Rejeki tak Terduga

718 Kata
Kami tiba di depan sebuah rumah yang cukup besar, nampak ada dua mobil terparkir manis di garasinya. Kupandang suamiku lekat, dia mengangguk lalu tangannya bergerak untuk memencet bel. Ting-tong! Tak berapa lama seorang pria membuka pintu pagar, setelah bertanya apa keperluan kami, pria itu mempersilahkan kami untuk masuk. "Tinggu di sini pak," "Kunto!" Sapa seorang lelaki paruh baya, ramah, dia langsung menghampiri kami, menjabat tangan suamiku, hangat. "Maaf saya memberanikan diri datang ke rumah bapak," jawab Mas Kunto sopan. "Baru saja saya mau ke tempat kamu, mau nanya kejelasan bisnis kita itu loh, To," ujarnya dengan wajah sumringah. "Oh!" Mas Kunto manggut-manggut. Anehnya, berkali-kali pak Suradji terpergok mencuri pandang padaku, aku pun sedikit merasa tak nyaman. Berkali-kali juga pria setengah baya yang nampak masih sangat gagah ini mengerutkan dahinya. "Saya turut prihatin dengan kejadian yang menimpa kalian, si Jamil memang enggak ada kaponya, padahal dia sudah pernah diseret ke pengadilan oleh partner bisnisnya tahun lalu, tapi sekarang berulah lagi," ujarnya kemudian ,sejurus aku mendapatinya kembali tengah menatap wajahku. "Iya pak, begitulah, itu musibah buat saya," jawab mas Kunto lembut. Aku memegang tangannya, dia melirik ke arah tangannya yang kupegang erat, lalu tersenyum. "Iya, karena itu makanya saya ajukan diri ngajak kamu kerja sama dengan saya, kamu jadi penampung barang di sana, nanti saya ambil dari kamu, gimana, setuju, To?" Suara pak Suradji terdengar sangat penuh wibawa, hingga aku menepis prasangka buruk yang ada, dari wajahnya terlihat kalau pria ini tulus dan baik hati, sikapnya tidak mengada-ngada, atau terlihat berpura-pura baik. "Saya mau pak, tapi saya enggak ada modal untuk menampungnya, sekarang harus pake uang cash saja pak, kawan-kawan trauma dengan apa yang sudah menimpa saya," jawab mas Kunto. "Jangan kamu pikirkan itu, semua modalnya dari saya, kamu tinggal tampung itu barang-barang bekas, nanti kalau kinerja kamu dalam beberapa bulan ke depan bagus saya belikan kamu alat pelebur plastik, biar lebih mahal lagi saat kita jual nanti, tempat di sana kan luas, nanti saya yang urus sewa, ijin dan segala macamnya." ujarnya, tegas. Kami terdiam, tak percaya dengan apa yang kami dengar saat ini. Aku dan mas Kunto saling pandang. "Tapi... tapi pak, kita baru kenal, kenapa bapak begitu percaya pada saya?" tanya suamiku. "Saya sudah lama menyelidiki kamu, mencari tau tentang siapa kamu, orang-orang semua cerita kalau kamu itu orang baik, tak satu pun dari mereka yang mengatakan hal buruk tentang kamu, To, dan saya yakin kamu lah orang yang tengah saya cari untuk menjalankan bisnis ini," tukasnya penuh keyakinan. "Terima kasih Pak, saya tidak tau harus bicara apa sama bapak," ujar mas Kunto terharu, aku pun sama. Sirna sudah rasa curiga yang sempat singgah di hatiku padanya. "Wis jangan kamu pikirin, sekarang siapkan saja semuanya, kamu ada nomor rekening kan?" "Kami ndak punya pak, ada tapi punya Deni, anak saya, dan itu rekening bantuan dari sekolah," tukasku. "Oh, segera urus semuanya, To, biar enak kita transaksinya, tunggu sebentar," pria itu bangkit dan berjalan menuju sebuah kamar. Lalu dia kembali dengan sebuah amplop. "Ini untuk modal pertama, gunakan sebaik-baiknya, jangan lupa segera urus pembuatan rekeningmu, beli alat komunikasi untuk kelancaran bisnis kita, pake saja uang ini, hitung berapa pengeluaran semuanya, saya terima beres saja," dia menyerahkan amplop itu pada kami. Kami terkesiap dibuatnya, tak tau harus bicara apa. "Tapi pak?" Mas Kunto nampak ragu. "Ayo bismillah saja, saya harap kamu mau benar-benar bisa menjalankan usaha ini, jangan kecewakan saya, To!" tegasnya, menepuk bahu mas Kunto. "Alhamdulillah!" Kami bersyukur dalam hati. Ya Allah, benar kata mas Kunto, kalau kita ikhlas pasti akan dapat balasan dari Allah. Dan ini, lebih dari apa yang kami pikirkan sebelumnya, peluang usaha itu terbuka dengan sendirinya atas ijin Allah. Subhanallah! Kami pun pamitan, berkali-kali pak Suradji menyemangati mas Kunto, dengan menepuk bahunya. "Saya yakin kamu pasti jadi orang sukses, To," ujarnya, dengan penuh rasa optimis, kami mengaminkannya. Ketika kami keluar pintu tiba-tiba pak Suradji memanggilku, "Tunggu, kamu istrinya Kunto kan?" tanyanya. Aku mengangguk. "Maaf pak, saya tak sempat mengenalkan Sum, istri saya tadi, ucapan bapak membuat saya grogi," ujar mas Kunto, jujur. "Tak apa, sepertinya saya pernah bertemu kamu, tapi di mana ya?" Pak Suradji mengerutkan dahinya, pria itu menatapku lekat. Aku tersenyum kaku. "Pernah tinggal di Mojokerto?"tanyanya lagi. Aku menggelengkan kepala. "Oh, saya kira mungkin salah orang," ujarnya lagi. "Tapi kata orang, ibu saya asli Mojokerto, pak," tukasku cepat. Pak Suradji tertegun! Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN