bc

Istri Yang Kau Abaikan

book_age18+
176
IKUTI
1.0K
BACA
family
HE
opposites attract
badboy
drama
like
intro-logo
Uraian

Rina, wanita berusia tiga puluh sembilan tahun yang memiliki suami kejam dan

ringan tangan. Bahkan pria itu tega menjerumuskan anaknya ke dalam pekerjaan hina.

Rina terpaksa bertahan dengan suaminya karena suatu alasan yang tidak bisa membuatnya bercerai. Namun, sialnya hal itu membuat Rina semakin menderita. Suaminya tega menduakan Rina, memaksanya hidup bersama wanita yang sudah merebut suaminya.

Bukan hanya kehilanganmu suaminya, semakin lama Rina juga semakin jauh dengan anak kesayangannya karena pengaruh Silvia - wanita simpanan suaminya.

Lantas bagaimana kehidupan Rina, setelah hidup bersama Silvia?

Akankah Rina bahagia dan mendapatkan keadilan dari suaminya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Suami Pengangguran dan Menyakitkan!
"Kemarikan uang itu, Rina!" bentak Hermawan merampas uang di tangan Rina. "Mas, tolong jangan ambil uang itu, itu untuk biaya sekolah Kiara dan Tasya!" teriak Rina berusaha mempertahankan uang miliknya. Namun, bukannya mendapatkan kembali uangnya, Rina justru mendapatkan tamparan dari tangan kekar suaminya. Wanita itu pun meringis kesakitan karenanya. "b******k! Perempuan gak guna, bikin sial! Cuma uang segini saja kamu heboh!" Hermawan kembali mencibir Rina. Meski terlihat lemah Rina tidak ingin mengalah begitu saja. Dia masih terus berusaha mempertahankan uang yang sudah berbulan-bulan dikumpulkan untuk biaya sekolah kedua anaknya. Uang tabungan hasil jerih payahnya sebagai karyawan di pabrik tempatnya bekerja. "Kembalikan uang itu, sekarang!" bentak Rina dengan menahan sakit di pipinya. "Minggir jangan halangi aku!" teriak Hermawan dan malah mendorong tubuh Rina membuat Rina terhuyung dan jatuh terduduk. "Itu uang untuk anak kita, Mas. Mereka butuh biaya sekolah, aku sudah susah payah menabung agar tidak ingin membebanimu. Tapi kamu malah mengambilnya, di mana hati nuranimu?" Rina meluapkan kekesalannya karena sikap suaminya yang keterlaluan itu. "Apa kamu bilang, hati nurani? Kamu pikir aku peduli! Minggir sekarang!" bentak Hermawan menyingkirkan Rina dan hendak berlalu begitu saja. Namun, kedua tangan Rina mencekal kaki suaminya, menghentikan langkah Hermawan yang hendak pergi setelah merampas uang tabungannya. Hermawan dengan cepat mengantongi uang itu dan menghempaskan Rina dengan kekuatan kakinya. Sehingga pegangan Rina hampir terlepas, tapi karena Rina sangat ingin mempertahankan uangnya. Dia pun berusaha sekuat tenaga mencengkeram kaki suaminya. "Kembalikan uangku, Mas! Aku tidak akan melepaskanmu sampai kamu kembalikan uang itu!" "Bangun kau!" Hermawan justru mencengkram lengan Rina dan satu tangan mencengkram rahangnya. Dengan kasar Hermawan menarik tubuh wanita berbadan kurus itu agar berdiri di hadapannya. Rina meringis kesakitan, tubuhnya terasa lunglai dan tidak sanggup berdiri dengan tegak sekarang. "Jadi, kamu mau perhitungan denganku? Apa karena aku tidak bekerja jadi kamu bisa berbuat seenaknya padaku?! Aku ini suamimu, tugasmu adalah patuh padaku, Rina!" teriak Hermawan persis di depan wajah Rina. Rina tidak sanggup berkata-kata, karena rasa sakit yang luar biasa itu. Wanita itu hanya menitihkan air mata, dengan tatapan iba pada suaminya. Namun, suaminya sama sekali tidak peduli padanya, pria itu justru semakin erat mencengkeram rahang Rina. "Ayah, cukup! Jangan sakiti ibu!" Kiara yang tiba-tiba datang menarik tangan sang Ayah dari rahang ibunya. Gadis berusia delapan belas tahun yang masih duduk di bangku SMA itu berusaha menolong ibunya. Tetapi kekuatan tangan ayahnya, jauh lebih besar dari Kiara. Sehingga cengkeraman tangan itu tetap erat di rahang ibunya. “Diam kamu, Kiara! Jangan ikut campur dengan urusan orang tua!” hardik Hermawan menatap tajam putrinya itu. Rina memberikan isyarat pada putrinya, agar tidak ikut campur dengan urusan orang tua, takut suaminya akan menjadikan Kiara pelampiasan emosinya. Namun Kiara, tidak memedulikan isyarat itu, dia terus memohon dengan iba pada ayahnya. "Kiara mohon, Ayah. Jangan sakiti ibu seperti ini, kasihan ibu, Ayah." "Diam! Ayah bilang jangan ikut campur! Pergi sekarang atau kamu mau ayah pukul juga?!" Hermawan kembali memperingatkan Kiara. “Tapi Ayah ....“ “Pergi sekarang!” Hermawan melepaskan cengkeramannya pada Rina dan beralih menarik kasar tubuh Kiara. Menyeretnya ke dalam kamar dan mendorongnya dengan kasar keatas ranjang. Kiara berusaha memberontak dan melepaskan cengkeraman ayahnya. "Mas, jangan sakiti Kiara!" Rina yang tidak tega melihat anaknya itu langsung mencegah perbuatan suaminya. Hermawan yang diliputi amarah itu justru kembali mendorong tubuh Rina. Membuat Rina terjatuh dan membentur meja, sesaat Rina terdiam karena merasakan sakit yang teramat luar biasa di bagian kepalanya. Pandangannya seketika nanar, bahkan terasa cairan hangat keluar dari pelipisnya. Rina tidak dapat berbuat apa-apa karena semakin lama kepalanya terasa semakin berat dan berputar. Namun melihat anaknya yang menangis ketakutan Rina langsung mengabaikan rasa sakitnya. "Mas … tolong, jangan sakiti Kiara," pinta Rina mengiba. Hermawan tidak menggubris istrinya, dia masih bersikeras untuk menghukum Kiara di kamar dalam. Terdengar suara tamparan yang bersahutan dengan Kiara yang memekik kesakitan, lalu suara pintu yang di tutup secara kasar dan kemudian dikunci dari luar. Kiara menggedor-gedor pintu yang sudah tertutup rapat itu, meneriaki ayahnya agar kembali membukakan. Tapi sang ayah, seakan tuli tidak memperdulikan teriakan putrinya. Hermawan sudah kembali pada Rina, kembali melampiaskan amarahnya. Salah satu tangan kasarnya, menjambak rambut Rina. Membuat Rina menengadahkan kepalanya ke langit-langit rumah dengan merintih kesakitan. Namun Hermawan sama sekali tidak peduli pada rintihan pilu sang istri. Pria itu terlalu gelap mata, nyaris mencekik sang istri karena merasa istrinya itu perhitungan padanya. Hermawan juga tidak suka saat Kiara terlalu banyak ikut campur dengan urusan orang tua. "Dengar, ajari putrimu itu. Jangan terlalu berani ikut campur dengan urusan kita atau aku akan menghukumnya!" Hermawan masih memperingatkan Rina. "Dia putri kita, Mas. Dia hanya ingin melindungiku," lirih Rina masih bisa bersuara karena cengkraman Hermawan tidak sekuat sebelumnya. "Aku tidak peduli, jika kamu tidak ingin anak itu celaka. Maka ingatkan dia untuk tidak kurang ajar denganku!" bentak Hermawan. Rina yang kesakitan hanya bisa mengangguk mengerti, tidak ada perlawanan. Dia sudah tidak memiliki banyak tenaga untuk melawan suaminya. "Bagus! Sekarang nikmati kesakitan yang kalian ciptakan sendiri!" tukas Hermawan melepaskan cengkeramannya dengan satu kali hentakan. Tanpa perasaan, pria itu pergi meninggalkan Rina dan rumahnya. Tentu saja dengan segenggam uang yang sudah dia rampas dari Rina. Sementara Rina terpaksa merelakan tabungan yang susah payah dia kumpulkan untuk pendidikan anak-anaknya. Sebenarnya Rina bukannya perhitungan pada Hermawan . Hanya saja dia tahu suaminya sering berfoya-foya, berjudi dan mabuk-mabukan bersama teman-temannya. Itu alasannya kenapa Rina tidak sudi memberikan uang pada suaminya. Rina sudah berusaha menasehati suaminya, agar menghentikan kebiasaan buruknya. Namun, hanya pukulan dan cacian yang didapatkannya. Entah sudah beberapa kali Rina dipukul oleh Hermawan. Yang pasti setiap kali ada perkataan kecil yang menyinggung perasaan suaminya. Rina akan langsung mendapatkan perlakuan kasar. Dua puluh tahun setelah pernikahan mereka, Rina merasa putus asa dengan sikap kasar Hermawan. Rasanya sangat menyesal karena bertahan dengan pria ringan tangan seperti dia. Rina hanyut dalam lamunan masa lalunya. Di mana, dia menikah tanpa restu kedua orang tuanya. Masih ingat bagaimana dulu Hermawan berjanji akan menjadi suami yang baik untuknya dan ayah yang baik untuk anak-anaknya. Hingga membuat Rina rela membangkang kedua orangtuanya. Menikah diam-diam dengan Hermawan dan meninggalkan kedua orang tuanya di desa. "Ibu, buka pintunya, Bu!" Seketika lamunan Rina buyar, saat mendengar teriakan Kiara yang mengendor pintu kamar. Rina tersadar dan langsung menyeka air matanya, berusaha menegarkan hati dan beralih mengambil kunci cadangan untuk membukakan pintu kamar Kiara. Karena Hermawan membuang kunci kamar Kiara entah kemana. Begitu pintu itu terbuka, Rina mendekap Kiara yang langsung menghamburkan tubuh padanya dan membiarkan putrinya menangis di pelukannya. "Ibu, Kiara takut." "Iya, Nak. Kamu tidak apa-apa, kan? Apa ada yang terluka?" tanya Rina seraya menelisik sekujur tubuh Kiara dan memastikan keadaannya. Untungnya Kiara baik-baik saja, hanya pipinya yang terlihat memar. Rina merasa begitu kasihan pada Kiara, gadis itu memang selalu melindungi ibunya karena memiliki keberanian. Berbeda halnya dengan Tasya, sang adik yang hanya bisa terdiam setiap kali melihat pertengkaran ibu dan ayahnya. Gadis itu tidak berani berbuat apa-apa, setiap kali ada keributan dirumahnya. Seperti saat ini, Tasya hanya bersembunyi di kamarnya. Gadis berusia enam belas tahun itu baru keluar setelah yakin jika ayahnya sudah pergi. "Ibu! Kakak!" Tasya keluar dari kamar dan langsung memeluk ibu dan sang Kakak. Rina yang sedang bersama Kiara itu langsung memeluk Tasya. Mendekapnya, berharap mereka tidak trauma setiap kali ada pertengkaran seperti ini. "Kiara, Tasya. Maafkan Ibu, karena sudah membuat kalian ketakutan. Ibu tidak bisa melindungi kalian," ucap Rina ditengah kesedihan yang semakin dalam.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Oh, My Boss

read
387.0K
bc

Revenge

read
35.5K
bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.3K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

Beautiful Pain

read
13.6K
bc

Penghangat Ranjang Tuan CEO

read
33.9K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
6.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook