Dua minggu setelah kejadian itu, keadaan Rina sudah membaik. Namun, wajahnya masih di penuhi luka lebam yang mulai mengering. Rina yang sedang mengobati luka itu sesekali meringis kesakitan karena masih terasa nyeri setiap kali luka itu disentuh oleh.
Masih teringat di benak Rina, bagaimana perbuatan suaminya dua minggu yang lalu saat memukulinya. Rina juga masih takut bertemu dengan suaminya itu, namun saat pria itu tidak kembali kerumah, Rina merasa sangat cemas dan mengkhawatirkannya.
“Kiara, kenapa ayahmu belum juga pulang?" tanya Rina pada Kiara saat mereka duduk bersama di meja makan.
"Saat itu ayah berkata akan pulang setelah mendapat pekerjaan dan Kiara dengar, ayah sudah mendapatkan pekerjaan, apa itu benar?" tanya Kiara kemudian
“Entahlah, Sayang. Ibu juga tidak tahu tentang itu."
“Sebenarnya, Kiara lebih suka ayah tidak ada di rumah, Bu. Setidaknya kita menjadi aman, tidak ada yang menyiksa Ibu. Terkadang Kiara merasa lebih damai jika tidak memiliki ayah, dari pada memiliki ayah tapi hanya membuat kita menderita.” terang Kiara dengan nada lembutnya.
Mendengar penuturan anaknya itu Rina menggelengkan kepalanya dan bicara dari hati ke hati dengannya. Rina tidak ingin anak-anaknya itu membenci ayah mereka, meskipun pria itu sangat kasar pada keluarga.
“Sayang, kita tidak boleh seperti itu. Biar bagaimanapun dia tetap ayahmu. Kita harus menghormati dia.”
Kiara mengerti ucapan ibunya, gadis itu sudah cukup cukup mengerti cara cara menghormati orang tua. Meskipun ada rasa kesal, Kiara berusaha meredamnya dan menghargai nasehat sang ibu yang memang memiliki hati mulia.
"Kiara masih menghormati ayah, Bu. Kiara tahu bagaimana Kiara harus berbakti pada kedua orang tua, meskipun ayah tidak sebaik yang di harapkan Kiara," ucap Kiara lemah.
Rina pun merasa sedih sekaligus bangga pada anaknya itu, ternyata usahanya menanamkan rasa cinta dan hormat kepadakedua orang tua melekat di dalam diri Kiara. "Terima kasih, Sayang. Kamu sudah menjadi anak yang baik." Rina memeluk Kiara.
Kiara tersenyum pada ibunya dan kembali berkata. “Jika benar ayah sudah bekerja. Kiara mengharapkan kepulangan ayah karena Kiara butuh uang untuk biaya sekolah."
Rina menatap dalam wajah putrinya yang mulai menceritakan, jika beberapa hari lalu Kiara mendapatkan informasi dari om Rifan yang tidak lain sahabat ayahnya. Om Rifan mengatakan jika ayahnya sudah bekerja di kota. Kiara sangat mengharapkan kepulangan ayahnya dan berharap akan mengembalikan uang ibunya yang dirampas dua minggu yang lalu itu.
"Memangnya, berapa uang yang kamu butuhkan?” tanya Rina pelan.
Kiara memberikan selembar kertas pada ibunya, itu adalah rincian tagihan dari sekolah. Rina mengambil alih kertas itu dan membacanya dengan seksama. Melihat rincian biayanya, Rina merasa sedih. Nominal yang tertera di kertas itu jauh lebih banyak lebih dari uang tabungan yang dia punya.
“Bagaimana, Bu. Apa Ibu punya uang untuk membayar semuanya?” tanya Kiara, menatap penuh harap pada ibunya.
Rina terdiam sesaat, kemudian mengalihkan pandangan dan menatap dalam wajah Kiara. “Akan Ibu usahakan, Sayang. Ibu ada uang tapi hanya sebagian, nanti bisa kamu gunakan untuk membayar tagihan ini.”
“Terima kasih, Bu. Kalau bisa jangan sampai akhir bulan ya. Kalo sampai akhir bulan, nanti ijazah Kiara tidak bisa di ambil.” tambah Kiara lagi.
Rina menganggukkan kepala disertai senyum pada anaknya. Meski dia sendiri tidak yakin akan mendapat uang dalam waktu cepat. Tetapi Rina akan mengusahakan yang terbaik untuk anaknya. Cukup lama, Rina masih berbincang-bincang dengan Kiara, tiba-tiba terdengar deru mobil yang berhenti di depan rumahnya. Rina pun langsung melihat dari jendela, di susul oleh Kiara ikut penasaran siapa yang datang.
“Ibu, bukankah itu ayah?” Tunjuk Kiara, kearah yang sama dengan ibunya dari balik kaca jendela.
“Ya, Sayang, itu memang ayah. Tapi ... ayah dengan siapa?” Rina merasa nyeri di ulu hatinya saat melihat seorang wanita melambaikan tangan dengan tersenyum pada suaminya.
Buru-buru Rina keluar dan segera menghampiri suaminya. Hatinya menutut jawaban siapa wanita yang bersama suaminya itu. Di teras rumah Rina tertegun melihat penampilan suaminya yang jauh berbeda dari penampilan sebelumnya. Baju baru, sepatu baru dan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Membuat Hermawan terlihat sangat gagah dan berwibawa.
“Mas Hermawan.” sambut Rina, pada suaminya yang tiba di depannya. “Kamu dari mana saja, Mas? Kenapa baru pulang, dan penampilan kamu, kenapa sekarang berubah?” telisik Rina memandangi suaminya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Namun, bukannya mendapatkan jawaban, pertanyaan sepele itu justru membuat raut wajah Hermawan berubah kesal. Hermawan tidak suka ketika baru pulang, Rina langsung menginterogasi dirinya. Dengan wajah dinginnya Hermawan melepaskan tas ransel yang ada di pundaknya dan melemparkannya begitu saja di depan Rina.
“Jangan banyak bertanya, Rina! Aku ini baru pulang kerja. Aku lelah, seharusnya kamu menyambut ku dengan kebahagiaan, bukan dengan rentetan pertanyaan yang tidak jelas seperti itu!” hardik Hermawan.
Rina terkejut, suaminya memang sudah berubah tetapi ternyata sikapnya tidak. Pria itu tetap kasar dan arogan, Rina pikir dengan penampilan yang lebih gagah dan berwibawa, Hermawan akan bersikap lembut padanya. Seperti tadi, saat dia berbicara dengan wanita yang mengantarnya.
“Tapi ... kamu bekerja di mana, Mas?” Rina masih berani bertanya.
Hermawan membuang nafas kasar dan mengusap wajahnya yang tampak lelah. Pria itu semakin kesal karena Rina terlalu cerewet. Jika bagi sebagian pria pertanyaan seperti itu adalah bentuk perhatian dan rasa peduli dari seorang istri terhadap suaminya, tapi bagi Hermawan itu adalah duri yang mengusik ketenangannya.
“Kamu tidak perlu tahu pekerjaanku, Rina! Yang pasti aku bekerja dan menghasilkan banyak uang untukmu dan juga anak-anakmu!”
“Tapi, Aku ingin tahu apa pekerjaanmu, Mas?”
“Sudah cukup! Aku lelah dan butuh istirahat. Sebaiknya kamu jangan banyak bertanya!” sergah Hermawan, mendorong tubuh Rina dan menerobos masuk kedalam rumah.
Sementara Rina tersungkur karena tidak bisa menyeimbangi tubuhnya. Wanita itu berpegang pada tiang pintu rumah agar tidak terjatuh. Rina menatap penuh tanya pada suaminya yang masuk kedalam rumah dan menghilang di balik pintu kamarnya.
“Ibu, Ibu tidak apa-apa?” Sementara Kiara yang sejak tadi bersembunyi di balik pintu kamar itu segera keluar dan menghampiri ibunya.
“Tidak apa-apa, Sayang. Ibu hanya kaget saja.” Dusta Rina, padahal batinnya sangat tersiksa.
"Sudah Bu, sekarang kita masuk saja." Kiara menuntun ibunya dan masuk ke dalam rumah.
Rina masih peduli pada tas ransel suaminya dengan kedua tangannya membawa tas itu masuk kedalam rumah. Penasaran dengan isinya, Rina membuka tas itu tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Akan tetapi baru saja akan menarik resleting tas itu tiba-tiba, Hermawan muncul dari kamar dan langsung merebut tas itu dari Rina.
“Kurang ajar kamu! Kenapa kamu menyentuh tasku?!” sentak Hermawan melayangkan tatapan tajam.
Rina terkejut, begitu juga Kiara. Gadis itu berlindung di balik punggung ibunya. Menyadari akan ada pertengkaran Kiara melangkah pergi dari hadapan ibu dan ayahnya. Itulah yang ibunya pesan pada Kiara, agar tidak ikut campur saat ayahnya sedang marah.
“Jangan sekalipun kamu menyentuh barang-barang ini tanpa seizin ku, Rina!” hardik Hermawan dengan nada tingginya.
“Tapi aku hanya ingin membereskan baju-baju kamu saja.”
“Tidak perlu! Sekarang buatkan aku makanan, aku lapar!” titah Hermawan, lalu mengambil sesuatu dari dalam tas itu dan melemparkannya pada Rina. “Ini, uang untuk menyumpal mulutmu yang menyebalkan!”
Rina terkejut karenanya, bukan hanya terkejut karena wajahnya di lempar uang. Tetapi jumlah uang itu sangat banyak, dan berhaburan di lantai. Rina tidak tahu pasti berapa jumlahnya, yang pasti uang itu sangat banyak dan berserakan menutupi lantai.
“Uang kamu banyak sekali, Mas. Kamu dapat dari mana?”
“Jangan banyak bertanya. Gunakan saja uang Itu!”
“Tapi ....”
“Halah! Ngga ada tapi-tapi turuti saja pemerintahku!”
Hermawan pergi meninggalkan Rina yang masih terpaku di antara puluhan, bahkan ratusan uang yang belum jelas asal-usulnya. Rina hanya memandangi uang itu, hatinya terus bertanya dari mana uang itu didapatkan dan apa pekerjaan baru suaminya.
Sementara, Kiara yang sejak tadi mengintip dari balik pintu kamarnya segera keluar dan membantu ibunya memunguti uang itu dan merapikannya.
“Bu, dari mana ayah mendapat semua ini?” tanya Kiara, memberikan uang yang sudah dikumpulkan pada ibunya.
“Entahlah, Sayang. Ibu juga tidak tau, yang pasti Ibu tidak akan menggunakan uang ini, sampai ibu benar-benar tahu dari mana asalnya.” jawab Rina.
Kiara mengerti pemikiran ibunya. Wanita berhati mulia itu tidak akan menggunakan sembarangan uang untuk keperluan keluarganya. Terutama anak-anaknya, karena Rina memiliki prinsip halal dalam hidupnya. Setelah membereskan uang-uang itu, dan menyimpannya, Rina berpamitan pada Kiara untuk berangkat bekerja, dia juga sudah menyiapkan makan untuk suaminya.
Setibanya di tempat kerja, Rina mulai bekerja seperti teman-temannya. Semua karyawan yang rata-rata dari wanita itu bekerja dengan serius, begitu juga dengan Rina. Tetapi saat menjelang siang kegaduhan tiba-tiba terdengar, karyawan yang penasaran berhamburan keluar menuju halaman untuk melihat keadaan. Begitu juga dengan Rina, betapa terkejutnya Rina ketika mendapati suaminya memukuli seseorang di depan sana. "Astaga mas Hermawan. Apa yang dia lakukan?!” Rina segera berlari keluar.