Menolak Nafkah Haram.

1263 Kata
Rina segera berlari keluar di depan pos satpam itu tampak Hermawan sedang memukuli Imam - petugas keamanan yang sedang berjaga. Rina buru-buru mendekat dan melerai suaminya yang bertindak sangat tidak sopan di tempat kerjanya. “Mas Hermawan! Hentikan, apa yang kamu lakukan?!” Rina mendorong tubuh suaminya yang sedang mencekal leher Imam. Wanita itu juga merasa kasihan pada pak Imam yang mengalami luka di bagian wajahnya, bahkan pria itu sudah tidak dapat berbicara sekarang, merasa bersalah Rina bermaksud menolongnya. “Hai istri sialan! Kenapa kamu lebih peduli apa dia! Aku ini suamimu!” hardik Hermawan tiba-tiba. Melihat Rina yang lebih peduli pada pria lain, Hermawan menjadi kesal. Rina yang sudah tersulut emosi, langsung mengalihkan pandangan pada suami dan memberikan tatapan tajam padanya. "Kamu keterlaluan, Mas! Kenapa memukuli pak Imam, memangnya apa salah dia?!” bentak Rina. “Dia terlalu angkuh karena menghalangiku masuk!” jawab Hermawan tanpa rasa bersalah. Rina berdecak kesal pada pria yang berdiri dengan wajah yang di kuasai amarah itu. "Memang kamu siapa, memaksa masuk ke dalam. Sudah menjadi tugas pak Imam, menjaga keamanan dari orang yang tidak berkepentingan sepertimu. Kamu punya kepentingan apa sehingga memaksa masuk pada pak Imam?” “Kenapa kamu malah memarahiku? Seharusnya, aku yang marah padamu, Rina. Asal kamu tahu, aku datang untuk menjemputmu!” serobot Hermawan dak kembali menarik tangan Rina. Rina pun meringis kesakitan, berusaha melepaskan cengkeraman yang semakin erat mencengkram dan menariknya kasar. “Lepaskan aku! Aku belum selesai bekerja, Mas!" Dengan satu tangannya Rina memukul tangan suaminya. Tetapi tapi pria itu tidak mendengar teriakan Rina. Justru dia semakin mencengkeram tangan Rina dan menarik paksa agar ikut dengannya. “Naik ke motor sekarang!” titah Hermawan, mendorong tubuh Rina. “Aku harus bekerja. Aku tidak bisa pulang sekarang!” Rina menolak dengan tegas. “Turuti perintahku, atau aku akan menghukummu lebih dari ini!” Hermawan mengancamnya. Pria itu memang selalu mengancam Rina untuk menakutinya. Sementara Rina semakin kesakitan, sekaligus pedih karena suaminya juga begitu keras menarik sebagian rambutnya. Pria itu sama sekali tidak memiliki hati dan rasa malu, padahal di seberang sana teman-teman Rina memperhatikannya. Mereka tahu, Rina memang sering menjadi korban kekerasan suaminya, tetapi tidak ada satu pun yang berani ikut campur dan melerai suami Rina. Mereka paham seperti apa watak suami Rina, jika mereka ikut campur habislah riwayatnya. Sementara Rina merasa tidak enak hati, tidak seharusnya membuat keributan dan pulang tengah hari seperti ini. Peraturan di pabrik itu melarang karyawan pulang tanpa ijin dari atasannya. Tetapi saat menyadari hampir semua karyawan memperhatikannya dan Rina tidak ingin suaminya semakin murka. Wanita yang sudah sangat malu itumemutuskan untuk ikut dengan suaminya. “Kita akan kemana?” tanya Rina, akhirnya mengalah juga. “Pulang! Kamu pikir akan kemana?!” Ketus Hermawan dengan menaiki motornya dan menyalakan mesin motor itu. Setelah Rina duduk di belakangnya, Hermawan melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan pabrik, menerobos keramaian dan lampu lalu lintas saat masih merah. Bahkan beberapa pengendara motor sempat mengumpat Hermawan ketika pria itu menyalip dan mengendarai motor itu dengan ugal-ugalan. Hingga setibanya di rumah, Hermawan menghentikan motornya dan Rina turun dengan kaki yang gemetar. Bagaimana tidak, di sepanjang jalan itu Rina dibuat spot jantung karena suaminya menggunakan kecepatan maksimal. Tapi belum sempat Rina protes, suaminya sudah lebih dulu menarik tangannya dan membuat Rina meminta ampun dengan iba. "Sakit mas, lepaskan tanganku," pintanya. Tetapi Hermawan tidak menghiraukannya. Pria itu memang sudah tuli dengan kesakitan istrinya, tidak sedikitpun memperdulikannya. Sesakit apapun Rina, Hermawan tidak akan pernah merasakannya. “Kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini, Mas. Apa salahku?!” lirih Rina lagi saat suaminya sudah menariknya masuk ke dalam rumah. “Kamu masih tanya apa salahmu? Apa kamu tuli tidak mendengarkan perintahku, pagi tadi? Aku menyuruhmu menyiapkan makanan untukku!” Kesal pria itu. “Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, di meja!” timpal Rina dengan memegangi tangan suaminya yang semakin keras mencengkeram tangannya. “Apa yang kamu maksud makanan? Mana?” Hermawan memelankan suaranya, namun tangannya masih mendorong kepala Rina menuju meja makan yang ada di depannya. “Iya Mas. Itu makanan, ‘kan?” jawab Rina pada makanan yang ditujukan suaminya. “Ini makanan? Apa ini yang kamu maksud makanan?" Rina mengangguk mengiyakan. "Rasakan makanan ini.” tiba-tiba dengan sengaja Hermawan menumpahkan makanan itu di kepala Rina. Wanita itu sangat terkejut karenanya, hatinya terasa nyeri sekaligus miris pada diri sendiri. “Bagaimana? Apa menurutmu makanan yang sudah dingin ini enak? Apa kamu menikmati makanan ini, hem?" Hermawan mendekatkan wajahnya pada Rina dan kembali menegaskan kalimatnya, "Aku sudah memberimu uang, Rina. Tapi kenapa kamu hanya membuatkan aku makanan sampah seperti ini, heh?!” tegas Hermawan dengan rahang saling bertautan. Tiba-tiba tangan kanannya melayang menyambar piring dan mangkuk yang ada di meja makan. Hingga semua itu melayang dan pecah berhamburan di lantai. Sehingga semua piring dan mangkuk itu hancur berkeping-keping. Namun, hati Rina terasa tersayat dan pedih. Rina mendudukkan kepalanya dalam. Tidak ada lagi kata-kata yang sanggup terucap dari bibir Rina. Hatinya merasa sangat sakit sekaligus menderita. Rina tidak menyangka kepulangan suaminya hanya akan menambah luka. Benar perkataan anaknya, lebih baik tidak ada ayah di rumah jika keberadaannya hanya menambah penderita saja. “Sekarang, buatkan aku makanan yang baru. Ingat rasanya juga harus enak!” titah Hermawan, lalu menghempaskan wajah Rina dengan kasar. Wajah Rina terhempas, air matanya berderai menganak sungai di kedua pipi tirusnya. Hanya anggukan kepala yang sanggup dia berikan untuk menanggapi perintah suaminya. Namun, sayangnya sederas apapun air mata Rina, tetap tidak menyentuh hati suaminya. Rina melangkah gontai membersihkan pecahan piring dan mangkuk yang berserakan di lantai, juga sisa makanan yang suaminya itu tumpahkan. Lalu, membersihkan diri dari sisa-sisa makanan yang di tumpahkan ke kepalanya tadi. Rina menangis seorang diri di dalam kamar mandi, hatinya pilu sekali, sudah sekian kali Rina di perlakuan kasar seperti itu. Tapi Rina sadar, meratapi nasib bukan solusi yang baik. Rina tidak ingin terlalu lama menangis dan membuat suaminya semakin murka. Dia pun buru-buru kembali ke dapur memasak makanan untuk suaminya. Tapi baru saja Rina mengambilkan bahan masakan, Hermawan kembali datang. Pria itu mencebik tidak suka kala melihat bahan makanan yang sudah Rina siapkan di meja. “Apa ini, kamu mau masak apa?” tanyanya. “Aku hanya punya bahan ini, Mas. Di kulkas tidak ada bahan lainnya.” jawab Rina. “Makanan sampah!” umpat Hermawan, melemparkan bahan makanan itu ke sisi Rina. Rina tersentak kaget dan menatap penuh luka semua bahan makanan yang sudah berhamburan di bawah kakinya. “Kenapa kamu melemparkan semua itu, Mas?” Rina menatap kecewa pada suaminya. “Sudah aku katakan. Buatkan aku makanan yang enak-enak. Yang berkualitas segar, daging, ikan atau lainnya yang mahal-mahal. Untuk apa aku memberikanmu uang jika kamu hanya memberiku makanan seperti ini?” “Tapi, aku belum sempat belanja dan aku juga belum tahu dari mana kamu mendapatkan uang itu, Mas. Aku tidak akan menggunakannya untuk belanja sebelum aku tahu dari mana asalnya.” jawab Rina dengan sisa keberaniannya. “Halah! Untuk apa kamu tahu pekerjaanku,bang penting aku memberikanmu uang untuk makan dan biaya sekolah Kiara dan Tasya. Aku sudah menuruti keinginanmu untuk bekerja dan mencari nafkah, jadi jangan membantah perintahku!” Hermawan memperingatkan. Tentu saja dengan gaya bicara yang keras dan sorot mata yang tajam pada Rina. Pria itu, paling tidak suka saat Rina bertanya perihal pekerjaannya. “Tapi, Aku hanya ingin memastikan jika uang yang kamu berikan itu didapatkan dari cara yang halal.” jawab Rina kemudian. Seketika itu, Rina mendapatkan tamparan dari suaminya. Hermawan tidak suka istrinya terus mendesak dan membahas perihal pekerjaannya, karena itu adalah rahasia dan tidak akan mengatakan kepada keluarganya. "Dengar, jangan ikut campur dengan urusan pekerjaanku, Rina. atau aku akan menghabisimu!" acam pria itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN