"Aku hanya ingin tahu dan memastikan jika uang yang kamu dapatkan adalah uang halal, Mas. aku tidak mau kamu memberikan aku dan anak-anakku dengan uang haram!" tegas Rina, saat suaminya mengancamnya.
“Halah, sok suci! Semua uang itu sama saja, uang dicari untuk digunakan. Harusnya kamu bersyukur, aku bekerja dan memberikan banyak uang untukmu, Rina!”
Rina diam dan menundukkan kepalanya dalam.
“Sudah, sekarang kamu tidak perlu masak. Aku sudah sangat lapar, pergi keluar dan cari makanan. Aku sudah tidak berselera menunggu masakan orang cerewet sepertimu!” titah pria itu.
Rina hanya menurut saja, rasanya sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa pada suami yang semakin hari semakin keterlaluan. Hatinya merasa sangat menyesal karena telah menikah dengan pria arogan seperti dia.
“Belikan aku nasi padang dengan lauk rendang! Jangan lupa, kerupuk Bangka dan jus alpukat yang kental!” teriak Hermawan.
Tidak banyak komentar, Rina pergi meninggalkan pintu rumah dengan melangkahkan kakinya menuju rumah makan padang. Jarak rumah yang ada di tengah pemukiman membuat Rina harus berjalan kaki cukup jauh di tengah teriknya matahari. Wanita malang itu menahan kesedihan di sepanjang jalan, merasa tidak ada yang memperhatikannya Rina menangis dalam diam sambil berjalan.
Tiba-tiba di pertengahan jalan sebuah angkutan kota milik tetangganya melintas dan menawarkan tumpangan kepada Rina. Dengan senang hati Rina menerima tawaran itu, menumpang hingga ke persimpangan lampu merah yang ada di pasar. Karena hanya itu satu-satunya rumah makan padang yang selalu buka dan menjadi favorit suaminya.
Hingga setibanya di tempat itu, Rina turun dan melanjutkan langkahnya menuju warung nasi padang yang sedang tidak terlalu ramai itu. Rina memesan makanan pada salah rumah makan padang milik tetangganya, mbak Mira namanya. Wanita berusia tiga puluh tahun itu sudah setahun membuka usaha rumah makan padang dan masakannya terkenal enak dan tidak terlalu mahal.
Saat menunggu, Rina tidak henti-hentinya memandanginya satu persatu deretan lauk pauk nasi padang yang berjajar di dalam etalase kaca. Rina teringat pada Kiara dan Tasya, sebab nasi oadang adalah makanan favorit mereka. Rasanya, ingin sekali membelikan kedua anaknya itu, tetapi mengingat uang yang dibawa hanya uang pemberian suaminya, Rina mengurungkan niatnya.
Dia sudah berjanji tidak akan menggunakan uang itu untuk kepentingan anaknya, apalagi membeli makanan untuk mereka. Rina masih takut jika uang dari suaminya didapatkan dengan cara yang tidak benar.
“Ini mbak Rina, pesanannya.” Mira menyodorkan kantong plastik berisi makanan pada Rina.
“Terima kasih, Mira.” Balas Rina seraya menerima makanan itu.
“Sama-sama, anaknya ngga dibelikan sekalian, Mbak? Mumpung bapaknya baru pulang kerja, pasti banyak duit.” Mira memulai obrolan dengan Rina.
“Tidak Mira, ini saja sudah cukup.”
“Pelit amat si Mbak. Suami mbak Rina, 'kan punya banyak duit. Kerja semalam sudah dapat jutaan, kenapa mbak Rina ngga beliin sekalian buat Kiara dan Tasya. Kasihan mereka, setiap hari makan nasi sama tempe saja.” beber Mira panjang lebar.
Sebenarnya Rina tidak senang Mira banyak berkomentar tentang kehidupannya, tetapi mendengar ocehan Mira yang membahas pekerjaan suaminya. Rina merasa wanita itu tahu apa yang dilakukan Hermawan. Meskipun terkesan malas, Rina berusaha tetap tenang menghadapi sikap wanita itu, sekaligus memancing informasi dari Mira tentang pekerjaan suaminya.
“Memangnya, kamu tahu dari mana suami saya kerja setiap malam dan bayarannya gede?” selidik Rina dengan wajah biasa saja.
“Setiap hari selama dua puluh empat jam saya ada disini, jadi saya tahu gerak-gerik orang-orang daerah kita, Mbak. Apalagi suami mbak Rina, dia sering makan disini bareng sama Rifan dan teman-temannya. Mbak tahu, suami mbak Rina juga sering kasih uang tips sama saya.” cletuk Mira dengan gayanya yang manis-manis manja.
“Apa?” Rina terkejut mendengarnya, kedua matanya membola.
Tapi Mira tampak biasa saja. Wanita centil yang selalu berpenampilan seksi itu hanya tersenyum tipis. Rina tahu selama ini Mira sering menjadi primadona pria-pria pria nakal di kompleknya. Rina tidak menyangka jika suaminya juga sering pegang-pegang Mira apalagi sampai memberikan uang padanya.
Rina tidak mengerti dengan jalan pikir suaminya saat ini. Mendengar suaminya sering berada di sana dan memberikan uang tips pada Mira. Rina jadi penasaran apakah suaminya juga 'nakal' pada Mira?
“Memangnya, Kamu melakukan apa, sampai mendapat uang tips dari suami saya?” dengan menahan rasa cemburunya, Rina melontarkan pertanyaan itu pada Mira.
Mira justru terkesikap dan salah tingkah mencari jawaban yang mungkin masuk akal bagi Rina. Mira keceplosan karena membeberkan rahasia Hermawan, padahal sebelumnya Mira sudah berjanji pada Hermawan tidak akan memberi tahu pada siapapun perihal pekerjaannya, termasuk pada Rina.
“Tidak ada si Mbak. Mas Hermawan cuma sering minta pijit sama saya.” imbuhnya.
Rina menajamkan pandangannya pada Mira. Mira terkejut dengan reaksi Rina. Tetapi wanita itu tidak peduli jika Rina cemburu atau marah sekalipun padanya. Wanita itu sudah terbiasa dengan kelakuannya sehingga tidak begitu peduli jika banyak wanita yang memarahinya.
“Jangan marah, Mba. Saya cuma pijit suami mba Rina saja. Di luar sana masih banyak wanita-wanita yang mencicipi suami mbak Rina, sampai kedalaman- dalamnya.” Mira masih tidak bisa mengontrol mulutnya.
“Maksud kamu apa? Suami saya di cicipi banyak wanita?!” Rina meninggikannya nada bicaranya.
“Kenapa Mbak, itu sudah biasakan? Suami mbak kan bekerja sebagai pel--“
"Ibu!" tiba-tiba seseorang memotong kalimatnya, mulut Mira semakin tidak bisa di kontrol saja.
Rina sendiri merasa kecewa karena Mira tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Tapi melihat kedua anaknya yang berlari menghampirinya, Rina langsung menyunggingkan senyum terbaiknya.
Kiara dan Tasya, kedua anaknya itu baru pulang sekolah dan melihat ibunya sedang ada di rumah makan padang, kedua gadis itu pun menghampirinya.
“Kiara, kamu sedang apa disini?” tanya Rina, menatap anaknya dan membiarkan Mira melanjutkan pekerjaannya.
“Kiara baru pulang, Bu. Melihat ibu di sini, Kiara jadi menemui Ibu. Ibu sendiri sedang apa di sini?” tanya Kiara.
“Oh ini, Ibu sedang membeli makanan untuk ayahmu.” Rina menunjukkan kantong plastik berisi nasi padang pada anaknya.
“Wah, Ibu beli nasi padang? Sekalian Tasya di beliin ya, Bu?” pinta Tasya dengan wajah penuh harap.
Rina ingin membelikannya, tetapi dia ingat tidak membawa uang selain uang dari suaminya. Terpaksa Rina melarang Tasya karena sudah berjanji pada diri sendiri tidak akan menggunakan uang itu untuk membeli makanan yang di berikan kepada anaknya.
“Jangan Tasya. Ibu tidak punya uang.” Kiara yang mengerti keresahan ibunya melerai adiknya. Kiara tahu apa yang ada di pikiran ibunya.
“Tapi ... Ibu pegang banyak uang.” Tasya melirik tangan ibunya yang memegang uang kembalian barusan.
“Oh ini. Ini uang ayah, Ibu harus mengembalikannya. Kalau tidak ayah bisa marah.” Rina beralasan.
“Iya Tasya, kamu tahu sendiri 'kan, ayah sering marah sama kita?” Kiara membela ibunya.
“Tapi ... Tasya melihat ayah memberikan banyak uang pada ibu. Apa Ibu tidak ingin memberikan sedikit pada Tasya?” Anak bungsunya itu belum memiliki pemikir seperti Kiara. Wajar saja, karena Tasya berbeda dengan Kiara yang selalu mengerti keadaan ibunya.
Selama ini, Tasya lebih disayang ayahnya dan sering di pengaruhi olehnya sehingga tidak begitu memahami pemikiran ibunya.
“Sudah, sekarang kita pulang saja. Kita jangan terlalu lama disini nanti ayah bisa marah.” Rina mengalihkan pembicaraan, dan merangkul kedua anaknya berjalan menuju pulang.
Sepanjang perjalanan pulang itu, Tasya tidak banyak bicara dia kecewa pada ibunya yang tidak membelikan makanan untuknya padahal Tasya sangat lapar dan sudah lama menginginkan nasi padang.
"Apa aku meminta uang pada ayah saja?" pikir Tasya dengan wajah masam dan tertunduk.