Perasaan Raya

959 Kata
"ayo Senja, kamu yang nyanyi lagi," suruh Mas iwan. "Kan, Kemarin cuma ganti mba Sarah waktu sakit." "Sekarang Sarah kan juga masih sakit, gih buruan nyanyi. Kasian tuh para pengunjung pada bosen." "Nanti yang anter pesenan siapa?" "Tenang, kan masih ada Bayu sama Sinta." "Terus yang di dapur?" "Sejak kapan Senja di dapur? Udah buruan gak ada alasan lain, mau mih mas Iwan laporin pak Doni?" "Ih mas Iwan main ngancem, yaudah Senja nyanyi."Putus senja meski wajahnya terlihat masam. Sebenarnya Senja malu, kalo tau gini kemarin ia tidak menggantikan mbak Sarah, jadi dia kan yang kena lagi. "Bentar Senja lepas apron dulu," Senja berjalan ke lokernya untuk melepas apron yang ia kenakan terlebih dahulu. Suara Senja bisa dikatakan merdu, Senja Saja yang kurang percaya diri. Dengan wajah yang sedikit di tekuk, Senja menaiki mini panggung yang ada di Cafe, diambilnya sebuah gitar lalu duduk yang memangku gitar itu. "Jangan lupa senyum ja," koreksi Mas Iwan. Senjapun mengangkat kedua sudut bibirnya, tangannya perlahan memetik sinar gitar yang ada di pangkuannya sampai nada lagu keluar, diikuti dengan suara lembut miliknya. Aku tlah tahu kita memang tak mungkin Tapi mengapa kita selalu bertemu Aku tlah tahu hati ini harus menghindar Namun kenyataan ku tak bisa Maafkan aku terlanjur mencinta Senja menikmati setiap bait lagu yang ia nyanyikan. Senyuman itu Hanyalah menunda luka Yang tak pernah ku duga Dan bila akhirnya kau harus dengannya Mengapa kau dekati aku "Weh, ternyata suara bu bos bagus juga ya," Seru Gala saat memasuki Cafe bersama keempatnya. "Iya, gue baru tau bu bos jago nyanyi," tambah Brian. "Bagus gak bos suara Senja," goda Ilham sambil menyenggol bahu Awan. "Enggak, biasa aja," jawabnya cuek lalu mencari kursi kosong. "Ealah, si bos Sensi amat jawabnya." Mereka ikut menyusul Awan duduk dan memesan makanan. Kau membuat semuanya indah Seolah takkan terpisah Aku tlah tahu kita memang tak mungkin Tapi mengapa kita selalu bertemu Aku tlah tahu hati ini harus menghindar Namun kenyataan ku tak bisa Maafkan aku terlanjur mencinta Senja masih terus bernyanyi mengikuti alunan gitarnya, semua pengunjung berdecak kagum pada Senja, tak jarang banyak yang mengabadikan momen Senja bernyanyi dalam kamera mereka. Bila memang hatimu untuk aku Salahkah ku berharap Berharap kau memilih diriku cinta Tapi mengapa kita selalu bertemu Aku tlah tahu hati ini harus menghindar Namun kenyataan ku tak bisa Maafkan aku terlanjur mencinta Tanpa sadar, Awan juga menatap Senja kagum dan menikmati suara lembut Senja. "Kalo masih suka bilang aja kali bos, Sebelum penyesalan datang," Sindir Raga. "Jangan ngawur, gue udah gak suka," Kata Awan malas. "Jangan mau terus-terusan dikendalikan ego lo bos, akal juga harus main," Raga kembali memperingati. "Kalo gitu bu bos buat Gala aja bos, sayang kan cewek cantik di angurin gitu aja," Celetuk Gala yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Awan. "Sukurin, di pelototin. Makanya mulut dikasih rem," ujar Brain. "Eh sorry bos. Lo juga sama aja gitu bri," "Enak aja, beda kali." "Lo semua b**o ternyata, kalo gitu artinya bos masih suka sama Senja," koreksi Ilham. "Gue cuma gak mau kita punya mantan sama," ujar Awan membela diri. "Hilih." Aku tlah tahu kita memang tak mungkin Tapi mengapa kita selalu bertemu dan bertemu Aku tlah tahu hati ini harus menghindar Namun kenyataan ku tak bisa Maafkan aku terlanjur mencinta Ternyata hati tak sanggup melupa Senja menyelesaikan lagu itu dengan sempurna, gemuruh tepuk tangan terdengar memberi apresiasi dari penampilannya barusan. "Wow, bagus bu bos, perfect," teriak Gala sambil maju ke depan merekam Senja. "Lumayan buat cuci mata dirumah," tambahnya lagi. "Makasih Gala," balas Senja. "Mata lo emang perlu dicongkel Gal," ucap Awan, terlihat ia sudah mulai memanas. "APA BOS? SUARA SENJA BAGUS?" Teriak Gala pura-pura tidak dengar. "Lo emang ya, gue buat mampus sekarang juga," Awan menahan malu. "OH, BOS MASIH SAYANG SENJA?" "AWAS LO YA GAL!" "makanya gengsi jangan di pelihara bos, kalo masih sayang bilang aja." Karena merasa geram dan malu, Awan melemparkan bantal sofa tepat menganai Kapala Gala. "Ampun bos, ampun. Yaelah gitu aja ngambek kayak cewek lagi pms aja." Gala memungut bantal yang baru saja dilemparkan kepadanya. "Senja mau ikut gabung disana gak?" Tawar Gala. "Gausah Gala, Senja harus kerja lagi. Kalo gitu senja balik ke belakang ya Gala," pamit Senja kembali ke belakang. "Kalo nanti nyesel gue syukurin lo bos," ucap Gala sambil melemparkan bantal itu kembali. "Berisik lo Gal," tanpa Awan sadari, ia merenungi semua ucapan temanya tadi. Awan merasakan ponsel dalam sakunya bergetar, ia kemudian mengecek ponselnya, ternyata ada sebuah pesan terkirim untuknya. Raya maurim Awan, bisa jemput aku dirumah Rara gak? Soalnya aku pesen ojek gak dapet-dapet. Awan membaca pesan itu lalu membalasnya. Awan Sanjaya Oke, gue otw sekarang. Awan mematikan ponselnya, masukannya kembali kedalam saku lalu beranjak berdiri. "Mau kemana bos? Masih marah lo?" "Mau jemput Raya," jawabnya lalu keluar dari Cafe. Sedangkan di lain tempat Raya tersenyum karena Awan menuruti permintaannya. ☁️? "Awan kita langsung pulang?" Tanya Raya yang sudah duduk di atas montornya. Awan mengantuk, "iya, emangnya mau kemana?" "Kemana kek gitu, aku bosen dirumah," ajak Raya. "Yaudah kita mampir makan bentar," Awan membelokan montornya ke sebuah restoran cepat saji. Lagi-lagi senyum Raya mengembang di belakang sana. Setelah Awan memarkirkan montornya, keduanya lalu masuk ke dalam restoran, dan makan. "Awan," panggil Raya saat mereka selesai makan. "Kenapa Ray, masih kurang?" "Bukan itu," "Terus?" Raya sedikit menunduk, "Hmm, kapan kamu bisa lihat aku Awan?" "Maksudnya?" Awan mengerutkan keningnya bingung apa yang dimaksud Raya. "Aku suka kamu Awan--" Mendengar itu Awan terkekeh, "Gak usah bercanda deh Ray, bercandaan lo gak lucu deh. Lo kan tau, selama ini gue anggep lo cuma sebatas Kakak adik," tangan Awan mengacak-acak gemas rambut Raya, bisa-bisa Raya mengatakan suka pada dirinya. "Yaudah yuk buruan pulang, udah mendung," Raya menghentakkan kakinya kesal saat Awan sudah lebih dulu keluar dari cafe. "Pasti ini gara-gara Senja, awas aja nanti lo Senja."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN