11. Married Man

676 Kata
Setelah tiga bulanan diriku di Kota Perantauan. Lebih tepatnya setelah diriku melewati masa training di kerjaannku. Aku merasa sangat merindukan dengan Anak dan Istriku. Akhirnya aku pun pulang ke kampung halamanku untuk melihat keadaan mereka. Setibanya aku di kampung halaman, aku merasa sangat kaget dengan Istriku. Istriku secara diam-diam mengambil kreditan kasur springbed dan juga pakaian untuknya. Mengenai pakaian aku tidak masalah. Akan tetapi springbed ini yang menurutku harganya lumayan mahal. Ia mengambil kredit springbed tersebut dengan alasan kasur springbed yang lama sudah tidak nyaman di pakai. Sementara, untuk gajihku masihlah pas-pasan. Hutang-hutangku yang di tetangga dan di toko pun masih belum lunas. Ya, memang di masa training kerjaku itu gajiku memang sangatlah kecil. Aku tidak bisa memberinya banyak sesuai dengan harapannya. Aku mentransfer kepada Istriku yang di utamakan adalah untuk kebutuhan anakku. Aku sempat kesal melihat tingkah istriku yang seperti itu. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk membawa anak dan Istriku ke Kota Perantauan. Aku membawa Istri dan anakku ke Kota Perantauan ini, tujuannya agar bisa memantau tingkah istriku agar tidak mengambil kredit yang lebih banyak dari sepengetahuanku. Selain itu, agar aku dapat melihat pertumbuhan anakku. Selama aku membawa anak dan istriku di Kota Perantauan ini, setiap habis gajihan aku langsung membawa anak dan istriku ke supermarket. Aku mengutamakan dan menghabiskan sebagian gajihku untuk kebutuhan anakku selama satu bulan. Aku belanja bulanan seperti itu, karena untuk berjaga-jaga, agar disaat gajihku sudah mulai menipis aku tidak kalang-kaput untuk mencari pinjaman dan juga agar anakku masih memiliki stok makanan. Selama beberapa bulan anak dan istriku di Kota Perantauan ini, aku mulai mengetahui sifat asli istriku yang lainnya. Yang mana, setiap malam anakku pasti menangis meminta su*u. Setiap anakku menangis dengan segera aku pun langsung terbangun dan langsung membuatkan sebotol su*u untuknya serta juga langsung menggendongnya agar anakku tenang kembali. Sementara Istriku sama sekali tidak mau beranjak bangun dari tidurnya. Seolah tidak perduli dengan anakku. Selain itu juga, setiap saat Istriku selalu meminta ini itu yang membuatku semakin terpuruk dan merasa tidak mampu untuk menurutinya. Beberapa bulan Istri dan anakku di Kota Perantauan tersebut, pekerjaanku semakin bertambah. Ya, aku bukan hanya menjadi suami yang mencari nafkah untuknya. Akan tetapi sekaligus sebagai Ibu untuk anakku. Seorang lelaki manapun tidak akan mau memiliki seorang istri yang hanya berdiam diri tanpa memikirkan rumah tangganya. Terlebih aku yang melihat tingkah istriku sangat acuh disaat anakku yang sedang menangis di setiap malam. Hidupku seperti dua puluh empat jam untuk membuka mata saat Ia berada di Kota Perantauan. Sepulang kerja aku harus langsung menimang anakku. Setiap malam aku harus terbangun membuatkan anakku su*u dan menimangnya. Sementara Istriku tidur, bersantai, minta jalan-jalan, ini itu dan yang lainnya. Bagaikan seorang majikan sekaligus sebagai boss yang memiliki seorang pembantu sekaligus penghasil uang untuknya. Aku benar-benar sangat yakin, seorang lelaki manapun pasti hatinya akan merasa sama sepertiku. Tidak akan kuat jika Ia memiliki seorang Istri yang seperti itu. Hingga pada akhirnya, aku pun tidak dapat menahan emosiku melihat akan tingkah istriku. Aku memutuskan untuk mengantarkan istriku pulang ke rumah orang tuanya. Aku tidak langsung menceraikan Istriku, akan tetapi aku mengasingkan istriku ke tempat orang tuanya tersebut, tujuannya agar dia bisa berfikir dengan dewasa dan merenungi akan tingkahnya. Namun waktu pun terus bergulir dan silih berganti. Hingga pada saatnya Istriku menyerah dengan sendirinya. Ia berkata bahwa ingin bercerai dan ingin menikah dengan orang yang memiliki harta. Ya, aku pun sudah pasrah akan semua hal itu. Aku sadar, aku hanyalah orang biasa dan sangat sederhana. Aku bukanlah orang punya, yang memiliki harta yang bisa memenuhi permintaan-permintaan akan permintaannya yang melebihi dari batas kemampuanku. Aku pun sempat mempertahankan hubunganku dengan Istriku karena aku memikirkan masa depan untuk anakku. Aku tidak ingin melihat anakku memiliki dampak buruk sepertiku. Yang tidak memiliki seorang ayah sedari masa kecilnya. Akan tetapi semua itu percuma dan sia-sia saja. Istriku sudah benar-benar bulat dan memang telah memiliki hubungan bersama dengan orang lain. Semakin hancur dan remuk hatiku di buatnya. Namun aku hanyalah seorang pria yang lemah. Aku sudah benar-benar pasrah untuk semua itu. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk bercerai bersamanya. Meskipun begitu, aku tetap memikirkan untuk kebutuhan anakku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN