Sinar matahari mulai menerobos melalui celah jendela kamar Senja, Senja mengeliat pelan saat sinar itu mulai mengusik tidurnya. Hari ini, hari Minggu jadi Senja dapat bangun lebih siang.
Senja terduduk di atas kasurnya, mengambil handphone yang ia letakan di samping bantal tidurnya. Seperti hari-hari sebelumnya Senja mengirimkan pesan untuk Awan, meski Senja tau pesan itu tak akan terbalas karena nomor Senja sudah di blok oleh Awan.
To : Awan Sanjaya
Selamat pagi Awan
Awan jangan lupa sarapan ya, Awan kan punya sakit maag.
Awan masih belum ada niatan buka blok Senja ya:(
Awan, Senja rindu
Senja menghela nafas setelah mengirimkan pesan itu pada Awan, setiap pagi Senja selalu mengirimkan pesan untuk Awan. Namun, Senja tak pernah menerima pesan balasan dari Awan seperti dulu lagi.
Senja sangat merindukan Awan. Senja sangat ingin memeluk Awan saat ini. Apakah Awan juga merindukannya? Satu pertanyaan itu selalu setia berputar di kepalanya Senja.
Tangan Senja terulur mengambil sebuah foto polaroid yang ia tempel di dinding kamarnya, Senja menatap foto itu, fotonya bersama Awan.
"Kalo aja Senja tau rumus supaya Senja bisa hilangin Awan dari pikiran Senja, udah pasti Senja lakuin itu dari dulu Awan. Tapi mencari rumus move on lebih sulit dibandingkan Senja harus mencari rumus untuk soal olimpiade," lirihnya sambil mengusap foto itu.
"Senja bodoh ya Awan? Senja selalu disini dengan perasaan yang sama nunggu Awan, tapi Awan sendiri dari dulu gak pernah anggap Senja prioritas Awan. Karena prioritas Awan hanya untuk Raya,"
Kisah yang pernah ia lalui sebelumnya bersama Awan kini kembali beputar di kepalanya Senja, dimana Awan selalu memilih Raya dibandingkan dia yang dulu notabenenya adalah pacar Awan.
Senja Tamara
Awan, jadikan jemput Senja pulang kerja?
Awan Sanjaya
Maaf Senja, tapi aku harus jaga Raya. Dia takut di rumah sendiri.
Senja Tamara
Tapi--ka Awan udah janji
Awan Sanjaya
Tolong ngerti Senja, Raya lebih butuh aku
Senja Tamara
Yaudah Senja pulang naik ojek
...
Awan Sanjaya
Nontonnya hari ini kita undur ya Senja
Soalnya Raya minta antar beli buku
Senja Tamara
Ya udah, Awan hati-hati ya dijalan.
...
Awan Sanjaya
Maaf Senja besok aku gak bisa
Jemput kamu berangkat sekolah
Senja Tamara
Kenapa? Awan mau bergadang
Nonton bola ya?
Awan Sanjaya
Bukan Senja, tapi besok
Raya mau berangkat sama aku
...
Senja Tamara
Awan, Senja udah siap
Awan Sanjaya
Kita undur ya Senja, soalnya
aku di rumah sakit sekarang
Senja Tamara
Awan sakit?
Awan Sanjaya
Bukan, tapi raya.
...
Jika cuma sekali mungkin Senja akan biasa saja, tapi Awan melakukan itu hampir setiap hari, dan bodohnya Senja selalu sabar. Pada ahkirya Awan juga pergi meninggalkannya tanpa alasan, tapi Senja masih saja mengharapkan kehadirannya.
Dari pada Senja terus memikirkan Awan yang tidak ada ujungnya, lebih baik dia bersikap-siap untuk ke Cafe. Lumayan ia bisa mendapatkan gaji tambahan bila masuk pagi, karena jam kerjanya sore sampai malam.
☁️?
Saat ini anggota Araster sudah berkumpul di sebuah rumah yang telah mereka sulap menjadi sebuah markas, semua kebutuhan yang mereka perlukan lengkap disana. Mulai dari kulkas yang selalu penuh dengan makanan dan minuman, jaringan Wifi yang sangat lancar, Sofa yang nyaman, serta beberapa bilik kamar yang bisa mereka tempati.
Jika diberikan semua fasilitas itu siapa coba yang tidak nyaman beranda disana? Namun jangan salah, Awan tetap memberikan peraturan, mulai dari jadwal piket anggota yang membersihkan markas, dan anggota yang masih menyandang status pelajar ia hanya perbolehkan mereka berkumpul sampai jam 10 malam.
Kelima anggota inti Araster itu kini berkumpul di ruangan lantai dua dengan kesibukannya masing-masing, Awan yang melamun sambil menatap layar ponselnya, Gala dan Ilham yang berebut kuaci, serta Raga dan Brian yang tengah bermain PS dengan sengit.
"Tangan lo mulai aktif ya gal, minta gue potong," kesal ilham karena sendari tadi Gala ikut memakan kuaci kesukaannya.
"Yaelah ham, di kulkas masih banyak pelit amat lo," balas Gala yang kembali memasukkan biji kuaci yang baru ia kupas ke dalam mulutnya.
"Kalo masih banyak ambil sendiri, kaki sama tangan lo masih berfungsi kan?"
"Lo berdua bisa diem gak sih? Gue gagal fokus nih?" Omel Raga yang masih terfokus dengan permainan Psnya melawan Brian.
"Kalo udah sekarat gak usah banyak alasan ga, habis ini lo tlaktir kita berlima makan," Sombong Brian karna sedikit lagi ia akan memenangkan permainan.
Saat tengah asik memakan kuacinya, gala menyenggol pundak Ilham. "Apalagi sih gal? Lo mau gue patahin tangan sama kaki lo beneran?"
"Bukan, tuh si bos diem baek dari tadi," Gala menunjuk Awan menggunakan dagunya.
"Kayaknya si bos lagi galau, karena putus sama Bu bos," jawab Ilham.
"Dari mana lo tau?"
"Firasat aja," jawab Ilham enteng.
"Gue ogah percaya lagi sama firasat lo, terahkir gue percaya lo buat gue kesasar di tengah sawah," Kesal Gala meningkat kejadian beberapa hari lalu.
"Kalo lo pada lupa gue masih punya telinga yang berfungsi dengan baik," suara berat Awan yang membuat keduanya langsung kicep.
"Enggak bos bercanda," kata Ilham di tambah dengan cengirnya.
"Gal, telfon lo buruan angkat kali, berisik tau gak?" Kini berganti Brian yang mengomel pada Gala karena telfon Gala tidak mau diam. Gala memang benar-benar biang rusuh.
"Santai aja kali," Gala mengambil telfonnya.
"Siapa Gal?"tanya Ilham.
"Cewek ke enam yang gue tembak seminggu ini," jawabnya enteng.
Semua melotot ke arah Gala, Gala memang sama sekali tak berubah, pantas saja ia disebut playboy SMA Neptunus.
"Alah, Cewek banyak tapi masih jemput depan gang," ejek Raga.
"Ikan hiu makan tomat, bodo amat. Dari pada cuma bucin sama satu cewek," balas Gala lalu keluar mengangkat telfonnya.
Saat Raga tengah lengah berdebat dengan Gala, Brian mengambil kesempatan itu untuk memenangkan permainan.
"Yes, gue menang. Sekarang yuk buruan tlaktir di Cafe biasa sepuas gue," Seru Brian girang.