Salah sangka

1079 Kata
Saat Bella membawa pergi Senja, mata Senja dan Awan sempat bertemu saat gadis itu melewatinya begitu saja, meski hanya sekejap Awan sempat merasa tertegun, ada sedikit rasa penyesalan dan khawatir di hati kecilnya karena baru saja membentak Senja. Namun, perbuatan Senja cukup berhasil membuat dirinya merasa marah, ia masih tak menyangka Senja yang ia kenal bisa berbuat hal sejahat itu pada Raya, dengan cepat Awan menepis semua rasa khawatirnya pada Senja lalu mengajak Raya keluar dari area kantin. Niat awal Awan untuk mengisi perutnya setelah tenaganya habis untuk bertanding basket itu ia urungkan. Setelah kejadian di kantin, Bella membawa Senja ke kamar mandi untuk membersihkan baju seragamnya yang kotor karena tumpahan jus. Emosinya berada di level atas saat ini, lihat saja balasan apa yang akan diberikan Bella untuk si setan Raya itu. "Udah ja, jangan nangis terus. Air mata lo terlalu berharga buat nangisin cowok b******k kayak si Awan ," Bella mencoba menenangkan Senja. "Harusnya dia yang nagisin lo ja, dia itu terlalu bodoh ninggalin berlian demi remahan reginan kayak si setan Raya." "Tapi Senja masih sayang Awan, Bella," tangis Senja. "Cukup ja, Jangan pernah harapin orang kayak awan lagi! Lo itu terlalu mahal untuk seorang Awan ja, please gue mohon lo lupain dia," Bella menangkupkan kedua tangannya di wajah mungil senja yang sudah basah dengan air mata, hati Bella juga ikut merasa sakit mengingat setiap perlakuan Awan pada Senja. "Tapi nyatanya Senja lemah Bella, Senja hancur tanpa Awan." "Lo gak boleh terus kayak gini ja, lo itu kuat gue yakin lo bisa lupain Awan, kali ini lo harus pakai akal ja jangan pakai hati doang," Bella menghapus air mata Senja. "Gue yakin lo bisa lebih kuat dari ini ja, tunjukin pada Awan dan Raya kalo lo itu cewek yang kuat." "Makasih ya Bella udah bantu Senja tadi, maaf gara-gara Senja Bella jadi berantem sama Raga," Senja merasa sangat bersalah karena ia, Bella sampai bertengkar dengan Raga. "Gak usah minta maaf ja, harusnya gue yang minta maaf karena gue baru bisa ngebela lo sekarang. Lo lebih berarti ja dari pada Raga, gue gak mau kehilangan sahabat baik kayak lo, lebih baik gue kehilangan pacar yang belum pasti dia jodoh gue nantinya." "Tapi Senja tetap berterima kasih sama Bella." Bella memandang wajah Senja yang memerah karena menangis itu dengan lekat. "Gue janji akan ada di samping lo ja, gue gak akan ngebiarin sahabat gue terluka," batin Bella. "Gausah bilang makasih terus ja, itu udah Jadi tugas gue sebagai sahabat lo. Udah lebih lega kan ja?" Senja mengangguk. "Yaudah kita bersihin baju lo dulu sampai bersih setelah itu balik ke kelas." ☁️? Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Senja melepas apron yang melingkari pinggangnya. Hari ini Senja merasa sangat lelah sekali. Senja merasakan tubuhnya sangat lengket dengan keringat, gadis itu lalu mengambil ranselnya di dalam loker, agar bisa bergegas untuk pulang dan membersihkan dirinya. Senja memasang raut wajah kecewa saat ia melihat pangkalan ojek yang biasa ia naiki telah sepi, malam ini ia harus pulang dengan jalan kaki. Senja mulai berjalan gontai menelusuri jalan menuju rumah kontrakannya. Saat ini bukan hanya fisik Senja saja yang lelah, namun hatinya juga, sejak tadi siang Senja sama sekali tidak bisa menghilangkan seorang Awan dari pikirannya. Senja masih bingung dengan hatinya, akalnya berbicara agar ia berhenti mencintai Awan lagi, namun hatinya seolah tak mau menghilangkan jejak Awan dari hati Senja, meski Awan sering menanamkan rasa sakit yang teramat dalam. Tanpa sadari, sendari tadi gadis itu berjalan sambil melamun hingga ada sebuah tangan yang menariknya, sehingga Senja tersadar dari lamunannya. "udah gila lo ya, gak lihat lampu udah berubah jadi ijo mau nyebrang aja. Kalo nyawa lo banyak sih gak papa, nyawa cuma satu dibuat mainan," Ucap seseorang yang menarik tangan Senja. Senja sungguh kaget, bodohnya dirinya Samapi bisa seceroboh itu, Senja lalu mengodak ke samping untuk melihat siapa yang baru saja menolongnya. DEG "Pan--du?" Ucap Senja parau. Wajah Senja dengan cepet berubah saat melihat siapa yang baru saja menolongnya. Seorang yang pernah mempermainkan nyawanya beberapa saat lalu. "Gak usah takut gitu muka lo, gue gak bakalan apa-apain lo, gue juga gak bakalan jadiin Lo tawanan gue. Gue masih punya hati kali," Ucap Pandu di tambah kekehan kecil saat melihat raut wajah Senja berubah menjadi panik namun tersekan lucu. Senja meneguk ludahnya susah payah, mengapa Pandu yang ditemuinya kemarin berbeda dengan pandu yang sekarang? Kali ini Pandu terlihat lebih murah senyum dan ramah dibandingkan Pandu yang ia temui beberapa saat lalu. "Tadi kenapa lo jalan sambil ngelamun, udah bosen hidup lo?" Tanya Pandu. "Senja gak papa kok," "Lo kira gue anak kecil bisa lo kibulin?" "Senja gak bilang Pandu anak kecil kok, Pandu sendiri yang bilang," "Lo ternyata orangnya lucu juga ya," Pandu kembali terkekeh. "Ayo gue anter pulang, ini udah larut malam gak baik anak perawan keluyuran malam-malam." Senja menatap bingung ke arah Pandu,cowok itu sangat membingungkan di mata Senja, apa sebenarnya tujuan Pandu tiba-tiba bersikap baik padanya, apa ini hanya taktik supaya Pandu bisa menculik Senja? Ah, otak Senja terlalu kecil untuk memikirkannya. Senja masih menatap Pandu sambil melamun, Pandu sungguh penuh dengan tanda tanya. Pandu menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Senja, membuat lamunan gadis itu buyar. "Kenapa lihatin gue gitu amat, lo naksir?" Kata Pandu sambil memiringkan kepalanya menatap wajah Senja lekat. Jika dilihat-lihat Wajah Pandu juga tampan, bahkan Gala saja kalah dengan pesona Pandu, tapi tetap masih lebih tampan Awan menurut Senja, entahlah Senja merasa tak ada yang bisa melebihi pesona Awan. "Pandu gak usah kepedean, Senja masih punya hati buat dijaga," kilah Senja. "Orang yang lo jaga hatinya aja belum tentu jaga hati lo, buat apa lo susah payah mempertahankan hatinya?" Sekat mat Pandu yang langsung membuat Senja tertohok. "Senja kan--," "Udah gausah banyak alasan gue udah tau masalah lo," potong Pandu. "Udah ayo gue anter pulang," Pandu menarik Senja menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh. "Eh, Senja kan belum jawab," protes Senja. "Emang gue kasih kesempatan buat lo nolak?" "Kenapa Senja gak boleh nolak? Pandu itu perlu di waspadai." "Karna gue gak terima penolakan dari cewek bebal kayak lo, udah buruan masuk," Pandu membukakan pintu mobilnya untuk Senja. Saat Senja sudah duduk di dalam mobilnya, Pandu dengan cepat berbalik arah dan ikut masuk ke dalam mobil. Pandu menoleh ke arah Senja dan membantu gadis itu memasang sabuk pengaman, membuat d**a Senja berdesir menahan nafas sekuat mungkin. "Jangan takut, gue gak akan macam-macam," ujar Pandu. "Senja gak takut kok," jawab Senja, meski sedikit berbohong. "Bagus deh kalo lo gak penakut," Pandu lalu melajukan mobilnya menebus malam yang semakin gelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN