10. Married Man

1073 Kata
Azam dan Dimas di Apartemennya Dimas mendaratkan bokongnya di sofa lalu membuka laptopnya. Azam mengambil remot Televisi lalu menyetelnya. "Haah, Dunia begitu sempit ya Dim?" Ucap Azam kepada Dimas sambil mendaratkan bokongnya di sebelahnya Dimas yang sedang mengetik. Azam menyenderkan kepalanya di bahu sebelah kanannya Dimas yang sedang mengetik sambil melihat layar monitor yang sedang dikerjakan oleh Dimas. "Emangnya kamu kenal dimana sih Dek sama Randy itu?" Ucap Dimas sambil mengetik. "Waktu aku jaga promosi dua minggu itu loh Dim? Yang malemnya aku jalan sama temen-temen lama aku." "Oooh.." "Randy itu satu Kota denganku Dim. Makanya pas aku ketemu sama dia itu, perasaanku serasa ketemu dengan keluarga aku sendiri." "Kamu kan memang selalu begitu. Terlalu baik sama temen kamu." "Terus kamu gak suka kalau aku bersikap kayak gitu?" "Ya suka lah Dek. Kalau aku gak suka, ngapain aku bertahan sampai sekarang ini sama kamu." "Benarkah?" Ucap Azam meledek Dimas sambil mendekatkan bibirnya ke bibir Dimas. Dimas menengok kearahnya dan mendekatkan bibirnya ke bibir Azam. "Sssstt.. Kamu belum kumur-kumur." Ucap Azam sambil menempelkan satu jari telunjuknya ke bibir tipis sedikit tebal berwarna abu-abu nya Dimas. "Hmm.." Dimas menatap ke arah layar monitor laptopnya kembali. "Kamu besok lusa keluar kota lagi ya Dim?" "Iya, Om Bimo sudah nelponin aku untuk berangkat besok pagi." "Sendiri lagi donk aku Dim? Kamu gak kasihan apa sama aku?" "Mau gimana lagi Dedek. Ini kan untuk kamu juga. Jangan sedih gitu lah." Dimas mengelus pipinya Azam. "Kamu undang teman lama kamu aja untuk menginap disini. Siapa Dek nama-namanya? Abang lupa." "Novi sama Apri." "Nah, Iya kamu undang saja suruh kesini Dek buat nemenin kamu." "Oke deh, nanti aku undang mereka buat nginep dan nemenin aku jalan-jalan. Aku kangen jalan ke Pasar Malem. Kamu selalu gak mau soalnya kalau di ajak ke Pasar Malem. Padahalkan, aku suka makan cilok dan surabi." "Kapan-kapan ya Dek." "Kapan-kapan aja terus. Oh Iya kabar Om Bimo gimana sekarang? Tumben amat dia tidak pernah main kesini?" "Kabarnya sangat baik Dek. Katanya sih bulan depan mau main kesini. Kenapa emangny? Kamu kangen ya sama Om Bimo?" "Iya kangen, pengen ngeledekin dia." "Hahaha, dasar kamu. Om Bimo juga katanya kangen sama kamu. Setiap aku bersamanya, Om Bimo selalu nanyain kamu. Membuat aku cemburu Dek." "Apah? Kamu cemburu?" Ucap Azam sambil memonyongkan bibirnya. Dimas menengok ke arahnya. "Mmmmuach.. Kena kan?" Dimas mengecup bibirnya. "Kamu susah banget di bilangin. Belum kumur-kumur juga." "Habisnya bibir kamu monyong-monyong mulu. Ya aku sosor lah." Azam membalikkan posisi senderannya. Ia menyender di bahunya Dimas dengan posisi tubuhnya yang membelakangi Dimas dengan kedua tangannya yang dilipatkan ke d**a. "Yang anehnya lagi Dim? Juan itu sahabatnya Randy. Yang pacarnya itu mantan kamu kan?" Azam meledek Dimas. "Aneh-aneh saja kamu." "Marah-marah, gak aku kasih jatah ya malem ini?" Ancam Azam. "Enak aja. Siapa yang marah sih Dek." "Kirain kamu marah. Bener-bener sempit ini dunia. Oh iya Dim, sekarang ini Irfan kerja dimana?" "Masih di Kantor aku yang lama. Kenapa? Kamu suka sama dia?" "Idiiih, ngapain aku suka sama dia. Punya satu pacara kayak kamu aja gak habis-habis." "Bisa aja kamu." "Mandi yuk?" Ajak Azam. "Nanggung Dek. Abang masih ngelarin ini buat besok lusa." "Ok deh, aku mandi duluan boleh?" "Janganlah. Temenin aku dulu Dedek. Nanti mandi bareng ya?" "Hmm.. Iya, iya deh. Males juga aku mandi sendiri. Gak ada yang gosokin