Sesuatu di dalam dadanya seakan ingin meledak detik itu juga, dan kakinya tanpa sadar menendang kursi hingga terjatuh. "Kau ingin dicium seperti semalam, hah? Apa dengan begitu kau akan bangun? Dasar pelac*r!" Dengan sentakan kasar, ia meraih kepala Misaki dan melekatkan bibirnya dengan bringas. Dingin.... batin wataru. Ia melumat rakus bibir dingin Misaki dengan perasaan kacau balau, satu-satunya yang membuatnya merasa lebih baik kini malah tak sadarkan diri? Semua perasaan negatif yang menguasai lelaki itu detik sebelum kini runtuh. "Kau belum bangun. Demammu juga belum tentu tak akan kembali lagi. Pria itu benar-benar menipuku..." Ia menegakkan diri setelah menata poni Misaki yang terlihat mengganggu kenyamanannya. Mata lelaki itu berubah dingin, sudut bibirnya berkedut. Diraihny

