“Jelaskan! Siapa dia!” bentak Gama. “Mas Gama nggak usah bentak Luna bisa? Kita bisa bicara baik baik, Mas.” Ujar Luna menenangkan Gama. Gama tertawa sinis, tidak percaya dengan ucapan Luna yang menyuruhnya tenang. Bagaimana ia bisa tenang sementara Luna terang terangan berhubungan dan akrab dengan laki laki lain di belakang Gama. Hati Gama panas, otak dan pikirannya tidak bisa diajak kompromi untuk berpikir jernih saat ini. “Bener kamu berhubungan sama laki laki lain di belakang saya kayak gini, hah!” bentak Gama semakin jadi. “Ya gak bener, sih. Tapi ‘kan Luna nggak macem macem, Mas. Nggak selingkuh juga. Lagian kalo Mas Gama tahu, emang Mas Gama bolehin Luna berteman sama Kak Anrez? Nggak, kan?” Gama semakin dibuat sakit kepala oleh Luna. Otaknya terbakar, semakin besar saja b

