Bismillah, mudah-mudahan moms semuanya diberikan kemudahan rejeki untuk membuka koin ya.
.
.
.
Aku kaget bukan alang kepalang, ketika melihat sosok yang mengenakan baju koko, sarungan, dan berpeci hitam, berdiri tegak di belakangku.
Wiss mati aku saiki, Rek!
"Eh, mas Kunto, udah pulang sholat jum'at, Mas?" tanyaku, malu-malu.
"Lagi ngapain di sini? Itu bang Jamil lepasin dulu, kesian enggak bisa napas," ujarnya, kalem.
"Iyo yo, mas, lali aku!" Sebelum kulepaskan kutekan leher itu sekali lagi, lalu ku hempaskan tubuh gempal itu kan lantai dengan keras.
Bang Jamil menjerit.
"Aduuuuuu ....h!" Teriaknya dengan suara yang sangat kencang, Mas Kunto melirikku.
"Sum," katanya, pelan.
Aku mendelik pada bang Jamil.
"Ya ampun enggak sengaja bang, maaf!"ujarku mendekat kembali pada bang Jamil, tapi pria menjengkelkan itu buru-buru menjauhiku.
Wajahnya sangat ketakutan, aku tertawa kecil.
Hadirin bertepuk tangan, aku membungkukkan badan layaknya artis yang selesai konser.
Tak lupa kupamerkan senyum manis pada semua orang kecuali bang Jamil.
"Hebat, Sum, hebat!" Teriak salah seorang pengunjung.
"Wah keren, ni baru cewek mantap," kata yang lain.
"Terima kasih," jawabku, sambil terus tersenyum.
"Sum!"
"Iya, mas, iya," kataku sambil kembali melambaikan tangan.
"Ayo pulang," kata Mas Kunto, dia menarik tanganku.
"Sum, nanti kapan-kapan main lagi ke mari ya, kita ngopi, ngobrol bareng di sini, pokoknya kamu hebat!" ujar seorang pria, aku mengangguk, senang.
"Pulang!" Mas Kunto kembali menarik tanganku, kulambaikan tangan pada semuanya.
"Pulang dulu ya, gayess!" Teriakku.
Mereka membalas lambaian tanganku dengan riuh.
Mas Kunto buru meraih tanganku yang tengah melambai pada orang-orang itu,
"Sudah-sudah, koyo artis saja lagamu itu, Sum," ujarnya.
"Lah mereka melambaikan tangannya mas, yo aku balas," jawabku.
"Alah bisa aja kamu,"
"Cie, cemburu ya?" tanyaku.
"Mbuh lah," jawabnya ketus, aku ngikik sendiri.
Mas Kunto melepaskan pegangan tangannya, kami berjalan beriringan.
Aku mendahuluinya dengan melangkah tegap, membusungkan d**a, bergaya ala-ala jawara yang siap beraksi, Mas Kunto buru-buru mengejar dan menepuk bokongku.
"Hush, biasa aja jalannya, cewek jalan jangan begitu, gak sopan, berjalanlah layaknya perempuan biasa, anggun, manis," tukasnya.
"Hehe ... oke bosku," aku terkekeh geli, menjawil dagu suamiku.
Dia kembali meraih pergelangan tanganku untuk berjalan di sisinya.
Haish!
Tapi aku puas sekarang, kuraba saku gamis, di mana di sana ada uang yang tadi kuambil dari bang Jamil
"Aman!"
.
.
Sesampainya di rumah, Mas Kuntoku ceramah dengan rumus kubus, alias panjang kali lebar kali tinggi, aku hanya menganggukan kepala saja.
"Nanti jangan begitu, Sum, ndak baik, kamu lupa janjimu sama aku dulu?" Matanya mengarah ke wajahku.
"Yo ndak, mas, moso aku lali karo janji, kan dosa itu," jawabku.
"Lah itu tau?"
"Iyo, tapi aku gemes, kesel karo bang Jamil, enak aja dia nipu kita, dia foya-foya di luar sana, sedangkan kita di sini kelimpungan, bingung cari duit kemana lagi," tukasku.
"Iya, tapi mas ndak suka kamu begitu, biar Allah saja yang balas perlakuan jahat bang Jamil,"
"Iya, sih, tapi nunggu balasan dari Allah lama, Mas, aku kesel yo wiss aku samperin aja, alhamdulillah kan bisa kembali duit kita," kusodorkan uang itu pada mas Kunto.
"Lah lebih ini, Sum,"
"Ra popo mas, pake aja, katanya bang Jamil ikhlas,"
"Kapan dia ngomong ikhlasnya?"
"Yo pas aku cekik lehernya,"
"Astagfirullah, Sum ... Sum, ndak boleh itu, ini bukan hak kita, yo wiss nanti mas kembalikan sama dia,"
"Ra usah dibalikin mas, ben kapok," aku cemberut.
"Sum!"
"Iya iya balikin," tukasku cepat. Bibirku manyun.
"Itu bukan hak kita, dosa kalau kita ambil semuanya, mas sudah ikhlas, Allah tidak tidur, Sum, dia maha melihat bahkan apa yang ada di dalam pikiran dan hati kita,"
"Iya mas, balikin aja, tadi enggak sempet hitung lebihnya," Tukasku kesal.
"Sini, percaya saja sama Allah, Dia akan mengganti kerugian kita dengan yang lebih banyak,lebih halal dari ini," mas Kunto meraih tubuhku, memelukku dengan erat, mengusap kepalaku dengan tangannya.
Aku mengangguk.
"Jangan begitu lagi ya, Sum,"
"Iya, Mas,"
"Kamu tau kan kenapa mas larang kamu kembali terjun ke dunia penuh k*******n itu?" tanyanya pelan di telingaku.
Aku mengangguk.
Tragedi beberapa tahun silam membayang kembali di benakku.
Aku mengeratkan pelukan pada mas Kunto.
"Tolong, patuh lah sama suamimu ini, mas mohon, Sum," mata pria itu berkaca.
"Iya, mas maafin aku ya,"
"Mas ndak mau kehilangan kamu lagi, kamu separuh jiwaku, Sum, dan mas harap kamu tau bagaimana sakitnya saat separuh jiwa kita pergi? Sakit Sum, sakit sekali rasanya!" tandasnya dengan suara parau.
Kini aku yang memeluk tubuhnya erat.
"Maafin aku mas, aku janji!" ucapku dengan lelehan air mata.
Duhai alam, bantu aku untuk tidak kembali melanggar janji ini, aku tau sekarang kenapa dia begitu takut saat kusebut dunia keras itu lagi.
Kau pun, Mas, kau juga separuh jiwaku, aku pun merasakan hal yang sama saat kau jauh dan tak bisa kudekap lagi.
Ya Allah, tetap jadikan kami seperti ini, selamanya.
.
.
.
Suatu pagi kami menerima telpon dari seorang kerabat yang mengabarkan jika ibu sakit keras.
Tentu saja aku dan mas Kunto cemas, akhirnya kami putuskan untuk pulang guna menengok ibu.
Mas Kunto nampak bingung, ongkos ke Jawa tentu tak sedikit, ditambah kami pun harus membawa anak-anak ikut serta.
Sedangkan uang yang ada sudah kami gunakan untuk keperluan Deni daftar sekolah.
Raut mas Kunto benar-benar kusut, aku tak tega melihatnya.
"Kalau gitu, mas saja yang pulang, biar aku dan anak-anak tetap di sini," saranku padanya.
"Tapi ibu kepengen ketemu kamu, juga anak-anak, mas takut ini permintaan ibu yang terakhir, kalau tidak dikabulkan, mas akan merasa bersalah sekali pada ibu, Sum," jawabnya.
Tak kupungkiri, aku pun ingin bertemu ibu, begitu juga dengan anak-anak kami.
"Apa Leni sudah berangkat ke sana?" tanyaku.
"Sudah Sum, kata pak Le Warjo Leni sudah dua hari ada di sana,"
"Lah kenapa dia gak ngasih kita kabar, mas, apalagi untuk ngajak kita pulang bareng," kataku.
Mas Kunto makin menunduk dalam.
Seandainya Leni, dan Lina mau sedikit berbaik hati mengajak kami, tentu mas Kunto tak sesedih ini sekarang.
Tapi, ah sudahlah, ngarepin mereka berbuat baik pada kami ibarat nunggu hujan di musim kemarau, satu hal yang tak mungkin, kecuali Allah membalikkan hati mereka.
"Ya sudah Mas, kita kerja dulu yuk, mudah-mudahan dapat rejeki, sambil kita pikirkan bagaimana caranya untuk bisa pulang ke Jawa secepatnya."
Mas Kunto mengangguk, kami pun kembali beraktifitas seperti biasa, semoga Allah memudahkan rejeki kami hari ini.
"Sum, kita ke rumah pak Sudarta dulu ya, dia mau ngambil barang-barang rongsokan kita, jadi bos baru kita gantiin bang Jamil, mas mau coba minjam uang untuk pulang, nanti kita bayarnya pake barang saja," ajak mas Kunto.
Aku setuju.
"Ya Allah, temukanlah kami dengan orang-orang baik hari ini!"
Doaku pagi ini sebelum melangkahkan kaki mengiringi langkah mas Kunto.
Lanjut Lagi gaess, yuk kasih lope lope untuk mba Sum???