badan aku." "Besok kamu tugas dimana Dek?" "Di Mall yang di luar kota aku besok." Ucap Azam. "Anterin ya?" Ucap Azam kembali. "Iya." "Awas kamu jangan nakal?" "Ya gak mungkinlah. Nanti aku ambil Hotel saja disana. Biar nungguin kamunya gak capek." "Pinter. Kirain mau pulang pergi." "Aku tidur dulu di bahu kamu ya?" "Iya." Azam telah tertidur menyender di bahunya Dimas. Sementara Dimas melanjutkan mengetiknya. * * ***************************** Kini aku bersama dengan Juan sedang di teras kosan. Kita berdua sedang merokok sambil mengobrol. "Ju, emangnya kamu bersama dengan bang Irfan sudah berapa lama berhubungan?" "Sudah hampir dua tahunan Ran." "Lumayan lama ya Ju?" "Ya, begitulah Ran." "Maaf ya Ju, gara-gara saya tadi mengajak kamu. Akhirnya hubungan kamu bersama dengan Irfan jadi terbuka." "Santai saja kali Ran. Bener kata Azam Ran, meskipun aku menutupi terus dari kamu, seiring dengan berjalannya waktu kamu pasti akan mengetahuinya." "Saya juga memaklumi koq Ju." "Emangnya seberapa besarnya cinta kamu kepada bang Irfan Ju?" "Sama hal-nya kamu mencintai anak dan istri kamu Ran." "Aku punya hasrat terpendam ini sebenarnya semenjak SMA Ran. Bahkan, waktu SMA pun aku pernah menyukai seseorang. Yang tentunya kamu pasti mengenalnya." "Siapa Ju?" "Guru kita sendiri yang paling tampan itu Ran." "Hahaha, dasar kamu Ju. Sekarang juga dia masih single kayaknya Ju." "Masa sih Ran?" "Iya beneran Ju. Penampilannya juga tidak berubah Ju. Masih tetep terlihat muda kayak sewaktu dulu." "Sayangnya dia tidak tertarik sama aku Ran." "Kamu koq bisa tahu sih Ju?" "Ya secara diam-diam aku pernah ketemuan gitu sama dia Ran. Aku mengutarakan isi hati aku kepadanya. Namun katanya Ia sudah memiliki kekasih." "Mmm, berarti diem-diem kamu juga pernah nembak dia ternyata ya Ju?" "Hahaha, ya begitulah Ran. Tapi, aku juga sudah cukup bahagia sama bang Irfan sekarang Ran." "Hanya saja aku bersama Irfan ini cintanya terbagi Ran." "Terbagi bagaimana Ju?" "Iya terbagi dengan anak-anaknya. Aku sama dia tidak bisa tinggal bersama. Karena dia tinggal bersama dengan anak-anaknya." "Oh, begitu. Yang sabarlah Ju." "Haaah.. Terkadang cinta memang sepeti itu ya Ju. Kita mencintai seseorang, akan tetapi ada saja halangannya. Meskipun kedua-duanya saling mencintai, akan tetapi tetap selalu ada halangannya." "Sama hal-nya dalam berumah-tangga Ju, selalu ada masalah di dalam kehidupannya." "Oh, iya Ju mengenai pekerjaan kamu itu koq dia bisa tau ya? Terus dia meminta ke kamu aja kalau ingin memeriksakan dirinya." "Mungkin dia memahami Ran, begitu susahnya kayak orang-orang yang kerja seperti aku ini. Yang mana, kerjaanku ini data pasiennya harus selalu gonta-ganti. Sebenarnya mereka berdua itu pasiennya temen aku Ran. Hanya saja, kayaknya merasa tidak enak dengan kamu. Makanya dia ingin membantu aku, agar aku mendapatkan daftar nama yang baru." "Oh begitu ya Ju. Tapi kamu tahu tentang perkembangannya mereka berdua Ju?" "Setahu aku sih, mereka berdua hubungan cukup lumayan lama. Dan setiap memeriksakan diri, mereka selalu berdua. Tidak pernah berganti-ganti pasangan." "Kenapa kamu emangnya Ran mendadak penasaran kayak gitu?" "Ya, aku hanya ingin tahu saja mengenai pekerjaan kayak kamu itu Ju. Ternyata sama kayak aku, susah-susah gampang. Aku saja terkadang dalam sehari hanya berjualan satu dua pcs, akan tetapi terkadang ramai. Ada pasang surutnya Ju." "Bener Ran. Ya, itulah namanya hidup Ran. Tapi kita tetep harus bersemangat Ran. Jangan pernah untuk patah semangat."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN