Karena rasa cemasnya, Rina terus mendesak Kiara untuk mengatakan apa yang terjadi selama dibawa Rifan. Namun, bukan jawaban yang Rina dapatkan. Kiara hanya menangis tertahan, ketakutan, juga tatapan kosong dan kesedihan, Kiara tampak syok sekarang.
Tentu saja itu semakin membuat Rina cemas, pikiran buruk bertebaran di otak Rina. Dia sangat ingin Kiara mengatakan padanya, apa yang sudah terjadi padanya selama Rifan membawanya.
"Rina, jangan paksa Kiara untuk bercerita. Dia masih syok, sebaiknya biarkan Kiara istirahat terlebih dahulu." timpal Maria yang ikut terharu melihat kepulangan Kiara.
Begitu juga dengan Linggar, pria yang tidak lain adalah anak kandung Maria. Pria berusia dua puluh lima tahun itu sudah membantu Maria mencari Kiara. Linggar berdiri disamping ibunya dan menjadi saksi kembalinya, Kiara kepangkuan sang Bunda. Melihat kedekatan Kiara dan ibunya, Maria dan Linggar ikut menitihkan air mata.
“Sebaiknya kamu antar Kiara kedalam. Biarkan dia istirahat dulu, Rin.” Maria menyarankan.
Sebagai seorang psikiater, Maria tahu apa yang harus dijaga saat seseorang yang sedang trauma ada di depannya. Tidak langsung menceritakan hal buruk yang baru menimpanya adalah cara untuk menjaga emosi Kiara. Maria menjelaskan pada Rina, bahwa jika dia menceritakan apa yang telah terjadi, di depan Kiara akan memperburuk psikologis Kiara yang sedang trauma. Rina menuruti saran sahabatnya itu, dengan penuh perhatian Rina mengantar Kiara kedalam kamar. Baru saja membuka pintu itu, Tasya menyambut sang kakak dengan wajah sedihnya.
“Kakak, apa Kakak baik-baik saja?" Tasya memeluk sang Kakak dan menelisik sekujur tubuhnya, "Apa yang Om Rifan, lakukan pada Kaka? Apa dia melakukan sesuatu yang buruk pada, Kaka?” cecar Tasya.
Mendapati pernyataan dari adiknya, Kiara kembali terisak.
"Kaka, Kaka kenapa?" Tasya sendiri menjadi bingung apa yang sebenarnya terjadi pada Kakaknya.
"Sayang, sudah jangan tanyakan apapun dulu pada kakakmu. Biarkan dia istirahat." pinta Rina pada Tasya.
Tasya memasang wajah bingung jadinya, “Tapi ... Tasya ingin tahu apa yang terjadi pada Kaka."
“Kakakmu baik-baik saja, Tasya. Tapi jangan tanyakan apapun dulu pada kakakmu, biarkan dia istirahat terlebih dahulu." Rina memberikan pengertian. "Sekarang kamu keluar dan temui tante Maria. Katakan pada tante Maria, Ibu sedang mengurus Kiara sebentar.” Pinta Rina kemudian .
Tasya yang memang penurut itu menuruti perkataan ibunya. Mengesampingkan rasa penasarannya Tasya meninggalkan kamar dan menemui Tante Maria. Sementara Rina mulai membersihkan tubuh Kiara sangat berantakan itu.
“Sayang. Sekarang kita mandi, ya? Ibu akan membantumu membersihkan tubuh.” bujuk Rina menuntun kita kedalaman kamar mandi.
Kiara yang masih syok itu hanya mengangguk lemah dengan tatapan kosong. Menyadari perubahan sikap pada anaknya, Rina merasa kasihan, apalagi ketika membuka baju penutup tubuh Kiara. Rina melihat ada bekas luka cakaran, lebam juga tanda merah di sana.
Rina terisak dalam diam, mencoba menahannya agar suara tangisan itu tidak terdengar oleh Kiara. Tetapi, Rina tidak bisa melakukannya bahkan Kiara ikut menitihkan air mata saat mendengar tangisan ibunya.
