk bininya lelaki botak tadi," gadis itu mengedipkan matanya, aku berterima kasih sekali padanya.
Segera kubereskan kiriman rantang, ke toko-toko milik bu Shadikoh yang lain, setelah itu dengan melenggang aku menuju tempat di mana kudengar tadi Bang Jamil bicara lewat ponselnya.
Jalan itu benar-benar datang dengan sendirinya. Allah mungkin meridhoi langkahku ini.
Bismillah!
.
.
Dukung mba Sum, dengan love nya ya, salam sayang dari
Mba Sum