Siang ini seluruh siswa Amerta di hebohkan dengan pertandingan basket antar sekolah yang berlangsung di lapangan indoor sekolah.
"HUAA KA AWAN GANTENG BANGET."
"SUMPAH KA AWAN JAGO BANGET MAINNYA."
"KA BRIAN JUGA KEREN PARAH, APALAGI KALO PAS KERINGETAN GITU."
"KA RAGA JUGA, TAPI SAYANG UDAH SOLD OUT."
"AAA KA GALA MANIS BANGET PENGEN CUBIT."
Itulah teriakan histeris para penonton saat melihat Awan memasukkan bola ke dalam ring. Di saat seperti itu ,Gala masih tetap saja menjalankan modusnya ke para cewek dengan mengedipkan sebelah matanya, yang langsung di sambut teriakan histeris dari kaum hawa yang ada disana.
"ADUH KA GALA KEREN BANGET."
"DEDEK BISA JANTUNGAN ABANG."
"HUAA MAU DONG JADI PACAR KA GALA."
"Lihatlah betapa gantengnya temanmu ini ham," ucap Gala di tengah permainan pada Ilham.
Bisa-bisanya main basket masih sempet modus.
"Fokus gal, kalo mau modus entar kalo udah selesai," kata Ilham memperingati, lalu mengambil bola lemparan dari Brian dan mendribelnya.
"Kalo bisa dua sekaligus ngapain satu coba?"
"Serah lo deh, emang pada dasarnya jiwa-jiwa fuckboy lo gak bisa di tinggal bentaran aja," Ilham melemparkan bola yang ada di tangannya pada Awan. Awan menerima bola itu dan langsung memasukkannya pada ring dan----
"YES!" Amerta kembali mencetak skor.
☁️?
"Ra anterin gue yuk ke kantin," ucap Raya pada Rara yang duduk di sebelahnya.
"Ngapain? Ini pertandingan masih seru-serunya masak di tinggal gitu aja,"
"Gue mau beli minum buat Awan,"
"Oh, yaudah ayo," keduanya pun, berdiri dan meninggalkan area tribun menuju kantin.
Sedangkan di kantin, Senja dan Bella sedang menikmati mie ayam yang baru saja mereka pesan, jika ditanyakan mengapa Senja berada di kantin dan tidak menonton pertandingan, itu karena Bella yang memaksanya, Bella berkata ia sangat malas melihat Raga hari ini karena semalam mereka bertengkar hebat tapi Senja juga kurang tau alasan mereka bertengkar, lagi pula itu juga privasi mereka berdua.
"Ja, gue tinggal bentar ya. Panggilan alam nih gue," ucap Bella sambil memasang wajah kurang enak karena menahan pup. (Pasti kalian tau gimana)
"Makanya kalo makan sambel jangan banyak-banyak Bel, tuh kan jadi sakit perut," Senja menahan tertawa melihat raut wajah Bella.
"Udah terlanjur ja, yaudah ya gue ke kamar mandi bentaran," belum saja Senja menjawab Bella sudah berlari menuju kamar mandi.
"Dasar Bella, salah sendiri marah sama raga pelampiasannya sama sambal, udah tau buat sambal itu pakai cabe yang pedas jadi mules kan sekarang," Senja sedikit terkekeh mengingat saat tadi Bella mengomel tentang Raga sambil memasukkan begitu banyak sambal pada mie ayamnya, ia berkata rasa sambal tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa kesalnya pada Raga semalam. Tapi buktinya sekarang dia jadi mules begitu, dasar Bella.
"Eh, ada parasit disini," Ejek Raya saat melihat Senja ada di kantin.
"Kalo parasit kurang pas deh Ray, lebih tepatnya sampah," koreksi Rara sambil tersenyum miring.
Sabar ja, sabar.
Senja berusaha tidak memperdulikan kehadiran keduanya.
"Senja, Senja, dan Senja, gue muak tiap kali Awan sebut nama lo! Lo tuh pakai apa sih, sampai Awan susah berpaling dari lo?"
"Harusnya lo itu sadar, sampah masyarakat kayak lo harus angkat kaki dari sekolah ini! Gimana ya kalo sampai Beasiswa lo dicabut?" Raya memainkan rambut Senja.
"Ya langsung jadi gembel lah Ray," Sahut Rara ditambah dengan kekehan.
Tahan Senja, tahan.
Raya melirik jus alpukat yang ada di meja Senja, sebuah ide jahat terselip di kepalanya "Enak deh ini kayaknya, gue bolek minta kan?" Raya mengambil gelas itu dan-----
Raya menuangkan jus itu pada baju Senja. "Ups! Sorry, gue kira seragam lo perlu diganti dengan seragam baru deh, soalnya warna seragam lo udah kayak kain lap, jadi gue kira itu kain lap." Raya tersenyum meremehkan.
"Ternyata pekerjaan jalang nyokap lo gak kuat ya buat beli seragam baru?" Bisik Raya tepat di telinga Senja.
Habis sudah kesabaran Senja, jika Raya hanya menghina dirinya mungkin ia masih bisa sabar. Tapi tidak untuk orang tuanya.
"Mau kamu apa sih Ray?" Senja berdiri dan natap Raya.
"Lo tanya apa mau gue? Mau gue elo lenyap di dunia ini!" Raya mendorong d**a Senja menggunakan jari telunjuknya.
"Salah Senja sama Raya itu apa?"
"Masih tanya apa salah lo? Salah lo udah rebut Awan dari gue. Lo sadar gak sih lo itu perusak hubungan gue sama Awan, dari kecil kita itu udah sama-sama Senja! Dan lo," Raya menunjuk Senja dengan kilat emosi di matanya.
"Orang baru yang rebut Awan dari gue! Dan anak w***********g kayak lo sama sekali gak pantas untuk seorang Awan Sanjaya," tambah Raya berbisik di telinga Senja.
Sudah cukup, Senja sudah tidak mau mendengar apapun dari mulut Raya, mendorong sedikit bahu Raya agar menjauh darinya, tapi---
"SENJA!" Teriak seorang di belakang Senja, Senja sangat hafal itu suara siapa.
"Gue beneran gak sengaja tumpahin jus itu ja, tapi kenapa lo dorong gue sampai jatuh gini?" Kata Raya yang terduduk di lantai dengan air mata buayanya yang sudah keluar.
Sial, Senja di jebak!
"Lo emang keterlaluan ya ja, apa lo gak bisa sedikit sopan? Itu cuma jus ja, gak perlu lo dorong-dorong Raya kayak gitu!" Awan membantu Raya untuk berdiri.
Senja membeku di tempat, ia sama sekali tidak ada niat untuk mendorong Raya, bahkan tadi Senja hanya memegang bahu Raya pelan.
Senja menggeleng, "Enggak Awan kamu salah paham," Senja menutup mulutnya tak percaya akan ulah Raya.
"Lo masih mau ngelak disaat gue sendiri lihat lo dorong Raya?!" Bentak Awan.
"A--ku ga dorong Raya Awan, aku gak dorong" Senja berusaha memegang bahu Awan namun Awan menepisnya.
"Tadi gue lihat sendir kok Raya udah minta maaf sama Senja dan bahkan Raya mau tanggung jawab beliin baju seragam baru buat
Senja. Tapi Senja malah marah-marah," adu Rara. Sungguh Rara adalah kompor yang mematikan.
"Gue bener-bener kecewa sama lo ja, kemana sikap baik lo yang dulu? Atau lo dulu cuma pura-pura baik, iya?!" Senja menangis tak percaya, lagi-lagi Awan selalu dan selalu membela Raya dari pada dirinya.
"Cukup lo bentak-bentak temen gue!" Ucap Bella yang baru saja datang dari kamar mandi.
"Mata lo itu terlalu buta buat lihat mana yang malaikat dan mana yang Iblis bertopeng malaikat Awan, ck gue heran cowok kayak lo bisa kagumi di sekolah ini!" Bella tak mau kalah untuk membela sahabatnya.
"Bel--" Raga mencoba melerai Bella dan Awan.
"Cukup ga! Cukup selama ini kamu suruh aku buat gak ikut campur masalah mereka. Selama ini aku diam dan nurut sama kamu tapi apa buktinya? Kamu aja gak bisa jaga sikap sahabat kamu yang b******k itu! Disini aku juga punya hak untuk bela Senja karena dia sahabat aku!"
"Ayo ja kita pergi gak usah urusin lagi orang b******k kayak dia!" Bella memegang bahu Senja yang bergetar untuk segera pergi dari sana.
"Dua kosong Senja," batin Raya.