Rina mencoba menegarkan hatinya, menahan air mata dan menetralisir perasaan yang hancur. Jauh dalam lubuk hatinya, Rina sangat takut Rifan sudah merenggut kesucian Kiara secara paksa.
"Sayang, apa yang kamu rasakan. Apa ada bagian tubuhmu yang sakit?” tanya Rina mengusap wajah Kiara pelan dan penuh perhatian.
Kiara, menggelengkan kepalanya lemah.
“Syukurlah, Sayang. Jika ada yang sakit katakan saja pada Ibu. Ibu akan memeriksanya." Rina mengusap kepala Kiara, "Sekarang kamu mandi, ya. Ibu akan menyiapkan baju untukmu.” sambung Rina, dan disambut anggukkan lemah oleh Kiara.
Setelah membantu Kiara membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya. Rina membaringkan tubuh Kiara di ranjang untuk istirahat, menyelimuti tubuh gadis itu dengan penuh perhatian. Kiara yang belum banyak bicara itu hanya sesekali mengangguk dengan perintah ibunya.
Sebenarnya, Rina sangat sedih melihat keadaan anaknya dan ingin segera mendapatkan penjelasan dari Maria. Rina meninggalkan Kiara dan kembali ke ruang tamu untuk menemui Maria dan anaknya.
“Tasya kamu temani kakakmu di kamar ya, tapi jangan ganggu dia. Biarkan dia istirahat dan jangan tanyakan apapun padanya.” titah Rina pada Tasya yang sedang menemani Maria dan Linggar.
“Baiklah, Bu.” jawab Tasya, dan langsung berpamitan pada Maria dan Linggar.
"Maria, katakan padaku apa kamu tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada Kiara?" desak Rina, setelah duduk berhadapan dengan Maria dan Linggar.
“Kami bertemu Kiara di sebuah hotel, Rin. Dia pingsan dan hampir dinodai oleh Rifan dan teman-temannya.” Terang Maria mulai menceritakan bagaimana dirinya dan anak laki-lakinya itu menemukan Kiara.
“Apa, Rifan sudah sampai melakukannya?” suara Rina terdengar bergetar.
Maria menggelengkan kepalanya, "Tidak Rina, hanya saja …"
Maria kembali menjelaskan bahwa saat ditemukan Kiara dalam keadaan tidak berbusana. Maria bisa memastikan Rifan belum sampai menjamah bagian inti tubuh Kiara, sehingga Kiara masih aman. Maria datang bersama Linggar. Linggar yang masuk kedalam kamar hotel itu langsung menghajar Rifan. Perkelahian sempat terjadi. Beruntung Linggar seorang Atlet bela diri, sehingga Linggar bisa mengalahkan Rifan dan membawa pulang Kiara dengan selamat.
Mendengar penjelasan dari sahabat terbaiknya itu Rina sangat lega. Setidaknya kesucian Kiara masih terjaga dan yang terpenting Kiara kembali padanya dengan selamat. Tapi ada satu hal yang membuat Rina belum bisa tenang. Rifan pasti akan mengadukan semua itu pada suaminya dan suaminya bisa datang kapan saja untuk menjemput paksa Kiara. Rina menceritakan kegelisahannya itu pada Maria.
“Kalau seperti itu, sebaiknya kita pergi dari sini. Aku rasa kalian sudah tidak aman lagi tinggal dirumah ini.” Maria sangat peduli.
“Tapi kemana aku harus pergi, Mar. Aku tidak punya tempat tinggal lagi, ini adalah rumah peninggalan orang tuaku satu-satunya,” ujar Rina.
Memang, Rina tidak punya keluarga di kota itu. Rina adalah anak tunggal sehingga dia tidak memiliki siapa-siapa di Jakarta. Sementara keluarga Hermawan tidak pernah mengakui Rina dan anak-anaknya sebagai bagian dari keluarga mereka. Keluarga Hermawan sudah membenci Rina dari awal pernikahannya, karena itu Rina tidak dekat dengan mereka.
“Kamu tidak perlu khawatir, Rin. Ikut saja denganku, kalian bisa tinggal di rumahku atau di panti asuhan milik ibuku untuk sementara. Setelah kamu mendapat pekerjaan dan memiliki uang, kamu bisa pindah.” Maria menawarkan.
Wanita berdarah Bugis itu memang memiliki dua rumah dan satu panti asuhan milik orang tuanya.
“Mama benar, Tante. Aku rasa Kiara dan Tasya tidak aman jika mereka tetap ada disini.” timpal Linggar. Pria berwajah tampan dan tinggi itu memiliki hati yang baik seperti ibunya.
Rina berfikir sesaat, tapi belum selesai Rina berdiskusi dengan Maria dan anaknya. Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti didepan rumah. Rina segera mengintip dari balik jendela siapa yang datang kerumahnya.
“Astaga! Suamiku pulang, Maria. Bagaimana ini?” Rina panik.
“Sebaiknya kita bawa Kiara pergi dari sini sekarang!" Maria pun ikut tegang, begitu juga dengan Linggar yang langsung bangkit dari duduknya.
"Aku akan menolong Kiara. Kita pergi lewat pintu belakang!" Linggar hendak berlari ke kamar Kiara.
“Tapi–" Rina ragu untuk melakukannya.
“Tante, percayalah kita pergi saja. Halangi pintu itu dan kita keluar." Dengan cepat Linggar mengunci pintu utama agar Hermawan tidak bisa langsung masuk.
Sementara Rina menjemput anaknya di kamar dan menyuruh mereka ikut dengan Maria. Linggar sendiri langsung membopong tubuh Kiara dan membawanya keluar kamar, sementara Tasya menjadi panik dan ketakutan.
“Apa yang terjadi Bu, kenapa kita harus pergi dari sini?” tanya Tasya bingung.
“Sudah, jangan banyak bertanya. Pergi saja lewat pintu belakang, ikuti kak Linggar dan Tante Maria, lindungi juga kakakmu!”
Rina sendiri sibuk mengambil beberapa berkas penting miliknya dan diserahkan pada Tasya untuk dibawa untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu dia membutuhkannya.
"Bawa semua ini, jaga kakakmu. Ibu akan menghalangi Ayahmu!" Rina menyerahkan berkas penting itu pada Tasya.
"Rina buka pintunya Rina!" Didepan rumah, Hermawan berteriak sekuat tenaga dan menggedor pintu itu dengan kasar.
"Ayo cepat Sayang, pergi dari sini!" desak Rina lagi.
Merasa tidak aman Tasya terpaksa meninggalkan ibunya. Keluar mengejar Linggar dan tante Maria yang sudah keluar melalui pintu belakang. Sementara Rina bersiap menemui yang masih Hermawan menggedor-gedor pintu dan berteriak memanggilnya. Hermawan begitu marah dan murka diapun memberanikan diri menghadapinya. Apalagi di belakangnya Maria sudah sampai di pintu belakang bersama anak-anaknya, tapi mereka belum berani keluar karena Hermawan masih ada di depan pintu.
Untuk mengalihkan perhatian suaminya, dan memberi kesempatan kepada Maria masuk kedalam mobil. Rina berinisiatif membuka pintu utama dan membiarkan suaminya masuk. Begitu pintu itu terbuka, Hermawan yang sudah dikuasai amarah, langsung mendorong tubuh Rina dengan mencekiknya. Hingga Rina mundur beberapa langkah dan akhirnya dihempaskan begitu saja pada meja. Rina memekik kesakitan karena punggungnya yang membentur meja yang terbuat dari kayu.
"Kenapa lama sekali membuka pintu, apa yang kamu lakukan hah?!" teriaknya.
Sementara Rina tidak dapat berkata-kata, punggungnya terasa sangat sakit sampai di ujung kepalanya.
"Dasar wanita sialan!" hardik Hermawan, menendang punggung Rina.
Rina memekik kesakitan untuk kesekian kalinya. Sementara Hermawan bergegas ke kamar anaknya untuk mencari Kiara, namun Tidak ada Kiara di sana.
"b*****h! Sialan! Di mana Kiara?!"