Siapa Suruh Cari Gara-gara

1124 Kata
Sekian menit, tibalah aku di tempat judi yang dimaksud. Disini rupanya dia menghabiskan uang hasil dari menipu keluargaku. Orang lain bersiap-siap sholat jumat, dia malah asik main judi, dasar kuman neraka! "Wah, Sum, ono opo sampeyan datang lagi ke mari?" Kulihat Mas Gino, salah seorang preman penjaga lapak judi milik bang Tagor pria asal Medan menyambutku ramah, tapi dia tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya, melihat penampilanku yang lebih tertutup. "Wah, Kamu cantik Sum, pake kerudung gitu, manglingi," katanya. Aku tertawa. "Aku lagi cari Orang, mas, katanya sering main di sini," jawabku. "Siapa namanya? Kalau sering mas pasti kenal," "Namanya Jamil, orangnya botak, nih potonya," kutunjukan poto Bang Jamil pada mas Jono. "Wah iya, ini sih bang Jamil, sering main di sini, hobi minum pula nih orang, saudara kamu, Sum?" "Wah, bukan mas, dia nipu suamiku, makanya aku cari di ke sini, mau aku congkel matanya," kataku. "Waduh!" Ayahab urusannya kalau main congkel mencongkel mata, ngeri!" Mas Gino ngomong sendiri. "Ayo mas anter aku masuk!" ajakku. "Tapi janji yo, Sum, ojo macem-macem, apalagi congkel mata orang, Ayahab, bisa-bisa kamu dipenjara nanti," ucap Mas Gino cemas. Penjara? Mas, mas! Dulu aku berpikir kalau Penjara itu bagiku justru tempat istirahat, karena di sana mahluk seperti aku bisa makan tanpa bekerja. Aku masih ingat, saat masih gadis aku pernah dua kali masuk penjara, bukan karena berbuat jahat, tapi karna aku ngehajar orang yang nyopet mak Surti, tukang nasi uduk keliling. Ah, kenapa harus kuingat lagi masa-masa buruk itu! "Ya, Sum, ingat jangan macam-macam, kita preman yang cinta damai, apalagi pake acara congkel mata segala, kasian, bisa buta si Jamil nanti," kata Mas Gino, mengingatkanku lagi. "Ya enggak lah mas, masa aku congkel mata sih," aku terkekeh geli. "Mas takut Sum, peyan orangnya nekad, ngeri!" Dia bergidik. "Nyongkel mata sih enggak mas, paling aku cubit ginjal si Jamil pelan-pelan," kataku sambil ngakak. "Oalah, Sum, Sum, ono ono ae peyan iki! Astagfirullah!!!" Mas Gino istighfar. Dengan membusungkan d**a ala preman aku berjalan menuju ruangan di mana Bang Jamil berada. Mas Gino ngakak melihat gayaku. Sesampainya di dalam, Mas Gino berteriak. "Mana orang yang bernama Jamil, nih dicari mantan preman pasar induk tahun sembilan puluhan?" Semua orang menatap mas Gino. Awalnya tak ada yang menjawab, kembali sibuk dengan permainanannya. "Hayo ngaku, mana Si Jamil yang sudah nipu keluarga mas Kunto, nih mau dicongkel matanya," mas Gino greget juga rupanya karena mereka acuh Kini semuanya memperhatikan pria berpakaian preman itu. Tak berapa lama. "Gue Jamil, siapa yang berani-berani nyari gue? Preman mana yang berani nyebut nama Gue, apalagi baru preman tahun jebot yang pasti udah sering encok, sini dah bakal gue jabanin!" Bang Jamil berdiri. Mas Gino ngasih kode agar aku maju. Lalu dengan membusungkan d**a aku pun maju ke depan para pria tengah asik main judi tersebut. "Kamu, Sum? Haha ...!" Bang Jamil tergelak hebat, dia nunjuk mukaku. "Sum, sum, ngapain kamu ke sini, kalau butuh botol bekas anggur bilang aja, nanti abang bawain ke rumah kamu," ucapnya mengejek. Pria yang ada di tempat itu juga sama, mereka ikut tertawa. Lalu, Ciaaattt! Tanpa berkata lagi kulayangkan tendangan mengarah ke d**a Bang Jamil. Buk! Tendangan itu telak mengenai dadanya yang gempal. "s****n kau!" Teriaknya. Pria itu terhuyung. Mampus kau! rutukku perlahan, aku menyeringai tajam ke arahnya. Kini dia tak lagi becanda, bang Jamil bersiap memasang kuda-kuda untuk menghadapiku. Aku tak gentar, sepuluh jawara saja bisa kuhadapi dengan tangan kosong, apalagi cuman buntelan kentut macem gini. "Maju sini penipu kampungan, jangan pikir karena aku perempuan lalu diam saja saat kau ambil hak dan rejeki kami seenaknya, kenalin aku Sum, tak akan mundur selangkah pun demi mengambil hak yang sudah kau rampas," ucapku keras. Semua memandangku. "Kalian jadi saksinya, siapa saja yang berani-beraninya mempermainkan kaum jelata di wilayah ini, nih, hadapi dulu aku!" Kutepuk dadaku berulang-ulang. "Siapa dia?" Kudengar para pria itu bertanya. "Katanya mantan preman, tapi gak tau juga siapa, wong pake kerudung gitu jadi mukanya kurang jelas," jawab yang lain. "Walah, itu kan si Sum, jagoan pasar induk dulu, waduh bahaya ini," ujar yang lain. "Bukannya dia sudah tobat, kan tu cewek gue denger udeh punya laki baek-baek, ngape pake dateng lagi di mari?" "Lah, ntu lu denger sendiri, dia nyari orang yang nipu lakinye, kali ntu si Jamil orangnye, dia kan emang b******k," "Nyari mati si Jamil, bakal panjang ini urusan," tukas yang lain. Suasana makin gaduh. "Mana duit kami, b******k? Tega kamu nipu keluargaku, dasar tidak punya hati, udah tau kami lagi butuh duit malah kamu tipu, rasakan sekarang pembalasanku, jahana* kepara*!" Teriakku dengan keras. Lalu dengan sekejap mata kutangkap lengan Bang Jamil yang nampak kaget dengan gerakan cepatku, Hup, kriek! Kutarik tangan Bang Jamil hingga terdengar bunyi krieeek, tanda tangannya patah, kupelintir ke belakang, dia menjerit kesakitan, Tak puas dengan itu, kulilitkan tangan kananku ke lehernya, pria tambun itu kesulitan bernafas. "Aduh! Kurang asem, kamu, Sum, berani-beraninya kamu matahin tangan saya," teriaknya. "Baru tangannya aku patahin bang, nih aku sudah bawa golok buat motong leher abang, biar kapok nipu orang, biar mikir kalau mau makan duit haram, pake ngaku-ngaku bini oprasi kanker lagi ke mas Kunto, dasar kutu kupret kau, Bang!" Kataku geram, lalu menekan tanganku di lehernya. "Ampun Sum, ampun, abang ngaku salah, abang minta maaf Sum," pria botak itu meringis, aku tak peduli. "Alah, orang kayak abang mana mau insyaf, paling ini akal-akalan saja, aku sudah paham, Bang," jawabku. "Sum, jangan ditekan kencang kencang, bisa mati si Jamil nanti," kata Mas Gino. "Lah itu tujuan saya, Mas, biar mati ni orang, aman dunia mas, mahluk jahat kayak dia harus dimusnahin satu-satu," jawabku Sengaja agar bang Jamil mendengarnya. Pria itu gemetaran, wajahnya pucat pasi, keringat dingin bercucuran. Orang-orang hanya melihat pemandangan itu dengan takjub. "Sum, ampuni abang Sum, abang bayar deh uang suamimu, tapi lepasin abang dulu ya, Sum, plis!" Rengek Bang Jamil. "Mana duitnya?" Gertakku. "Ada di saku abang Sum, lebih itu, tapi abang ihklas, asal abang tidak kamu bunuh saja," lanjutnya merengek. Menjijikan sekali tingkahnya. Aku tak perduli, setelah uang kuambil, justru tekanan di leher makin kukencangkan. "Ampun, Sum ... ampun!" Bang Jamil terengah-engah, sengaja kupermainkan. Segera uang itu kumasukan ke saku gamis. Pria itu mulai menangis, mungkin ingat pada dosanya. Tapi aku tak yakin, orang seperti dia teringat akan dosa-dosanya. Orang-orang mulai panik, sedangkan aku asik menekan-nekan leher bang Jamil, sambil terkekeh geli melihat penipu itu pucat pasi dan berkeringat. "Gino, kenapa kamu diam saja, panggil si Kunto, katakan pada dia kalau bininya ngamuk di lapak judiku," teriak seseorang. Aku tau itu bang Tagor. Waduh! Bahaya urusannya kalau ada mas Kunto! Baru saja aku berpikir demikian, tiba-tiba saja, "Lepasin dia Sum," suara pria itu terdengar dari belakangku. Ya Allah, mati aku! Bersambung Yang blom subscribe silahkan klik kolom subscribe dulu ya, jangan lupa ikut komen dan kasih lovenya biar mba Sum lebih semangat lagi ?????
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN